Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 65


__ADS_3

*************


Di sebuah padang hijau terdapat sebuah taman, terdapat berbagai bunga indah dan beberapa tanaman harum.


Seorang wanita duduk termenung di sebuah bangku putih.


Dari belakangnya seorang laki-laki datang dengan tenang, dia adalah Lorn.


"Kakak, apa kabar?" Sapa Lorn dan membuat Lianda senang akan hal itu, dia sudah lama tidak melihat adiknya walau sekitar 5 hari.


"Apa kau sangat sibuk, tidak biasanya sampai berhari-hari kau tidak menjenguk keluarga kita?" Tanya lianda.


"Ya sedikit sibuk mungkin kedepannya akan sangat sibuk" Balas Lorn.


Lalu Lianda menoleh ke arah lain, dia melihat bunga-bunga yang bermekaran bewarna warni.


"Kemarin ibu mengeluh satu hal padaku, dia bertanya kemana sudah Radehs, seandainya dia ada disini mungkin pasti akan bertemu jika bukan pihak kita yang menemukan dirinya, pasti dia yang datang kepada kita, tapi berbulan-bulan lamanya tidak ada keterangan sedikitpun tentang keberadaannya" Ujar Lianda membuat Lorn terkejut dan dia pun diam seribu bahasa.


"Aku hanya khawatir mungkin saja dia tidak sempat ikut menuju kesini kesurga bersama kita atau dia menjadi korban bencana waktu di dunia kita dulu" Ujar Lianda.


Lorn bukan hanya terkejut mengenai hal tersebut tapi juga mengenai Lianda yang mengkhawatirkan Radehs, tidak ada pengaruh sihir ataupun terapi dalam membuat Lianda berbaikan kepada Radehs tapi murni dari hatinya Lianda sendiri, seolah hatinya sudah terbuka menerima Radehs.


"Kakak apakah kau benar-benar mengkhawatirkan Radehs?" Tanya Lorn untuk memastikannya.


"Aku tau ini sudah terlambat, tapi apa kau tau selama ini aku terus memikirkannya setelah tidak melihatnya, terlebih semenjak kabar heboh dia menang dari desa nakaba dan mempertahankanmu aku tidak menyangka dari mana dia mendapatkan kekuatan sehebat itu terlebih yang dia lawan bukanlah orang-orang dengan kemampuan tingkat rendah, jujur aku sangat khawatir mengenai adikku itu" Ujar Lianda meneteskan air mata.


Lorn senang mendengarnya.


"Tidak ada kata terlambat, dan kau baru menyadarinya sekarang itu berarti belum terlambat, asalkan kau sudah menerimanya apa adanya maka aku yakin dia akan senang dan datang kepada kita nantinya" Ujar Lorn mengelus elus punggung Lianda.


"Kau memperlakukan ku seperti adik saja padahal aku adalah kakakmu" Balas Lianda mengelus kepala Lorn.


"Lorn aku merasakan firasat buruk dari tindakanmu barusan" Ujar Dianna di dalam hati Lorn.


"Maafkan aku Dianna, aku masih belum sanggup, apalagi sebenarnya kedatangan ku untuk membicarakan hal ini tapi setelah mendengar Lianda yang sudah mau menerima Radehs rasanya menyesakkan sekali membicarakan sekarang" Jelas Lorn


"Kalau tidak sekarang maka kedepannya akan lebih menyakitkan lagi baik dirimu dan mereka juga" Ujar Dianna.

__ADS_1


***********


Radehs memegang dadanya.


"Ada apa" Tanya Hanzjoe.


"Tidak ada aku hanya merasakan seolah aku terlena pada impian masa laluku yang akan terwujud" Ujar Radehs.


"Hal yang wajar karena kau masih dalam wujud manusiamu tapi jika kau masih memiliki impian masa lalu maka lebih baik kau putuskan saja, karena kebahagiaan bagi kita hanyalah omong kosong" Saran Hanzjoe.


"Kau benar" Balas Radehs mengiyakannya.


"Sangat sulit untuk mendeteksi kedua dewa iblis ini, tapi kita akan segera mendapatkannya, sepuluh dari kita ini mempunyai kontak fisik dimana jika kau mati maka aku dan yang lainnya juga akan tahu, begitu juga dengan keberadaanmu, walaupun mahluk lainnya tidak bisa mendeteksi atau tidak tahu keberadaanmu, tapi kita bisa merasakan keberadaan satu sama lainnya" Jelas Hanzjoe


"Sebuah hubungan yang melebihi persaudaraan?" Tanya Radehs.


"Tidak sesimpel itu dan tak bisa di bilang sebagai persaudaraan, kita hanya sebatas rekan kerja sama dengan tujuan yang pasti sama" Balas Hanzjoe.


Tak lama kemudian Hanzjoe menciptakan sebuah portal.


"Aku baru saja menteleportkan sebuah portal yang berada jauh di dunia ini lansung berada di depan kita"


"Kemampuan untuk memahami segalanya, aku akan lansung tahu mengenai situasi tempat yang baru saja ku pijaki sesuai dengan batasnya, untuk melampaui batasnya maka akan sama-sama seperti sebuah ringkasan dari rincian"


"Sama seperti Retha"


"Tidak juga, dia sudah dalam kondisi yang melebihi ku, tapi aku bisa mengimbanginya dengan membuat klon dan berpijak di segala tempat, sekarang ayo kita pergi menuju dunia lain" Ajak Hanzjoe.


Mereka pun memasuki portal dan setelah mereka melewatinya portal itu pun lansung hilang.


Sekarang keduanya berada di sebuah dataran tinggi, penuh dengan hijaunya pohon-pohon menandakan wilayah ini tidak terjarah sedikitpun.


"Jangan tertipu dengan area hijau yang menampilkan keindahan" Ujar Hanzjoe.


Dia lansung pergi menelusuri hutan, di tengah perjalan, sangat banyak serangan dari alam yang mereka Terima tapi semuanya bukanlah hal yang berarti untuk menggores Radehs dan Hanzjoe.


"Siapa kalian?" Sebuah suara menggema dari dalam hutan menanyakan Hanzjoe dan Radehs.

__ADS_1


Biasanya siapapun yang mendengar suara tersebut akan timbul rasa ketakutan bagi mereka, tapi tidak dengan Radehs dan Hanzjoe. Mereka berdua tetap tenang menjawab setiap pertanyaan dari suara tersebut.


"Aku adalah pemilik hutan ini, jangan bertingkah seolah kalian bisa menghadapi segalanya yang ada di hutan ini dasar mahluk rendahan, liatlah fisik kalian, fisik rendahan yang pastinya memiliki kehidupan yang suram" Ujar nya.


"Syuuutt" Tenkatel Hanzjoe lansung mengarah ke suatu tempat dan tiba-tiba lansung menyeret seseorang berada di depannya.


"Jangan berbicara seolah kau berada di atas segalanya" Ujar Hanzjoe lansung mendekatkan wajahnya di depan orang itu, dan lansung saja nyali orang tersebut ciut.


"Siapa kau?" Tanyanya.


"Sebelum menyakan orang lain, sebut dulu siapa dirimu" Ujar Radehs.


"Aku adalah ziona, akulah yang bertugas sebagai penjaga hutan ini dari orang luar, siapapun yang masuk ke wilayah hutan ini maka dia harus mempersembahkan nyawanya" Ujar ziona.


"Kenapa kami harus mati setelah memasuki hutan ini" Tanya Radehs.


"Karena itu adalah peraturan yang di buat dewa kami sendiri, kalian mungkin kuat tapi jika menghadapi dewa kami maka kalian akan kalah, karena kalian hanyalah bocah tidak berguna" Ujar ziona memberanikan keberaniannya sendikit.


"Lihatlah mataku" Ujar Radehs.


Setelah ziona melihat mata Radehs dia lansung masuk ke sebuah bayangan kematian orang-orang dalam kemarahan, dia tak menyangka dan begitu bingung akan kondisi tersebut.


Membuat ziona tidak tahu harus berbuat apa selain melihat penderitaan dan kesengsaraan.


Hingga akhirnya dia tersadar kembali.


"Hoeekk" Ziona lansung muntah.


"Itulah orang-orang yang kau bunuh, selama ini" Ujar Radehs.


"Sungguh indah" Ujar ziona tersenyum kepada Radehs.


Hanzjoe melepaskan ziona begitu saja, dan saat di lepaskan, ziona tidak berkutik sama sekali, dia seperti kelelahan karena ilusi dari Radehs.


"Tinggalkan saja dia" Ujar Hanzjoe.


"Kalian takutkan melawan Dewa kami" Sindir ziona ketakutan.

__ADS_1


"Tidak, bahkan aku juga ingin menghajar sosok yang kau sebut sebagai Dewa itu"


__ADS_2