
************
Langit pun begitu cerah menyinari daratan, berbagai hembusan angin menerpa membawa kedamaian.
Disisi lain dia hanya berdiri tegak memandangi berbagai orang yang lewat, tidak ada yang peduli dengannya, lalu seorang pria paruh baya datang kepadanya, memberinya sebuah bungkusan makanan.
Dia melihat wajah pria tua itu tersenyum melambangkan kebaikan hatinya.
Tapi segalanya sirna setelah seorang prajurit datang, dia mencampakkan bungkusan itu dan menendang-nendang pria paruh baya itu dengan ganasnya tanpa rasa iba sedikitpun.
Tapi pria paruh baya itu lansung kehilangan rasa sakitnya, dan gantian si prajurit yang merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya bahkan sampai membuatnya bertekuk lutut.
Lalu sosok itu memegang pundak si prajurit, dia berkata.
"Nikmatilah kematianmu" Ujarnya.
Tubuh si prajurit lansung kejang-kejang, dan dia pun mati dalam penderitaan.
"Kenapa dengan prajurit ini, siapapun tolong dirinya!" Ujar pria paruh baya dan orang-orang hanya melihat kejadian itu dengan rasa iba tapi tanpa tindakan.
"kau telah hidup di kehidupan yang salah, di tempat dirimu berpijak, hanya kau lah yang paling berempati, sedangkan yang lain mereka hanyalah mahluk yang setengah-setengah dalam membuat kebaikan" Ujar nya menatap pria paruh baya itu.
"Ada apa dengan mata sebelah kirimu?" Tanya si pria paruh baya kepada sosok tersebut.
"Ini adalah mata yang telah mencapai ribuan penderitaan yang hampir membuat dirimu mati, mata ini adalah simbol kutukan tetapi juga berarti sebuah penyelamat bagi yang memilikinya, siapapun yang mengerti akan mata ini, mereka akan takut saat melihatnya, kau beruntung terlahir tanpa tahu apa-apa, bahkan kematianmu sendiri pun kau tidak tahu" Ujar sosok itu mengadah tangannya ke atas.
Semuanya bercahaya putih, terang benderang, begitu terangnya sampai memanaskan apapun yang ada, melahap nya hingga meleburkan tulang dan isi-isinya.
Dan selesai sudah
***********
Disisi lain, dia berjalan dengan tenang, di belakangnya terdapat sebuah benda yang di balut tebal, tidak salah lagi, itu adalah sebuah pedang yang terlalu mencolok untuk di sembunyikan.
Seseorang tiba-tiba datang kepadanya.
"Hei, berhenti, ini adalah area yang di larang membawa senjata tajam, serahkan pedangmu itu atau kami akan menahanmu disini" Ujar pria kekar yang bertugas sebagai penjaga.
"Kenapa aku harus memberikan pedangku kepadamu, seharusnya ini adalah tindakan yang sopan dimana aku sudah menutupinya dengan kain yang begitu tebal, apa mesti aku harus menyerahkan nya begitu saja?" Ujar sosok tersebut.
"Bagaimana pun, pembelaan diri tidak di benarkan, ini aturan, dan semua orang harus mengikuti aturan" Ujar pria itu baik-baik.
"Baiklah aku serahkan padamu, tapi apa kau tahu ada perkataan dimana sebuah aturan ada untuk di langgar" Ujar sosok tersebut menyerahkan pedangnya.
Saat pria tersebut memegang gagang pedang tersebut, dia merasa lemas dan kesakitan, berbagai rintihan tak lupa di lepaskan nya.
"Bagaimana rasanya setelah memegangnya, pedang ini hanya bisa di pegang oleh yang terkutuk, orang baik sepertimu tidak cocok memegang pedang itu, kau tahu jika pedang ini di pegang oleh yang bukan pemilik aslinya, maka dia akan meronta, menyedot jiwamu ke dalam pedang itu sebagai tumbalnya kekuatan, ah iya aku lupa bilang aku ingin kesini karena tujuanku pasti sudah terpikirkan di dalam otakmu" Ujar nya tenang.
"Pasukan dunia akan membalaskan apa yang telah kau perbuat!" Ujar pria kekar itu.
"Ah jadi itu yang kalian sebutkan, pasukan dunia, tapi sayang sekali" Ujar sosok tersebut.
"Duaaaaaaaaaaaaammmmmm" Sebuah ledakan besar terdapat di ujung sana.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Aku menamainya sebagai pasukan pembawa kiamat" Ujar nya dengan nada bangga.
"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan"
"Sudahlah tidak ada alasan memberi tahumu yang akan segara mati, tapi ku beri tahu padamu aku akan bertemu dengan pemimpin dari segala pemimpin yang ada disini"
"Apa maksudmu itu Jonador?"
"Ah iya namanya Jonador ya,nama yang sangat di agungkan bahkan anak-anak kecil menyanyikan lagi kebahagiaan untuknya, kalau begitu sampai jumpa"
"Brukk"
*************
"Seperti biasa dia melakukannya dengan sangat brutal"
"Ah wajar saja dia juga sama seperti yuzao, salah satu dari lima pilar"
"Ghuevara, saatnya kita bergerak, kau ke sisi kanan dan aku ke sisi kiri"
"Baik sayangku"
"Membuatku jijik saja, panggil aku dengan namaku!"
************
"Bos, mereka bertiga sudah mulai bergerak"
Brunmmm
Dddduuummmmm
Zaak zaakk zaakk
Duaas duaaasss syungg syunngg bumm bumm bumm.
Berbagai serangan, serbuan, penyiksaan, pembunuhan, dan juga pembantaian di lakukan oleh anak buahnya dengan cepat.
Disisi lain.
"Tuan jonador segera beri saya perintah!" Ujar seorang pemimpin pasukan.
"Kau tidak perlu berusaha keras alos" Ujar Jonador.
"Kalau begitu apa anda lebih baik segera pergi dari sini" Ujar alos mengkhawatirkan keselamatan Jonador.
"Aku tidak akan ke mana-mana dari dunia ini" Balas Jonador.
"Tidak perlu memikirkan apapun, kami ada disini untuk menghabisi mereka!" Tegas alos.
Lalu mereka melihat sebuah benturan, dan seseorang terlambung ke atas.
__ADS_1
Alos yang melihatnya pun terkejut.
"Rocondo!" Teriak alos heran, bagaimana mungkin rocondo bisa di kalahkan.
Seketika sebuah bentuk bewarna hijau muncul dengan cepat menyerupai sesosok mahluk di atas Rocondo yang terlambung di udara.
Sosok itu mengasah kedua tangannya ke bawah ke arah Rocondo.
Syuuuuuuuuungggggg.
Disini jonardo menggerakkan jari kelingkingnya.
Dan segalanya pun berpindah.
Alos bahkan tidak sempat melihat dengan jelas perpindahan tersebut dan tiba tiba saja dirinya sudah berada di tempat yang lainnya. Alos melihat semua orang berkumpul di tempat yang sama dan dia sudah tahu jika semua orang di dunia berkumpul di suatu tempat, situasinya sudah tidak perlu di jelaskan karena jelas saja mereka semua begitu panik dengan segala keadaan bahkan ada yang menangis histeris melihat keluarga atau kerabat mereka mati terbunuh.
Tapi satu hal yang di sadari Alos jika Jonador tidak disitu melainkan di tempat lain, Alos menyebarkan deteksinya dan hasilnya nihil. Tapi akhirnya dia melihat Rocondo yang selama walau berlumuran darah.
"Syukurlah sepertinya kau tidak terkena serangan terakhir itu!" Ujar alos sembari memberikan kekuatan penyembuhan kepada Rocondo.
"Jangan sembuhkan aku, cepat cari tuan Jonador, dia dalam bahaya!" Ujar Rocondo terbata-bata.
"Percuma aku sudah menggunakan pendeteksianku tapi tuan alos membatalkan sehingga aku tidak tahu keberadaanya" Jawab alos.
"Sial, dia sengaja melakukannya ini semua demi kita, agar kita selamat dia melawan mereka sendirian" Ujar Rocondo menyesal karena dirinya di kalahkan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Alos.
"Panggil bantuan dari pasukan malaikat!" Ujar Rocondo.
"Percuma kita tak bisa menghubungi pihak dunia luar, karena sambungan telepati ataupun komunikasi apapun sudah di putuskan" Jawab Alos.
Rocondo terkejut, seolah semua ide yang ada di kepalanya pupus begitu saja.
"Siapa sebenarnya yang tega melakukan semua ini kepada kita, padahal kita sudah menata dunia menjadi lebih baik" Ujar Alos menangis.
"Memang benar kita telah membuat dunia ini lebih baik, tapi pihak luar dunia lah yang mengacaukan tempat ini, aku yakin kau pernah mendengarnya kan, para pilar kejahatan" Ujar Rocondo.
Disisi lain Jonador berada di suatu tempat dengan sendirinya.
Sekali kedipan matanya, dia lansung melihat empat orang berada di depannya.
"Hmmmm" Dehemnya Jonador melihat ke empat orang itu.
"Hei bagaimana ini bisa terjadi, apa kita harus hom-pim-pa untuk siapa yang bisa melawannya"
"Lelucon yang konyol, betapa garingnya leluconmu itu, bahkan kau terlihat menyedihkan setelah cowrow menjadi pengasuh anak"
"Jangan merendahkan orang lain, sadari dirimu dulu sebelum menghina orang lain"
"Apapun boleh, asalkan berikan aku tumbalnya"
Setelah semuanya berbicara giliran Jonador yang berbicara.
__ADS_1
"Javis si mafia jagat raya, loxxin iblis sang pemimpin pemberontakan, evangril si malaikat pengkhianat, dan yuzao si musuh seluruh mahluk" Ujar Jonador
"Ada keperluan apa kalian datang kemari?" Tanya Jonador menatap ke empat pilar.