
Di gualum, para petinggi berusaha menahan grover agar tidak terjun ke medan perang, itu karena mereka tidak tahu seluk beluk yang sedang terjadi di dunia bawah. Lalu para petinggi semakin terkejut dengan Retha yang serius dalam bertarung. Tidak ada yang bisa di pandang selain berbagai ledakan super dahsyat yang terus bermunculan di sana sini.
"Tch sial kita tidak bisa mendekat kalau begini"
"Lebih baik kita menjauh dari ledakan itu, tapi terus pantau pergerakan dari kedua penerus tersebut, dimana yang satunya harus di amankan dan yang satunya harus di bunuh"
"Baik, untuk pemantauan akan berjalan lancar selagi kita terus menjauh, tapi untuk mendekati keduanya itu mustahil, keduanya berada di dalam lebatnya lautan api dari ledakan tersebut"
"Bagus situasinya apa mereka bertarung"
"Mereka terpisah jauh, tapi yang satunya berteriak kencang"
"Apa?"
**************
"AAAARRRGGGGGGGHHH" Radehs berteriak kencang, dia merasakan rasa sakit dari sekujur tubuhnya yang seiring waktu semakin bertambah tapi sakit di lubuk hatinya melebihi sakit di manapun yang ada.
Disisi lain lorn bisa merasakan keberadaan Radehs, hal yang mustahil baginya untuk tidak bisa merasakan Radehs karena lonjakan aura kekuatan yang begitu besar yang dihasilkan Radehs.
Dengan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan pelindung, lorn terus maj hingga dia melihat Radehs dengan mata kepalanya sendiri.
Radehs sudah bukan lagi menyerupai manusia yang dulu dia lihat, sekarang dia melihat Radehs seperti mahluk buas yang mengamuk tanpa arah.
Tapi itu berbeda setelah Radehs memandangi lorn.
"Keeeeennaaaapaaa" Ujar Radehs maju.
"KENAPAAAAAAAAAAA!" Teriaknya sembari menyemburkan lava dari tangannya, tapi lorn menciptakan penghalang berbentuk kerucut dan membelah lautan lava yang tersembur.
Radehs meninju kerucut itu sambil berteriak kencang, namun tangan Radehs hancur seketika, dengan cepat lorn menyentuh bagian perut Radehs sehingga ia tak bisa bergerak.
Dengan sigap lorn meninju perut Radehs hingga menembus bagian belakangnya.
"Duaaaammmmm"
Lorn termundur 30 meter, luka bakar di sekujur tubuhnya lansung beregeneraai dengan cepat.
__ADS_1
"Sial, kecepatan ledakannya melebihi kecepatan rata rata ledakan lainnya" Guman Lorn kesal.
Radehs pun lansung beregenerasi seutuhnya kembali. Di sekeliling mereka hanya terlihat bagian-bagian tubuh dari Retha dan Dianna yang saling bertarung.
Gerbang neraka pun menyusut hilang kembali.
************
"Percayalah, jika kita tidak segera bertindak cepat maka pertarungan ini akan menarik perhatian banyak orang, terlebih ini adalah langit tingkat bawah dimana para penjahat semesta bersarang"
"Mau bagaimana lagi, serangan jarak jauh yang sudah kita tembakkan sia sia saja"
***********
"Pertanyaan barusan kenapa hidupmu bisa seburuk inikan?" Tanya Lorn.
Radehs hanya menatap pernyataan Lorn.
"Bukan hanya dirimu, tapi aku juga memiliki nasib yang buruk, dulu di dunia kita. Waktu masih kecil aku sendiri yang selamat dari peperangan besar itu, tidak ada siapapun lagi yang ada di sampingku, mereka semua sudah mati begitu saja aku membuka mata. Lalu aku berusaha mencari seseorang yang akan menolongku dengan belas kasih, benar-benar sangat sulit hingga aku putus asa, bisa bisa aku di jadikan budak atau organku akan di jual sebagai objek pembuatan senjata manusia oleh orang-orang yang ada disana, tapi aku tau ternyata ini bukanlah takdirku, ini hanyalah nasib buruk yang menimpaku hingga datanglah hari dimana kakakmu menyelamatkanku" Ujar Lorn dia menceritakan semuanya dalam situasi genting, bagi Lorn siapapun itu akan mengalami masa sulit dalam hidup hanya saja kita tidak boleh menyerah pada saat diri kita berada di titik terendah tersebut dengan terus berjuang maka hasil manis pun akan tercapai.
"DEEGGGGG" Suara jantung Radehs terdengar dari luar tubuhnya walau cuma hanya dirinya sendiri yang mendengarnya karena perkataan Lorn.
Radehs pun maju, kali ini dia tidak lagu menyentuh Lorn dengan telapak tangannya melainkan meninju nya habis-habisan.
"Kita sama sama tau tentang diri satu sama lainnya, tapi aku rasa kau tidak mengerti Lorn, saat kekuatan sang dewa kemarahan mengalir dalam tubuh dan jiwaku, maka semuanya pun berakhir, tidak ada hasil manis, semuanya hanyalah penderitaan" Ujar Radehs yang dikalau bisa dia akan menangis sekencang-kencangnya.
Lorn tidak menangkis, tapi menerima semua pukulan Radehs dan berharap dirinya akan puas akan selama ini.
"Kita sama-sama punya penderitaan masing-masing tapi kau tidak mengerti bagaimana perasaan dirimu yang di buang oleh orang-orang sekelilingmu hanya karena sebuah penyakit yang menimbulkan aib, di bohongi dengan kebaikan, dan yang paling menyakitkan ya kau seharusnya mengingatnya!" Ujar Radehs geram.
"Duaarrr duaarrr duaarrr bak baukk darrrrr"
*********
"Sialan cepat sekali, aku bahkan tidak tau siapa yang menghajar dan siapa yang di hajar, pergerakan mereka berdua tidak bisa di ikuti dengan pergerakan mata, benar-benar pertarungan yang belum pernah terjadi selama jutaan kuantum"
"Katakan saja kemana arah pertarungannya"
__ADS_1
"Terus ke bawah, menabrak berbagai planet dan batuan angkasa bahkan jauh melewati debulan ledakan"
"Bagus, sekarang hubungi pasukan pusat kita juga akan bergerak sebelum pasukan malaikat yang bertindak duluan"
"Tidak salah lagi, akhirnya berjumpa lagi dengan kalian, para pasukan yang tersisa dari si cowrow sang kebebasan" Ujar volgatto yang kelihatan babak belur.
"Sial, di saat yang seperti ini"
"Tenang saja sudah ku laporkan ke bagian pusat, mereka akan segera mengirim datanya dan akan segera bertindak"
"Disini aku volgatto katakan pada para petinggi perang, jika para bandit sudah mulai bergerak" Ujar volgatto lalu melihat ke arah kedua orang tersebut.
"Kau tau aku paling tidak suka di bilang bandit karena terdengar seperti orang mesum saja"
"Jangan pernah lupakan masa lalu itulah yang sering di katakan orang tua yang sering ku jumpai, apa kalian lupa bagaimana salah satu dari pilar kejahatan mempunyai sifat bajingan dan tega memperkosa seorang wanita yang terluka bahkan kalian tidak pantas di sebut sebagai bandit tapi lebih buruk dari mahluk yang pling buruk di jagat raya ini" Hina volgatto membuat kuping kedua orang itu panas.
"Inilah kenapa aku sangat membenci kalian, tanpa pikir panjang lansung menyama ratakan semuanya, seandainya waktu itu bisa terulang dan hasilnya sesuai keinginan, maka aku juga akan melarangnya melakukan hal itu" Ujarnya geram.
**************
Akhirnya setelah berpuluhan mil, pukulan bertubi-tubi Radehs berhenti di gunung yang terdapat di sebuah planet.
"Apa kau puas?" Tanya Lorn dengan tubuh yang babak belur.
Lorn mencoba bangun tapi Radehs menahannya.
Dengan sebuah tinjuan di kepala yang sangat kuat hingga membuat kepala lorn pecah sampai isi dalamnya tumpah ruah.
Namun itu semua hanyalah bersifat sementara.
Kondisi tubuh lorn kembali ke sedia kala, menendang Radehs hingga terlontar ke langit.
Dalam sedetik lorn sudah mendekati Radehs, kali ini lorn menghajar Radehs habis-habisan dan membawa nya ke angkasa, dan terus ke atas.
Tapi pukulan yang di layangkan oleh lorn bukanlah sembarang pukulan, pukulan tersebut menyalurkan perasaannya juga, perasaan kebaikan yang dimana dia berharap Radehs bisa mengerti tentang isi hatinya.
"WUUUUUUUNGGGGG"
__ADS_1
Lorn melihat arah benda itu meluncur.
Tepat mengarah ke dirinya.