
"Hiks" Kea terisak,
"S-san, perutku kram" Kata Kea tiba-tiba mendudukkan dirinya dipinggir ranjang.
Sandi menatapnya, ada rasa khawatir tapi ada rasa marah dikilatan matanya.
"Kalau lo aja berani rencanain pengkhianatan waktu lo uda nikah sama gue, Gue jadi beneran ragu- Dia anak gue atau bukan?" Kata Sandi getir.
Kea terisak, perempuan itu memeluk perutnya untuk meredakan kramnya. Sedangkan Sandi melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Mereka berdua hancur. Harapan mereka benar-benar hancur bahkan sebelum terwujud.
***
Kea lupa berapa lama ia menangis dan mendekam dalam posisi tidur sambil memeluk perutnya seperti itu.
Satu hari, ah tidak, ini sudah hampir hari kedua. Jika Kea menangis sejak siang hari semalam, maka hari ini menjelang malam.
Perempuan itu benar-benar tak mau beranjak dari posisinya, matanya bengkak, wajah dan kulitnya memerah, kepalanya pusing, lehernya kering, perutnya kram, rasa lapar dan haus menggeranyangi dirinya.
Kea terlalu lemah hanya untuk sekedar menurunkan kakinya dari ranjang tempat tidur.
Perempuan itu terus bergumam maaf atau memanggil laki-laki yang selama ini mengisi hari-harinya, membantunya menjalani kehamilan dan seseorang yang siap siaga untuknya.
"Ma-af San hiks, maaf hiks" Tangis Kea tersendat.
"S-san" Terus begitu. Bahkan sampai Kea rasa, Pita suaranya mulai tak dapat berfungsi secara maksimal.
"S-san hiks" Kea meremat selimutnya, kram makin terasa diperutnya. Anak dalam kandungannya pun mulai tak terlalu sering menendang, mungkin tau, mamanya sedang kesusahan dan tak ada sosok papa yang selama ini menenangkannya.
"Akh! hiks" Kea manangis, ia memukul-mukul ranjang tempat tidurnya untuk menghilangkan rasa sakit itu, baik sakit dihatinya maupun sakit diperutnya. Kea dan anak dalam kandungannya sedang sakit. Mereka butuh sosok Sandi, Mereka butuh laki-laki itu disisinya.
Kea memejamkan matanya, Matanya mulai memberat, Perempuan itu tak dapat lagi membedakan antara menutup mata karena mengantuk atau karena ia kehilangan kesadarannya. Otaknya terlalu kekurangan pasokan oksigen untuk memikirkannya.
***
Kea mengerang, ia membuka mata sayunya, perutnya sakit sekali, Ia tak sanggup lagi dan seolah sebagian dirinya meminta dan menjeritkan nama Sandi disisi hatinya.
Tangan ringkih itu meraba-raba nakas, seingatnya ia membawa ponsel itu ketika Sandi menyuruhnya tidur saat laki-laki itu berbicara dengan Robi semalam.
Hap.
Dapat,
Kea memaksa matanya membuka untuk membuka pola kunci ponselnya yang sudah menampilkan pemberitahuan baterai lemah.
Seolah hapal letak ikon panggilan, Kea langsung saja menekan kontak Sandi karena dinomor baru itu ia hanya mempuanyai kontak tak lebih dari sepuluh orang.
Lama tak mendapat jawaban, lalu..
"Halo?" Suara letih yang begitu ia rindukan itu menyahut lelah.
"S-san, S-sakit hiks," Adu Kea seperti anak kecil.
"......"
__ADS_1
"S-san, pinggangku pegal hiks.. Jangan tinggalin aku hiks, "
"....." Masih tak ada jawaban disana, tapi Kea masih bisa mendengar deru nafas Sandi yang memburu.
"Geano Sandi hiks. hiks, pulang hiks"
Lama tak dapat sahutan sebelum sambungan telepon itu dimatikan sepihak. Kea kembali menangis.
***
Sandi masih termenung ketika ponselnya diraih oleh Deni dan dimatikan dengan raut kekesalan.
"Pulang lo!" Maki Deni marah,
Sandi masih tak bergeming.
"Gue bilang pulang lo, Anj*ng, Anak istri lo hampir mati dirumah bangs*t"
Sandi masih diam.
Bugh.
Bugh.
Sandi menunduk, nafasnya kian memburu ketika Beni dan Mario memukulnya perutnya secara bersamaan.
Sandi ada di markas dua hari terakhir, laki-laki itu bagai mayat hidup ketika menjelaskan masalahnya. Bahkan Mario dan Deni yang awalnya mendukung Sandi untuk lari dari Kea. lama kelamaan mulai merasa tindakan merrka tak benar karena Sandi seperti lari dari tanggung jawab.
Mereka membenci Kea, tentu saja. Mau bagaimanapun Kea yang membuat mereka hampir dikeluarkan dari sekolah walaupun akhirnya mereka mendapat dispensasi sekolah, kecuali Sandi karena kasusnya yang begitu berat.
"Sandi! Anji*g pulang lo!" Maki Beni yang awalnya masih bersikap Santai, emosi juga.
Ini sudah jam 2 dini hari, Kalau Kea menelpon didini hari begini, pasti kondisi perempuan itu sedang dalam kondisi tak baik-baik saja.
"Sandi!"
"Apa! Dia khianati gue g*la! dia khianati gue, dia buat gue sengsara kalau kalian tau, gue dikeluarain dari sekolah, gue dibuang sama keluarga gue!!"
"Terus apa!" Balas Deni yang memang bersumbu pendek. "Lo mau anak istri lo mati hah!"
"Lagian, dia cuma ngeluarin lo dari sekolah San, Lo gak mikir waktu ngebully dia dulu hah! lo juga gak mikir waktu nabrak dan hampir ngelindas tubuh ringkih itu kan?" Sinis Deni,
Sandi terkesiap, ia tak menyangka teman-temannya tau masalah itu.
"Kenapa! Kaget lo? Lo pikir kita gak tau masalah itu hah! Lagian waktu lo nyium Kea buat Yuda cemburu itu dia balik sama lo kan? Terus kenapa tiba-tiba Kea dikabarkan koma karena kecelakaan. "
"Tol*l!" ejek Mario terkekeh.
Bugh
Sandi terdiam sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah dan pipinya yang kebas.
"Kalau orang yang pantes dikasih pelajaran itu seharus elo, Elo bangs*t, Sekarang pulang lo!" Maki Deni.
Sandi menghela nafas, ia menatap ketiga temannya. matanya merah. Bukan jenis tatapan marah, tapi tatapan itu lebih kearah tatapan putus asa dan penuh penyesalan.
__ADS_1
Laki-laki itu mundur, Ia lalu mengambil jaketnya.
Tanpa mengatakan apapun, Sandi pergi dengan terburu untuk menemui Kea.
Menemui perempuannya.
Menemui istri dan calon anaknya.
Sandi malu mengakui ini, tapi air matanya jatuh dengan tak memalukan di jam dua dini hari ini.
Setelah menempuh perjalanan yang ia lalui dengan begitu singkat, Menerobos security apartemen dengan teriakan marah.
Sandi akhirnya bisa melihat bagaimana kondisi Kea yang mengerang ditempat tidur sambil menangis memanggil namanya.
Sandi ingin membunuh dirinya sendiri untuk pemandangan ini.
Si*lan,
Sandi terus memaki dirinya.
"K-Kea"
S*al, suara Sandi bergetar.
Kea membuka matanya. Tangan ringkihnya menjulur, mencoba meraih Sandi.
"S-San hiks, lo pulang hiks uhuk-uhuk" Kea kembali mengerang ketika perutnya benar-benar sakit.
Sandi meraih tangan itu, ia lalu berlutut didepan Kea, air matany jatuh secara perlahan.
"Maafin gue Kea" Bisik Sandi memeluk Kea, menciumi mata bengkak itu dengan rasa penyesalan yang luar biasa.
Teman-temannya benar, Yang salah itu dirinya, yang pantas diberi pelajaran itu dirinya. Bukan Keanya, Bukan anaknya.
"S-sakit San" Adu Kea memeluk lengan Sandi kian erat.
"Apanya yang sakit sayang, apanya?" Tanya Sandi bergetar, ia menghapus air mata dipipi Kea.
"Perut aku sakit, hiks, pinggang aku panas, San hiks, panas banget, aku juga pipis dicelana tadi hiks. Sakit banget." Tangis Kea tergugu.
Sandi terkesiap, ia lalu mengelus perut dan pinggang Kea, tapi ada yanga aneh, tak ada tendangan aktif lagi dari perut bulat Kea. Dan sial. Basah dan anyir.
Sandi menghentak selimut Kea.
Dan kondisi Kea yang memeluk perutnya dengan darah yang mulai merembes diseprai biru laut itulah yang ia lihat.
Rasanya Sandi ingin mati saat itu juga.
"Kita kerumah sakit sayang, tahan ya. tahan Kea.. Sial.. Lo pendarahan dari kapan Kea!!!" Maki Sandi memeluk Kea. Merasakan berat badan Kea menurun dan darah kental itu yang mulai mengering.
Ketika Kea merintih digendongannya. Sandi merasa, hatinya bukan hanya hancur namun sudah remuk redam.
***
Selamat hari Rabu si Hari raya Rindu, - Kalau kata mbak Najwa Shihab-
__ADS_1
See you