
"Rasa iba dan kasih sayang?" Tanya Radehs memastikan.
"Benar" Balas liona.
"Untuk apa lagi hal itu ada padaku, jika itu dulu aku sangat senang tapi sekarang itu semua percuma saja!" Ujar Radehs.
"Lalu bagaimana rasanya dengan bisikan-bisikan jiwa terkutuk itu, apa kau senang dengan keberadaan mereka yang terus membisikkan keluhan mereka?" Tanya Liona.
Radehs terkejut mendengarnya baru sadar pula jika dia tidak mendengar lagi jiwa-jiwa terkutuk yang marah itu.
"Disini kau akan damai, dan jika lebih lagi damai dirimu jika kau terlepas dari kutukan sebagai dewa iblis!" Ujar Liona.
"Benci, sebuah kata yang membuatku tidak bisa lagi kembali seperti dulu, sebuah hal yang membuat hidupku terbelengu dalam siksaan penderitaan, aku telah di benci sampai mati" Ujar Radehs.
"Tidak ada yang namanya kebencian sampai mati, suatu saat kebencian itu juga akan mereda, tak peduli berapa lama pasti kebencian akan segera memudar, sadarlah itu!" Balas Liona.
"Sudah cukup ini tidak akan ada habisnya, aku tidak akan pernah kembali, ketika aku menjadi bagian dari sepuluh dewa iblis aku selalu merasakan penderitaan dari jiwa-jiwa yang mati dalam keadaan marah, penderitaan mereka lebih berat dariku, mereka yang tidak terselamatkan harus mati dalam penderitaan terlepas dari apa yang mereka dapatkan setelah kematian itu, tapi bagaimana jika dia sudah menderita lalu kematian membawanya menuju neraka, tidak ada kebahagiaan sedikitpun, kalian sepuluh malaikat terkuat walaupun sudah bergabung dan kami tidak adapun, kalian tetap masih menyisakan banyak orang yang menderita" Ujar Radehs yakin.
Sekarang Radehs mencoba melepaskan diri dari dimensi ini, tapi anehnya tidak ada sedikitpun niat untuk bertarung melawan Liona.
Lalu seekor rusa yang tak biasa pun datang, dia sangat tenang berjalan pelan menuju Liona.
"Wah wah liatlah, siapa yang kau bawa ke sini Liona!" Ujar rusa itu mendekat ke Liona lalu di balas dengan belaian lembut di bawah wajah rusah itu dari Liona.
Radehs lansung tahu siapa rusa itu, tidak salah lagi dia adalah penjaga dari sepuluh malaikat terkuat, Jalargo. Raja dari segala mahluk suci.
"Kau tidak perlu berusaha keluar dari dimensi ini, jika kau memang mau keluar aku akan mengeluarkanmu dari sini dan aku akan mengembalikanmu ke tempat asalmu, tenang saja aku tidak akan menyerangmu" Ujar Liona.
"Kau berbicara seolah aku takut!" Ujar Radehs menantang.
"Bukan meremehkan hanya saja aku tidak ingin membunuh seorang manusia" Ujar Liona dengan pandangan yang berbeda, kali ini dia lebih serius dari biasanya, tidak ada lagi pandangan kasih sayang seperti tadi karena sekarang adalah sebuah kekecewaan.
__ADS_1
Bukan untuk radehs melainkan untuk dirinya sendiri.
"Selamat tinggal, semoga saja aku tidak akan pernah menjumpaimu lagi di perang puncak nanti, tapi jika kita bertemu di perang puncak nanti maka bersiaplah, musuh yang kau lawan bukanlah musuh yang kau gunakan sebagai latihan atau apapun itu, tapi sesuatu yang setara dengan dirimu yang dimana kau berpikir tidak bisa mati, bisa membunuhmu!" Ujar liona dia beranjak dari kursinya lalu pergi bersama jalargo.
Lalu pandangan Radehs buram dan melihat mereka berdua di antara bayang bayangan kelabu putih.
"Apa kau yakin tidak membunuhnya?" Tanya jalargo pada Liona.
"Aku masih tidak yakin akan membunuh seorang yang bisa kembali menjadi manusia tapi aku berharap lebih pada Radehs jika dia harus menolak menjadi dewa kemarahan, karena dia adalah sebuah wujud dari kegagalan malaikat terkuat!" Balas Liona.
"Wujud sebuah kegagalan?, aku mengira jika kau terlalu naif" Ujar jalargo.
"Tidak, itu memang sebuah kegagalan walau sudah tidak perlu di ratapi lagi, tapi rasanya aku sedikit kesal dengan hidupnya yang di perlakukan seperti itu dan juga puncak penderitaannya adalah orang yang sama seperti diriku, sang malaikat terkuat kesabaran, rajanya surga" Ujar liona, mereka pun pergi.
*************
Disisi lain Radehs hanya termenung di depan bercak darah yang dimana tubuh-tubuh musuhnya sudah hancur.
"Begitu ya, nanti akan ku jelaskan padamu, bagaimana situasinya?" Tanya Radehs.
"Sesuatu yang tak perlu di pertanyakan lagi, karena kau sudah tau dari awal sebelum semua ini di mulai, siapapun itu selain sepuluh malaikat terkuat, tidak akan ada yang bisa mengalahkan kalian!" Ujar Retha.
Disisi lain sebuah rawa yang dimana pohon-pohon sudah hancur berantakan serta retakan-retakan yang tersisa hanya tinggal Oroge dan Asdun yang tergeletak di tanah. Tubuh Asdun terus beregenerasi tapi naas meski tubuhnya sudah hancur hanya tinggal dirinya seorang diri dan dua temannya telah mati.
Disisi lain lagi, volgekov menyeret tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri.
Hanzjoe terus mengikutinya dari belakang.
"Apa yang ingin kau tuju di saat seperti ini selain hanya kematian yang akan kau dapatkan!" Ujar Hanzjoe.
"Aku tidak mau kalah dulu!" Ujar Volgekov.
__ADS_1
"Permainan masa dulu dan masa depannya begitu menyenangkan, sudah waktunya kau harus mati di waktu yang mana seharusnya kau berada!" Ujar Hanzjoe.
"Kenapa kau tidak menggunakan kekuatan pengatur waktu yang sama seperti diriku!" Tanya volgekov.
"Jawabannya sangatlah mudah dan sederhana, aku tidak suka melihat masa depan dan masa lalu, karena apapun yang kau lihat di masa depan belum tentu akan terjadi jika kau berjuang di kondisi sekarang ini!" Ujar Hanzjoe.
Beberapa tenkatel Hanzjoe lansung menuju volgekov.
Volgekov meratapi kehidupannya, inilah akhir baginya, kekalahan yang menyedihkan.
Inilah akhir dari segalanya. Tenkatel Hanzjoe yang mengelilingi wilayah pertarungan agar amukan Hanzjoe tidak melebar pun hilang dengan seketika.
Lalu Hanzjoe lansung berada di depan Radehs.
Radehs berjalan terhuyung-huyung, dia seperti merenungkan sesuatu, tetapi seketika hilang setelah kedatangan Hanzjoe.
"Ayo aku sudah tahu sebuah portal menuju dunia yang lain lagi!" Ajak Hanzjoe.
"Tunggu, biarkan aku berbicara dengannya!" Ujar Radehs dan dia lansung berada di depan ogore dan juga Asdun.
Melihat hal itu ogore lansung merendahkan tubuhnya di bawah Radehs.
"Kerja bagus oroge, semakin hari kau akan semakin berpengetahuan mengenai kehidupan, satu saranku bagimu, tetaplah tinggal disini, kau sekarang akan menjadi pahlawan bagi dunia ini, bersihkan dunia ini dari hama-hama kotor yang suka menyakiti orang lain, seperti segala kejahatan, hiasi kejahatan di dunia ini dengan darah mereka sendiri, hanya itu yang akan membuatnya sadar!" Ujar Radehs.
"Siap tuanku!" Ujar Ogore.
"Dan kau, apa kau sudah tahu kenapa aku bisa berbicara disini dengan ogore sedangkan sudah beberapa puluh menit yang lalu, itu artinya tidak ada lagi yang namanya pertarungan karena pemimpinmu sudah mati" Ujar Radehs. Lalu radehs berketuk lutut layaknya orang yang menghormati.
"Sekarang berada lah di bawah pimpinan ogore, dan kalian akan membuat sebuah pasukan yang harus membantai habis segala kejahatan di dunia ini karena dengan itulah kedamaian sejati akan datang!" Ujar Radehs.
"Sisanya kuserahkan padamu Ogore" Ujar Radehs lalu seketika dirinya lenyap dari sana.
__ADS_1
"Kau dengar dia menginginkanmu agar menjadi anak buahku, jangan sampai aku memaksamu, karena kau tau kau tidak punya siapa-siapa lagi untuk di pertahankan!" Ujar Ogore.