Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 67


__ADS_3

*************


Disisi lain slojaer terbaring lemah di sebuah kasur, banyak alat yang di pasangkan padanya serta tumbuh-tumbuhan herbal juga.


"Bagaimana situasinya" Tanya jevan kepada julla.


"Sungguh mengkhawatirkan, akibat serangan dari pedang itu, membuat dirinya mengalami luka yang sulit di sembuhkan" Jawab Julla seolah dia telah kehilangan harapan.


"Begitu ya, baiklah kami juga akan membantu, aku yakin telah membawakan orang yang tepat untuknya" Ujar Jevan.


Sosok itupun datang dengan beberapa orang kepercayaannya.


"Jadi itu dia sekarang, sungguh menyakitkan melihat teman lamaku menjadi seperti ini, kalian semua persiapkan peralatan serta mantra" Ujarnya


"Siaapp!" Ujar semua anak buahnya dan mereka pun bergegas dengan segala kecepatan.


"Siapa" Tanya Julla kepada Jevan.


"Di pihak malaikat dia menduduki posisi tertinggi sebagai pemimpin tertinggi pasukan medis" Jelas Jevan


"Maksud mu Tuan Nabala Isme?" Tanya Julla tak percaya.


Jevan hanya menjawab dengan mengangguk sedikit, tapi Julla lansung membungkuk memberikan rasa hormatnya kepada Nabala Isme.


"Apa yang terjadi, dia menyebut ratu sebagai teman, apakah ratu dan dia dulunya adalah rekan, karena masa lalu para tetua yang tertutup membuatku tidak tahu apa-apa" Guman kesal Julla terhadap dirinya sendiri.


"Dulu sekali di era generasi 199 malaikat terkuat, aku masihlah seorang jenderal pasukan penyembuh, aku mengalami luka bakar dan berbagai luka di organ vital ku karena berhadapan dengan para Rajhuas, dan dia datang menolongku, saat itu aku menganggapnya sebagai sang penyelamat ku sehingga semenjak itu aku sering menghubunginya, yah karena pada saat itu juga kami bukanlah sosok yang sesibuk sekarang jadi kami sering berbicara satu sama lainnya, hingga aku memutuskan menjadi rekannya dan kami terus bekerja sama sehingga kami bukan lagi sebagai rekan melainkan melebihi itu" Ujar Nabala dengan raut wajah yang sedih.


"Jika dia sampai disini maka sebuah pehargaan apapun tidaklah sebanding dengan apa yang dia lakukan, walau Dovonjrik kalah dalam menghadapi para petinggi gunung berkah yang lain tapi slojaer lah yang paling berpengaruh dalam melemahkannya" Ujar Jevan.


"Apa kau pernah menghadapi sosok itu? " Tanya Julla.


"Dahulu kala di generasi 199 malaikat terkuat, aku dan dirinya sering bertemu walau ratu Moruela yang selalu berhadapan dengannya, merekan menduduki posisi yang sama di mana Dovonjrik adalah pemimpin pasukan monster dunia bawah sedangkan Moruela pemimpin gunung berkah, kematiannya memang sangat menjadi sebuah kehilangan bahkan bagi pasukan malaikat sendiri tapi Dovonjrik juga harus membayar mahal dengan segala ketenaran yang dia dapatkan, semenjak itu dan juga berpaspasan dengan kekalahan para dewa iblis, Dovonjrik mengalami sebuah luka yang tak bisa di sembuhkan dengan regenerasi dan kemampuan spesialnya juga tak bisa di pakai lagi, walau kita tidak tahu apa itu kemampuan spesial yang sering dipakainya dalam mengimbangi kekuatan tak terbandingi ratu Moruela" Jelas Jevan.


Julla hanya bisa terkejut mendengar semuanya.

__ADS_1


"Ayo kita lakukan anak-anak ku pastikan kalian dalam konsentrasi penuh, kalian berdua (Jevan dan Julla) tolong menjauh sedikit" Pinta Nabala.


"Pendengaran ku tajam, apa kau baru saja menceritakan tentang kisah lama kepada anak kami, Jevan" Ujar sosok yang berada beberapa meter dari mereka berdua, Julla pun terkejut mendengarnya.


"Suara itu, apa itu kau Bulba?" Raut wajah Jevan lansung menggambarkan ketidak sukaan dalam kedatangannya.


Disisi lain Julla lansung memberikan rasa hormat kepada Bulba.


"Aku yakin slojaer pernah memberi tahumu tentang peraturan ketat dimana anak anak kami tidak boleh mengetahui masa lalu kami" Ujar Bulba dengan sorot mata sinis kepada Jevan.


"Tidak, slojaer tidak pernah memberi tahu ku tentang itu karena aku sudah tahu dengan sendirinya, apa salahnya jika mereka(Julla dan semua prajurit gunung berkah era sekarang) mengetahui sedikit tentang sejarah masa dulu"


"Bagi kami dendam dan kebencian itu adalah hal tabu, jika kau menceritakan lebih banyak kepada mereka, tidak ada kebahagiaan yang bisa mereka Terima kecuali beban untuk menanggung apa yang di inginkan pendahulu kepada generasi selanjutnya, kita seharusnya sadar kami dan kalian itu berbeda!" Tegas Bulba.


Sedangkan Julla hanya bingun karena tidak bisa mengendalikan situasinya.


"Terserah padamu Bulba, kita seperti air dan minyak, kau selalu cemburu ketika aku mendekati slojaer" Sindir Jevan.


"Karena aku tidak terlalu suka dengan dirimu baik di masa lalu dan juga di masa sekarang, kau sudah pasti sadar betapa bobroknya pasukan mal-" Tidak sempat Bulba melanjutkan omongan, seseorang lansung menahan mulutnya untuk tidak berbicara. Dia juga orang yang sama seperti Bulba dan slojaer.


"Bulba, jangan seperti itu, jika tidak ada Jevan, kita mungkin tidak tahu bagaimana caranya menghubungi Nabala" Ujar sosok itu.


"Maafkan aku Julla karena memperlihatkan hal yang tidak pantas kepadamu, jangan ikuti jejak ku" Jelas Bulba sembari menjauh.


Sontak Julla tidak tahu harus menjawab apa karena seharusnya kata maaf itu adalah untuk Jevan bukan untuk dirinya.


"Aku minta maaf Jevan" Ujar Kluna.


"Tidak apa-apa mungkin jika dirimu tidak ada, kejadian ini akan semakin memburuk" Jawab Jevan.


"Aku hanya berharap yang terbaik untuknya" Ujar Kluna.


Jevan mengangguk nya.


"Saya juga berharap yang terbaik untuk ratu" Ujar Julla memberanikan dirinya.

__ADS_1


Kluna hanya tersenyum dan menyuruh Julla mengangkat kepalanya, dia mengelus pipi Julla sembari tersenyum lebar dan memuji Julla untuk memperkuat mentalnya.


Tentu saja membuat Julla luluh dan senang di elus oleh para petinggi gunung berkah, ya Kluna adalah orang yang murah senyum dia selalu mengelus kepala anak-anak yang di temuinya bahkan wanita dewasa sekalipun untuk menyemangatinya.


***********


Di gualum.


"Jadi sekarang kita sudah mendapatkan pedang legendaris itu Da Lavuja, pedang terkutuk yang biasanya di pegang oleh salah satu dewa iblis"


"Tak kusangka mahluk rendahan sekelas Dovonjrik bisa memegang pedang sekelas genggaman para dewa"


"Ya, tentu saja dia harus memikirkan matang-matang dalam menggunakan pedang itu, karena sekali layangan tebasan, pedang itu meminta korban, dan jika tidak mendapatkan korban. Pemegang pedang itu sendiri yang akan di lahap oleh pedang Da Lavuja"


"Jadi apakah itu benar disini kelima dewi dari gunung berkah bekerja sama dalam mengalahkan Dovonjrik"


"Ke empat dewi lainnya datang setelah pertarungan panjang antara slojaer dan Dovonjrik"


"Jadi begitu satu penguasa dunia bawah setara dengan lima dewi terkuat di gunung berkah"


"Ya tentu saja karena Dovonjrik memegang pedang dewa, tapi apakah kau tau yang paling berpengaruh dalam pertarungan ini adalah slojaer"


"Tak perlu di jelaskan, kita semua sudah tahu akan hal itu, disisi lain orang-orang dari gunung berkah memang bisa di andalkan sebagai Sekutu"


"Kronologinya disini Kluna dan Bulba yang paling berjasa besar dalam mengalahkan Dovonjrik, dimana kemampuan Kluna membuat Dovonjrik tidak bisa menggunakan pedang Da Lavuda sedangkan Bulba yang menghabisi Dovonjrik, dua dewi lainnya menghabisi Glock, tapi Glock berhasil melarikan diri"


"Tch bagaimana bisa tikus itu bisa lari!"


"Jangan remehkan Glock, kau tidak pernah berjumpa dengan sosok itu, tapi jika kau berjumpa denganNya mungkin kau akan di buat sadar akan batasan dirimu"


"Lalu masalah selanjutnya apa yang harus kita lakukan pada pedang dari karya penempa terbaik sepanjang masa itu, kalian semua sudah tahu kan, saking kerasnya sampai tak bisa di hancurkan dengan cara apapun bahkan pihak surga sendiri angkat tangan dengan pedang itu, mereka tidak mau ambil pusing dengan pedang Da Lavuja"


"Jelas saja, memiliki pedang itu sama saja dengan membangunkan singa yang tertidur, dimanapun kita menyegel atau menyembunyikannya pasti pemiliknya akan datang"


"Aku tau apa yang harus di lakukan"

__ADS_1


"Pontakkan, kau yang terbaik untuk menyelesaikan suatu masalah"


"Ya aku percaya akan hal itu pontakkan adalah yang terbaik untuk segala keputusannya"


__ADS_2