
Disisi lain sekarang radehs melihat dirinya sendiri berada di tempat gelap yang penuh dengan warna noda merah, dan suara yang ia dengar hanyalah suara seperti detak jantung.
Mata Radehs terbelalak menatap di depannya, begitu kosong, sangat kosong dan penuh dengan kengerian, namun sebuah suara yang menggema seisi tempat itu mengejutkan radehs dari lamunannya.
"Radehs apa kau pernah mencapai harapanmu?"
"Harapan?" Ulang radehs seolah dirinya tak mengerti.
"Tidak pernah kan, kau mempunyai banyak harapan di masa lalumu tetapi tidak satupun harapanmu yang tercapai, bila adapun itu hanyalah harapan yang tercapai dari rasa iba seseorang kepadamu, kau benar-benar tidak berguna karena itulah harapanmu tidak pernah tercapai dan satu lagi kau tidak pernah meraih harapanmu dengan menghalalkan segala cara" Ujarnya meyayat hati Radehs.
"Menghalalkan segala cara ya, aku tidak pernah mencobanya tetapi merasakan dekat dengan orang seperti itu aku sudah sering dan rasanya sangat menyakitkan ketika mereka menggunakan kita sebagai batu loncatannya" Ujar Radehs dengan kenangan yang terus menerus berulang-ulang.
"Kau itu adalah anak yang kuat, kau melakukan segalanya secara tidak setengah-setengah, dengan harapan dirimu akan di butuhkan banyak orang, termasuk harapan yang ingin kau capai, kau terus berjalan dengan segala rintangan yang kau hadapi, bukan masalah rintangannya, tetapi masalah jalannya, ketika kau mendapati jalan yang buntu kau pun tidak sanggup lagi meneruskan harapanmu, dan hasilnya kau bunuh diri di jalan buntu itu yang artinya kau membuang harapan itu, dirimu juga tidak bisa di salahkan karena jalan yang kau lewati itu penuh dengan penderitaan dan kesengsaraan baik itu jiwa dan fisik, tetapi aku tahu bagaimana caranya membuat dirimu agar terus berjalan meskipun jalan yang kau lalui sudah buntu, tentunya dengan harapan yang baru ini kau akan menembus jalan buntu tak peduli jika itu adalah ribuan curaman gunung ataupun lautan magma yang akan menghentikan dirimu, semuanya akan terlewati dengan PERJUANGAN SAMPAI MATI" Ujarnya.
Radehs berbalik dia menuju suara tersebut, suara yang berasal dari arah yang sangat gelap, begitu gelap bahkan sampai siapapun tidak akan bisa melihat dirinya sendiri, dan penerangnya hanyalah mata mata yang terbelalak ke arah Radehs, jumlahnya ribuan seperti bintang-bintang di langit.
"Kau benar, kemarilah, teruslah kemari, tidak akan ada yang menggangumu bahkan suara sekeras apapun itu tidak akan ada yang menggangumu dalam kesunyian ini" Ujarnya lagi.
Suara kikikan dari mata mata yang terbelalak terdengar seolah menertawakan Radehs yang mengikuti arahan tersebut, tawa licik itu bukanlah tawa hina melainkan tawa kepuasan dari jiwa jiwa yang terbelenggu karena mereka akan memiliki inang yang baru.
__ADS_1
************
"RADDEEEEEHHHSSSSSS" Teriak lorn kepada Radehs di depan wajahnya sembari meninjunya dengan berbagai pukulan yang mengeluarkan sihir. Di dalam sihir tersebut mengalir ingatan dari lorn yang dimana dia bertemu lianda dan mengatakan jika lianda sudah menyadari kesalahannya begitu juga anggota keluarga yang lainnya, dan hal itu akan tersalur kepada Radehs.
Sungguh sebuah ketidak konsistenan dari lorn karena sebelumnya dia ingin membunuh Radehs dan menyakitinya dengan berbagai kenangan buruk bagi Radehs tapi sekarang dia malah bertindak setengah-setengah karena berusaha agar Radehs tersadar.
Tetapi sekali lagi, itu hanyalah sebuah kegagalan, karena Radehs melontarkan Lorn untuk kesekian kalinya, di sisi lain ke empat malaikat terkuat lainnya lansung turun tangan dalam menghajar Radehs membabi buta, mereka tidak lagi bertindak sebagai pendukung Lorn kali ini mereka murni menyerang Radehs seperti menyerang satu lawan satu.
"Semua orang bertarung mati-matian karena mereka rela bertaruh nyawa demi kita, tapi kau malah bermain kenang kenangan bersama dewa iblis, aku maafkan kali ini tapi cukup sekali saja, dan jika hal itu terjadi lagi maka aku akan membunuhmu, jika kau tidak sanggup lawan saja dewa iblis yang lain, sang malaikat kesabaran!" Ujar salah satu dari malaikat terkuat memandang sinis lorn.
Dia adalah Dain Mankinov malaikat kebijaksanaan, seorang pria bersenjatakan panah, dengan antribut-antribut zirah khusus perang, memiliki lima belati di pinggangnya yang memiliki kemampuannya masing-masing.
Dain menembakkan panahnya, dan melesat tajam ke tubuh Radehs, lalu tak berselang lama, panah itu menjadi besar berukuran raksasa setara dengan luasnya sebuah dunia, sontak tubuh Radehs lansung hancur.
"Lalu di kumpulkan dan di panaskan serta di padat kan" Ujar dain, dan ketiga malaikat terkuat lainnya, menolak tubuh Radesh menjadi tumpukan dan mereka mengelilingnya dan masing masing malaikat terkuat saling menekan gumpalan daging Radehs dan membuat Radehs sulit beregenerasi karena tubuhnya yang hancur tak beraturan dan terus hancur pula oleh dorongan dan tekanan tadi
"Dan di bentuklah menjadi sebuah lempengan besi" Ujar Dain, terciptalah sebuah segelĀ yang menyegel radehs terus menekan dirinya, semakin kecil hingga dirinya musnah.
Disisi lain retha yang menyadari hal itu tau jika hal seperti ini akan membahayakan bagi Radehs.
__ADS_1
Dan disisi lain pula Radehs mengikuti jejak suara itu.
"Oh aku lupa bilang, jika ada satu suara yang bisa mencapai dirimu saat ini!" Ujarnya
Membuat Radehs terkejut.
"Radehs apa hanya segitu kemampuanmu, bukankah dirimu sendiri yang bilang, jika kau tidak ingin lagi berada dalam kekalahan, tunjukkan pada semua orang jika dirimu itu berhak menang!" Ujar retha dari luar dan mencapai Radehs.
"Menang ya" Ulang radehs, dia memahami dalam-dalam kata-kata tersebut, kata dimana dirinya selalu di sudutkan akan kekalahan dan kegagalan.
"Di jalan kegelapan yang penuh noda darah merah ini, kau bisa meraih kemenangan jika kau terus berjalan, dengan gelap ini kau akan di butakan oleh gelapnya malam sehingga tak tahu seberapa panjangnya puncak yang harus kau capai hingga dirimu terus berjuang sampai mati di mana lidahmu sudah kering dari air sampai serat-seratnya"
Radehs menyadari jika sebenarnya yang buta itu bukanlah matanya, melainkan hatinya sendiri.
Tetapi tidak ada pilihan lain selain radehs terus menatapi jalan itu, karena tidak ada lagi jalan lain yang bisa dia lalui.
"Aku akan berjuang, terus berjuang" Ujar Radehs dan terus berjalan, kata-kata itu terus dia ucapkan sampai tubuhnya sudah tak bisa di liat lagi karena gelapnya tempat itu, tetapi suara lirihnya terus terdengar hingga menggema ke seisinya.
"Aku akan terus berjuang"
__ADS_1
Ddddduuuuuuuaaaaaaaammmmmmmm.
"Jadi begitu, tidak ada kesalahan dari kami, tetapi kau sendiri yang memaksa keluar dari paksaan segel kami, dan itu harus mengerahkan banyak kekuatan untuk di keluarkan" Ujar Dain menatap serius Radehs.