Salah

Salah
S-1- Rencana awal


__ADS_3

Kea tertawa keras, mengabaikan pemikiran mungkin saja orang tuanya mendengarnya."Apa lo pikir gue selemah itu? Waktu gue tau hidup sama gue adalah sebuah penderitaan buat lo, gue justru makin semangat buat lo kian terikat sama Gue, pakai cara apa-pun itu."


Sandi mengerutkan keningnya, tangannya mengepal dan tatapan matanya tajam kearah Kea yang kini tampak tak gentar dengan dirinya. Apa secara tak langsung Kea ikut mengajaknya bersaing untuk saling menyakiti, wah.. kenapa kehidupan rumah tangganya semakin semenyenangkan ini.


***


Kea memperbaiki kaca matanya saat Sandi menjelaskan materi matematika hari ini didepan kelas. Walaupun Kea memiliki kebencian yang tak terhingga pada sosok manusia yang tampak tenang dan santai mengerjakan soal dipapan tulis itu, tapi kali ini mau tak mau Kea harus sedikit menurunkan Egonya karena ia benar-benar tak paham dengan materi kali ini.


Dan sebagai penerima beasiswa matematika kesayangan pak Sohibi, tentu saja Sandi paham akan materi itu.


"Nah, ada pertanyaan?" Kata pak Sohibi setelah Sandi meletakkan spidolnya.


"Saya pak!" Tanya perempuan berkaca mata selain Kea dikelas itu, kalau tidak salah namanya Rana. Dia adalah peringkat kedua dikelas ini setelah Sandi, atau juara tiga kalau Kea berhasil menduduki posisi kedua. Mereka sering bertukar posisi peringkat, tapi tetap saja sang Juara adalah Sandi. Kea berdecih ketika ia mengingat fakta itu, Sandi memang iblis, tapi kemampuan otak dalam berpikirnya memang patut dihargai, sayangnya, otaknya itu berisi akal-akal busuk saja dimata Kea.


Kea menatap Rana yang kini maju kedepan untuk menerangkan langkah-langkah pengerjaan yang masih membingungkan, lalu lagi-lagi dibahas lugas oleh Sandi. Ck, selama bertahun-tahun sekelas dengan Sandi kenapa Kea baru menyadari sesuatu tentang iblis itu.


Senakal-nakalnya Sandi, laki-laki itu berusaha mengutamakan sekolahnya, itu terbukti dari bagaimana laki-laki itu serius akan beasiswanya, serius akan nilai ujiannya dan juga frekuensi bolosnya yang terbilang jarang untuk anak nakal sepertinya.


Kea menegakkan tubuhnya saat sebuah rencana awal hinggap dikepalanya, Jika menghancurkan Sandi melalui Lusi tidak bisa menghasilkan suatu hal yang maksimal. Lalu~


Kenapa tak hancurkan saja prestasi sekolah Sandi dengan cara yang memalukan.


perlahan, Senyum Kea mengembang. dan ntah bagaimana ceritanya ia menjadi bersemangat berkali-kali lipat hari ini, mengabaikan fakta beberapa menit yang lalu ia curhat sambil meraung-meraung bersama sahabatnya karena putus dengan Yuda.


Ah,.. Kea tak sabar rasanya.


***


Sandi melirik jam tangannya, hari ini ia ada kelas tambahan dengan pak Sohibi, ia mulai mempersiapkan banyak hal untuk beasiswanya omong-omong.


Sekarang jam 16.39 Kepalanya terasa akan pecah karena menerima banyak materi dan wejangan. Rasanya ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur atau duduk-duduk Santai dengan Mario dan teman-temannya lain. Ah, mengingat teman-temannya Sandi rasa ia sudah jarang berkumpul dengan mereka semua. Padahal Sandi sangat merindukan canda tawa teman-temannya, aroma alkohol yang memabukkan, suara musik yang memekakkan dan juga.. Serunya arena balapan.


Tapi,


Sandi mengepalkan tangannya saat ia mendapat chat dari Kai, ayah mertuanya itu menegurnya untuk segera kebengkel dan melarangnya malas-malasan.


Sial

__ADS_1


Sial


Sial,


Sandi ingin terus memaki mertuanya itu karena sudah terang-terangan memeberi kekangan dan tekanan untuknya. Oh, ayolah, senakal-nakalnya ia, Ia juga masih bocah belasan tahun yang ingin banyak bermain.


Bullshit jika Kai mengatakan ia harus bertanggung jawab untuk Kea, Sandi rasa uang kedua orang tuanya itu bisa membiayai Kea sampai mati, tapi kenapa Kai seolah-olah bertingkah mereka sangat kekurangan.


Dan sebuah kebohongan juga jika Kai bilang, ia belajar dari pengalaman. Ayolah, jika memang belajar dari pengalaman apakah Kai akan membiarkan sandi tertekan seperti laki-laki tua itu dulu?


Mendesis tak suka, akhirnya Sandi pun melajukan motornya kebengel, ah, maksudnya kenerakanya itu.


***


Sandi mendesis saat suara ponselnya terus berdering ketika ia masih sibuk dengan mesin mobil dan sudah berlumuran minyak dan Oli bekas mengotak-atik motor sebelumnya.


"Oy, budek atau tuli sih lo, hp lo bunyi mulu tuh, ganggu konsentrasi orang ae"


Sandi mengabaikan teriakan seorang montir muda lulusan SMK tiga tahun diatasnya itu,


"Woy, Beneran tuli yah lo, "


Bengkel Kai ini memang tak buka 24 jam, bengkel ini akan tutup jam 9 nanti, itu artinya masih tersisa satu jam lagi sebelum Kai bebas dari suara-suara sinis seniornya dibidang bengkel-bengkelan ini.


"Baru tau gue, Tuli bisa menular,"


Sandi menghentikan gerakan tangannya. Telinganya mulai panas.


"Makanya San, pilih istri itu-


Trak!


"Oy, oy, santai man!" Teriak salah seorang yang dari tadi diam saja Saat melihat Sandi membanting obeng dan mulai menghampiri dua orang yang sejak tadi mengganggunya.


"Ngomong apa lo njing," Teriak Sandi melepas tarikan Joni, Salah satu orang yang sejak tadi diam tak ikut campur.


"Santai bro, oke-oke gue minta maaf, sori" Kata salah satu dari mereka, Endrik namanya, kalau tidak salah.

__ADS_1


Sandi menghepaskan tangan Joni yang lagi-lagi menghadang dadanya. "Sekali lagi lo ngomongin istri gue. Mati lo ditangan gue." Ancam Sandi melepas baju khas montirnya. Mengambil seragam, jaket, tas dan juga ponselnya. Mengabaikan tangannya yang masih penuh oli, atau bahkan suasana bengkel yang menjadi hening karena amarahnya.


Sandi mengelap tangannya kejaket hitamnya, saat sudah keluar bengkel, Sandi harus menghentikan motornya kala ponselnya lagi-lagi berdering.


"Siapa sih" Kesalnya membuka kunci layar ponselnya saat deringannya mati. Ia mengernyit saat mendapati 37 panggilan tak terjawab. Ah, pantas Suara ponselnya tadi tak berhenti sama sekali.


Sandi kian mengernyit saat mendapati 3 panggilan Mario, 5 Panggilan Deni, 15 panggilan Papanya, 2 panggilan Pak Sohibi, 2 panggilan wali kelasnya dan juga 10 panggilan mamanya. Dan jangan lupakan banyak notifikasi chat dari berbagai aplikasi.


Wah, kenapa orang-orang ini menghubunginya apa-


Sebelum Sandi menyelesaikan dugaannya, panggilan papanya kembali masuk,


"Ya Pa?"


"Geano Sandi, Pu-lang se-ka-rang!" Tekan Papanya.


Sandi mengernyit, dan panggilan itu langsung mati, Ada apa sebenarnya. Tak mau terlalu pusing, Sandi pun langsung menghubungi Mario.


"A*j*ng, bangsat, gue pikir uda mati lo njing"


Sandi mendengus, "Kenapa sih?"


"Kenapa! kenapa lo bilang? Lo gak liat berita tentang diri lo hah! Lo mau dikeluarkan dari sekolah dan lo masih tanya kenapa!"


Sandi menurunkan ponselnya, "Dikeluarkan" gumamnya.


"Iya, buka grup angkatan anjing, bukan cuma lo tapi gue, Deni sama beberapa anak-anak yang lain juga kenak. Gila!"


Sandi langsung membukanya dan tubuhnya terasa mati sesaat saat ia mendapati foto dirinya dan juga beberapa temannya yang sedang mabuk memegang alkohol disebuah klub. Foto ini-


adalah foto yang sama yang membuat ia dan Lusi putus waktu itu..


Jangan bilang-


Bangsat!


***

__ADS_1


Rencana awal dilancarkan. Omong-omong, gimana nih sama idenya Kea? Jenius nggak? wkwkwk.


jangan lupa like, komen, dan juga votenya ya..


__ADS_2