Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 95


__ADS_3

Karena kata-kata barusan Radehs termenung tak berkutik, tentu saja dia menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuhnya, bahkan sekarang janio mulai ikut campur dalam perterungannya melawan mathilda membuat Radehs berada di posisi terburuknya.


Wajah Radehs di tekan sehingga remuk dan penyek, lalu kakinya di tebas dan terbagi menjadi seribu bagian, organ dalam hancur lebur.


Semuanya terjadi dalam persekian detik, dan membuat Radehs tak sadarkan diri, membuat dewa lainnya terkejut bukan kepalang, bagaimana mungkin Radehs yang merupakan dewa bisa kehilangan kesadaran di dalam pertarungan, apakah itu semua karena kekuatannya sudah habis.


"Kunci apa yang di maksud oleh Retha?" Tanya Radehs dan sekarang dia duduk di atas sebuah singgasana tulang belulang manusia yang menggunung. Dan di bawahnya mengalir air darah penuh jeroann manusia.


Tubuhnya di penuhi berbagai luka karena sayatan-sayatan dari tulang-tulang rusuk dalam meraih singgasana tersebut.


"Juru kunci neraka, itulah kekuatanmu sang dewa kemarahan penguasa neraka!" Ujar suara itu.


"Bagaimana?" Tanya Radehs.


Dari bawahnya terdapat belatung-belatung yang terus merayap ke sekujur tubuhnya, Radehs hanya melihatnya tanpa memperdulikan hal itu sedikitpun.


"Lihatlah di depanmu itu!"


Radehs mendongak ke depan, dia melihat sebuah tombak panas dalam keadaan tertempa.


"Itulah segelnya, dan tulisan-tulisan itu harus tertanam di hatimu!"


"Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan, lakukkkaaann" Pintar Radehs geram.


Panas dari tombak itu bukanlah panas biasa, itu adalah amarah yang merubah ujung tombak itu menjadi panas, sepeti yang kau lihat, warnanya bukan lagi merah melainkan putih seperti sinar.


Tombak itu maju secara perlahan, baru berjarak 10 meter saja sudah sangat panas, rasanya membakar kulit.


Tiba-tiba saja, singgasana gunung tulang belulang pun runtuh, dan sebuah rantai terikat di masing-masing tangan Radehs. Terbelengu oleh rantai dan tak bisa kemana-kemana, tetapi Radehs sendiri sudah siap menerima tusukan tombak itu.


Semakin mendekat panasnya juga membakar tubuh Radehs dan akhirnya setelah menusuk sedikit dadanya, barulah Radehs merasakannya, bukan hanya rasa panas, melainkan luapanĀ  amarah yang begitu besar dari jiwa-jiwa yang terkutuk.


Radehs pun turut merasakan setiap amarah, dan parahnya amarah kali ini adalah amarah dari jiwa yang mati tanpa sempat membalaskan penderitaan mereka, di kianati, di benci, di kucilkan, bahkan sampai di buat menderita ke tujuh keturunannya.


Lalu tak berselang lama, akhirnya berbagai tangan menghampiri Radehs, tangan-tangan manusia yang berkuku panjang dan panas, mereka semua muncul dari bawah tempatnya mengalir darah dan isi tubuh manusia.


Mereka semua adalah jiwa-jiwa yang terantai di neraka, meminta pertolongan akan kebebasan dari sang dewa kemarahan.


Dengan cepat dan saking banyaknya mereka, gunung tangan pun tercipta menghampiri radehs, meraihnya tanpa belas kasih sampai setiap kulit Radesh mengucurkan darah deras, semakin lama, tangan-tangan itu membaluti seluruh tubuh Radehs dan hanya menyisakan mata dan dada yang di tusuki oleh tombak tersebut.


Setelah tombak memasuki seluruh dada Radehs barulah suatu sensasi dia rasakan.


Sensasi luapan amarah yang lebih besar dari biasanya, begitu menyakitkan nan menyesak.

__ADS_1


"Muncul lah, pada liang matamu!" Ujar suara tersebut.


************


Seketika Radehs bergerak lincah, dia mengkaitkan tubuhnya pada dua malaikat terkuat lalu meledakkan mereka berdua, walau tidak seberapa, namun hal itu sudah lebih dari cukup untuk mengehentikan secara sejenak.


Radehs melayang ke arah lain, dia pun berhenti sejenak, memandang Dain, Lorn dari bawah.


Dari arah lainnya pula palu frogsbarg hendak menyerangnya, namun sayang, monster mathilda menghentikannya.


"Bola matanya tampak berbeda!" Ujar lorn.


Sontak membuat dain yang berada di sampingnya terkejut.


"Sebegitu cepatkah?" Tanya Dain tidak menyangka.


Benar di sisi mata bersimbol pentagram tersebut terdapat sebuah tulisan-tulisan.


Radehs lansung menepuk kedua tangannya di depan dada, dia menghembuskan nafas asap.


Dari jantungnya sendiri keluar sebuah tongkat kayu dengan permata merah di atasnya.


"Tch sial!" Ujar lorn.


Ggubam,


Sebuah hantaman keras menuju ke arah Lorn dan Dain. Tentu saja mereka tidak terluka sama sekali.


Namun Radehs berhasil mengeluarkan tongkat tersebut, tampak radehs tidak sanggup mengendalikan kekuatan dari tongkat tersebut, tapi darah keluar dari sekujur tubuh Radehs.


Ya, tongkat itu terus menerus menggerogoti isi dalam Radehs seperti belatung yang menggorogoti mayat.


Tak berselang lama Radehs mencoba mengangkatnya, dan permata merah di atas tongkat itu lansung menyala terang.


Semua mata lansung tertuju pada satu hal.


Sebuah gerbang terbuka, gerbang mengerikan yang di lihat sebelumnya.


Kreeeeeekkkk kreeekkkkkk


Duuuuuubaaarrr


Kobaran api menyembur keluar bahkan sampai menelan Radehs itu sendiri, malaikat terkuat dan pasukan malaikat terpaksa menghindar lebih jauh.

__ADS_1


Setelah kobaran api itu selesai, keluar lah sebuah mahluk berkepala naga, tubuhnya kokoh seperti beruang buas, dan memiliki punuk tajam seperti binatang purba kala.


Dia lansung keluar menggoncangkan jagat raya seperti Grover, ada beberapa mahluk sepertinya yang muncul dan keluar dari gerbang neraka, mereka lansung menuju Retha dan menghadapi Grover.


Tak Terima akan hal itu, Lorn juga melakukan hal yang sama.


Dia mengeluarkan pedang surganya lalu mengahadapkan pedang itu di depan wajahnya, dan terdapat sebuah simbol yang keluar dari pedang tersebut.


Sssssiiiingggg.


Gerbang surga pun tercipta.


Berbagai mahluk seperti kuda dan burung keluar dari sana.


"Kalian bukan menghentikan kekacauan melainkan tambah memperparah sebuah kekacauan!" Ujar Dain.


"Itu sudah resikonya dain, inilah medan perang!" Ujar Dain.


Salah satu dari burung-burung raksasa itu mencapit Sanuarjan.


"Aku bukan cacing yang bisa kau makan!" Bentak Sanuarjan melawan.


Jalargo menuju ke tempat lainnya.


"Retha kemarilah!" Ujar Radehs.


Karena sudah memiliki kerengganan, Retha pun berhasil menuju Radehs, dan sekarang Radesh berada di antara jari jemari Retha.


Radehs menciptakan berbagai naga dan menyembunyikan dirinya di balik tubuh mereka yang besar dan sekarang naga-naga itu seperti cincin di tangan Retha.


Gerbang neraka pun tertutup dan lenyap, berbagai mahluk sudah keluar dan jumlah mereka ada empat puluh.


Salah satu dari mereka menampakkan lengan yang penuh dengan tengkorak-tengkorak manusia, sekali ia mengepalkan tangannya, magma dari tangannya lansung menuju tulang belulang tersebut dan membuatnya menjadi sebuah daging manusia, prosesnya sungguh menyakitkan bagi manusia-manusia tersebut.


Tetapi rasa sakit itu hilang seketika setelah mereka mencoba menghirup udara segara dari jagat raya.


Di tangan kanannya ada sekitar delapan ratus orang, dan di tangan kirinya terdapat sekitar dua ratus orang.


Tetapi mereka semua di kenal oleh semua para petinggi pasukan malaikat yang ikut bertarung.


Disisi lain lagi, terdapat sebuah hal yang janggal, dan juga pastinya akan merepotkan pasukan malaikat itu sendiri.


Sebuah pola terbuka, menjadi lekukan portal raksasa.

__ADS_1


Berbagai mahluk keluar dari sana, mahluk-mahluk mengerikan.


__ADS_2