
***********
Radehs berada di suatu ruang, dia melihat dua orang di depannya dimana yang satunya adalah kakaknya dan yang satunya adalah dirinya yang masih kecil.
"Kenapa kakak menjauh dariku, padahal aku ingin sekali di sayangi layaknya adik kakak" Ujar diri Radehs yang kecil.
"Kau tidak pantas di kasihani, asal kau tau jangan sebut aku sebagai kakakmu di depan orang-orang, aku malu mempunyai adik sepertimu" Ujar wanita itu lantang dan tegas dengan kesadisannya.
"Kenapa harus malu kenapa kita harus mendengar omongan orang, tinggal jalani saja seperti apa yang di jalani, maka orang-orang itu pasti akan lelah dengan sendirinya dan kita terbiasa dengan kehidupan kita"
"KAU MASIH BOCAH DAN TIDAK TAHU APA-APA!" Bentak wanita itu dengan emosi yang meluap-luap.
"Kau tidak mengerti betapa menyakitkan ya omongan orang-orang" Sambungnya lagi sedangkan diri Radehs hanya diam seribu bahasa.
Radehs tidak bisa berkata-kata mengenai kata kata kakaknya barusan.
"Ah aku baru sadar ini pernah terjadi di kehidupanku, sudah sangat lama" Ujar Radehs melihatnya.
"Setelah itu dia pergi meninggalkanku sedangkan aku dalam keadaan bingung seolah tidak ada lagi jalan untuk berhubungan baik dengan saudara perempuanku itu, dan itu pula terakhir kali aku berbicara dengannya" Ujar Radehs dengan rasa sesak di dadanya.
"Sungguh menyedihkan" Ujar Retha.
"Begitulah jika kita hidup dalam kekurangan, pasti ada orang yang enggan menerimamu" Ujar Radehs sembari memegang kepalanya. Dia terus melihat wajah kakaknya, wajah yang paling di bencinya entah seperti apa kehidupannya sekarang tapi hanya satu hal yang bisa di tebak oleh Radehs yakni kebahagiaan karena dirinya sudah tidak ada lagi di kehidupannya lambat laun orang-orang akan lupa dengan Radehs dan posisinya sebagai adik di gantikan oleh Lorn, hal itu tidaklah aneh dan sudah sejak dulu di anggap oleh orang-orang jika Lorn adalah adik dari kakaknya.
"Sungguh menyebalkan, setelah mendapatkan serangan ilusi dari dia(lorn) aku sering mendapatkan kenangan masa lalu, padahal aku tidak ingin mengingatnya, sialan" Ujar Radehs geram.
Dan tiba-tiba saja mata Radehs terbuka, dia terbangun dari tidur panjangnya selama 5 hari penuh.
Dia melihat sekelilingnya hanyalah dinding bebatuan, dan dia bangkit dari sebuah batu sebagai alas tidurnya.
Tidak buruk juga baginya karena dulu dia tidur di atas tanah lansung saat bekerja sebagai tukang pahat batu.
__ADS_1
Dia melihat ke luar.
"Apa ini sebuah gua?" Tanya Radehs.
Dia mencoba keluar dari tempat tersebut dan berusaha mencari jawaban bagaimana dirinya bisa tertidur di situ.
Saat dirinya keluar dia melihat seseorang memandang pemandangan tanah kering nan sepi.
"Aku benci mengatakannya tapi kau benar-benar membuang waktu untuk mencari dewa iblis lainnya, disisi lain aku tak bisa meninggalkanmu dengan sosok penjagamu itu, karena saat kau mengamuk dia tidak bisa berbuat apa-apa" Ujar Hanzjoe.
"Siapa juga yang peduli itu, jangan salahkan Retha, salahkan aku karena kesalahanku" Balas Radehs tak suka.
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat, tapi sekarang akulah yang akan menghentikanmu jika kau mengamuk, masih belum waktunya bagi kita untuk bangkit dan melawan jagat raya" Ujar Hanzjoe seolah ingin mengatur Radehs.
"Apakah aku harus mendengarkan semua perkataanmu?" Tanya Radehs seolah menantang.
"Kau bukan lagi manusia, dan kau juga bukan lagi seorang yang naik diri setelah menjadi kuat, karena jika kau berani lupa diri maka ingat saja masa lalumu" Ujar Hanzjoe.
"AaaaaaAAAAAAARRRRRRRRRRRRGGGGGGHHHHHHHH" Radehs bahkan merobek kulit wajahnya.
"Apa kau tidak berniat menolongnya" Tanya Retha.
"Jangan di tolong dan biarkan saja dia mengalaminya, maka dia akan merasakan balik jika sebenarnya kekuatan ini tidaklah pantas untuk dirinya, hal itu juga berlaku untukku" Jelas Hanzjoe panjang lebar.
Setelah sekian menit akhirnya Radehs pulih dengan sendirinya.
"Kenapa, kenapa begini, biasanya aku juga mengingatnya tapi tidak se menyakitkan ini, rasanya hatiku hancur lebur" Ujar Radehs.
"Sebenarnya semua malaikat terkuat memiliki suatu kemampuan yakni pertobatan, yakni agar musuh-musuhnya mengenang kembali masa lalunya dan menyadari jika sebenarnya kehidupan mereka tidaklah buruk, tapi saudaramu membuat dirimu merasakan jika kau berada sebagai biang keladi dari segala kekacauan yang ada di kehidupanmu khususnya kekacauan di keluargamu, hal itu bertujuan karena kita sebagai para dewa hanya bisa di jatuhkan dengan masa lalu kita" Jelas Hanzjoe panjang lebar.
"Jangan sebut dia saudaraku, aku tidak pernah menganggapnya sebagai saudaraku" Ujar Radehs dengan posisi kepala menunduk kebawah.
__ADS_1
"Ya itu setelah kau seperti ini, tapi dulu?, yang jelas aku tidak ingin berdebat denganmu, pulihkan dulu jiwamu setelah itu barulah kita berangkat" Ujar Hanzjoe.
Setelah beberapa jam, akhirnya Radehs kembali pulih seratus persen.
"Seharusnya kita menunggumu pulih sembari memakan sesuatu tapi apalah daya, kita tidak butuh lagi makan dan minum, dan kita juga bukan lagi manusia, kita adalah iblis yang menginginkan rasa takut dan selalu meluapkan amarah" Jelas Hanzjoe.
"Tidak perlu kau jelaskan aku juga sudah mengerti, tapi sekarang di mana kita?" Tanya Radehs.
"Kita berada di suatu tempat yang terpencil, dunia yang terpencil, yang dimana tidak memiliki kehidupan sama sekali karena apa, karena mahluknya sudah punah seratus persen" Ujar Hanzjoe.
"Kenapa kau memilih tempat seperti ini?" Tanya Radehs.
"Karena tempat ini mengingatkanku pada masa laluku dimana dalam kesendirian selama 5tahun lamanya, berbeda dari dunia ini, dunia ku dulunya di penuhi oleh monster yang memperluas wilayahnya, dan aku dalam keadaan lemah tak berdaya harus bertahan dari itu semua hingga lambat laun akhirnya aku menjadi kuat dan terus kuat dan tanpa sadar ternyata aku sudah di nobatkan sebagai penerus dewa iblis, bayangkan saja saat itu aku tidak tahu apa-apa dan di paksa untuk mengerti sebuah hal yang sangat mengerikan dimana semua harapanku hilang begitu saja" Curhat Hanzjoe.
Sekilas Radehs merasakan jika Hanzjoe hampir sama dengan dirinya.
"Ada yang ingin ku tanyakan, kenapa kau bisa di nobatkan sebagai penerus dewa iblis, pasti akan ada penyebabnya"
"Penyebabnya sama sepertimu, yakni saudara perempuan ku di tawarkan untuk menanda tangani kontraknya oleh Herlix saber sebagai penjaga dewa iblis kebencian, saat itu dia sangat marah kepadaku hingga dia menanda tanganinnya tanpa pikir panjang dengan iming-iming aku akan hilang dari kehidupannya selama-lamanya" Jelas Hanzjoe.
Hal itu sama seperti Radehs yang dimana kemarahan sang kakak tertuju padanya dari pada penjahat di dunianya dulu.
"Kau sudah pulih ayo kita pergi dari tempat ini, kita akan menyusuri berbagai dunia yang ada di sekitar sini, dengan dirimu sekarang sudah genap menjadi delapan dewa yang seharusnya sudah terkumpul dan tersisa dua dewa yang belum menyalurkan kontak sama sekali dengan kita"
"Apa mereka juga sama seperti kita?"
"Ya pastinya, tidak ada orang yang sukses menjadi dewa iblis"
"Karena apa"
"Karena orang-orang yang berada di atas angin berbeda dari kita orang-orang rendahan, kita sudah terbiasa menjadi sampah dan di rendahkan, dan hati kita pun menjadi kuat karena berbagai cobaan, tapi satu hal yang pasti, apapun itu juga ada batasnya, hati kita remuk dan hancur lebur karena kita harus menjadi dewa iblis tanpa kemauan kita sendiri dan hal itu di sebabkan oleh orang yang kita sayangi" Jelas Hanzjoe.
__ADS_1