
*********
Di sebuah tempat yang jauh, di langit pertama, terdapat sebuah daratan besar yang mengamabang di langit pertama.
Luasnya hanya di huni oleh padang rumput dan sesosok yang amat besar pun tampak dari bayang-bayangan kabut, seseorang mendatanginya, memberikan kabar terkini.
"Sepertinya aku harus segera ikut turun tangan juga" Ujarnya menggema, dan membuat semua yang mendengar begitu terkejut.
Orang-orang yang tahu akan dirinya lansung membicarakannya.
"Di era konflik pasukan malaikat dan lima pilar dia tidak pernah ikut campur sedikitpun"
"Wajar saja kalau dia ikut campur, mungkin kita akan menang dengan mudah dan tidak akan sesulit ini"
"Memang sudah waktunya dia ikut turun tangan dalam krisis sekarang ini, kebangkitan para dewa iblis adalah suatu yang cocok untuk dirinya turun tangan, salah satunya yang selamat dari medan perang puncak 800 triliun tahun yang lalu, salah satu dari seratus tetua. Sang raksasa berzirah, Grover"
**************
Setelah sekian kata dari Radehs, akhirnya Retha seolah jatuh ke bawah.
Dianna yang menyaksikannya lansung menghentikan Retha, dia mengerti jika Retha hendak segera pergi menuju dunia bawah untuk menjalankan ritual pembangkitan Radehs menuju dewa iblis sejati.
"Anda tenang saja kami sudah akan menghalau keduanya sekuat tenaga kami, karena kami sudah bersiaga dari bawah" Ujar sebuah telepati ke Lorn.
Lorn berterima kasih, dan dia mempunyai rencana untuk membawa Retha dan Radehs menuju langit pertama, dan membatalkan semua teleport yang akan digunakan oleh Radehs dan Retha.
Lorn maju melewati berbagai batuan yang menghalang di depannya terdapat banyak pasukan yang bertarung, dia hancurkan sebagian pasukan iblis serta para Sekutu lalu menghindari kerucut milik pobinando yang melaku kencang dan menendangnya hingga terhempas ke arah syuda.
Dengan sekecepat kilat, dia menuju alamandas menciptakan sebuah benteng raksasa menghempaskan hingga meremukkan alamandas.
Ketiga yang terkuat di neraka mati tanpa perlawanan.
Dianna mengambil nafas dalam-dalam menghembuskan ke Lorn sehingga menambah kecepatannya tapi angin itu seperti angin beliun yang tajam menyanyat tubuh musuh. Tapi tetap aman bagi lorn dan malaikat yang lainnya.
Lorn melesat dengan tajam menuju kaki Retha.
Retha yang menyadari mencoba menghalau tapi naas, lorn terlalu cepat hingga menghancurkan satu kakinya lalu menuju ke badan hingga ke pundak di mana saat itu ada Radehs juga di sana.
Dia menerjang hingga tubuh Radehs hancur dan menyerang dengan pedang secara bertubi-tubi.
__ADS_1
"Brengsek" Ujar Radehs merintih.
"Duammmmm"
Semua yang ada di sekitarnya lansung terhempas, bahkan lorn terhempas sangat jauh sekitar 3 ribu kilo meter jauhnya.
Berbagai benda yang berada di belakangnya terhempas tapi karena ketajaman instingnya, semua benda di hindari oleh lorn dalam hempasan dahsyat tersebut.
Dan ledakan tersebut berasal dari tubuh raksasa Retha.
Sontak semua yang ada di sekitar terkejut bahkan Dianna membentuk kuda kuda bertahan.
Miliaran nyawa melayang saat itu. Bahkan mencapai dunia yang terus melintas jauh dari medan perang.
Butuh beberapa menit keadaan kembali normal, bahkan perang sempat berhenti, banyak orang menyelamatkan diri ke tempat yang aman.
Terdapat banyak bongkahan batu di jagat raya yang berasal dari Retha.
Disisi lain lorn kembali ke tempat Dianna, dia mencoba meneliti tempat itu baik-baik, mau bagaimanapun tempat tersebut tidak lagi sama seperti sedia kala.
Disisi lain pula Radehs kembali ke bentuk semulanya, berbagai kombinasi dari mahluk buas yang diciptakannya sudah hancur oleh Lorn.
"Sungguh menjengkelkan" Ujar Retha.
"Gara-gara ketidak berdayaanku, kau sampai susah payah begitu" Ujar Radehs membuat Retha terkejut.
"Ahahahha, kalimatmu seperti sebuah hinaan, aku hanya kesal seolah tubuhku tidak selentur dulu kalau, seperti orang tua yang bangun di pagi hari, sungguh tubuh yang berat, lagi pula apa kau tidak menciptakan lagi mahlukmu?" Tanya Retha.
"Tentu saja, aku akan menciptakan mereka terus menerus sampai kekuatanku habis akan terus aku ciptakan, mereka adalah bentuk dari kebencian ku selama ini atas hidupku" Balas Radehs geram.
"Tentu saja jawaban yang sangat mudah ditebak, tapi kau harus siap lagi, untuk kedepannya karena dia akan datang" Ujar Retha.
Dalam sekejap lorn datang meninju Radehs, di belakangnya terdapat telapak tangan Dianna.
Radehs menahan serangan dari Lorn, dalam sekejap Retha membentuk tangan raksasanya dari bongkahan batu yang tersebar dari jagat raya.
"Sudah terlambat" Ujar Dianna kepada Retha.
Alhasil Radehs dan Retha terhempas begitu jauh, lambat laun di sela-sela pertarungan mereka, kondisi mulai kembali ke sedia kala, setiap orang saling menyerang satu sama lainnya.
__ADS_1
Radehs dan Lorn meliuk-liuk di jagat raya sembari mengeluarkan semua kemampuan mereka yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
**********
"Kalau seperti ini terus maka pertarungan yang merusak ini tidak akan ada habisnya"
"Benar seharusnya kekuatan keduanya melemah bukan malah semakin kuat"
"Jangan banyak bicara, itu kita percayakan saja pada salah satu malaikat terkuat, tugas kita adalah mengantisipasi sangat dewa iblis yang akan menuju ke dunia bawah, jika dia kesini maka kita akan bergerak"
*********
Disisi lain Retha yang terhempas begitu jauh terus menyatu dengan berbagai batuan yang ada. Dia menggunakan telepatinya untuk mengumpulkan semua yang berada di pihaknya. Semuanya di lakukan dengan menangkis setiap serangan dari Dianna dan Lorn.
Radehs menciptakan berbagai tangan untuk menghalau Lorn, tapi Lorn selalu menangkis dengan senjata barunya.
Lorn juga tidak mudah tertipu untuk ikut arus dalam pertarungan Radehs yang di mana membuat dirinya terus ke bawah.
Saat ini lokasi mereka berada di langit 914.
Retha terus terdesak begitu pula dengan Radehs.
Kerja sama Dianna dan Lorn begitu hebat seolah mereka adalah dua bagian tubuh yang di kendalikan oleh satu otak.
Lorn menyerang Radehs lalu Dianna menyerang Retha, tak berselang lama lorn menyerang Retha dan Dianna menyerang Radehs.
Tubuh keduanya hancur lebur dan di saat yang sama mereka terpikirkan oleh kenangan masa lalu.
Bukan hanya Radehs tapi Retha juga.
Retha membayangkan bagaimana situasi kehidupannya di saat dia masih hidup seperti manusia dulu.
Seorang anak perempuan yang terlahir dengan kulit yang lemah dan akan hancur jika terkena sinar matahari. Lalu di khianati oleh sang ibu dan menjadi pelampiasan kekesalan oleh sang ayah atas ibu yang pergi meninggalkan mereka berdua karena terpikat oleh laki laki lain.
Dalam keputus asaan Retha bersimbah darah akibat batu tajam yang dia hantam kan pada kepalanya sendiri agar mati.
Tapi kematian masih tak kunjung menjemputnya hingga seseorang datang kepadanya, menawarkan tangannya yang kurus kering kepada Retha yang bersimbah darah.
Kata katanya membuat Retha merasakan kehidupan kedua, kata kata tersebut adalah luapan amarah atas kehidupan yang tidak adil ini.
__ADS_1
Dia adalah Sang dewa kemarahan generasi pertama.