Salah

Salah
S-1 Ngidam?


__ADS_3

Pembicaraan Anak memang sangat sensitif untuk Kea, perempuan itu akan langsung diam jika sudah membahas anak, paling parah menangis ketika Sandi sudah ketelaluan.


Sandi memaki, tapi setelahnya, laki-laki itu mengacak rambutnya. Menghela nafas kasar dan menyiapkan sarapan untuk Kea.


"Makan Ke" Kata Sandi melembut,


Ah, satu lagi kebiasaan yang ntah mereka sadari atau tidak.


Kea sarapan pagi dengan selalu dan hanya selalu disuapi oleh Sandi.


***


Sudah tiga hari berlalu sejak percekcokan pagi dimana Sandi tak pulang waktu itu, mereka masih bersikap acuh tak acuh, bahkan bisa dibilang mereka semakin tak saling mau mengalah akan ego dan gengsi mereka masing-masing. Padahal, jika dilihat dari akar permasalahannya, baik Kea maupun Sandi tetap lah salah.


Kea yang teralalu bersikap skeptis atau ragu terhadap segala tindakan Sandi, selalu mengambil kesimpulan dan menuduh Sandi kearah yang buruk. Sedangkan Sandi sendiri telalu gampang tersulut emosi dan sangat-sangat tempramental. Selain itu, keduanya masih saling menyakiti baik itu melalui kata maupun tindakan. Walaupun sikap ringan tangan mereka mulai berkurang karena kondisi Kea yang semakin lemah saat hamil.


Pagi ini setelah selesai menjemur baju, Kea membersihkan kamarnya dan Sandi, sesekali perempuan itu akan merapikan isi lemari walau hanya bajunya sendiri, sama seperti tugas memasak yang terbagi menjadi alami. Maka urusan membereskan rumah juga begitu. Mereka tak pernah saling berdiskusi untuk membagi tugas. Tapi tampaknya kedua saling sadar diri untuk tidak berpangku tangan.


Seperti Kea yang mencuci baju, membereskan kamar dan sesekali menyetrika ketika baju mereka terlihat sangat kusut, terkadang Kea juga mencuci piring setelah memasak makan malam. Sedangkan Sandi sendiri mendapat tugas mengepel rumah dua hari sekali, berbelanja, sesekali juga mencuci piring ,mengatur keuangan, dan juga bekerja pastinya.


Mereka membaginya benar-benar secara alami, lebih tepatnya mereka terlalu gengsi untuk berdiskusi.


Yah, gengsi, ntah kenapa tiap harinya gengsi mereka makin membucah ruah, tak ayal kadang mereka kesulitan karena satu rasa tak mau kalah itu. Seperti saat ini contohnya. Kea mengobrak-abrik lemari dan juga kopernya untuk mencari tasnya.


"Tas gue mana ya?" Monolog Kea,


"Dompet?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Setelah lama mencari, senyumnya mereka ketika ia melihat dompet lipat berwarna biru lembut miliknya. Dengan perasaan menggebu. Ia membukanya, berharap menemukan setidak selembar uang untuk memenuhi keinginannya sejak tadi malam.


Tapi senyum itu langsung menghilang kala tak menemukan apapun disana.


Ntah kenapa tadi malam tiba-tiba Kea menginginkan Hamburger setelah melihat kartoon spongebob. Awalnya Kea pikir itu hanya keinginan sesaat mengingat semenjak ia hamil dan tinggal bersama Sandi. Laki-laki itu tak pernah membelikannya makanan cepat saji. Ntah karena ia ingin Kea sehat atau Sandi memang sepelit itu.


Ah, Omong-omong Kea juga tak pernah diberi uang belanja sejak menikah. Yah, walaupun sejak awal menikah kea memang tak pernah memerlukannya karena mamanya yang menyediakan segalanya. Tapi, sekarang berbeda. Orang tuanya juga tak lagi memberinya uang jajan. Ntah karena memang mau lepas tangan, atau karena Sandi yang melarangnya. Ntahlah Kea benar-benar tak tau, dan ia tak akan sepeduli itu jika saja rasa inginnya ini tak semakin menjadi.


Kea bahkan sampai membayangkan makanan itu dimanapun ia berada.


Kea pernah begitu menginginkan tiramisu cokelat ketika ia kecil, tapi Kea tak pernah menginginkan makanan apalagi hamburger sampai segila ini.


"Iya, bentar, gue ganti baju dulu, hah, ah iya, gue baru pulang ini" Suara seseorang yang berbicara via telepon itu membuat Kea mengerjap, seolah sadar akan siapa pemiliknya. Kea langsung berhambur keluar, mengabaikan tas dan dompet kosongnya berserakan diatas ranjang.


"San?" Panggil Kea,

__ADS_1


Sandi menoleh, agak bingung karena setelah tiga hari saling mendiamkan. Kea tiba-tiba memanggilnya. Sandi bahkan masih ingat saat tadi sarapan, Kea hanya menerima suapannya tanpa bersuara sama sekali. Dan sekarang perempuan itu memanggilnya.


"Hah- ah, iya, ntar jam makn siang gue kesana. Kirim aja lokasinya. iya, thanks Ben" Kata Sandi berbicara pada telepon, mengabaikan panggilan Kea.


Kea mengepalkan tangannya. Menahan kesal. Bahkan sangking kesalnya ia sampai tak menyadari matanya mulai berkaca-kaca. Kea sakit hati sekali.


Sandi mengabaikannya, padahal Kea sudah menekan gengsinya untuk memanggil laki-laki itu tadi.


Sandi menatap Kea, niat awalnya untuk mengejek Kea yang akhirnya kalah akan pertengkaran dingin mereka. Namun niatan itu harus urung saat Sandi menangkap gerakan tangan Kea yang mengusap sudut mata dibalik kacamatanya.


Kea manangis.


Sandi mengerjap bingung. "Lo gak ada niatan buat gue ngerasa jadi orang gila dirumah gue sendiri kan Ke?" Sinis Sandi.


"Ntah" Sahut Kea sebelum berbalik badan dan kembali masuk kekamar.


Berdecih kesal, Sandi memilih mengabaikan tingkah istrinya itu dan mengambil langkah kedapur, mengambil air dingin dari kulkas. Yang setidaknya memberikan sensasi dingin untuk tenggorakannya dari pada tingkah Kea yang membuat kepalanya panas.


Hari ini adalah hari sabtu, Dimana Sabtu dan minggu adalah hari pulang cepat untuk Sandi, karena bengkel akan tutup jam 10 pagi. Awalnya Sandi ingin mengistirahatkan tubuhnya sebelum keluar menemui Beni, temannya. Tapi tingkah Kea tadi membuatnya jengkel setengah mati, tampaknya Sandi harus pergi lebih cepat sekarang.


Laki-laki jangkung itu pergi kekamar untuk mengganti bajunya.


Tapi lagi-lagi Sandi harus dibuat bingung kala mendapati Tas, dompet Kea dilantai dan ada juga baju-bajunya disana, tampaknya baru saja dilempar, sedangkan Kea menangis ditempat tidur. Tak bersuara, tapi dari gerakan bahunya. Sandi tau, manusia tak berguna itu sedang menangis.


"Lo cari masalah sama gue, KEA!" bentak Sandi saat Kea tak juga peduli.


"KEA ANKARA TAN!" bentak Sandi menarik selimut yang dipakai Kea.


"Apa!" Bentak Kea sesenggukan.


Sandi bingung, tapi ia juga emosi ketika melihat bajunya yang dilemari dikacaukan oleh Kea. "Beresin baju-baju gue, sekarang!"


Kea melengos.


"KEA!"


"GAK"


"KEA-Akh. Anj*ng" Maki Sandi ikut menendang bajunya dilantai dengan kesal.


Menarik napasnya, Sandi memungut kaos pendek putih yang berada dekat kakinya, lalu mengambil celana chino warna hitam yang berada didekat ranjang. Mengabaikan Kea.


Yah, ia harus mengatur emosinya. Dan pergi dari rumah adalah solusinya.

__ADS_1


Kea yang merasa kian diabaikan semakin nelangsa, perempuan itu terisak-isak sendiri. Napasnya tersengal, ia berjanji akan mendiamkan Sandi seumur hidupnya.


Namun, saat melihat Sandi yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi, Kea bahkan tak dapat lagi memikirkan dendam dan gengsinya lagi.


Kea menarik ujung jaket Sandi.


"San?"


"Apa!" Kesal Sandi.


"Lo mau kemana?" Tanya Kea pelan.


"Bukan urusan lo"


"San"


"Apa!"


"Ikut," Cicit Kea semakin pelan.


Sandi menaikkan alisnya, benar-benar kaget.


"Gue mau- Gue pingin hamburger" Cicitnya lagi.


Sandi mengerutkan keningnya, "hamburger?" Tanyanya tak percaya, "Lo-Ngidam?" Kata Sandi ragu.


Kea menarik jaket Sandi kuat, membuat laki-laki jangkung itu oyong kearah Kea.


Kea memeluk Sandi, lebih tepatnya menyembunyikan wajah basahnya ke perut Sandi. Ia malu.


"Ke-lepas, basah gila," Kata Sandi mencak-mencak, tapi setelahnya ia diam. "Lo beneran ngidam?" Tanya Sandi sebelum tertawa geli.


"Lo ngacauin baju-baju gue, karena- ngidam?"


Kea kian terisak, dan begitulah akhirnya mereka pergi bersama untuk pertama kalinya, hanya untuk membeli hamburger.


***


Ekhem, Gengsi guys. wkwkwk.


Btw, ini hari senin tau..


Bolehlah minta vote-vote buat Kea. wkwkwk...

__ADS_1


Tapi beneran loh, jan lupa. Kasih mereka like, komentar, hadiah dan juga vote yaaa..


__ADS_2