
"San, Kea itu lebih muda dari kamu, jadi kamu itu harus ngalah dong sama Keanya"
"Sandi sayang, kea itu gak bisa dengar kalau gak pakai alat dengarnya, jangan ejekin Kea gitu ya"
"Sandi, Kea itu lemah jantung, dadanya bisa sakit kalau kamu ajak lari-lari"
"Kea gak boleh lama-lama naik sepedanya San"
"Sandi, Kea kok nangis, kamu apain lagi dia?"
"Kea masuk rumah sakit, pasti gara-gara kamu nakalin dia waktu disekolah kan, Sandi gak boleh gitu dong, Kea kan adik kecil."
"Sandi, kamu anak mama yang paling baikkan? Sekarang coba antar tiramisu buatan mama ini, sambil minta maaf ya sayang, sama Kea sama om Kai juga."
Sandi memejamkan matanya kala ucapan-ucapan orang tuanya berputar dikepalanya. Ntah perasaannya saja atau memang iya. Kedua orang tuanya mulai menaruh simpati lebih pada Kea, Bocah perempuan bodoh yang pakai kaca mata tebal dan alat aneh ditelinganya itu seolah menjadi nama favorit orang tuanya.
Sandi tak boleh nakalin Kealah, Sandi harus jaga Kea lah, Sandi harus mengalah lah, Sandi harus ini, harus itu.
Sandi tak suka itu.
Ia tak suka diatur, dan ia semakin tak suka saat semua perhatian semua orang teralihkan untuk Kea. Bocah lemah yang menyusahkan itu tak hanya mengambil alih perhatian mama dan papanya, Tapi juga mengambil perhatian teman-teman dan gurunya.
Mereka semua selalu melindungi Kea seolah Kea adalah barang paling rapuh didunia.
Dan Sandi semakin tak suka akan hal itu.
Geano Sandi adalah anak sekaligus cucu pertama keluarga Geano, Sandi sudah biasa disanjung, Sandi sudah biasa diperhatikan dan Sandi sudah biasa dijadikan pusat perhatian.
Tapi kehadiran Kea seolah menghancurkan aksitensinya.
Sandi benci Kea, sisi benci bocah laki-laki itu memuncak ketika Kea merebut peringkat satunya disemester kenaikan kelas dua. Sandi yang biasanya diunggulkan keluarganya itu untuk pertama kalinya dimarahi oleh kakeknya. Katanya Sandi itu gak boleh kalah, gak boleh lemah.
Sandi semakin benci, dan ntah bagaimana kebiasaanya mengganggu Kea menjadi sebuah rutinitas dari yang hanya mengejek kaca mata Kea sampai memecahkan kaca mata itu, membuang buku Kea kedalam tong sampah atau menumpahkan bekal bocah perempuan sok cari muka itu kelantai, Menjambak dan mengoyak buku pr Kea. Sandi juga memusuhi siapapun yang menemani Kea. Sampai akhirnya bocah perempuan itu tak lagi masuk sekolah.
Kata orang-orang.
Kea gila, bocah itu masuk rumah sakit jiwa. Sejak itu hubungan antara keluarganya dan Keluarga Kea pun renggang. Kecuali mamanya yang masih betah setiap hari memberi Kea tiramisu sebagai permintaan maaf yang Sandi tak tau letak salahnya dimana.
Sandi benar-benar benci Kea.
Dan puncak bencinya kala Kea ingin mengejar beasiswa keJepang dan menyebarkan foto dugemnya pada Lusi.
Lusi marah, Perempuan gila prestasi itu malu akan sifat Sandi, dan memutuskan Sandi begitu saja.
Sandi marah, ia mulai melakukan banyak cara untuk membalaskan dendamnya, termasuk mencoba membunuh Kea dengan cara menabrak tubuh ringkih itu.
Tapi..
Kesialan menimpanya.
Kea bukan hanya membuatnya kehilangan atensi orang tuanya, membuat perhatian semua orang terarah padaya, membuatnya putus dari Lusi dan hari itu Kea menjebaknya. Mengatakan kalau ia telah memperkosa perempuan mantan pasien rumah skit jiwa itu. Sungguh, Sandi saja jijik walau hanya sekedar menatap lama perempuan tak berguna itu.
Lalu bagaimana bisanya gadis itu menuduhnya.
Sandi kian membenci Kea ketika bukan hanya mengikatnya dalam tali pernikahan, Kea juga menghancurkan harapan sekolahnya, ia putus pendidikan dan harus bekerja.
Sandi benci itu, sungguh, Kea adalah malaikat kecil berhati iblis.
Semua hal itu karena Kea. Semuanya, dimulai dari ketika perempuan itu mengambil perhatian orang tuanya, menyalahkannya, putus cintanya, putus sekolahnya, putus beasiswa, ikatan pernikahan mereka dan juga kehadiran dan kehilangan anak Mereka
Sandi benci itu.
__ADS_1
Setidaknya itu dulu, sebelum hatinya melunak dan mengakui Egonya, ia butuh Kea dalam hidupnya, benar-benar butuh.
Rasa Benci itu bahkan menguap begitu saja bagai angin lalu, berganti rasa debar yang menggemparkan organ tubuhnya.
Kea tersenyum, senyuman manis yang ia ingat sebagai senyuman paling indah yang pernah ia temui.
" San Kita jadi jalan-jalan kan?" Tanya perempuan itu antusias, Membuat Sandi terkekeh sambil membuka pintu mobil.
Hari ini Kea benar-benar ulang tahun, dan Sandi mencoba merayakan sebisanya.
Mereka akan jalan-jalan kepantai. Mencoba menikmati semilir angin yang mungkin akan menenangkan.
"San, beneran kan?"
"Iya Ke" kata Sandi kalem.
Semenjak mereka berbaikan, Kea semakin menampakkan kecerewetannya. Walaupun ketika sedang dalam kondisi tak bagus. Kea akan menggerakkan tangannya sebagai pengganti bahasa. Menjadi bahasa isyarat.
"Aku dengar dideket pantai ada pasar malamnya loh, nanti kita kesana sebelum pulang?"
"Hah, pasar malam, Ini masih pagi Ke," Protes Sandi sambil menjalankan mobilnya.
Kea mengerucutkan bibirnya, "Emang kenapa, Kan kita bakal pulang malam."
Sandi berdesis tak terima, tapi juga tak mengatakan apapun. Sedangkan Kea, perempuan itu sudah santai dengan ponselnya. Memainkan segala permainan diponselnya sebelum akhirnya tertidur.
Sandi berdecak, laki-laki itu tampak dongkol, tapi tangannya tak dapat memungkiri, ia mengelus rambut Kea dengan sebelah tangannya sayang.
***
Sandi sering kepantai, tapi ia tak pernah merasakan ketenangan yang sering diceritakan orang dalam sebuah kiasan atau frasa yang indah. Sampai akhirnya hari ini tiba.
Mereka duduk dipinggir pantai dengan tenda payung sebagai penghalang cahaya matahari menyengat mereka secara langsung.
"Ke"
"Hm"
"Aku ada hadiah untukmu?" Kata Sandi tiba-tiba.
Kea menegakkan kepalanya, "Bukannya uda. nih liat" Kata Kea mengangkat tangan kirinya yang terdapat cincin perak yang indah dijari manisnya.
Sandi terkekeh, "Eh, iya ya, yaudahlah gak jadi"
Kea berdesis, "Ck, gak boleh gitu San, kalau uda niat kasih itu gak boleh diurungkan"
"Kata siapa!?" Tanya sandi tak percaya.
"Ya..Kata istrimu lah" Sahut Kea enteng.
Sandi memicingkan matanya, "Bisa aja ya akal-akalan mu"
"Bisalah, mana hadiahnya," Tagih Kea mengangkat dagunya, mencoba bersifat garang. Yang justru terlihat manis dimata Sandi.
"Ke"
"Apa! jangan bilang kamu pesen hadiahnya salah bulan lagi!" Sarkas Kea.
Sandi berdecak, "Nggak lah, santai sedikit bisa nggak sih. Aku mau coba romantis ini." Kesal Sandi.
Kea mengulum senyum saat melihat kekesalan Sandi "Yaudah, aku diam ini" Katanya bersedekap dada.
__ADS_1
Sandi membuang muka, Masih kesal. Kea yang tau itu, diam saja, membiarkan Sandi masuk dalam dunianya dulu.
"Ke, aku pernah denger waktu kamu ngomong sama Ninda, Sheril. Kamu mau ambil besiswa keJepang buat nikmati bunga sakura secara langsung kan?"
Kea menelengkan kepala, "Hm, aku suka bunga sakura, tapi sebenernya aku gak cuma pingin liat sakura doang sih, dari dulu aku memang tertarik sama Jepang. Budayanya, makanannya, sistem pendidikannya, pokoknya semuanyalah. Itu negara impian ku tau." Kata Kea tersenyum, tapi setelahnya matanya memicing jenaka, "Jangan bilang kamu mau kasih hadiah liburan ke Jepang ya, hayooo ngaku" Usil Kea.
Sandi memutar bola matanya, yang jika dilihat dari dekat begini sebenarnya bola mata sandi bukan cokla seperti kebanyakan orang , bola matanya lebih mengarah kekuningan. Seperti mata rubah.
"Lebih dari liburan," Kata Sandi menyadarkan Kea, Perempuan itu menaikkan alisnya untuk bertanya. "Aku ngajak kamu tinggal ke Jepang, Selama yang kamu mau"
Mata sipit Kea membulat, "Tinggal?"
Sandi mengangguk, ia mengeluarkan sesuatu dari jaket yang menjadi penutup kaki Kea. Sebuah kertas dan Visa?
"Aku keterima di Keio University, aku bakal tinggal disana, sama kamu pastinya"
"Keio- Kamu, gak bohong kan San. i-itu salah satu universitas impian aku tau hiks. Seriusan" Kea menggenggam tangan Sandi sangking semangatnya.
Sandi mengangguk, "Yah, gak dapet Waseda ataupun Tokyo University, Dapet Keio juga gak masalah kan" Kata Sandi tersenyum kecil.
Kea mengangguk semangat, Targetnya sejak SMP bukan Oxford. bukan pula Harvard ataupun Stanford. Kea hanya ingin kuliah diJepang dengan Waseda dan Keio sebagai tujuan utamanya. Dan Sandi mewujudkan salah satunya.
"Cup-cup, jangan nangis dong" kata Sandi menarik Kea yang terisak-isak dipelukannya.
"M-makasih San makasih hik, aku senenag banget."
Sandi tersenyum, ia memeluk Kea dengan nyaman. Matanya terpejam, mencoba menikmati pelukan Kea yang sekarang menjadi candunya.
"Padahal aku yang nantinya kuliah dan dapet banyak tugas, kok kamu yang seseneng ini" Kata Sandi setelah Kea agak tenang.
Sandi dengar Kea berdecak, "Nanti biar aku yang bantuin kamu ngerjain tugas hiks, pokoknya salah satu dari kita harus lulus dari kampus impian aku, Aku gak mau anakku malu nantinya"
Sandi terdiam, ia lalu tersenyum ,"Angela kita, ataupun Angel-Angel lain yang nanti akan hadir diantara kita, mereka gak bakal malu punya mama sehebat kamu Kea" Bisik Sandi
Kea semakin mengeratkan pelukannya, menangis tergugu didada Sandi yang hangat.
"Kea, aku malu bilang ini, Tapi.. Kayaknya aku cinta kamu banget-banget deh." Kata Sandi.
Saat kea akan melepas pelukan mereka, Sandi menahannya, ia malu.
Kea tertawa sebelum menyahut, "Dan kayaknya aku juga deh"
Mereka tersenyum, sebelum melepas pelukan dan tertawa bersama. Mengabaikan pengunjung pantai lainnya yang menatap mereka penuh tanya.
Sandi tak peduli, benar-benar tak peduli.
Keanya menerimanya,
Andai saja mereka tak melakukan kesalahan. Ah, tidak, bukan mereka yang salah, tapi langkah awalnya.
Dan Sandi akan memperbaiki sebuah langkahnya. Ia mencintai keluarga kecilnya.
****
Note :
Yesss, Selesai. And btw, arti Wo Ai Ni dibab semalam itu kalian bener ya, artinya aku cinta kamu.
Dan Buat S2, kayaknya bakal aku unggah disini aja deh, biar gak usah buat sinopsis ulang. Gak apa kan?
Dan terakhir, terima kasih yang uda nemeni aku dan Sanke sejauh ini, makasih yang uda kasih, like, komen, vote, ataupun hadiah.
__ADS_1
Sampai jumpa dikarya ku selanjutnya... see you