
Retha melihat sebuah batu di sampingnya, dia meraihnya lalu menghantam kan batu tersebut ke kepalanya sendiri, bukan sekali melainkan berkali kali.
Semua kenangan pahit akhirnya datang, dia terus memukulkan batu tersebut ke kepalanya hingga wajahnya berlumuran darah.
Retha meluapkan semua amarahnya dengan batu tersebut, bukan kepada sang ibu yang tega meninggalkanya, dan juga bukan kepada sang ayah yang tega menyiksanya selama dua tahun.
Melainkan kepada dirinya sendiri, diri yang tidak berguna penuh dengan ketidak sempurnaan tanpa kebahagiaan yang berarti, benar hanya orang tuanya yang memberikannya kebahagiaan tapi tidak dengan Retha yang bisa membahagiakan kedua orang tuanya.
Hingga akhirnya muncul pucuck matahari yang menyerebak keluar dari balik kegelapan.
Semakin laman semakin luas dan panas.
Retha hanya tertawa senang, air matanya mengalir dengan deras, hatinya hancur lebur karena kenangan kejam terus menghantuinya.
"Inilah akhir dari ku, hahahahahahha" Ujar Retha sembari merasa benar-benar tak berguna, kondisi wajahnya semakin parah karena sinar matahari tersebut. Bahkan sampai mengelupas kulit sampai menampakkan dagingnya.
Akhirnya sebuah bayangan gelap pun muncul menghalangi sinar matahari yang menuju ke Retha.
Dia menggunakan sebuah topi penyihir dengan sebuah tongkat lusuh, dan jubah merah yang bercampur debu.
Sorot matanya merah bergaris kan simbol pentagram. Simbol terkutuk dari segala yang memilikinya.
"Dari tadi aku merasakan luapan amarah yang begitu deras seperti air terjun, ternyata berasal dari seorang bocah" Ujarnya tenang tapi Retha tidak merensponnya.
"Walau sudah hidup ribuan tahun dan menjelajahi ribuan dunia di berbagai langit, aku tidak pernah merasakan arah yang sebesar ini selain darimu, bisa di bilang kau adalah kemarahan paling besar yang bahkan kedepannya belum ada yang bisa meluapkan amarah sebesar dirimu" Sambungnya lagi.
"Kau marah karena tidak bisa berbuat apa-apa kan" Mendengar ucapan tersebut dari pria itu membuat Retha terkejut.
"kau marah karena tidak bisa membahagiakan mereka kan" Itu memang benar bedasarkan Retha jika dirinya tidak akan bisa membahagiakan orang tuanya mau bagaimanapun caranya dalam keadaan sekarang ini.
"Aku benci diriku" Ujar Retha geram
__ADS_1
"kau marah karena dirimu membuat orang tuamu menjadi bahan cemoohan orang lain kan"
"Aku sangat benci mereka"
"kau marah karena dirimu penyebab ibumu berpaling dari ayahmu kan"
"Bencii"
"kau marah karena telah membuat ayahmu menderita kehilangan orang yang dicintainya kan"
"Benciiii"
"kau marah akan dirimu yang terlahir seperti ini kan?"
"BENCIIIIIIIIII"
"Kehidupanlah yang telah membuat kita seperti ini, jika kau bisa kembali ke masa lalu pun, semuanya akan percuma karena mau ratusan, ribuan, bahkan jutaan kali kau mengulangi waktu, kau tidak akan bisa mengubah takdir jika ibumu akan pergi meninggalkanmu"
"TIDAK ADIL"
Retha seolah mendapatkan pencerahan, dia lansung setuju apa yang di katakan oleh pria tersebut, Retha menggerakkan tangannya perlahan meraih tangan yang hendak menolongnya, tangisan Retha kali ini adalah tangisan haru bercampur sedih bercampur marah karena masih ada orang yang mau menolong dirinya yang hina.
"Kita tunjukkan pada mereka pembalasan akan setiap penderitaan, akan aku mulai dari yang terlemah sebagai pelajaran bagi yang terkuat di dunia ini" Ujarnya.
Saat kedua tangan mereka menyatu, sebuah meteor besar pun jatuh menghantam sebuah daratan meluluh lantahkan segalanya, daratan yang berhamburan, lautan yang berbentuk gelombang besar, udara yang terhempas dan tentunya jutaan jiwa yang melayang.
Walau hanya satu meteor saja tidak ada yang tidak merasakan dentuman dahsyat tersebut, tentu saja segudang kegelisahan terpancar bagi seluruh mahluk hidup baik yang tidak berakal maupun yang berakal.
Tentunya kota malavia.
Ibu dan ayah Retha terkejut melihat sebuah sinar panas yang terpancar di ujung dunia sana, jantung mereka berdetak dengan keras karena rasa takut dan khawatir, semua orang kebingunan dan tak tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
Tentu saja Retha terheran dengan ledakan tersebut tapi entah kenapa dia merasa tidak takut dan itu sudah biasa.
Dan saat mereka berdua bersalaman tadi, Retha mengetahui tentang pria tersebut serta tentang semua seluk beluk kehidupan, bagaimana semuanya bisa tercipta, bukan secara kebetulan tapi kesengajaan dan penderitaan yang ia rasakan juga karena kesengajaan.
"BAJINGAN!" Gimana Retha dalam hatinya.
Tubuh Retha kembali pulih semua lukanya menghilang dan tentunya penyakit yang ia derita dari lahir, tapi tubuhnya tidaklah sempurna seperti manusia biasa karena api dan panas adalah tubuh barunya menggantikan darah dan organnya.
Berbagai meteor terus menghantam mau daratan ataupun lautan, gunung-gunung bergeser karena lempengan yang terus bergerak layaknya roller coster.
Berbagai retakan yang luar biasa pun terdapat di berbagai belahan dunia mega galaksi tersebut dan akhirnya berbagai hawa panas menyerebak menghancurkan suasana dingin di seluruh bagian dunia.
Dalam kurung waktu satu bulan Retha memahami banyak hal, dan dia pun hampir menguasai semua kemampuan yang di miliki oleh pria tersebut.
Retha berdiri di sebuah gedung raksasa milik kota malavia, dia berubah menjadi seorang wanita tua berjalan dengan tertatih-tatih dan singkatnya dia bisa bertemu dengan Rita yang merupakan ibu kandungnya.
Entah bagaimana caranya Retha bertemu dengan Rita dan mereka saling bertatapan mata.
"Aku berasal dari sebuah tempat kumuh dan dalam beberapa minggu ini aku mendapatkan kabar mengejutkan, jika ada seorang gadis cilik yang di panggang dalam tungku yang berisikan air panas oleh ayahnya" Ujar Retha membuka pembicaraan.
Rita terkejut dan dia terus bertanya perihai kejadian itu dan Retha menceritakan awal mula kisahnya sendiri, hingga akhirnya Rita mengetahui jika orang anak yang di panggang hidup hidup dalam air mendidih itu adalah Retha yang merupakan wujud kekesalan dari sang ayah yang telah kehilangan istri tercintanya.
Rita menangis terisak-isak dia mencurahkan seluruh isi hatinya dia berkata dari sejak dia kecil dia selalu kesusahan mengurus orang tua yang lumpuh karena mendapatkan penyakit yang berasal dari limbah yang tercemar mengurus saudaranya yang kecil lalu saat mereka dewasa semuanya mengkhianati rita dan meninggalkan dirinya bersama kedua orang tua yang lumpuh hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang laki laki yang sekarang adalah mantan suaminya. Namun apa di kata mereka memiliki seorang anak perempuan yang terlahir tidak sempurna, tidak bisa melihat mentari karena akan membuat kulitnya melepuh, penyakitnya tak bisa di sembuhkan dan membutuhkan perawatan khusus yang dimana semua fasilitas dan berbagai lainnya tidaklah murah dalam skala mata uang di dunia tersebut dan tentu saja bukan hanya fisik namun batin rita juga hancur melihat sang anak yang menderita tidak bisa bermain seperti anak lainnya karena dia hanya bisa keluar saat malam hari.
Rita tak menyangka jika nasibnya seburuk ini, entah apa yang salah pada dirinya, banyak orang mengatakan jika itu semua adalah ujian hingga akhirnya Rita mencoba keluar dari lingkaran setanĀ penderitaan ini, namun kenyataannya dia mendapatkan celah hanya untuk dirinya sendiri, tanpa bisa membawa suami tercintanya dan tentunya sang anak itu sendiri.
Sang majikan yang jatuh cinta padanya pun membawanya ke bahagian dimana dirinya tidak perlu susah payah mencari biaya untuk makan dan setiap hari mereka akan merasakan kesenangan seperti pergi ke pesta atau sebuah tempat hiburan yang menyenangkan hingga akhirnya Rita lupa akan seperti apa kehidupan suaminya dan sang anak tercintanya lalu tak berselang lama Rita dan suami barunya tersebut mendapatkan karunia seorang anak yang sehat yakni seorang perempuan yang cantik jelita walau masih balita berhati baik dan selalu bisa menenangkan Rita walau dalam masalah apapun itu, dia pun dinamakan Dianna.
Rita mendapatkan kebahagiaan dan Retha mendapatkan kekejian.
Retha pun berpamitan dengan Rita dalam wujud wanita tua. Saat Retha mem paling kan wajah dari Rita, air matanya bercucuran, padahal tubuhnya panas mendidih. Itu bukan air mata biasa itu adalah darah penderitaan hingga akhirnya dia bertemu dengan pria yang telah menolongnya.
__ADS_1
Ternyata selama ini bukanlah dirinya yang salah dan bukanlah sang ibu yang salah, melainkan hidup inilah yang salah, ini bukan lagi ujian tapi ini adalah penderitaan yang nyata yang merupakan sebuah kekejian yang harus di hilangkan secara nyata.
Berbagai penderitaan pun akan segera berakhir, Retha memutuskan untuk mengakhiri dunia mega galaksi tersebut dalam sekejap dan sang dewa kemarahan pun melakukannya seperti membalikkan telapak tangannya, bagi retha sang ibu layak mendapatkan kebahagiaan sejati yakni mendapatkan surga dan tapi rasa sakit hatinya tetap tak bisa hilang begitu saja.