Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 71


__ADS_3

"Kau memang hebat bisa mengalahkan semua anak buahku, tapi walau mereka sebenarnya itu ahli dalam bekerja sama dan lihai dalam pertarungan, kemampuan mereka masih jauh di bawah kami bertiga, apa kau yakin masih ingin bertarung sebagai manusia biasa?" Ujar Salor kepada Hanzjoe.


"Lalu kenapa kau tidak maju saja untuk membuktikan jika dirimu itu benar?" Sindir Hanzjoe dengan tenang.


"Mardi, Raymond, ambil posisi" Ujar Salor.


Mardi mengerti kenapa Salor menyuruhnya begitu, dan karena Hanzjoe menyatakan jika dirinya bertarung sebagai manusia biasa Mardi memberanikan dirinya untuk berhadapan dengan Hanzjoe.


Begitupun dengan Raymond, melihat apa yang sudah dia saksikan, dia lansung tahu perbedaan antara dirinya dengan Hanzjoe.


Tapi posisi yang di suruh Salor bukanlah posisi sembarangan, itu adalah posisi menyerang dimana mereka sudah menggunakan strategi yang sama secara berulang kali selama 15 tahun lamanya.


Artinya mereka akan menyerang Hanzjoe dengan kombinasi yang dimana Hanzjoe sendiri tidak akan mendapatkan celah sedikitpun dalam menyerang mereka bertiga.


Mardi menarik nafasnya dalam-dalam, dia berdua dengan Raymond maju, menyerang Hanzjoe dari segala arah, terkadang melayangkan pedang dan juga pisau yang di lempar, tehnik bela diri Mardi begitu unik, dengan tehnik bela dirinya dia membawa Hanzjoe menuju alur pertarungannya, bahkan sempat-sempatnya dia mengambil pisau yang di lemparkan tadi.


Memang pisau tersebut di layangkan tidak jauh dari Hanzjoe dan juga dirinya. Di saat Mardi memungut pisaunya dalam beberapa detik, Raymond datang dengan panahnya.


Selang beberapa menit ketiganya saling bertarung, di tengah-tengah kesempatan itu Salor bergerak dan dia menghujam Hanzjoe dengan pedangnya yang besar.


Hanzjoe sedikit terkejut dan lansung mundur, tapi tiga serangan lansung mengarah padanya.


Begitu padatnya sampai tidak ada celah. Namun tidak bagi Hanzjoe.


"Brummm" Akibat hujaman serangan Salor Mardi dan Raymond, menciptakan hembusan pasir yang pekat.


Tapi disisi lain Hanzjoe masih berdiri tanpa luka.


"Selama 15 tahun ini, hanya kau yang mampu menghindari serangan kerja sama kami" Ujar Salor tak habis pikir sejauh mana ilmu pertarungan yang dimiliki Hanzjoe.


"Baiklah sekarang giliranku dalam menyerang" Ujar Hanzjoe.


"Apa maksudnya tadi dia tidak berniat menyerang selain menghindar?" Guman Mardi.


Hanzjoe berlari menuju Raymond, berbagai serangan di lancarkan Raymond di sisi belakang Mardi mengejar Hanzjoe.


Raymond menembakkan anak panahnya, Hanzjoe menghindari anak panah itu lalu dia melakukan gerakan akrobatik dan membuat anak panah itu melayang lebih cepat dan berbelok.


"Ughhh" Mardi harus merasakan sakitnya panah yang menembus tubuh bagian belakangnya bahkan tersangkut di organ dalamnya.


"Bahkan dia mampu melakukan hal seperti itu, jelas saja itu bukan lagi kemampuan manusia biasa" Ujar Salor.


Hanzjoe mendengar apa yang di ucapkan Salor, lalu dia lansung menghabisi Raymond dengan mematahkan kedua lengannya.

__ADS_1


"Tidak ada yang tidak mungkin di jagat raya ini, segala hal bisa di lakukan dengan mempelajari sesuatu dari turun temurun nya para leluhur, begitu juga dengan pertarungan, bela diri, tehnik, ilmu senjata, dan sebagainya, terus berkembang secara pesat dan akan terus berevolusi ke tingkat yang dimana kau sendiri tidak bisa membayangkannya dan lansung menyebut perbuatan itu bukanlah kemampuan manusia biasa" Ujar Hanzjoe terus berjalan ke arah Salor.


"Kau kira adakah yang seperti itu!" Ujar Salor kesal.


Hanzjoe dan Salor saling menyerang, gerakan Hanzjoe semakin lincah dan cepat.


Bahkan jika Salor melayangkan satu serangan, maka Hanzjoe bisa menyerang Salor dengan lima kali atau lebih.


"Oh tentu saja aku ingat bagaimana kalian semua membantai habis semua penduduk desa dengan rasa bangga dan senang" Sambung Hanzjoe.


"Sekarang cukup main-main nya" Ujar Hanzjoe dan seketika mata orang yang mati lansung terbuka kembali.


"Ada apa ini, kenapa mereka bisa hidup kembali?" Guman Salor bertanya.


"Kami para dewa memang bisa menghidupkan yang mati, tapi apa kau tahu, sudah sewajarnya orang-orang yang mati ini merasakan surga atau neraka, dan jika kau melakukan hal itu maka kau hanya merengut jalan hidup selanjutnya dirinya, dan tidak ada hasil yang bisa membuatmu merasa puas kecuali dengan membohongi diri sendiri" Ujar Hanzjoe.


"Tapi kemampuan ini sangatlah cocok untuk kalian, rasakan sekali lagi rasa sakit kematian yang akan membuatmu menderita!" Ujar geram Hanzjoe.


Berbagai mahluk kecil muncul dari tubuh para bandit.


"Bagaimana bisa padahal kami semua sudah tidak mengenai lagi darah atau sentuhannya" Ujar Salor meronta-ronta mengupas semua mahluk kecil yang lengket di tubuhnya. Satu di kupas maka akan muncul yang lainnya dari dalam sedangkan yang terkelupas akan berusaha hingap kembali dan menggorogoti dagingnya pelan-pelan.


"Arrrrrrrrrrrgggggghhhhhhh"


Lalu Hanzjoe hanya menyisakan Mardi.


"AAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGHHHHHHHHHH"


Mereka semua terlihat seperti cacing yang menggeliat karena matahari.


Lalu Hanzjoe menatap Radehs yang sudah selesai dengan pertarungannya.


"Jika seandainya aku manusia biasa aku sudah mati" Ujar Radehs.


"Kau tidak perlu khawatir, karena sejatinya tidak ada mahluk yang bisa membunuh kita kecuali sepuluh malaikat terkuat" Ujar Hanzjoe.


"Tch" Desis radehs.


***********


"Hmmm, jadi mereka sudah sejauh itu, sangat di sayangkan sekali Pokando, kau benar-benar berjasa hingga akhir hidupmu" Ujar volgekov, dia lansung membuka sebuah Portal


*************

__ADS_1


"Ada yang datang" Ujar Hanzjoe.


"Siapa?" Tanya Radehs.


"Seseorang yang seharusnya kita lawan sedari awalnya" Jawab Hanzjoe.


Radehs pun lansung mengerti siapa yang di maksud oleh Hanzjoe.


Seseorang datang dengan portal yang terbuka.


Tubuhnya kurus dengan jubah indah yang membaluti tubuhnya.


"Kalian lah yang selama ini berani mengusik dua orang yang paling setia denganku" Ujar volgekov seolah olah bertanya.


"Yah karena Orang-orangmu itu sangat pantas mendapatkan ganjaran bagi kami" Ujar Radehs.


"Membunuh bukanlah ganjaran dasar bocah yang tidak pandai beretika kepada orang dewasa" Ujar volgekov tenang.


"Lalu kau ingin apa kemari, ingin bertarung?" Tanya Radehs.


"Kalau iya memangnya kenapa?" Ujar Volgekov.


Radehs berjalan, tapi tak berhenti selangkah dia berjalan, dirinya telah terjatuh.


"Aku telah membuat waktu untuk berhenti di kakimu sehinnga kau tidak bisa menggerakkan kakimu" Ujar volgekov.


"Sekarang begini saja, jika kalian tidak ingin mati dengan sia-sia jadilah saja bawahan ku atau teruskan perlawanannya kalian dan akan ku bunuh kalian" Sambung Volgekov.


"Maka bunuhlah kami" Ujar Radehs.


"Hmmm membuang waktu saja, lihatlah temanmu tak berkutik, aku telah menghentikan waktu pada dirinya" Sindir Volgekov menunjuk Hanzjoe.


"Tch brengsek" Ujar Radehs lirih.


"Datanglah ke tempatku, ini petanya" Tantang Volgekov dia lansung menghilang.


"Dia sudah pergi, berhentilah berbuat seperti itu brengsek" Decak Rades


"Aku hanya ingin membuat seperti yang dia inginkan" Jawab Hanzjoe.


"Bodoh sekali kau mengikuti kemampuan musuh" Ujar Radehs kesal.


"Yah aku rasa lebih baik dari pada terjatuh secara tidak tahu apa-apa, sekarang mari kita lihat petanya" Ujar Hanzjoe melihat peta itu.

__ADS_1


"Ohh begitu jauh, seberapa halangan yang ingin dia berikan pada kita?" Tanya Hanzjoe.


"Tentunya sampai kaki tangannya habis" Jawab Radehs.


__ADS_2