
"Cukup basa-basinya, urusan siapa yang layak menjadi ratu gunung berkah itu adalah urusan kami, lagi pula ini hanyalah sementara!" Ujar Bulba.
"Bulba diamlah, kau sangat tidak pantas memotong omongan kami!" Ujar Huzio.
"Kaulah yang tidak pantas" Balas Bulba geram.
Orang-orang semakin bingung terutama dari kalangan gunung berkah itu sendiri.
"Kluna, beri tahu aku bagaimana rasanya bertarung di tempat yang penuh dengan dendam kesumat?" Ujar pontakkan.
Kluna terkejut, dia ingin menghentikan kelanjutan kata-katanya pontakkan.
"Beri tahu aku kluna!" Ujar pontakkan geram, dia memegang kepala pas dengan wajahnya.
"Kau selalu tersenyum dan selalu saja mengelus kepala dari bawahanmu, kau selalu bertindak seolah tidak pernah terjadi apa-apanya, tapi jika kau tidak mengakuinya, maka aku sendiri yang akan membeberkan nya" Sambung pontakkan.
"Hentikan" Balas kluna lirih, bahkan pengawalnya sendiri kaget melihat perubahan raut wajah kluna, baru kali ini mereka melihat wajah kluna yang ketakutan.
"Aku tahu, kenapa kau selalu mengelus kepala, pundak, dari bawahanmu, selalu menenangkan mereka di kala apapun situasinya, itu semua karena kau sangat ingin agar mereka tidak tahu penderitaanmu, kau sedih melihat bawahanmu sedih, tapi mereka tidak menyadari itu sama sekali, karena kau hanya menunjukkannya sekilas. Beritahu kan pada mereka semua, beritahu kan pada mereka semua seperti apa penderitaanmu selama ini!" Ujar pontakkan begitu geram.
Lalu tiba-tiba pontakkan dan kluna berada di tengah-tengah gualum, dan pijakan mereka seperti sebuah keramik yang membentang luas membentuk sebuah lingkarang yang luasnya bermil-mil dan dan semua proyeksi yang ada berada di luar lingkaran keramik tetapi mereka bisa melihat secara dekat dengan proyeksi mereka.
Semua orang pun terkejut kenapa hal seperti ini bisa terjadi, sedangkan dalam pertemuan sebelumnya ini tidak pernah terjadi.
Kluna hanya bisa menangis, dia berharap ini akan segera berhenti, disisi lain bulba sangat marah.
"Tuan Lazera, apa seperti ini pantas diperlakukan kepada kami, terlepas dari apa yang telah kami perbuat!" Tanya Bulba dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Rapat gualum ini di adakan karena pontakkan sendiri yang memintanya, sayang sekali Slojaer tidak ada disini tapi tak masalah, bulba dan para petinggi gunung berkah lainnya, aku yakin kalian sudah tahu. Selama dua ratus tahun ini, sekitar delapan juta lebih prajurit kalian yang berguguran baik di medan perang ataupun di berbagai konflik yang mereka pimpinin, yuzao si musuh seluruh mahluk, loxxin iblis pemberontak, mereka semua hanya membunuh sepuluh persen dari jumlah kematian prajuritmu, tapi Evangril sang malaikat pengkhianat, Javis si mafia jagat raya, dan Cowrow sang kebebasan. Masing-masing dari mereka membunuh tiga puluh persen dari prajuritmu itu, menurutmu kenapa hal seperti itu bisa terjadi Bulba?" Balas Lazera.
"Itu karena ajal mereka sudah sampai disitu dan tentunya akan ada yang melanjutkan perjuangan mer-" Ujar bulba lalu di potong.
"Itu bukan ajal, tapi kalian sendirilah yang membawa prajurit kalian menuju lembah kematian itu sendiri, secara tidak sadar kalian telah membunuh anak-anak kalian juga, karena apa, karena ikatan yang begitu kuat melebihi persaudaraan, aku akui kehidupan kalian memang layaknya sebuah kebahagiaan sejati, tidak ada rasa marah ataupunĀ tidak suka terhadap sesama. Tetapi kesalahan yang paling mutlak adalah kalian terlalu mengharahasiakan kematian yang tragis dan juga kematian masa lalu yang menyedihkan!" Helas Lazera.
"Apa maksudmu!" Ujar Bulba.
"Ketiga yang ku sebutkan tadi, mereka bukan hanya bertarung dengan tehnik dan kekuatan serta celah, tetapi juga provokasi, mereka membunuh anak-anakmu dengan cara memprovokasi, lalu dengan begitu anak-anakmu akan terbuka celahnya dan habislah sudah!" Ujar Lazera.
Bulba hanya diam, dia bahkan tak bisa memasuki ruang lingkarang keramik tersebut.
Disisi lain pontakkan datang dan menekuk satu lututnya, dia mengelus wajah kluna.
"Sungguh menyedihkan ya kluna, padahal kau dulu tidak selemah ini!" Ujar pontakkan.
Disisi lain Jevan ingin menolong Kluna tapi dia tidak bisa masuk karena penghalang tempat lingkarang itu begitu kuat karena kuasa Lazera.
"Tuan ronjhin, petinggi pontakkan itu seperti apa?" Tanyanya.
"Jika kau ingin tahu dia seperti apa, maka kau cukup melihat Volgatto, masih muda tapi sudah berbakat, begitu juga pontakkan dulu di era masa jayanya, dia jauh lebih kuat di bandingkan diriku, baik di masa lalu maupun di sekarang ini, tapi yang paling terkejutnya, hanya kami yang tahu, dia malaikat murni, tapi punya hasrat" Ujar ronjhin menerangkan sembari menutup matanya.
Kali ini pontakkan tiba-tiba membuat jessy bisa berada sampingnya dan mencekik jessy dari belakang.
"HEEEEEENNTTTTIKKKAAANN" Teriak Bulba marah, dia berusaha masuk tapi tidak bisa masuk.
Kluna ingin bangkit tapi dia tidak sanggup karena jiwanya sudah runtuh.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau menyebut wanita ini sebagai saudara atau anakmu, asal kau tahu saja dia sudah meninggalkan adik kecilnya yang lumpuh di ranjang beralaskan kayu keras yang dimana lima menit saja kau terbaring maka badanmu sudah sakit seluruh tubuh, kluna aku yakin kau sudah tahu akan hal itu kan!" Ujar pontakkan, dan jessy dalam sekarat pun dia terkejut bagaimana bisa tahu.
"Pengambilan!"
"Pengambilan" Ujar bulba dia mengarahkan tangannya ke arah jessy tapi jessy malah berada di tangan Huzio.
Dan semuanya lebih terkejut lagi, kali ini jessy berada di tusukan sebuah tombak milik Huzio. Untung saja hanya perutnya saja. Tetapi soal rasa sakit jangan di tanya lagi.
"Tenang saja dia tidak akan mati tapi dia hanya merasakan rasa sakit!" Ujar Huzio menatap bulba secara menantang.
Tapi tiba-tiba saja Huzio, Pontakkan dan bahkan Lazera serta seluruh petinggi lain termasuk Jevan terkejut.
"Carollina!" Ujar bulba.
Seorang wanita dengan wajah datar, berjalan santai dan dengan ketenangan seolah mengambarkan tidak ada satupun yang terjadi di hadapannya.
Saat ini dia berada puluhan kilo meter dari kluna.
"Dari tadi hanya kalian saja yang menunjukkan kebolehan, jadi aku juga akan menunjukkan kebolehanku!" Ujar Carolina.
Sebuah kepala burung yang begitu besar muncul dari belakang Carolina dan menciptakan berbagai gemuruh.
Ukurannya sangat besar, padahal hanya baru kepalanya saja yang muncul terlihat di daratan keramik.
"Sebenarnya apa itu, perasaanku ini, sama seperti kengerian melihat mahluk dari dunia bawah!" Ujar gavinstar, dan semuanya merasakan hal yang sama.
"Sikap yang suka meremehkan sesuatu harus di beri sebuah pelajaran beharga, yakni sebuah kekalahan!" Ujar Carolina dengan mata burung raksasa itu menatap ke arah pontakkan.
__ADS_1
"Ini menarik!" Ujar pontakkan sembari berkuda-kuda dan tersenyum lebar.
"Ini buruk" Ujar jevan tak menyangka dengan apa yang terjadi di depannya.