
************
"Apa kau merasakannya Radehs?" Tanya Hanzjoe kepadanya.
"Aku merasakan firasat aneh" Balas Radehs.
"Mari kita lihat apa yang kita dapati di dunia ini" Ujar Hanzjoe terus berjalan.
"Apa kau yakin kita akan menelusuri dunia satu persatu mencari para dewa iblis lainnya?" Tanya lagi Radehs sembari mengikuti Hanzjoe.
"Inilah cara paling teraman untuk sekarang, jika kita mengerahkan para bidak, aku ragu mereka bisa berhasil dalam waktu singkat terlebih dengan perluasan yang di lakukan oleh para malaikat dalam patroli mereka seperti terjun lansung ke berbagai dunia, yang ada bukanya hasil malah perang yang lebih dulu tercipta" Ujar Hanzjoe, dia memanjat tebing yang ada di depannya.
"Tapi ini pasti akan memakan waktu hingga bertahun-tahun lamanya!" Tegas Radehs memanjat tebing itu satu persatu.
"Jangan mengeluh atau kau akan terpeleset!" Ujar Hanzjoe terus mendaki.
"Aku sudah mulai muak, rasanya aku ingin melepaskan amarahku!" Ujar Radehs.
Namun seketika saja Radehs terjatuh karena tangannya terpeleset dengan sendirinya.
Radehs terjatuh dari ketinggian 15 meter dan kepalanya pun hancur lebur, tulang-tulang terpisah-pisah bersama dagingnya.
"Apa hanya segitu kemampuanmu, Jangan-jangan hidupmu sebelumnya sangatlah manja!" Ujar Hanzjoe sengaja memancing emosi dari Radehs.
Tapi Radehs menghiraukannya dengan bergenerasi lalu bangkit dan dia melompat ke puncak bukit itu.
Dan radehs terkejut ribuan bala tentara sedang berada di depan mereka di bawah bukit seberang.
Radehs dan Hanzjoe melompat tepat di depan mereka, semuanya melihat ke arah Radehs dan Hanzjoe, salah satu dari mereka datang, kepalanya seperti kucing namun tidak memiliki bulu sama sekali, berbagai besi di pasangkan pada tubuhnya.
Tak hanya itu sebuah tongkat dengan mata besar tergenggam erat di lengannya.
Karena tubuhnya yang begitu besar dia sampai harus menunduk melihat Radehs dan Hanzjoe.
Mereka saling bertatapan lalu si prajurit itu lansung mengendus-endus seolah dia terkejut. Dia mundur beberapa langkah melihat ke arah yang lainnya membuat tanda-tanda.
Hanzjoe berjalan dan Radehs hanya mengikutinya.
Tidak ada yang menghalangi mereka karena seluruh prajurit itu berbaris lalu membuka jalan bagi keduanya.
Wajah mereka aneh, kulit mereka hitam nan kekar, tidak ada satupun dari mereka yang menggunakan tangan kosong jika bertarung, semuanya menggunakan senjata tajam tapi bukan pedang, melainkan kapak atau senjata senjata mengerikan lainnya.
__ADS_1
Tubuh mereka kisaran 4 sampai 7 meter. Walau siang hari tapi mata mereka jelas merah menyala.
Suara-suara dari mereka terdengar jelas bagi Hanzjoe dan Radehs yang biasa saja tapi jika itu adalah orang lain, maka pasti mereka akan merinding bergidik ngeri mendengarnya.
Tak hanya suara mereka, suara dari besi zirah yang saling bersentuhan satu sama lainnya juga terdengar jelas.
Semakin Hanzjoe dan Radehs kedepan semakin aneh wujud mereka yang ada.
"Tidak salah lagi mereka semua adalah Zalzoulas!" Ujar Hanzjoe.
"Siapa mereka?" Tanya Radehs.
"Salah satu dari barisan garda depan pasukan iblis, mereka di atas satu tingkat dengan para Rajhuas!" Jelas Hanzjoe.
"Aku tidak tahu mereka" Ujar Radehs.
"Kau tidak memberi tahunya?" Tanya Hanzjoe kepada Retha.
"Aku lebih suka jika radehs tahu hal itu dengan sendirinya dari pada di beri tahu" Ujar Retha dengan nada menyindir Hanzjoe yang mengatakan kepada radehs seperti anak manja.
Tapi Hanzjoe tidak memperdulikan hal itu. Semakin mereka berlalu, di depan mereka semakin terang.
Dia menatap Radehs dan Hanzjoe sehingga suasananya menjadi canggung.
Lalu dia berdiri dari tempat duduknya, di kepalanya ada tengkorak kambing yang dari tanjuk sampai ke moncong mulut. Di lehernya ada 3 kepala tengkorak kecil yang merupakan tengkorak anak bayi, di lengannya penuh dengan gelang-gelang seperti jimat, dan beberapa di bagian tubuhnya terdapat corak-corak hitam. Beberapa bagian menutupi dadanya, tubuhnya kurus kering seperti seorang busung lapar.
Saat melihatnya Hanzjoe dan Radehs lansung sadar jika dirinya adalah si emas, Sang Dewa Kebohongan.
"Kenapa kalian sampai repot-repot mencariku?" Ujar wanita itu.
"Sudah jelas karena kami ingin tahu kenapa kau tidak masuk ke dalam Gedo, dan menolak kami dalam melacak keberadaanmu" Ujar Hanzjoe.
"Bodoh sekali kau sampai repot-repot mencari ketidak bergunaanku ini!" Ujar nya.
"Aku tidak pernah merasa diriku bodoh dalam kondisi seperti ini, kau sudah tidak bisa menolak takdir yang telah kau terima!" Ujar Hanzjoe.
"Ini bukan takdir, ini hanyalah nasib, jika kau bertanya takdirku, maka takdirku hanyalah kematian dalam kesepian" Ujar sang dewa kebohongan sembari mengambil sebuah wadah lalu menyiramkan makamnya, anehnya Hanzjoe tidak tahu makam siapa itu karena sang dewa kebohongan membatalkan kemampuan pengetahuan Hanzjoe.
"Makam siapa itu?" Tanya Radehs.
"Dia adalah seorang yang paling berharga bagiku, walau aku membuatnya menderita tapi aku sangatlah menyayanginya, karena dia bersedia tinggal merawatku dalam ketidak berdayaanya" Ujar sang dewa kebohongan dengan nada sedih.
__ADS_1
"Yang kau maksud dengan membuatnya menderita adalah seperti dia rela merawat dirimu yang tak berguna itu?" Tanya Radehs.
Sang dewa kebohongan mengangguk, dia mengelus ujung makam itu.
"Jadi siapa dia?" Tanya Hanzjoe.
"Seorang wanita tua yang luar biasa hebat melebihi siapapun bagiku, bahkan orang tuaku tidak ada tandingannya hebat dengan dia" Ujar sang dewa kebohongan.
Dia adalah seorang gadis kecil yang dimana saat usianya mencapai 3 tahun dia mendadak menderita kelumpuhan, orang tua yang sibuk bekerja, saudara yang jarang memperhatikannya, hanya sang nenek yang setia menemaninya, membersihkan tubuhnya, menyuapkan makanan.
Parahnya lagi sang dewa kebohongan tak bisa berbicara, dia hanya bisa melihat dan mendengar, setiap hari dia mendengar keluhan sang ibu yang enggan merawatnya saat di pinta oleh sang nenek.
Di sisi lain saudaranya beralasan sibuk dengan kehidupan sehari-harinya, sang dewa kebohongan hanya bisa meneteskan air mata sembari menangis dengan hatinya yang terus terluka.
Dia berusaha berpikir positif karena sang nenek selalu membela keluarganya karena mereka sibuk juga demi kebutuhan hidup dirinya.
Tetapi suatu hari, entah mengapa telinga dari sang dewa kebohongan tiba-tiba menjadi tajam, dan dia dapat mendengar sebuah suara dari luar rumahnya, suara air yang mengalir ke berbagai tumbuhan yang ada di depan rumahnya.
Suara sang nenek yang lelah penuh perjuangan merawat tanaman yang masih kecil dan tanaman yang sudah besar di petik untuk di jadikan bahan masakan.
Lalu seseorang lelaki datang, dia datang menawarkan beberapa tumbuhan yang akan di tukar dengan beberapa kilo beras.
"Bagaimana apa dia sehat-sehat saja?" Tanya pria tersebut.
"Ya dia baik-baik saja, aku terus memerhatikan kesehatannya, tapi terkadang tubuhnya panas dan tak lama kemudian membaik kembali, sungguh aneh aku ingin sekali memanggil seorang yang ahli dalam bidang kesehatan" Ujar sang nenek.
"Kenapa kau tidak memanggilnya sekarang juga?" Tanya sang pria.
"Masalahnya aku tidak punya biaya" Ujar nya sedih.
"Bukankah keluargamu adalah orang yang berpenghasilan cukup"
"Benar tapi mereka enggan memberikan sepeser uangpun kepada cucuku yang satu ini"
"Jadi selama ini kau sendiri yang membiayai kebutuhannya"
"Benar, aku berusaha semampuku walau itu tidak cukup baginya, aku menjual rempah-rempahku yang sedikit ini untuk menutupi kehidupanku"
Mata sang dewa kebohongan terbelalak mendengarnya. Apa-apaan semua ini baginya, dia benar-benar tidak mengerti, kenapa semua ini bisa terjadi, kenapa dia bisa mendengar percakapan itu, dia berteriak sekencang-kencangnya di dalam hati walau dia tidak tahu seperti apa suaranya karena mengeluarkan satu suara pun dia tak bisa.
Air mata darah pun keluar dari pupilnya, air mata Penderitaan.
__ADS_1