
Kea terlalu lemah untuk merespon, tapi ia menyadari Sandi menangis.
"H-haus" Bisik Kea.
Sandi dengan sigap mengambil gelas dinakas. Membantu Kea melepas masker oksigennya, lalu membantunya menahan gelas.
"Aku panggil dokter ya?" Kata Sandi hendak memencet bel disebelah ranjang Kea.
Tapi..
Kea menahan tangannya, perempuan itu mengerjap.
"S-san, anak aku mana?"
Dan lagi, Sandi terjebak dalam belenggu rasa bersalah yang menghantuinya.
***
"S-san?" Panggil Kea mencoba menggerakkan tangan kurusnya, tapi gagal, tubuhnya terlalu lemah, ia seperti baru saja menjalani perjalanan yang sangat-sangat panjang. Bahkan tubuhnya sudah tak mau menyinkronkan perintah otaknya sangking lemasnya.
Kea mendesah lelah, ah, berapa lama ia pingsan? Berapa lama ia tak makan? Satu hari? dua hari? atau bahkan tiga hari-
Kea menggerakkan kepalanya kearah Sandi dengan susah payah, "S-san, anak ku mana?" tanya Kea bergetar. Ntah kenapa tiba-tiba rasa duka menghinggapinya, padahal Kea belum mendapat jawaban apapun dari laki-laki jangkung yang tatapan matanya penuh kesedihan itu.
Kea melirik perutnya, ada rasa kebas yang luar biasa diperutnya, itu pertanda kalau ia sudah melahirkan secara secar kan? Dan dia sudah pingsan lebih dari setengah hari, lalu dimana anaknya?
Otak pintar Kea mulai memprogess semua hal, ia ingat ia tak makan dan minum setelah bertengkar dengan Sandi karena rasa kecewanya, lalu ia selalu menidurkan tubuhnya ketika perutnya kram, begitu seterusnya sampai Kea merasa, tempat tidurnya mulai anyir dan pinggangnya panas, ia lalu menelpon Sandi, memohon agar laki-laki itu pulang. Lalu- Lalu Sandi berteriak kalau ia pendarahan.
Dan-
Dan- Dimana anaknya sekarang.
"Sandi hiks" Tangis Kea, Kea ingin menyugesti otaknya untuk waras, tapi trauma akan ketakutan dan tekanan itu menghantamnya. Kea mulai merasakam sesak didadanya. Kea berusaha meracuni otak bodohnya untuk membohongi dirinya kalau anaknya mungkin saja selamat, kalau anaknya mungkin sakarang sedang diruang NICU.
Mungkin-
Mungkin saja-
"Di-dia perempuan" Kata Sandi membuat Kea yang ntah bagaimana mendapat kekuatan untuk menoleh, ia bahkan tak lagi memperdulikan selang infusnya yang bergerak karena tindakannya.
__ADS_1
"A-apa?" Tanya Kea tersendat. Tak menyangka ia sekarang telah menjadi mama dari seoarang bayi perempuan. Kea manangis haru, Banyak hayalan hinggap dikepalanya, berimajinasi bagaimana rupa gadis kecilnya.
"Dia juga cantik-" Sandi menahan tangisnya, " Badannya kecil banget tau Ke-" Sandi mengingat bagaimana kecilnya Angela dipelukannya.
"Hidungnya bangir," Kata Sandi mencium tangan Kea,
Kea menatap Sandi dengan air mata yang mulai merembes, rasa haru itu menyeruak tanpa disangka, "T-terus?" Tanya Kea tak sabar, ia ingin dengar lebih, ia ingin dengar kabar gadis kecilnya.
"Bibirnya tipis, kecil juga" Bisik Sandi lagi, "Dia- gadis tercantik yang pernah aku temui didunia ini Kea, dia benar-benar cantik. Aku jatuh cinta waktu liat dia pertama kali, dan mungkin kamu juga" Kata Sandi menunduk.
"T-terus?" Tanya Kea penuh harap, "Dia mirip siapa? Bola matanya warna apa? Hitam kayak aku atau cokelat kayak kamu, atau-atau" Kea menggenggam erat tangan Sandi sangking semangatnya, "Atau hijau kayak punya papa Surya"
Sandi mengalihkan tatapannya dari Kea saat mata sipit penuh binar itu menatapnya dengan semangat,
"S-san, jangan bikin penasaran, apa warna bola matanya? Terus gimana matanya? Sipit? Atau belo kayak kamu? Terus, terus dia mirip Siapa? San?" Kea bertanya dengan mata berbinar, ia bahagia, tapi ntah kenapa hatinya sakit secara bersamaan, seolah hatinya disakiti tanpa tau apa masalahnya.
"Dia- " Sandi menahan napasnya, "Dia mirip aku lah, aku kan papanya, aku kan pahlawannya, ya kan Ke?" Tanya Sandi menuntut,
Kea tersenyum haru, ia mengangguk berkali-kali, "Iya kamu pahlawannya, kan kamu papanya"
"Aku papa yang baikkan Ke? Kan aku yang ngusap dan nenangi dia waktu dia nenandangi perut kamu, iya kan Ke, aku juga yang nuruti ngidam dan manjamu.. Iya kan Ke.. Aku papanya kan. Iya kan Ke?" Sandi mencengkram tangan Kea sambil terisak, Ya ampun, rasa sesal dan bersalah itu sangat menghantuinya.
"Aku sayang dia Ke, dia beneran mirip aku, Tapi dia gak suka aku, dia marah sama aku Kea.. Angela marah sama aku, anak kita marah sama aku."
Kea mulai kesulitan bernapas, tapi ia mulai menangkap satu hal, anaknya bernama Angela.
"Dia marah Kea.. Angela bahkan gak mau buka matanya buat aku, dia bahkan gak mau nangis waktu aku teriak-teriak minta maaf ke dia. Angela kita juga nakal, dia sakit begitu aku peluk, badannya dingin banget, Dia marah Kea.. Dia marah" Sandi tergugu.
Kea kian mengencangkan pegangannya pada tangan Sandi. Air matanya bercucuran.
"Dia uda pergi" Dan sedetik setelah kalimat itu meluncur, Kea merasakan dadanya sakit luar biasa, jantungnya kambuh. Nafasnya tersengal. dunianya berputar, tapi bibirnya terus menggumamkan nama Angela, Angelanya. putrinya. Gadis kecilnya.
Disisa kesadarannya, Kea bisa mendengar Sandi memencet bel berkali-kali, berteriak-teriak memanggil dokter.
Kea memejamkan matanya, Ia benci Sandi, Ia benci laki-laki itu.
***
Kea terbiasa bangun dirumah sakit, biasanya ia akan menghela nafas dan berjanji untuk lebih menjaga kesehatannya agar tak kembali sakit walaupun terkadang usahanya sia-sia. Tapi kali ini Kea hanya ingin berharap kematian merenggutnya.
__ADS_1
Perempuan itu menangis tergugu-gugu begitu sadar dari pingsannya untuk kesekian kalinya, ia mencoba meraih apapun disekitarnya untuk menyakiti dirinya sendiri, ia bahkan menjambak rambutnya berkali-kali, dan mencoba mencabut infusnya untuk yang kesekian kalinya.
"Sayang udah," Bisik Kelli yang pagi ini datang menenangkan Kea dengan para perawat disekitarnya.
"Sandi hiks, Sandi jahat ma hiks, dia-dia jahat, Dia iblis" Desis Kea tersendat-sendat.
Kelli memeluk Kea, mencoba memberi ketenangan, dan setelah tangis Kea mulai mereda, Kelli langsung menangkup pipi Kea sambil melirik para perawat untuk segera menyuntikkan obat penenang untuk Kea. Ini sudah hari kedua sejak Kea mulai terganggu kewarasannya dan selama itu hanya obat penenang dan Kelli yang mampu menangani Kea.
Kea tak berteriak, perempuan itu hanya terus menangis dan berusaha meyakiti dirinya sendiri. Memaki Sandi disetiap kalimatnya.
Kondisi Kea ini, mengingatkan Kai dan Kelli dengan Kea kecil mereka yang hidup dengan dampingan psikiater.
Putrinya kembali hancur.
Kai ingin marah, ketika ia mendapat diagnosa dari dokter bahwa Kea mengalami depresi dan harus dirawat dan ditangani secara khusus oleh Psikiater dan psikolog,
Diagnosa itu persis seperi kejadian 10 tahun yang lalu,
Putrinya depresi karena bullying, Putrinya mencoba melakukan percobaan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Dan itu kembali terulang. dengan masalah berbeda namun disebabkan oleh orang yang sama.
Geano Sandi.
Kai ingin mengamuk, tapi ia juga tak mampu berbuat apapun ketika ia melihat menantunya tak kalah menyedihkannya.
Kai mungkin harus kehilangan cucu pertamanya, Dan Kai mungkin harus bersabar untuk kesembuhan putrinya.
Tapi Sandi, laki-laki jangkung yang kini tampak sangat kurus dan diapit kedua orang tuanya itu merasakan lebih dari apa yang Kai rasakan.
Sandi bukan hanya kehilangan anaknya, tapi ia juga kehilangan kepercyaaan dan kewarasan istrinya. Juga kehilangan kendali keluarga kecilnya.
Sandi benar-benar merasakan apa itu kehilangan yang sesungguhnya.
***
Note:
Siapa sih yang salah sebenarnya?
FYI, buat yang lupa, Kea dulu pernah kena gangguan mental waktu dibully Sandi ya.
__ADS_1
Anyway, jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya yaa... okeee