Salah

Salah
S-1 Makasih Papa?


__ADS_3

Tadi Sandi bilang apa?


"Anak lo?" Kata Kea menahan senyum


Sandi berdecak, "Gue males ngakui ini, tapi emang siapa yang mau sama lo selain gue kan?"


Kea berdecak.


Sandi tersenyum, "Hm, anak gue ke, jadi ayo makan sekarang" Kata Sandi menyodorkan satu suapan sendok kedepan Kea.


Kea mengucek-ngucek matanya sebelum menerima suapan itu.


Dan, Ntah mereka sadari atau tidak, sejak tadi nada bicara mereka selalu pada nada normal. Tak ada bentakan dan tak ada makian.


****


"Sandiii"


Sandi hampir merasakan apa itu namanya serangan jantung saat mendapat teriakan melengking Kea.


Sandi baru saja pulang dari bengkel dan baru tiba dirumah saat Kea berteriak heboh seperti ini. Jujur saja, Sandi benar-benar kaget luar biasa, daripada teriakan melengking Kea Sandi lebih terkejut saat mendapati wajah berseri-seri Kea. Ia belum pernah melihat Kea seceria ini seumur hidupnya. Ah, kecuali saat sapaan ceria ketika Kea baru pertama kali pindah dan menjadi tetangga barunya. Dulu, saat mereka masih berumur 5 tahun.


Kea yang sekarang memakai dress warna biru lembut disertai senyum lebar itu membuat Sandi tak mampu berkata-kata.


"San"


"Hah,"


"Kita jadi kerumah mama kan?" Tanya Kea menghampiri Sandi, memegang lengan laki-laki yang masih terpaku menatapnya itu.


"San, ih"


"Ah, jadi" Kata Sandi agak tergagap, ia lalu melangkah hendak mengganti bajunya. Tapi tarikan ditangannya membuat Sandi menghentikan langkahnya.


"Lo mau ngapain?" Tanya Kea.


Sandi mengerutkan keningnya, "Ganti baju"


Kea menggeleng, "Nggak usah, lo gitu aja nanti mandi dirumah mama."


Sandi menggeleng tak setuju, ia baru saja menservis mobil dan badannya benar-benar bau keringat juga lengket, setidaknya itu yang ia rasakan sejak tadi.


"Gak, lo wangi kok, liat nih gue aja gak nyium bau kok, malah seger"


Sandi hampir terjengkang kebelakang saat tiba-tiba Kea memajukan tubuhnya sambil mengendus.


"Seger?" Tanya Sandi horor.


"Hm, seger, uda yuk kerumah mama" Kata Kea menarik tangan Sandi ceria, mengabaikan tatapan horor laki-laki itu.

__ADS_1


Sandi menelan ludahnya, apa penciuman wanita hamil memang semengerikan itu?


***


"Yeay" Kea berjingkrak begitu ia turun dari motor besar Sandi.


Sandi bahkan sampai tersentak kaget karena tingkah Kea, "Ke, jangan lompat-lompat kenapa sih" Tegur Sandi agak terselip nada kesal.


Kea memberengut, pipinya yang memang gembil dan ditambah tekanan helm dikedua pipinya membuat Kea benar-benar lucu sekarang. Sandi tak dapat menahan senyum karenanya.


"Lo lagi hamil Ke" Kata Sandi menjelaskan dengan nada pelan, tak mau membuat Kea tersinggung. oh, ayolah, mereka baru berbaikan tadi malam. Dan Sandi tak mau merusak hubungan mereka lagi. Dan juga harus Sandi akui, berbicara santai dengan Kea lebih menyenangkan daripada berteriak dan saling memaki. Dengan kata lain, Sandi suka perasaan damai yang mulai menyusup hatinya ini.


Kea berdecak, "Emang kenapa kalau gue hamil? lo gak tau apa, ibu-ibu hamil malah banyak yang senam tau biar sehat."


Sandi menggaruk rambutnya yang sudah lepas dari helm, "Iya, tapi itukan ada pengawasan Ke"


"Gue juga ada" Kata Kea tiba-tiba terasenyum.


"Siapa?" Tanya Sandi bingung.


"Lo"


"Gue? Jangan becanda lah, gue mana ngerti masalah begi-


"Terlepas dari lo yang gak ngerti masalah kehamilan, lo pasti bakal lindungi kita kan?" Sambung Kea santai.


Kea memberengut, "Iya juga, jadi lo gak bakal lindungi gue?"


Sandi menatap Kea, "Lo istri dan dia anak gue, apa menurut lo gue bakal ngelakui kebodohan yang sama?"


Kea terkekeh, perempuan berdress biru lembut itu berjingkrak pelan.


Sandi ikut terkekeh, Dan, Sandi rasa ia belum pernah merasa Santai, sesantai minggu menjelang siang ini. Ia bahkan sampai melupakan bagaimana wajah menyeramkan mertuanya untuk sesaat.


****


Kea menopang dagunya sambil menatapi mama dan mama mertuanya yang sibuk membuat makan siang dan tiramisu.


Yah, setelah tau Kea dan Sandi berkunjung, orang tua Sandi yang memang pada dasarnya hanya berjarak dua rumah dari rumah Kea pun langsung ikut datang. Para orang tua yang kesepian itu bahkan langsung membuat agenda makan siang bersama tanpa perencanaan.


Dan sekarang, Kea terjebak didapur tanpa melakukan apapun, kata mama mertuanya Kea hanya perlu duduk manis saja. Yang tentu saja dibalas anggukan semangat oleh Kea, selain karena ia yang tak terlalu mahir memasak, semenjak usia kandungannya menuju bulan keempat ini, Kea memang lebih malas dan gampang sensitif. Itu sebabnya, ia gampang menangis saat bertengkar dengan Sandi sebelumnya.


"Sandi kemana ma?" Tanya Kea setelah lama diam, Kea rasa mengganggu Sandi lebih menyenangkan daripada duduk bosan didapur.


Kedua perempuan dewasa yang awalnya sibuk pada kegiatan masing-masing itu terpaku.


Tadi Kea bertanya apa?


"Sandi?"

__ADS_1


Kea mengangguk semangat, atau bahkan terlalu semangat, "Iya Sandi kemana ya? Kea bosen" Kata Kea manja.


Lagi, kedua perempuan itu saling pandang.


"Kalian uda baikan?" Tanya Kelli Spontan.


Kea tersenyum, "Iya dong, Sandi baik tau sekarang ma," Kata Kea melangkah mendekati mama dan mama mertuanya.


"Yang bener?" Tanya mama Sandi tak percaya, rasanya aneh saat anaknya yang titisan lucifer itu bersikap baik pada musuh bebuyutannya.


"Iya, masak mama sama anak sendiri gak percaya" Kata Kea.


"Bukan gak percaya tapi kayak aneh aja, suatu keajaiban tau Ke, akhirnya anak mama yang satu itu sadar," Kata mama Sandi tertawa.


Kelli pun demikian, "bagus lah, mama jadi tenang kalau kalian akur Ke" kata Kelli mengusap rambut Kea.


Kea mengangguk, perempuan hamil yang sedang dalam kondisi baik itupun menceritakan bagaimana awal mula mereka bisa berbaikan. Dimulai dari ia yang mengidam Hamburger, bertengkar, sampai akhirnya datang berkunjung kesini.


Baik Mia atapun Kelli tersenyum mendengarnya, berharap kebahagian anak mereka berlangsung dalam jangka lama, atau bahkan selamanya.


***


Kea melirik piring Sandi yang masih tersisa tiramisu coklat, bagiannya sudah habis, karena mama Sandi hanya membuat satu lingkar tiramisu karena mengejar waktu makan siang tadi.


Jadi, setelah makan siang tadi, mereka semua berkumpul untuk mengobrol, mencoba menikmati hari minggu yang jarang sekali terjadi. Berkumpul dan salung berbagi cerita.


Yah, walaupun pihak laki-laki sejak tadi hanya diam dan banyak mendengarkan. Tapi melihat hubungan ayah-mertua dan juga menantu adem ayem sudah menjadi kemajuan pesat untuk rumah tangga Kea dan Sandi.


"Kata Kea kamu kerja sampingan diperusahaannya om nya Beni ya San?" Tanya Surya memecah kecanggungan.


Sandi menusuk tiramisunya yang tinggal sepotong, ia sudah akan memasukkan sepenggal tiramisunya ketika papanya bertanya.


"Iya pa"


"Bengkel kurang?" Tanya Kai menaikkan alisnya, mencoba mengintimindasi menantunya.


"Cukup om, cuma Sandi mau cari lebih buat tabungan soalnya-


Kea menarik tangan Sandi yang masih memegang garpu tiramisu, mengabaikan keterkejutan semua orang Kea mengarahkan tangan Sandi agar menyuapinya tiramisu terakhir.


Saat Sandi melotot kaget, Kea tersenyum lebar. "Makasih papa" Kata Kea meniru suara anak kecil.


Sandi terkesiap, begitupun semua orang.


Sandi berdehem, ia tak merespon, tapi telinganya memerah karena semua orang menahan senyun untuk menggodanya.


****


Ciee.. papa.

__ADS_1


__ADS_2