Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 133


__ADS_3

"Sungguh mengejutkan, walau terkesan licik dan curang tapi mau bagaimana lagi, mereka juga melakukan hal yang sama dengan atas nama keadilan dan kedamaian!"


"Kau benar!"


"Kita beberkan kabar ini ke medan perang!"


"Tentu saja, gelora semangat akan berkobar"


*************


Di berbagai pertempuran yang ada antara pasukan keadilan dan juga pasukan kejahatan, muncul berbagai bayang hitam yang menunjukkan Dhona yang menangis, dan Bulba yang berada dalam rangkulan dadanya.


"Waahaaiii semuanya pasukan-pasukannku, apakah kalian tahu siapa wajah yang ada di bayangan itu, dia adalah Bulba sang darah, sosok legenda dari gunung berkah dan merupakan salah satu dari lima ratu di sana, tak hanya itu dia juga yang merupakan salah satu yang selamat dari medan perang puncak delapan ratus juta triliun lalu, dan berhasil membawa era kedamaian semu kepada jagat raya, dan hari ini, di waktu ini, di detik ini, dia telah matiiiiiiii, dan orang-orang yang mengalahkannya tidak lain dan tidak bukan, adalah empat pilar itu sendiri, dan dengan ini kukatakan pada kalian semua wahai pasukan ku, era kedamaian sudah berakhir, tidak ada lagi perdamaian selain kobaran perang, tumpukan daging orang-orang tidak bersalah, dan semangat yang menggebu-gebu!"


"RRRRRRRRRAAAAAAAAAAGGGGGGGGRRRRRRRRR"


Secara serontak, walau mereka tidak sama, tidak memiliki tujuan yang sama, tetapi kata-kata barusan bagaikan deruan semangat yang membara.


"Seorang prajurit yang moralnya naik, akan maju walau lebih dari 5 pedang telah menusuk tubuhnya!"


Kabar itu bagaikan mimpi buruk bagi moralnya pasukan keadilan.


Gempuran demi gempuran pun terus terjadi.


Dan sorakan semangat barusan terciptalah sebuah kembang api yang merupakan serangan-serangan jarak jauh dari pasukan kejahatan.


"Menang itu tidak penting, tetapi di kenang itu penting, meskipun kau adalah sosok yang di kalahkan!"


************


Di sisi lain


Kluna yang sedari tadi melawan monster mahluk dunia bawah, hanya bisa termenung mendengar kabar kematian Bulba.


Lalu disisi lain ada Carolina yang terkejut mendengar kematian Bulba .


Slojare, dan juga Salusa.


Mata mereka terbelalak.


************


Lazera tertunduk lemah mendengar nama bulba yang di sebut telah gugur dalam medan pertempuran.


"Aku tahu jika dirimu juga merasa kehilangan seperti yang orang-orang rasakan tetapi lazera, kau adalah pemimpin perang ini, tidak ada waktu untuk merasakan kesedihan mendalam!" Ujar Huxio.


"Kau benar, maafkan aku!" Ujar lazera.


"Akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah mengatakan kata-kata yang tidak pantas!" Ujar Huxio.


Di sisi lain Freya juga terkejut mendengarnya, dia memang tidak pernah bertemu secara lansung dengan Bulba, tetapi dia mengenalnya melalui Ugagia.


Lalu Freya juga menyadari, runtuhnya moral yang sedang di hadapi pasukan keadilan, terutama pasukan dari gunung berkah sendiri.

__ADS_1


Karena lima ratu dari gunung berkah adalah orang-orang yang menyandang gelar seratus orang yang selamat dari medan perang puncak generasi 199, itu artinya mereka yang berada di garda depan dan selamat dari peristiwa besar itu.


Bagi pasukan gunung berkah, sudah pasti mereka tidak akan pernah kalah ataupun mati.


Yang harus di pikirkan oleh para petinggi adalah membangkitkan moral semangat pasukannya lagi.


Freya menarik nafasnya dalam-dalam.


"Tetaplah semangat, tetaplah berjuang!" Ujar Freya pelan tapi itu tersampaikan ke semua orang, terutama pasukan keadilan.


"Itu adalah telepati tingkat tinggi, sama seperti para terkuat!" Ujar lazera terkejut.


"Kematiannya tidaklah sia-sia, di balik kematiannya seperti pohon besar yang tumbang tetapi memberikan benih yang banyak kepada pohon-pohon lainnya, reinkarnasi!" Ujar Freya.


Membuat orang-orang terkejut terutama Slojaer yang mendengarnya.


"Dia tidak akan hidup kembali, tetapi tidak berarti dia akan hilang akan segalanya, jiwanya, semangat juannya, pengorbanannya, dan impiannya!" Ujar Freya mulai menaikkan sedikit tinggi suaranya.


"Tentunya, menyinari kehidupan orang-orang dengan kebajikan!" Ujar Freya bersemangat.


Bagi mereka yang paham maksud dari Freya akan meneteskan air mata seperti kluna, dan Slojaer.


"Dengan begitu berjuanglah, pasukan keadilan, kalianlah harapan satu-satunya semua orang di jagat raya ini, hanya kalian yang bisa menghentikan kegelapan yang akan membawa akhir bagi jagat raya, karena itu berjuanglah!" Teriak Freya.


Dia memegang tongkatnya, menuju pasukan kegelapan, dia mengamuk memutar mutar tongkatnya sembari menggerakkan mereka ke arah titik titik lemah lawannya.


"Berjuanglah!" Teriak Freya sekali lagi.


Dan semua pikiran orang-orang lansung terbayangkan kepada Bulba yang selalu mengatakan hal itu di kala pidatonya.


***************


Di sebuah tempat di langit ke 999


Pasukan keadilan dan pasukan kejahatan saling berperang satu sama lain.


Sebuah monster muncul dari bawah tanah, membelah daratan itu beserta isinya.


Sedangkan dari depannya, segerombolan prajurit garda depan terlempar ke sana kemari, salah satu dari prajurit yang terlempar dia berhasil meraih ujung daratan.


Dia seolah tak punya harapan untuk kembali, dan melepaskan cenkramannya pada tanah dan terjatuh.


Namun belum sedetik dia melepaskan cenkramannya, ada seseorang yang berhasil meraih tangannya.


"Untunglah aku masih sempat!" Sebuah wajah terlihat di depannya, wajah penuh dengan debu ledakan.


Itu adalah temannya.


"Alguem!" Ujar nya memanggil namanya.


"Sudah lu bilang kan Torio, aku tidak akan meninggalkanmu!" Ujar Alguem, mengangkat Torio ke atasnya.


Monster yang tadi terbang, sekarang sudah mendarat, saat dia menyentuh daratan, tercipta getaran di sekitarnya.

__ADS_1


Torio dan Alguem sampai harus menutup mutasi mereka dengan tangan karena debu.


"Sial dia menutupi jalan mundurnya kita!" Ujar Alguem.


"Tapi untuk monster sebesar itu adalah keuntungan bagi kita, dia tidak akan terfokus kepada kita melainkan pada gerombolan dan juga mahluk mahluk sebesar dirinya!" Ujar Torio.


"Ouh aku mengerti maksudmu, kau ingin kita melewati bawahnya kan!" Ujar Alguem di alansung berlari menuju monster tersebut.


"Hei tunggu!" Ujar Torio mengikutinya dengan kesal.


"Berdiri tidak akan menyelesaikan masalah, dan juga bertindak jauh belum tentu berakhir dengan kegagalan, yang di butuhkan oleh orang-orang seperti kita adalah mental dan nyali yang kuat!" Ujar Alguem dengan bangganya.


"Yah yah aku tau, beberapa saat yang lalu aku merasa sedih karena mendengar salah satu dari ratu gunung berkah mati dalam pertarungan, tapi sekarang jiwaku mendadak terbakar karena telepati dari seseorang mungkin petinggi keadilan!" Ujar Torio bersemangat menanggapi telepati Freya.


Mereka sekarang berada di bawah monster tersebut.


Berbagai gemuruh terasa dari tubuhnya itu adalah serangan balasan dari serangan rudal jarak jauh pasukan keadilan.


Monster cangkang itu mundur beberapa langkah.


Lalu menyerang balik dengan tembakan lasernya.


Torio dan Alguem terjatuh karena gongcangan yang amat kuat tersebut.


Lalu goncangan berikutnya datang dengan lebih kuat lagi membuat monster itu berteriak kencang hingga menggetarkan daratan hingga terbelah-belah.


"Situasinya sangat kacau!!" Teriak Torio.


"Sepertinya mahluk ini sedang bertarung dengan monster seukuran dirinya juga, ayo Torio, kita bisa keluar dari jalan ini!"


Monster cangkang itu terangkat dan benar saja yang di katakan Alguem, sosok lain dari pasukan keadilan telah mengangkat monster cangkang tersebut dan membelah nya dengan pedang-pedangnya hingga monster itu terbelah.


"Gila itu besar sekali!" Ujar Torio, mereka berhenti seketika, dengan rasa takjub melihat sosok yang besar bak kesatria tersebut.


Namun lagi lagi daratan kembali bergetar, satu lagi dengan sosok yang lebih besar dari yang tadi datang, dari pihak kejahatan.


"Ini sudah bukan lagi tempat kita untuk bertarung!" Teriak Alguem melihat dari belakang sosok kesatria itu ada sosok monster dengan kaki berbentuk kelabang, dan badan seperti kecoa dengan tangan tangan tajam, serta kepalanya seperti gabungan ular dan kecoa.


"Tidak, kalian salah, ini adalah pertarungan kita semua, ada di mana kami memainkan peran dalam pertempuran dan ada juga posisi untuk kalian memainkan peran pula!" Ujar kesatria raksasa itu menatap ke arah Alguem dan Torio.


"Namaku adalah kanjucha, aku adalah pemimpin perang dari kalian, semua pasukan ku, mari berjuang bersama denganku, kita taklukan medan perang ini dengan kemenangan kita, dan maju ke depan menyelamatkan banyak korban jiwa!" Ujar Kanjucha mengarahkan pedangnya ke depan.


"Kanjucha itu kan nama pemimpin kita, tidak ku sangka dia sebesar ini!" Ujar Alguem.


Dari arah belakang mereka terdengar suara-suara mesin yang akrab dari telinga mereka.


Itu adalah Sekutu mereka.


"Serang!" Ujar kanjucha bersamaan dengan rombongan prajurit kendaraan mereka.


Kendaraan besar berukuran 50 meter itu melewati Torio dan juga Alguem, tidak hanya daratan tapi juga udara.


"Hei naik!" Ujar seseorang mengajak mereka berdua naik.

__ADS_1


Keduanya saling menatap lau mengangguk dan bergegas berlari.


Dubaaaaaaammmmmmm


__ADS_2