Salah

Salah
S-2 Ohayo, papa


__ADS_3

"Jangan diulangi lagi ya, Aku sayang kamu, aku sayang kalian, bener-bener sayang sampai urat nadiku Kea. Jadi jangan diulangi lagi ya Ai, Karena apa yang kamu takuti itu, ketakutan tak beralasan , Kita jaga dia bareng-bareng ya." Kata Sandi lembut.


Kea terisak, ia mengangguk dengan hati dan perasaan lega, dalam hati menyesali karena meragukan Sandinya.


Yah, lagi-lagi karena ketakutan tak beralasannya.


***


Kea pernah merasakan ngidam saat hamil Angela dulu, seingatnya hanya sekali, kalau tidak salah ia menginginkan burger padahal saat itu ia dan Sandi masih dalam keadaan perang panas. Lalu selain burger Kea juga mengalami morning sickness tapi tidak parah, karena hanya beberapa minggu saja, namun Kea ingat Sandi tetap memasak sarapan karena Kea yang masih sering mual saat didapur, lalu selain dari itu semua, Kea tak pernah banyak mengeluh tentang kehamilannya, yah, kecuali pinggang yang pegal sih, itupun Sandi bantu mengatasinya dengan memijat ringan tiap malamnya.


Tapi kehamilan keduanya ini membuat Sandi dibuat pusing sepusing pusingnya. Kea menjadi manusia super malas dan super manja. Oh, ayolah, walaupun mereka sudah berbaikan dalam segala hal dan memaaf dari berbagai sisi, tapi jika dilihat dari sudut pandang manusia biasa yang tanpa diembel-embeli 'suami siaga' saat melihat sifat manja yang kelewatan itu tetap saja menjengkelkan dibeberapa keadaan.


Seperti saat ini contohnya, Sandi sedang lembur untuk menyiapkan beberapa pekerjaan dan juga membenahi materi yang akan ia presentasikan keesokan paginya. Targetnya, ia akan menyelesaikan semua pekerjaannya itu sebelum tengah malam.


Dan hal itu bukan tanpa alasan tentunya, Kea yang bermata sayu dan berperut besar itu menungguinya sejak awal Sandi memegang laptop dan ipad nya. Dan parahnya perempuan itu duduk dengan posisi favoritnya, Dipangku Sandi dengan posisi berhadap-hadapan. Sandi bahkan sampai meringis saat merasakan bobot tubuh Kea dipahanya, Belum lagi perut besar yang kini menghalangi mereka membuat proses pekerjaan Sandi kian terhambat dan terlambat.


"Uda tidur aja dulu sana Ai" Suruh Sandi yang untuk kesekian kalinya.


"Nggak" Kea menggeleng,


"Kamu ngantuk banget loh, itu matanya sampai merah gitu,"


"Temeni" Rengek Kea megendus-ngendus leher Sandi. Sandi sampai merinding dibuatnya.


"Yaudah, aku temeni sampai tidur ya, tapi habis itu aku lanjut kerja" kata Sandi selembut mungkin.


Kea memundurkan tubuhnya yang membuat Sandi otomatis melempar mousenya karena refleks menahan tubuh Kea yang condong kebelakang. Mereka hampir terjungkal omong-omong.


Sandi berdesis hendak marah, tapi saat melihat mata sipit jernih yang malam ini tak memakai kaca mata itu membuat Sandi luluh lanta.


"Tapi nanti kalau ada Sodako gimana?" Pertanyaan Kea itu membuat Sandi yang awalnya berusaha tersenyum itu mendengus jengkel.


"Gak ada Sodako diapartemen kita Kea" Tekan Sandi sepelan mungkin, bisa bahaya kalau ibu hamil tujuh bulan itu mengamuk nantinya.


"Kata siapa!?" Teriak Kea tiba-tiba, "Ayumi bilang semalem ada, apalagi ini musim Semi his, San, takut tau."


Sandi menipiskan bibirnya jengkel, tapi lagi-lagi mata sipit jernih itu membuatnya tak berdaya, Sandi memegang pipi Kea setelah memastikan posisi mereka aman, "Nggak ada sayang ku, Ayumi bohongi kamu, lagian kamu kan gak sepenakut itu, kamu cuma cari alesan buat gangguin aku kerja kan" kata Sandi lembut.


Kea yang awalnya berusaha memberi tatapan ketakutan itu kini tersenyum lebar, bahkan terkesan cengengesan. Sandi dibuat gemas dengan hal itu. Ia lalu menciumi pipi bulat Kea dengan menahan gemas untuk tak menggigitnya.


"Iya kan hm, hm, ini pipi apa mochi sih"


Kea tergelak, perempuan hamil itu tertawa ditengah malam, tak memperdulikan Ayumi sitetangga sebelah yang mungkin terganggu.

__ADS_1


"Sandi udah, ih, " Kata Kea disela-sela tawa gelinya ketika akhirnya Sandi menggigit kecil-kecil pipinya.


Sandi yang masih gemas itu akhirnya memberikan penawaran, "Bilang ampun dulu dong,"


Kea merengek, "Ampun San, ih, air liurmu ini dipipi ku, bau ih"


Ganti Sandi yang tergelak puas, "Bilang yang bener dong ampunnya"


Kea mengerucutkan bibirnya yang langsung dikecup oleh Sandi, "Ih, jangan cium-cium"


Sandi tersenyum jenaka,


"Bilang dulu yang bener"


Kea mengerucut bibirnya sebelum menenggelamkan kepalanya didada Sandi, walaupun sedikit terhalang karena perutnya yang sudah bulat itu. "Ampun sayang, jangan cium lagi" Kata Kea malu-malu.


Sandi tertawa puas, ia lalu mengelus rambut dora Kea. "Oke, diampun kan, nah, sekarang tidur ya" Kata Sandi lagi dengan senyum cerah.


Kea kembali memundurkan tubuhnya, "Gak" Ketusnya.


Senyum cerah Sandi langsung menghilang, laki-laki berumur 22 tahun itu memutar bola matanya, menahan jengkel. "Tapi aku harus selesaiin ini sayang, paha aku juga pe-gel" Kata Sandi sepelan dan semanis mungkin saat mengatakan kata terakhir, oh ayolah memangku perempuan hamil tujuh bulan dengan bobot naik itu tak ada manis-manisnya.


Kea menggeleng, "Gak"


"Tuh kan, anak kamu juga minta temeni ini" kata Kea.


Sandi mendengus, Alasan, Pikir Sandi yang terlanjur kesal.


"Yaudah yuk, turun dulu dong" Kata Sandi menyuruh Kea turun dari pangkuannya.


Kea menggeleng, perempuan hamil yang super menyebalkan itu justru melingkarkan kaki bengkaknya kepinggang kurus Sandi, lalu juga melingkarkan tangan nya keleher Sandi dengan tatapan yang. ah, sudah lah.


"Gendong" Katanya seimut mungkin.


Oke, Sandi super kesal sekaligus gemas sekarang.


***


Sandi mengerang saat merasakan Kea menusuk-nusuk pipinya. Laki-laki itu masih sangat mengantuk, tapi tampaknya tidak dengan istri doranya itu.


"Ohayo, papa" Sapa Kea begitu Sandi membuka matanya.


Erangan protes Sandi berganti dengan kekehan kecil. "Ohayo, mama"

__ADS_1


"Asa no kisu" Tunjuk Sandi pada bibirnya.


(Morning kiss)


Kea menggeleng, "Kamu bau, "Kata Kea menutup mulutnya.


Sandi mengerucutkan bibirnya. ia lalu mencium pipi Kea, memeluk tubuh gemuk Kea yang semakin tampak menggemaskan dimata Sandi.


Kea tersenyum, ia lalu ikut memeluk Sandi. Kea tau, semalam setelah menemaninya tidur, Sandi kembali bekerja. Kea juga tau kalau Sandi masih sangat mengantuk sekarang. Tapi rasanya Kea enggan untuk bangun sendiri, ia ingin selalu dan selalu mengganggu Sandi.


"San"


"Hm"


"Temeni buat sarapan yuk"


"Hm"


Kea menghela nafas, tampaknya Sandi masih sangat mengantuk. Oleh sebab itu, perempuan hamil itu memundurkan tubuhnya, melepas pelukan Sandi.


Dan saat akan turun dari ranjang, Kea mengerang sambil menekan dadanya. Akhir-akhir ini dadanya sering sekali sakit. Kea tau dan juga ingat kalau ia memiliki lemah jantung, tapi rasanya rasa sakitnya dua bulan terakhir semakin menjadi-jadi.


Kea mengatur nafasnya sebentar, perempuan itu menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskan dengan pelan.


Sakitnya berkurang.


Masih meringis, Kea mencoba bangkit dari posisinya. Mengelus perut besarnya yang kini sudah menghalau pandangannya. Saat merasa perutnya mengalami pergerakan, Kea tersenyum, melupakan rasa sakit didadanya.


"Nanti kamu harus mirip papa ya sayang," bisiknya dengan senyuman.


Dan pagi itu Kea jalani dengan rutinitas sehari-harinya. Dengan Sandi yang akhirnya jam 9 baru bangun dan terburu-buru pergi kekampus karena ada presentasi pagi.


***


Ohayooo minasan,


Oya,


Waktu nulis cerita ini aku kok jadi kepikiran, Kira-kira kalian punya negara impian nggak?


Kalau ada Mau tau dong negara atau kota impian kalian apa?


Kalau aku pribadi sih, so pasti Jepang dan Belanda, mau liat kincir angin soalnya hahahaha.

__ADS_1


__ADS_2