
Kea menarik jaket Sandi kuat, membuat laki-laki jangkung itu oyong kearah Kea.
Kea memeluk Sandi, lebih tepatnya menyembunyikan wajah basahnya ke perut Sandi. Ia malu.
"Ke-lepas, basah gila," Kata Sandi mencak-mencak, tapi setelahnya ia diam. "Lo beneran ngidam?" Tanya Sandi sebelum tertawa geli.
"Lo ngacauin baju-baju gue, karena- ngidam?"
Kea kian terisak, dan begitulah akhirnya mereka pergi bersama untuk pertama kalinya, hanya untuk membeli hamburger.
****
"Uda?" Tanya Sandi begitu Kea selesai memakan dua hamburger.
Kea memberengut, "Emang lo uda?" Tanya Kea mendongakkan kepalanya. Masih dengan secuil hamburger dibibirnya.
Sandi menunduk, ia ingin mengatakan belum karena hamburgernya masih tersisa dan ia masih lapar. Tapi, sungguh, ia tak tega saat sedari tadi mata Kea melirik hamburgernya. Seolah mengatakan, ia ingin memilikinya.
Menarik napas mengalah, Sandi mengangguk, "Iya, lo mau?" Kata Sandi menawarkan sisa hamburgernya.
Kea menggigit bibir bawahnya, "Boleh?"
"Ambil aja" Kata Sandi sedikit agak tak rela. "Tapi bekas gigitan gue, " Beri taunya.
Kea mendengus, "Emang kenapa kalau bekas lo, lagian kan ini ngidamnya anak lo" Sinis Kea sebelum kembali melahap hamburgernya.
Sandi meringis melihat cara makan Kea. Apa mengidam anaknya memang membuat Kea serakus ini?
Tapi, anaknya?
Sandi menggaruk lehernya salah tingkah. Rasanya aneh saat ia mengakui anak dalam kandungan Kea adalah anaknya.
Walau dalam lubuk hatinya kadang tanpa sadar mengakuinya.
"San"
"San"
"Ah, ya?" Kaget Sandi saat Kea mengetuk-ngetuk tangannya dengan jari perempuan itu.
"Hp" Kata Kea dengan gerakan mulut, Sandi langsung menyadari kalau ponselnya berbunyi. Pesan dari Beni yang mengiriminya lokasi tempat janji mereka bertemu.
"Lo uda siap ka Ke?" kata Sandi membereskan ponsel dan juga tas Kea.
Kea mengangguk dengan mulut penuh, "Napa?" Tanyanya bingung ketika Sandi sudah berdiri dan tampak tergesa-gesa.
"Gue mau kerumah temen Gue, lo gue anter pulang dulu" Kata Sandi tanpa menatap Kea.
Kea mengerutkan keningnya, "Lo mau ngapain?" Tanyanya curiga.
Sandi menatap Kea, "Main" Katanya datar. jujur saja sekarang Sandi sedang luar biasa kesal, ia lapar, ingin memesan lagi namun Beni sudah menghubunginya ditambah lagi tingkah Kea yang seolah bermanja-manja dengannya. Sandi kesal sendiri dibuatnya.
"Gak"
"Lo apaan sih, Ke, jangan nyulut emosi kenapa?" Tekan Sandi kesal.
Kea memicingkan mata sipitnya yang berada dibalik kaca mata minusnya.
"Gue ikut"
"Kea!"
"Ikut San"
"Kea, lo kok jadi manja gini sih. Gue mau kerja Ke" Kesal Sandi.
"Tadi lo bilang main"
Sandi berdecak, "Gak, gue kerja"
"Lo bohong!"
__ADS_1
"Kea, ayo pulang!"
"Ikut, gue cape tau dikurung mulu" Desis Kea dengan mata merah sebelum akhirnya menangis.
Sandi mengusap wajahnya frustasi ketika mendapati banyak pengunjung mall, tempat dimana sekarang mereka berada menatapnya. Seolah menghakimi Sandi yang membuat Kea menangis.
Memaki pelan, Sandi akhirnya menarik tangan Kea. "Yaudah ayo"Ajaknya datar.
Kea yang masih sesenggukan, menerima ajakan Sandi, mengikuti geretan Sandi yang membawanya ntah kemana.
****
"Kita mau ngapain?" Tanya Kea begitu motor Sandi berhenti disebuah rumah kecil dengan banyak motor disekitarnya. sekilas seperti markas sebuah geng motor dengan tema yang lebih asri.
"Kerja," Kata Sandi datar.
"San"
"Apa lagi?"
"Lo gak berniat ngejual gue sama temen-temen lo kan?" Kata Kea mulai ketakutan, perempuan itu bahkan sudah menggenggam erat jaket Sandi.
Sandi menatap Kea kian datar, "Kok tau?"
Kea menggigit bibirnya, matanya sudah kembali merah dan siap menangis. semenjak usia kandungannya hampir ke trimester kedua, emosinya memanh kian tak terkontrol.
"Gu-gue ,hamil san"
Sandi menahan senyum, "Kata mereka nggak papa kalau lo hamil kok"
"S-san hiks, anak lo ini hiks" Kea sesenggukan masih dengan tangannya yang kian meremat jaket Sandi.
"Yaudah pulang sana"
"S-san"
"Yaudah, gue mau kerja bentar, jangan ganggu lo"
"S-san"
Sandi menghampiri Beni, temannya yang sejak semalam berbincang via telepon dengannya. Mereka bercakap-cakap santai. Mengabaikan banyaknya pemuda-pemuda lain yang menatap Kea dengan tatapan bertanya-tanya.
"Ciciw, siapa nih bang?"
Kea beringsut, memeluk Sandi saat seorang pemuda menghampirinya.
Sandi berdecak, memberi gestur mengusir dengan tangannya sambil membalas pelukan Kea. "Istri gue "Kata Sandi sebelum kembali berbincang dengan Beni.
Masih dengan posisi memeluk Sandi, diam-diam Kea mendengarkan pembicaraan Sandi dan Beni.
Ternyata, selama ini Sandi berkerja, freelancer desaigner untuk perusahan periklanan Om Beni.
"Jadi fix ini ya," Kata Sandi lagi.
"Yoi, tenang aja, Om gue aman kok, desain bangunan lo juga bagus-bagus."
Kea merasakan Sandi mengangguk-angguk diatas kepalanya.
"Ntar malam ada balapan ngelawan anak Tiger, lo nggak ikut?" Tanya salah satu orang yang ntah siapa, bukan Beni.
"Nggak,"
"Ikutan lah bang, gak asik banget lo" Kata yang lain.
"Gue uda ada bini woy"
"Yaelah bang, banyak ini taruhannya. Beni bantu lagian"
"Sori guys," Kata Sandi terdengar menyesal.
Kea agak mendongak saat mendapati suara Sandi yang begitu menyesal. Dan tatapan Kea langsung bertemu dengan mata jernih Sandi.
__ADS_1
"Pulang?" Tanya Sandi pelan.
Kea mengangguk, Lalu Sandi pamit dengan temam-temannya.
Ketika mereka kembali keapartemen, Kepala Kea rasanya penuh oleh banyak pertanyaan.
"Lo kerja sama omnya Beni San?"
"Hm" Sahut Sandi sambil memunguti kembali baju-bajunya yang tadi berserakan.
"Kenapa?"
Sandi menatap Kea, "Kenapa apanya?"
"Kenapa lo ambil kerjaan kalau lo masih kerja sama papa"
Sandi berdehem, tak berniat menjawab.
"Apa gaji bengkel gak cukup?"
"Menurut lo?"
"Menurut gue gaji bengkel lebih dari cukup untuk kita selama ini kan?" Kata Kea mengerutkan keningnya, jujur saja selama ini ia tau sendiri kalau papanya sering menambahkan gaji untuk Sandi, walaupun tidak banyak tapi nominalnya sangat cukup untuk keseharian mereka.
Sandi memdengus, lagi-lagi tak berniat menjawab.
"Lo masih berhubungan sama lusi? atau lo masih balapan sama temen-temen lo?" Kata Kea saat pikiran buruk menerpanya.
Sandi mengabaikannya.
"Sandi!"
"Geano Sandi!"
"Apa sih Ke, ini jam 2 siang gila, lo mau buat kepala gue pecah hah!" Bentak Sandi kesal.
"Ya terus, buat apa lo kerja siang malam kalau uang kerja sama papa lebih dari cukup" Desis Kea.
Sandi menyugarkan kepalanya, ia benar-benar pusing. Lapar juga kalau boleh jujur.
"Lo pemakai?"
Sandi berdecak, "Pemakai apa lagi!"
"Yah itu, gue apa gak curiga lo kerja tiap hari, temen-temen lo berandalan kayak gitu, jelas banget hidup lo gak jelas."
Sandi menyipitkan matanya, "Gak usah bawak temen-temen gue. Mereka banyak bantu gue asal lo tau!"
"Bantu apa! Bantu transaksi Nark*ba?"
"Kea!"
"Apa!"
Sandi mengambil sesuatu dari jaket yang ia pakai tadi, sebuah kartu ATM.
Laki-laki itu lalu melemparkannya tepat kedepan Kea.
"Lo mikir nggak sih! Lo itu lahiran pakai biaya atau nggak hah? Lo mikir nggak kalau susu hamil itu mahal? Lo itu mikir pakai otak nggak kalau ngurus anak kedepannya itu butuh biaya hah!" Bentak Sandi habis kesabaran.
"Gue kerja siang malam itu buat lo, buat kita Kea! Dan lo ngatain temen-temen yang uda bantu gue, bisa nggak, sekali aja lo mikir positif tentang gue?" Kesal Sandi membanting pintu kamar. Marah.
Kea mengerjap, ia menatap kartu khas bank itu dengan pandangan redup.
Apa Sandi memikirkannya?
Kea meletakkan tangannya diperutnya, ia tersenyum bersamaan dengan air matanya yang jatuh.
***
Duh, Sandiiiii
__ADS_1