
"Kenapa orang yang tidak bersalah harus terkena imbasnya?" Tanya Ikari.
"Sangat mudah, terkadang seseorang yang hidup bertingkah sok kuat saat mendekati kematian, jika surga menantinya tak apalah, tapi bagaimana jika neraka, masalahnya masih banyak orang-orang yang tidak percaya akan hal itu, sungguh sebuah kebodohan, tapi itu adalah ulah dari seseorang juga dulunya, tapi jika kau membunuh orang yang dj cintainya maka dia juga akan tergoyahkan" Jawab sanuarjan
"Apa prajurit itu juga mempunyai orang yang dicintainya?" Tanya Ikari.
"Punya tapi bukan seseorang melainkan sebuah kerajaan, dia melakukan tindakan itu agar dirinya di akui dan suatu saat nanti mendapatkan posisi tinggi dalam kerajaannya"
"Jadi kau ingin aku membunuh semua orang yang ada di kerajaannya?"
"Bukan membunuh, tapi menghancurkan seluruh yang ada di Kerajaan, buat mereka semua menderita, karena merekalah, orang orang yang tidak tahu apa-apa sepertimu harus terkena imbasnya!"
"Bagaimana caranya, aku tak pernah bisa melakukan apapun, jangankan bergerak, berbicara saja aku tidak bisa, aku ini lemah, aku ini tak berdaya, benar seperti apa yang prajurit itu katakan, buang saja aku kelaut agar dimakan oleh ikan-ikan yang lapar, itu lebih baik"
"Jangan pesimistis, karena sebuah keberuntungan yang penuh penderitaan dari ini menghampirimu"
"Keberuntungan penuh penderitaan?"
"Benar, aku bisa membuatmu bergerak, membunuh mereka, dan kau akan memahami segalanya hanya kurang dari persekian detik, tapi dengan satu syarat, jatuhlah kedalam sebuah kegelapan!"
"Apa artinya itu bisa menyelamatkan nenekku?"
"Tentu saja, tetapi sesuatu yang kau dapat harus juga di bayar dengan sesuatu yang lebih dari apa yang kau dapat"
"Itu tak masalah, aku tak peduli apapun itu, jika itu aku adalah manusia yang paling terkutukpun aku tak peduli, asalkan aku bisa menyelamatkan nenekku"
__ADS_1
"Akan ku beri dirimu sedikit kekuatan untuk bergerak" Ujar sanuarjan.
Ikari merasakannya, berbagai kebohongan besar yang ada, dari yang kecil hingga yang besar dari yang biasa saja sampai yang membawa jutaan nyawa melayang, kebohongan adalah sebuah pembodohan untuk orang yang mendengarnya, akhirnya Ikari dapat merasakannya betapa banyak kebohongan yang ada, termasuk kebohongan keluarganya, ibunya yang sibuk mengurusi anak-anak lainnya padahal dirinya tidak mau repot repot dalam mengurusi ikari yang lumpuh, saudara saudarinya yang berpura-pura baik di depan neneknya, padahal benci terhadap ikari yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi bukan itu yang membuat ikari marah, melainkan kebencian saudaranya kepada sang nenek juga yang terlalu peduli terhadap ikari, begitu banyak kebohongan yang terkuak pada ikari, dia membayangkan semuanya dalam persekian detik.
Dan akhirnya, ikari tersadar kembali.
"Ada serangan mendadak, ayo hujar pukul mundur musuh!"
"Baiklah, aku akan segera kembali dasar orang-orang tak berguna" Ujar hujar dia lansung berlari menuju pertempuran.
Tak berselang lama Ikari mengangkat tangannya, melihat jari jemarinya yang di regam lalu di lepaskan kembali, suara deruan tulang belulangnya saling bersautan satu sama lainnya.
Tiga tahun dia hanya tidur terkelengkup, lalu 13 tahun dia terbaring lemah tak berdaya, selama 16 tahun, tubuh ini sudah seperti ini.
Ikari mencoba bangkit dirinya sedikit terhuyung tetapi tak berselang lama dia bisa bergerak dengan sempurna, sang nenek terkejut bukan kepalang, cucunya yang selama 16 tahun tak pernah bergerak ini akhirnya bisa bergerak seperti sebuah mujizat di dongeng-dongen saja.
Sekarang, Ikari dan nenek sudah berada dekat, mereka saling menatap satu sama lainnya.
"Sungguh sebuah keagungan, kau bisa bergerak setelah sekian lamanya terbaring dalam ranjang itu" Ujar sang nenek lirih, rasa bahagianya mengalahkan rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya.
"A, aaa, aku menya, nyangi nenek" Ujar Ikari terbata-bata, inilah kata-kata pertamanya.
Lalu mereka berbicara dan akhirnya Ikari bisa berbicara dengan jelas.
"Aku begitu bahagia kau bisa hidup dengan normal, rasanya seluruh beban yang ada pada diriku lepas begitu saja, tidak ada yang namanya kesia-siaan" Ujar sang nenek lirih.
__ADS_1
"Jika aku mati dalam keadaan lumpuh, apakah itu adalah kesia-siaan bagimu?" Tanya sang nenek.
"Tidak, itu juga bukan kesia-siaan, karena apa, karena kau sudah hidup dengan layak, sudah sewajarnya kita harus saling tolong menolong, kau adalah cucuku, aku akan selalu mengenangmu, semoga surga akan menyertaimu nak!" Ujar sang nenek begitu lirih, matanya terpejam, Kata-kata itu membuat Ikari tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata haru, dan juga berujung akan pahitnya rasa sedih.
"Aku begitu heran mengapa dirimu masih bisa menangis padahal kita sudah menyatu, seharusnya bukan lagi air mata yang kau keluarkan, melainkan luapan amarah, tak peduli seberapa lama, jangankan satu jam, seperkian detik saja sudah cukup untukmu bisa menjadi iblis, tapi itulah dirimu Ikari, kau memang selalu menakjubkan diriku, karena itulah aku memilihmu" Ujar sanuarjan.
Sang nenek menutupkan matanya untuk terakhir kalinya.
"Apa yang harus kita lakukan pada orang yang sudah mati?" Tanya Ikari kepada sanuarjan.
"Ada berbagai macam, menguburkan tubuhnya kedalam tanah menjadikan dirinya sebagai makanan binatang-binatang di dalam tanah dan bisa menyuburkan tanah. Membakarnya dengan api, di butuhkan banyak kayu sampai tubuhnya hangus dalam api. Merobek tubuhnya di jadikan beberapa potongan, berikan kepada hewan-hewan liar, tinggalkan saja disini, jadikan tubuhnya menjadi sebuah penyakit bagi siapapun yang ada, mayat adalah sebuah wabah!" Ujar sanuarjan memberikan beberapa pilihan.
Ikari mengangkat neneknya ke luar rumah, Ikari tidak tahu apa itu berat, walau tubuhnya merasakannya.
Baru kali ini Ikari melihat betapa indahnya tumbuhan yang di tanam oleh sang nenek walaupun mereka semua telah hancur.
Ikari berjalan tidak jauh dari pintu rumahnya dia mengambil sebuah tempurung, lalu mengeruk-ngeruk tanah tersebut.
"Kau yakin akan melakukannya dengan itu butuh waktu yang lama dan bahkan akan menguras banyak tenagamu"
"Aku tak peduli, semua ini tidak ada apa-apa nya di bandingkan apa yang telah dia perbuat untukku, dia adalah pahlawanku!" Ujar Ikari dengan bergelinang air mata.
Air matanya pun jatuh ke tanah yang keras, membasahinya seperti tanah yang dibasahi hujan, 1 jam, 2 jam, tidak, sampai 5 jam, Ikari mengeruk tanah itu, sanuarjan tetap menantinya, tidak ada rasa lelah bagi Ikari, tidak ada rasa bosan pula bagi dirinya.
Sampai akhirnya dia berhasil menanam tubuh sang nenek
__ADS_1