Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 101


__ADS_3

"Tidak ada kata terlambat, tidak ada yang namanya tidak mendapatkan kebahagiaan sedikitpun, hidup ini abstrak, ada rasa sakit dan ada juga bahagia, hanya saja kita sendiri saja yang tidak sanggup untuk berusaha sejauh mungkin!" Guman Lorn dan gumanannya tersambung seperti telepati kepada Radehs.


Tentu saja Radehs goyah dengan banyak bisikan yang membuatnya menjadi tak terkendali baik dari dalam dirinya dan Glauda di tambah kata-kata dari Lorn membuat rasanya ingin mati saja.


4 sayatan pedang mengenai tubuh Radehs, Lorn sengaja melumpuhkan pergerakan Radehs, lalu menusuk jantung Radehs dengan pedangnya, membuat organnya tidak bisa Beregenerasi lagi, tak hanya itu, Lorn terus memasukkan kata-kata motivasi kepada Radehs melalui Telepati nya.


Situasi ini akan membuat Radehs tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyerah tetapi itu hanyalah harapan dari Lorn sendiri.


Disisi lain Radehs mendengarkan kata-kata itu dan sesosok berkata dari belakang.


"Ooo indah sekali kata-katanya. benar-benar kata yang cocok untuk seorang penyelamat hidup seseorang, tapi apakah itu pantas bagimu Radehs?" Ujarnya membuat Radehs tersentak.


"KAU TIDAK PANTAS MENDAPATKAN SEDIKITPUN KEBAHAGIAAN DARI ORANG-ORANG, JANGAN SALAHKAN ORANG LAIN SALAHKAN DIRIMU SENDIRI!" Kata-kata itu begitu pahit karena keluar dari mulut seseorang yang sangat Radehs harapkan kasih sayangnya, kasih sayang seorang saudara kandung.


Radehs tertawa, di dalam hatinya begitu sakit merenungkan kata kata itu, pada saat itu dia ingin melakukan sesuatu tapi apa daya tidak ada yang bisa di lakukan oleh nya, kata-kata ataupun tindakan hanyalah sesuatu yang mustahil untuk dia lakukan pada saat itu, karena sejatinya Radehs di lahirkan sebagai sosok pecundang yang tidak ada artinya hidup sebagai objek hinaan dan candaan.


"Kau ingin membawaku ke dunia yang kejam itu lagi, sudah cukup semuanya Lorn,simpan saja kata-kata mutiara itu untuk dirimu saja!" Jawab Radehs.


Tumbuh tangan lain, tangan yang kekar dari perut Radehs dengan jari jemari yang runcing bagaikan pisau yang panjangnya beberapa inci.


Jleeb


Tangan itu lansung menembus perut Lorn sampai ke punggungnya.


Tubuh-tubuh Radehs yang tersayat pedang surgawi Lorn lansung beregenerasi dan membuat dirinya bisa menggerakan kembali tubuhnya secara sempurna.


"Tunggu apa lagi, kalian semua jadilah satu bersama diriku, berikan segalanya amarah kalian, akan kuluapkan hingga kalian sendiri bosan akan amarah-amarah itu seperti seorang yang mati berkali kali dan hidup berkali kali pula!" Ujar Radehs.


Segala jiwa yang terkutuk oleh amarah masuk ke dalam dirinya.


"Jadilah sumber kekuatan untukmu wahai sangat dewa kemarahan!"


"RAAAAAAAAAAGGGGGHHHHH" Radehs melepaskan berbagai serangan jarak jauh dengan skala yang sangat luas dan memusnahkan segalanya dengan batu-batu meteor dari neraka miliknya.


Semuanya dia arahkan ke posisi Lorn itu sendiri.

__ADS_1


Lorn harus menghindar dengan cepat membawa alur pertarungan ke area sepi.


"Kemarilah, jangan pikirkan hal yang lain, mereka pantas mati!" Ujar Radesh sembari berteriak keras.


"LUMAAATTT DIA" Ujar jiwa terkutuk seribu kali.


Radehs melepaskan tongkat glauda nya lalu mengadakan tangannya ke depan lalu menciptakan berbagai monster baru yang berukuran raksasa.


"Sial jika itu adalah masalah penciptaan maka dialah pemenangnya" Ujar Lorn.


Berbagai mahluk ciptaan Radehs itu maju menyerang Lorn.


Terpaksa Lorn membuat beberapa kloning untuk melawan mereka yang berjumlah delapan monster raksasa.


Tapi naas, monster itu mampu mengalahkan Klon dari Lorn dalam waktu singkat. Lorn terkejut kenapa hal itu bisa Terjadi, dan akhirnya dia menyadari satu hal.


Semua serangan yang di Terima oleh Radehs ternyata tak di telan secara mentah-mentah, bentuk dari monster-monster itu seolah adalah gambaran dari ketidaksempurnaan gerakan-gerakan Lorn sendiri alias mereka telah mengantisipasi semua gerakannya.


"Kalau begitu gerakan baru!"ujar Lorn dalam persekian detik dia berhasil menciptakan berbagai gerakan baru yang dimana menggambarkan kelemahan dari mahluk-mahluk ciptaan Radehs itu sendiri.


Lorn melayangkan serangan ke arah bagian belakang leher Radehs.


Namun sekali lagi sebuah tombak menusuk Lorn dan membuatnya muntah Darah, ya tombak itu berduri dan berputar seperti bor saat sudah tertancap di tubuh Lorn.


Dubaakk


Tongkat glauda mengenai kepala Lorn, berbagai kenangan kelam tergambar jelas di pikiran Lorn dalam sekejap.


Lorn menendang Radehs sehingga dirinya terlontar lalu melepaskan tongkat itu dan memanggil Dianna untuk melepaskan dirinya dari kejar-kejaran monster ciptaan Radehs.


Seketika saja, monster itu sirna dan musnah dengan sekali hayunan tangan dari Dianna dan Lorn hingga di pundak Dianna, Lorn terkulai lemas memegang kepalanya.


"Sembuhka sekarang juga, tidak ada waktu untuk melihat apa yang sudah dia kirimkan melalui tongkat nerakanya itu!" Ujar Dianna, sembari menghindar berbagai serbuan dari Retha dengan bantuan para raja penyihir jahat.


"AAAAAARRRRRRRRRRGGGGGHHHHHH" Lorn memurnikan pikirannya dengan kekuatan suci lalu, sembari terengah-engah menunggu rasa kenangan pahit itu hilang Lorn menggunakan pedangnya kembali dan berkuda-kuda.

__ADS_1


"Kemana dirinya!" Tanya Lorn.


"Selamat tinggal!" Ujar Retha.


"Tidak akan ku biarkan kau lari!" Teriak Dianna, dia mengeluarkan berbagai tali kekangan yang akan mengikat Retha, tetapi beberapa dari tali yang jumlahnya ribuan itu terbelok ke sana kemari karena ada yang mematahkannya, yakni orang-orang yang berada di pihak sang dewa kemarahn itu sendiri, para pendosa.


Dan seketika tubuh Retha yang merupakan batu-batu neraka pun terlontar ke sana kemari menjadi potongan-potongan kecil seukuran 3 kali ukuran matahari, menghujam ke sana kemari, jumlahnya ada sekitar puluhan juta.


"Jika aku mencoba menghentikan batu-batu itu maka aku akan kehilangan dirinya!" Ujar Dianna.


Beruntung beberapa juta batu di hentikan oleh malaikat terkuat yang lainnya, lalu sebagian batu yang lainnya, menghujam apapun yang ada di depannya dengan daya luncur yang luar biasa kuat, setara lima ribu kali kecepatan cahaya.


"Semuanya menghindar!" Teriak seseorang.


Para dewa iblis yang lainnya mengandalkan hal yang di lakukan oleh Retha untuk celah kabur.


"Mereka tidak akan berpencar karena tujuan mereka adalah kebawah!" Ujar Deluce.


Huzio datang dia mengakat tombak raksasa bermata gandanya itu, syiiiiiingg


Pengaktifan teleportasi apapun itu tidak akan bisa di lakukan oleh siapapun karena sihir dari huzio.


"Jangan membuatku tertawa dasar petinggi pasukan malaikat, karena yang kau lawan itu adalah Para dewa iblis, sesuatu yang di atas segalanya dimana orang orang yang sudah melewati batas logika seperti kita pun akan terkejut akan kemampuan-kemampuan mereka yang di luar batas kewajaran kita itu sendiri!" Ujar seorang penjahat dari neraka.


"Kau ada benarnya, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba karena kita belum tahu!" Ujar huzio segera menghabisi orang itu.


"Usaha tidak akan mengkhianati hasil, itulah yang aku lakukan!" Ujar lazera dari posisi yang sangat jauh.


"Tapi kau harus sadar jika sejatinya kau tidaklah sendirian berada di puncak!" Ujar nomoskus mengatakan kepada bulba.


Brung brung brung brung


Berbagai gemuruh tercipta kembali, portal raksasa seketika berada di depan masing-masing dewa iblis.


"Ohh jadi mereka tidak hanya menonton saja!" Ujar Hanzjoe.

__ADS_1


"Tentu saja, aku kesal sekali melihat mereka berada di atas angin, kemarilah istirahat sejenak menuju pembangkitan kita yang sejati, lalu barulah kita menggocang gajat raya dengan berbagai serangan!" Ujar seseorang yang merupakan dewa iblis juga.


__ADS_2