Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 132


__ADS_3

Yuzao, Javis, Loxxin, dan Evangriel, menatapi jasad Bulba yang sudah tidak bernyawa.


"Bagaimana setelah mendapatkan kekuatan baru yang hebat?" Tanya Javis kepada Yuzao.


"Aku merasakan hal aneh pada tubuhku, seolah kekuatannya berlawanan arah denganku, hanya butuh waktu seperti kekuatan Jhonador!" Ungkap Yuzao.


"Tetapi aku sangat jarang melihatmu menggunakan kekuatan orang lain?" Tanya Loxxin


"Karena kekuatan mereka adalah hiasan bagiku, aku lebih percaya pada kekuatanku sendiri!" Ujar Yuzao.


"Untuk sementara kita akan mundur dari medan pertarungan panjang ini!" Ujar Javis.


"Kau benar!" Ujar Loxxin dia menyimpan kedua kapaknya.


"Aku tidak pernah melihat kau bertarung menggunakan kapak itu, dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Evangriel kepada Loxxin.


"Kapak ini sudah sangat lama, ini peninggalan leluhur iblis, dan ini di ciptakan oleh leluhur kami dengan metode yang sama seperti yang di ciptakan oleh si penempatan terhebat sepanjang masa!" Ujar Loxxin.


"Itu berarti dia juga setingkat dengan senjata-senjata legendaris yang di gunakan para dewa iblis?" Tanya Javis.


"Tidak, walau metodenya sama, tapi kapak ini bagaikan imitasi dari senjata yang di buatnya!" Ujar Loxxin.


"Tidak peduli dengan kualitasnya, tetapi penggunaanya!" Ujar Evangriel.


"Walau begitu setelah menggunakan nya tubuhku terasa berat, di balik kelebihannya yang begitu kuat, dia memaksa penggunanya untuk mengeluarkan kekuatan yang besar pula, dan tentu saja tidak bisa di tahan!" Ujar Loxxin, mereka pun menjauh dari tempat itu.


"Mengenai sosok legendaris seperti si penempa senjata terhebat sepanjang masa, aku hampir bertarung melawannya tadi" Ujar Yuzao.


Kata-kata nya mengejutkan ketiga pilar lainnya.


"Kau bilang kau hampir bertarung melawannya?"


"Bukankah dia di kurung di surga sana, dan kita gagal melepaskannya!" Ujar Evangriel.

__ADS_1


"Dia baru saja di lepaskan, dan berpihak pada pihak keadilan!" Ujar Yuzao mengejutkan ketiga nya untuk kesekian kalinya.


Seolah menggali lubang dan menutupnya lagi.


***********


Di tempat tadi, seorang wanita dewi yang merupakan prajurit dari pasukan Bulba terbangun dari pingsannya.


Dia menyadari jika dirinya penuh dengan luka dan patah tulang, sayangnya dia juga tidak bisa meregenerasikan tubuhnya bahkan kekuatan untuk menyembuhkan tubuhnya.


Dia melihat ke arah sekeliling nya, penuh dengan mayat teman-temannya dan juga musuh-musuh yang merupakan pasukan Rajhuas.


Pasukan Bulba benar-benar di bikin kacau balau oleh pasukan Rajhuas ini, terutama karena mereka mampu dalam beregenerasi dan juga power yang begitu tinggi.


"Aku harap ratu tidak apa-apa" Ujarnya lirih.


Lalu terkejut bukan kepalang pula dia, melihat 50 kilo meter darinya, terdapat sebuah jasad yang sudah mati.


Dia adalah Bulba, bola matanya bergetar-getar, seolah rasa sakit menghilang, wanita itu berlari dengan kencang, berharap jika Bulba hanyalah pingsang, semakin dekat dia dengan Bulba, semakin bergejub kencang pula suara jantungnya.


Tubuh wanita bernama Dhona itu lansung rubuh, mencari posisi yang pas untuk merangkul tubuh sangat ratu, membalikkan nya dan mendempetkan kepala Bulba ke dadanya.


Dia melihat wajah Bulba yang tersenyum.


Dhona menangis kuat, sangat kuat, hingga dia mengingat suatu kejadian.


Tepatnya 15 tahun sebelumnya.


Saat di mana pasukan keadilan, membantai pasukan Carrow secara besar-besaran.


Di waktu itu, Dhona melawan salah satu eksetutif dari sang kebebasan bernama Jro.


Dalam pertarungan sengit itu, Jro berhasil memberi tekanan mutlak kepada Dhona, dan membuatnya tidak berdaya dalam melanjutkan pertarungan.

__ADS_1


"Apakah kau benar-benar prajurit khusus yang di miliki oleh salah satu ratu dari gunung berkah, Bulba Sang Darah?, sungguh mengecewakan, di balik kisah legendaris yang di miliki nya, ternyata matanya sudah rabun seperti usianya dalam memilih pengawalnya!" Ujar Jro.


Dalam serangan terakhirnya, Bulba datang dan menghentikan serangan Jro, memaksanya untuk bertarung lansung, melihat standar dari Dhona, membuat Jro yakin bisa memiliki kemenangan melawan salah satu legenda.


Tetapi, itu hanyalah impian belaka, sedari awal niatnya hanyalah ingin membunuh Dhona dan pergi, atau Bulba datang, dia kabur, setidaknya kesempatan hidup masih ada, tetapi semuanya pupus karena Jro nekat melawan Bulba.


"Padahal aku baru saja mendengar kabar kau menghadapi Gordon, sebagai orang yang paling dekat dengan Gordon, aku tahu betul sepeti apa dirinya, tidak mungkin dia di kalahkan secepat itu kalau bukan kau yang membiarkannya melarikan diri" Ujar jro dalam keadaan sekarat.


"Kau benar, aku membiarkannya melarikan diri!" Ujar Bulba dan percakapan mereka mampu di dengar oleh Dhona.


"Apa itu agar kau bisa datang kemari secepatnya, hanya untuk satu gadis yang bahkan tidak bisa di bilang sebagai calon orang kuat di masa depan!"


"Aku tidak peduli jika dia lemah ataupun kuat, selama aku masih bisa menjangkau situasinya, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh anak-anakku!" Ujar Bulba.


"Terlalu naif, kau membiarkan sosok penjahat terkuat dari kami hanya untuk menyelamatkan sosok gadis tidak berguna, bahkan sebagai generasi mendatang, dia tidak layak di sebut sebagai besi yang masih di tempa!"


"Apa kau lupa apa yang aku bilang!"


"Benar benar kekuatan yang luar biasa brutal ratu dari gunung berkah, merasakannya saja, seolah aku melawan mahluk-mahluk kuat dari dunia bawah, bahkan aku tidak yakin apakah kau masih seorang dewi, ataukah kau adalah iblis!" Ujar Jro dia pun mati.


Bulba datang kepada Dhona yang terluka.


"Yang dia katakan itu benar, kenapa kau melepaskan Gordon hanya demi menyelamatkanku?" Ujar Dhona sedih, tentu saja itu mengejutkan Bulba, tetapi dia juga ikut sedikit tersenyum, karena dia mengerti perasaan anak-anaknya.


"Sebelum kau memperdulikan situasinya, perdulikan dulu tubuhmu!" Ujar Bulba, dia menyentuh tubuh Dhona, dan seketika luka yang tadi menjadi tertutup dan ajaibnya, seolah Dhona merasakan tubuh primanya yang masih sehat bugar sebelum bertarung melawan Jro.


"Tetapi, aku punya satu pertanyaan?" Ucap Dhona.


"Apa itu?"


"Dari sekian banyaknya orang-orang dari gunung berkah, kenapa kau memilih orang-orang seprtiku yang merupakan seorang pemula, dan juga, tidak mempunyai bakat yang mendalam, lagi pula bukankah di gunung berkah sendiri kita memiliki mahluk suci yang bisa lebih baik dalam mengawalmu!" Ujar Dhona memberanikan dirinya.


"Karena aku ingin menjadikan diriku sebagai contoh bagimu, dan begitu pula dirimu, menjadi contoh bagi generasi selanjutnya, dan juga, aku butuh teman ngobrol yang sama sama para dewi!" Ujar Bulba mengejutkan Dhona.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Dhona melihat wajah Bulba yang tersenyum, padahal dia di kenal sebagai ratu yang dingin dengan wajah datarnya.


"Huaaaaaaaaaaaaaa" Tangisan Dhona tersirat dalam.


__ADS_2