
Sandi menghentak selimut Kea.
Dan kondisi Kea yang memeluk perutnya dengan darah yang mulai merembes diseprai biru laut itulah yang ia lihat.
Rasanya Sandi ingin mati saat itu juga.
"Kita kerumah sakit sayang, tahan ya. tahan Kea.. Sial.. Lo pendarahan dari kapan Kea!!!" Maki Sandi memeluk Kea. Merasakan berat badan Kea menurun dan darah kental itu yang mulai mengering.
Ketika Kea merintih digendongannya. Sandi merasa, hatinya bukan hanya hancur namun sudah remuk redam.
***
Sandi tak pernah merasakan apa itu rasa sesal sampai ditahap seperti ini. Sampai ditahap ia ingin kehilangan nyawanya untuk menggantikan nyawa seseorang.
Sandi tak pernah merasakan apa itu kesedihan sampai ditahap ini. Sampai ditahap dokter mengatakan calon buah hatinya telah meninggal didalam kandungan sang ibu.
Kea Dehidrasi, karena perempuan itu tak meminum ataupun mengonsumsi apapun sejak mereka bertengkar, stres berat dan tekanan mental yang memang di derita Kea sejak awal kehamilan kembali mendera Kea dengan berat. Membuat bayi dengan berat kurang dari satu kilo gram itu harus dikeluarkan dari relung nyaman rahim sang ibu.
Sandi tergugu,
Ia bahkan menangis tersedu-sedu pada mertuanya ketika Kai mengangkat telepon nya jam 3 dini hari itu.
Sandi tak lagi memikirkan apa itu gengsi ketika ia meraung-raung dipelukan mamanya. Meminta maaf, memohon ampun dan berteriak bagaimana ia mencintai Kea dan calon anak mereka.
"Ma.. Sandi mohon, doa mama pasti terkabulkan ma hiks.. Maa Sandi mohon" Tangis Sandi dipelukan mamanya.
Dua pasang suami istri itu saling menatap dengan duka. Mia dan Surya mencelos ketika baru pertama kalinya melihat putra pembangkang mereka serapuh ini.
Sedangkan Kai tak mampu berkata-kata, ia seperti mengulang masa lalunya, dulu ia juga meraung-raung seperti Sandi saat Kelli berusaha menggugurkan Kea.
"Ma.. Hiks, Sandi nyesel ma.. Maafin Sandi" Sandi berlutut memohon pada mamanya. Selama inj hanya mama yang mampu membuat Sandi tenang. Tapi sekarang, pelukan mamanya bahkan tak bisa Sandi rasakan ketenangannya.
"Sandi mau anak Sandi ma... dia gak salah, dia gak salah.. Sandi yang salah ma.. Sandi yang salah hiks.. Mama.. Pa" Sandi menatap papanya yang matanya sudah merah.
"Anak Sandi gak salah kan pa, anak Sandi gak salah kan pa... Sandi nyesel pa hiks" Tangis Sandi pada papanya.
"Sandi nyesel, Sandi bahkan gak ngakui dia kemarin... Sandi hiks, papa bilang kita harus ngasih kesempatan hidup untuk semua anakkan pa? T-tapi hiks, Tapii anak Sandi kenapa gak dapat kesempatan hiks.. Sandi belum jadi pahlawan untuk anak Sandi pa.."
"Sandi?" Panggil Papanya bergetar,
"Sabar nak"
Sandi menggeleng, menolak melakukan tindakan yang dikatakan papanya.
Sandi kian tergugu,
Kai yang awalnya tampak seperti orang linglung itu pun menghampiri menantunya, menepuk-nepuk pundak menantunya.
"Ikhlas San" Bisik Kai bergetar, laki-laki itu menangis. Ia tau rasanya ada diposisi Sandi. Kai tau rasanya.
__ADS_1
"Nggak om, Sandi gak ikhlas, Anak Sandi gak salah hik, Gak salah, yang salah itu Sandi. Sandi om.. Sandi.. Sandi belum ketemu dia om.. Sandi uda siapin uang untuk lahiran Kea. Sandi kerja om.. Sandi kerja hik. Sandi kerja tiap hari buat nyambut dia.. Bukan malah kayak giniiii" Sandi memukul-mukul dadanya.
" Sandi belum denger suaranya, Sandi belum denger tangisnya.. Sandi lakuin apapun buat dia... Sandi hik, Sandi bahkan kemarin lusa uda datang ketoko baju bayi.. Sandi uda pesen.. Sandi uda pesen.. Tapi Dia belum pakai... Dia belum pakai.."
"Om, om percayakan Sandi sayang mereka.. Om percaya kan? Sandi nyesel om" Tangisan Sandi kian tak terkontrol. Laki-laki itu dalam kondisi hancur dan begitu merasa bersalah.
Seandainya ia bisa mendengarkan penjelasan Kea lebih dulu. seandainya ia mau bertingkah lebih dewasa, Swandainya ia tak menghakimi Kea, seandainya ia cepat pulang kerumah.
"San"
Sandi tersentak dari lamunannya, Ia juga mulai tenang setelah mama dan juga mama mertuanya menenangkannya. Mencoba menerimanya dengan lapang. Walaupun itu tak mungkin Sandi lakukan.
Ia bahkan belum mendengar tangisan bayinya.
Ia belum menjadi pahlawan dan hero untuk putrinya.
Sandi belum dijadikan sosok cinta pertama anak gadisnya.
Yah, bayi mungilnya berjenis kelamin perempuan.
"Sandi, Ya Allah nak, istigfar kamu" Kata Mia memeluk kepala Sandi yang menunduk.
Sandi mengangguk, dalam hati merapalkan doa penenang untuk dirinya sendiri.
"Uda tenang?" Tanya Kelli lembut, mertua Sndi itu bahkan berusaha tersenyum padahal matanyamasih merah.
"Kita liat princess kita yuk, dia pingin jumpa papanya" Kata Mia lembut sambil mengusap air matanya yang jatuh.
Sandi kembali mengangguk. Yah, Ia harus menemui putrinya, setidaknya sebelum para kakek dari putrinya itu menidurkan putrinya ketempat tidur ternyamannya.
"Sandi mau gendong?" Tanya Kelli begitu mereka sampai didepan box bayi.
Bayinya nampak begitu kecil, namun cantik, Sandi belum pernah jatuh cinta pada pandangan pertama kecuali pada putrinya sekarang. Hatinya bergetar ketika melihat bayinya yang matanya terpejam. Bayi itu nampak normal walauoun sangat kecil. Yang membedakannya hanya..
Bayinya tak menangis, tak juga bernapas. Bayinya tidak merah.. Tapi pucat pasi. menandakan bayinya belum lama meninggal. Sandi bahkan meragukan ada darah dalam tubuh putri krcilnya. Kata dokter, walaupun Kea pendarahan sudah cukup lama. Tapi bayinya baru meninggal beberapa jam yang lalu dalam kandungan mamanya.
Sandi tersenyum miris, pantas saja, ia tak merasakan tendangan aktif anaknya lagi saat ia mengusap perut besar Kea beberapa waktu yang lalu.
"San"
Sandi mendongak, ia menatap papanya.
"Mau gendong nggak?"
Sandi langsung mengangguk, ia terlalu terpesona pada putri kecilnya sampai ia tak sadar belum menjawab tawaran mama mertuanya itu tadi.
Ketika bayi dingin itu masuk kedalam pelukannya, tangis yang sejak tadi Sandi tahan kembali datang.
"Halo.. putri papa... " Bisik Sandi pada anaknya, walaupun ia tau anaknya tak akan dengar dan tak akan pernah mendengarnya.. Sandi hanya ingin mencoba menyapanya. Berharap mendapat mukjizat Tuhan pada putrinya.
__ADS_1
"San" Panggil Mia nelangsa.
"Dia kecil banget ma," Kata Sandi terisak.
"Dia mirip Sandi kan ma?" Tanya Sandi pada Mia dan Kelli.
kedua perempuan dewasa itu mengangguk.
"Waktu Sandi sama Kea periksa dia waktu itu, Kea kayak gak percaya waktu Sandi bilang dia bakal mirip Sandi. Kea pasti iri" Katanya pelan.
Sandi mencium pipi dingin bayi kecil itu, "Mama kamu pasti iri karena kamu mirip papa sayang" bisiknya bergetar.
"Maafin papa ya nak, papa belum bisa jadi pahlawan hebat buat kamu" bisiknya lagi.
Semua orang tergugu.
"Ma.. Kepalanya lembut banget" Kata Sandi saat menyadari kepala putrinya terasa lembut, belum keras seperti kepala bayi pada umumnya, karena usianya baru enam bulan. kurang lebih baru 24 minggu.
"Kamu kecil banget sayang" Bisik Sandi lagi, "Papa sampai takut mau cium kamu lagi" Bisiknya.
"Sandi" Bisik Mamanya lagi, menegur.
"Sayang, kamu gak mau buka mata kamu sedikiit aja buat papa"
"Sandi" Kali ini Surya yang menegur.
"Papa mau denger kamu nangis."
"Geano Sandi" Tegur Kai serak, "Kembalikan San, dia harus tidur tenang nanti" Bisik Kai merusjuk pada pemakaman cucu pertama Geano dan Kaindra itu.
"Om, Sandi kasih dia nama dulu ya" Bisik Sandi mencium pipi putrinya lagi.
Semua orang mengangguk.
"Selamat jalan sayang, putri papa dan mama. Selamat jalan. Papa mama, kami semua sayang kamu, Angela Geano. Malaikat papa dan mama, makasih kamu uda hadir diantara kami,Angela"
Dan begitu bayinya lepas dari tangan besarnya, Sandi jatuh tergugu.
Putrinya sudah pulang.
Putrinya sudah tenang.
Angela nya sudah pulang.
****
Mata ku bengkak waktu nulis ini, banyakkan nangis.
Gimana sama kalian?
__ADS_1