Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 87


__ADS_3

Dia benar-benar tak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar, hingga akhirnya darah memenuhi rambutnya, dan saat nenek melihatnya, dia begitu terkejut melihat sang cucu berlumuran darah.


Sang nenek menyeka wajahnya dengan kain lap usangnya, lalu setelah di bersihkan, tanpa pikir panjang, sang nenek lansung memanggil tabib, sang dewa kebohongan benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa dengan ketidak berdayaannya, dia hanya berteriak di dalam hati.


"Jangan panggil siapapun untuk menolongku, kau tidak punya biaya, kau tidak sanggup untuk membayarnya, jangan buat dirimu menderita hanya karena aku, aku tidak ingin, aku benar-benar tidak ingin kau kesusahan karena aku!" Ujar sang dewa kebohongan, hingga kesedihannya yang tulus ini mengeluarkan sebuah air mata bening, yang merupakan air mata biasa.


Seorang tabib datang dan melihat sang dewa kebohongan dalam keadaan penuh air mata yang dianggapnya biasa, air mata bening karena air mata darah sudah tidak keluar lagi akibat kesedihan yang merupakan rasa haru.


"Aku mengira jika ada sesuatu di bagian matanya yang sobek karena berlinang air mata, tapi ketika aku melihat air matanya yang berubah menjadi bening kembali, dan setelah di periksa dari bagian luarnya tidak terjadi apa-apa, jadi aku memberikan ini sebuah obat penyegar mata, cara taruhnya cukup di atas matanya dan suruh dia pejam matanya, maka perlahan-lahan matanya pasti akan segar kembali" Ujar sang tabib memberikan dua buah kantong obat.


Setelah mendengar harganya membuat sang nenek terkejut di dalam hatinya. Tapi dia mengambil beberapa perhiasannya, perhiasan dari sang suaminya dulu yang susah payah di beli dengan penuh perjuangan dan penuh perjuangan pula di jaga sampai akhir hayat sang nenek diberikan kepada sang tabib.


"Oh ini perhiasan langka!" Ujar sang tabib terkejut.


"Jangan, jangan lakukan apapun, jangan berikan dia perhiasan itu, aku tidak butuh obat itu, aku tidak butuh obat itu, kumohon keluarlah suaraku" Teriak sang dewa kebohongan dalam hatinya.


Tapi betapa terkejut nya ia saat melihat wajah sang nenek yang mencoba tegar melihat perhiasan itu di pegang oleh sang tabib.


"Harga perhiasan itu lebih mahal dari obatnya, bagaimana jika kau menukarnya dengan beberapa koin" Ujar sang nenek.


Sang tabib menerimanya dengan senang hati, dia mengeluarkan ratusan koin, lalu pergi dengan bangga, karena ratusan koin itu tidak apa-apa dengan dirinya yang akan menjadi kaya raya dengan menjual perhiasan itu kepada saudagar kaya.

__ADS_1


Sang nenek lansung menaruh kantong obat itu ke atas mata sang dewa kebohongan.


"Sekarang kau tidak perlu khawatir lagi, kau akan sembuh, dan koin ini akan ku simpan jika kau kenapa-kenapa" Ujar sang nenek lalu berpamitan dengan sang dewa kebohongan dengan alasan dia ingin keluar sejenak.


Sesampainya di luar rumah dimana sang nenek yakin jika sang dewa kebohongan tidak akan bisa mendengarnya, sang nenek megenggam erat tangan kanannya menggunakan tangan kirinya, dia menangis tersedu-sedu, sembari menyebut nama suaminya.


"Polan, aku yakin kau pasti juga akan menerimanya kan, aku yakin kau akan iklas dengan semua ini dimana perhiasan yang kau cari dengan hampir mempertaruhkan nyawa sudah terjual demi pengobatan Ikari" Ujar sang nenek kepada alam dan berharap sang kakek mendengarnya di surga sana.


Ikari, itulah namanya.


Ikari mendengarnya, dia berusaha untuk tidak menangis dan memendang semuanya di dalam hatinya, lambat laun tempat tinggal mereka mulai di jajaki oleh para penjajah yang ingin menguasai tempat tinggal tersebut.


Semua warga desa mencoba menyelamatkan diri mereka agar tidak berdampak pada peperangan yang mungkin tak berujung, tapi bagaimana dengan Ikari dan sang nenek tentu saja mereka di tinggalkan begitu saja karena keadaan yang gawat darurat, membuat sang nenek harus menjaga Ikari dengan segenap jiwanya.


Dan saat itu pula keadaan dari Ikari sedang kacau balau karena di tinggalkan keluarga.


Tak berselang lama prajurit itu menghancurkan tanaman yang susah payah di rawat oleh sang nenek dan di saat itu pula Ikari marah, dia berusaha sekuat tenaga, dimana tenaga yang tak pernah dia keluarkan semasa hidupnya, mengerahkan semuanya untuk bangkit, dan akhirnya dia gagal tapi seluruh tubuhnya di basuhi oleh keringat dan Ikari tidak pernah menyerah, hatinya berkomat kamit akan membunuh prajurit itu, dia yakin dan dia pastikan hal itu akan segera terjadi pada sang prajurit.


Karena segala usahanya, tubuh Ikari merasakan rasa sakit yang luar biasa, tapi dia tak peduli, dia terus-terusan berusaha karena tak kuasa melihat apa yang di lakukan oleh prajurit tersebut.


Sang nenek di pukuli hingga berdarah-darah meski dia memohon ampun, setelah puas menghajar sang nenek, dia lansung menuju ke arah Ikari.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, merawat anak kecil yang lumpuh, sungguh bodoh, buang saja laut jadi makanan ikan yang kelaparan, itu lebih pantas baginya dari pada hidup dan di rawat tanpa bisa membalas jasamu hingga mati!" Ujar sang prajurit.


Lalu prajurit lainnya datang melihat apa yang di lakukan oleh prajurit tersebut.


"Hujar, kau berhasil mendapatkan seseorang ya" Ujar temannya kepada prajurit yang bernama hujar ini.


"Kau benar, salah mereka sendiri tidak lari seperti yang lain, siapapun yang ada disini bahkan tak peduli jika itu bayi atau binatang, semuanya adalah musuh bagi kita" Ujar hujar dengan yakin dan tegas.


Tak berselang lama, dari dalam kepala Ikari muncul sebuah suara yang akrab dengan dirinya, sesosok yang sering mengajaknya berbicara, bagi Ikari ini adalah hal yang wajar, karena pasti semua orang juga memiliki hal yang sama. Hal itu terjadi karena Ikari tidak pernah bisa bicara dan tidak pernah bisa bersosialisasi dengan siapapun bahkan neneknya sendiri, di ruangan kumuh ini hanya terdengar suara neneknya, tapi di dalam dirinya, Ikari selalu berbicara dengan sosok yang bahkan dirinya sendiri tidak ingin menyebut siapa dirinya itu.


Dia adalah penjaga dari sang dewa kebohongan.


Sanuarjan.


"Kau sepertinya sangat berusaha ya, Ikari" Ujar sanuarjan.


"Benar, tapi lagi-lagi, tak peduli seberapa keras usahaku, hasilnya tetaplah sia-sia" Ujar Ikari murung.


"Dan sekarang kau harus menyaksikan bagaimana nenekmu itu di sakiti di depan matamu"


"Jika kau memang bisa, tolong bunuh mereka, aku kesal sekali sampai-sampai aku mengerahkan seluruh jiwa ku agar bisa bangkit!"

__ADS_1


"Jika membunuh mereka, itu sangatlah mustahil bagiku, karena selain enggan melakukannya, aku akan menghabisi seluruh yang berhubungan dengan mereka, karena apa kau tahu Ikari? Karena dengan membunuh sesosok yang dicintai oleh orang yang kau benci, maka kau pasti bisa merasakan kenikmatan akan penderitaannya!" Ujarnya dengan rasa percaya diri.


__ADS_2