
★dunia bawah, ruang kehampaan★
Di sana terdapat sebuah daratan berbentuk persegi dengan simbol pentagram raksasa, di tengah tengah simbol itu, terdapat sebuah pohon hitam yang kering ranting-rantingnya.
Di ranting kering itu terdapat sepuluh kepompong dengan berbagai redupan merah menyala, tidak ada yang bisa menjangkau tempat itu kecuali mereka sendiri, para dewa iblis.
Dan salah satu dari sepuluh kepompong itu ada Radehs.
★kesadaran Radehs★
Dia sendiri melihat berbagai tempat, 1 detik berjalan dia sudah mencapai ribuan kehidupan yang di lihatnya, hal ini di sebut dengan pembelajaran.
Hal baik yang berujung buruk dan hal buruk yang berujung baik.
Itulah kehidupan yang sedang di lihat oleh Radesh sendiri.
Dari sana dia terus menyimpulkan berbagai simpulan pada kehidupan masing-masing orang itu, ada yang dimana dia berjuang untuk hidup malah di tindas dan akhirnya menyaksikan orang-orang tersayangnya sekarat sampai mati, na'asnya dia bahkan berakhir lebih buruk tanpa bisa membalaskan apa yang telah di perbuatan olehnya.
Ada juga orang yang di khianati orang tercintanya dan berlaku seolah tidak terjadi apa-apa, dan dia berakhir dengan kesendirian di ruang gelap dan bunuh diri karena ketidakmampuannya.
Ada juga orang yang ingin melampaui dirinya dengan berjuang keras melawan penyakit yang ia derita dan kondisi keluarganya yang miskin tak berdaya untuk mengobatinya, merasa menjadi beban keluarga dia pun pasrah dan menyerah hingga maut menjemputnya.
Ada juga orang yang ingin menjadi yang terbaik di keluarganya tetapi selalu di sisihkan karena memiliki saudara yang lebih handal dan dia pun di buang dan terpuruk berakhir tragis menjadi santapan binatang buas.
Lalu sekarang Radehs sedang melihat sosok anak kecil berusia 4 tahun, anak itu berbeda dari anak-anak lainnya, bentuk fisiknya berbeda di mana tidak wajar, dan juga mentalnya, biasanya di sebut dengan kertebalakangan mental.
Anak tersebut bernama Arda, orang tua ada sendiri tidak mempermasalahkan kondisi Arda yang berbeda dari anak-anak lainnya, mereka menyanyangi Arda layaknya orang tua yang baik hati menjaga anaknya, kebetulan orang tua Arda memiliki sahabat yang sudah bersuami istri dimana mereka juga mempunyai anak bernama zuha dimana anak itu berbeda dengan Arda karena kondisi zuha normal seperti anak-anak lainnya.
Sesaat mereka melihat Zuha, di pikiran orang tua Arda terutama sang ibu, merasa sedih kenapa Arda tidak seperti Zuha, karena mereka sedih melihat kondisi Arda yang cacat mental dan fisiknya berbeda dari anak-anak lainnya dan pastinya kehidupannya juga tidak akan normal seperti orang biasanya, biasanya anak-anak lain akan takut kepada Arda karena kondisi fisiknya dan juga Arda yang bertingkah laku aneh, tapi berbeda dengan Zuha, dia mau bermain dengan Arda dan saat Zuha membagikan mainanya terhadap Arda, ibu Arda sendiri terenyuh, dia menangis secara diam, dia sangat terharu masih ada anak lain yang mau bermain dengan Arda.
__ADS_1
Sang ibu meminta kepada ibu Zuha bahwa dia ingin menggendong Zuha.
Saat sang ibu menggendong Zuha, dia sangat senang dan bahagia, air mata berceceran di pipinya melihat Zuha, dan Zuha yang melihat itu menghapus air mata ibu Arda, di sisi lain Arda hanya menyaksikannya, dia seolah terpaku pada hal yang di depannya, dan di saat itu pula Radehs juga naik pitam.
RASA BERSALAH
Itulah yang sesaat di rasakan balita berusia 4 tahun itu, walau dirinya masih tidak mengerti tetapi hatinya sudah belajar jika orang tuanya bukanya tidak senang dengan kehadiran dirinya tetapi orang tuanya merasa terbebani karena rasa bersalah membuat diri Arda sudah begini, tetapi Arda merasakan rasa bersalah dua kali lipatnya rasa sakit yang di miliki orang tuanya.
Setelah hari itu Arda jatuh sakit, kondisinya terus memburuk, orang tuanya selalu ada di sampingnya berharap yang terbaik untuk kesembuhannya.
Di saat itu Arda menyebutkan sesuatu.
"Aku sayang ibu dan ayah" Ujarnya lemas.
Dan Radehs tersentak akan hal itu.
"Selamat tinggal ibu dan ayah, Terima kasih sudah merawatku dengan baik" Ujar Arda.
"Kenapa kau menyerah, Walau hidupmu pahit tapi kau masih memiliki orang tua yang akan terus mendukungmu!" Bentak Radehs.
"Walau hanya beberapa tahun tapi aku sangat bahagia lebih dari berjuta juta tahun lamanya, memiliki kehidupan seperti ini, saat kau menggendong Zuha akhirnya hatiku belajar jika sebenarnya aku memang tidak pantas menjadi anak dari kalian" Ujar Arda lirih.
"itu memang menyakitkan, mereka tidak tahu seberapa sakitnya dirimu melihat pemandangan itu!" ujar Radehs.
"Dengan kematianku ini maka kebahagiaan pasti akan mencapai kalian!" Ujar Arda.
"APA GUNANYA KEBAHAGIAAN SEDANGKAN KAU BERAKHIR MENYEDIHKAN!" Bentak Radehs.
"Walau aku mati Zuha akan menjadi obat kalian dan anak kalian selanjutnya akan menggantikan ku dan membahagiakan kalian di kemudian hari kelak" Ujar Arda menangis
__ADS_1
"BRENGSEK"
"Selamat tinggal orang tuaku tersayang maafkan aku telah merepotkan kalian" Ujar jiwa Arda dan dia pergi selamanya.
"HIDUPP HIIIDUUUP HHHIIIDUPPPLAHHHH" Teriak Radehs.
Faktanya Arda bisa selamat dari penyakitnya namun dia menahan nafas hingga mati.
Radehs memegang kepalanya, entah kenapa dari sekian banyak kehidupan orang lain yang di lihatnya, kehidupan sosok Arda itu adalah yang paling menyakitkan bagi dirinya.
Tapi Arda hanyalah salah satu dari sekian banyak kehidupan yang akan membuat darah Radehs mendidih.
"Kehidupannya sama seperti kita Radehs, sedari lahir kita sudah di takdirkan sebagai penguji bagi banyak orang, jika seseorang pantas maka surgalah tempatnya dan sebaliknya, siksaan nerakalah yang menunggu mereka, tapi masalahnya terletak pada si penguji yang tidak tahu apa-apa, banyak mahluk hidup yang masih bodoh akan inti kehidupan sehingga terlena akan kesombongan dan keangkuhan dan membuat sebuah kasta yang mengerikan" Ujar Retha.
"Aku tidak akan melupakannya, benar-benar tidak akan pernah melupakannya, sampai kapanpun itu aku akan terus bangkit bahkan sampai tubuhku hancur berkepong-keping pun aku akan bangkit!" Ujar Radehs.
Dia mendongak ke atas menyaksikan betapa jernihnya langit yang ada saat itu, dan akhirnya dia beralih ke kehidupan selanjutnya dan terus terusan seperti itu.
Lalu radehs melihat seorang wanita yang anggun, di dunia tersebut si wanita itu di juluki sebagai simbol kecantikan, dia duduk di jendelanya memandang luasnya hamparan taman yang di sediakan untuknya.
"Ketidak keberdayaan!" Ujar seseorang di belakang Radehs dan Retha.
Seorang laki-laki dengan seekor serigala putih.
"Kau..."
"Simbol dari perwujudan segala mahluk buas, sang dewa kedengkian!" Ujar Radehs.
"Senang kau bisa mengenalku Radehs sang dewa kemarahan" Ujar mathilda dan dia duduk di atas serigala tersebut.
__ADS_1