Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 115


__ADS_3

"Menjadi simbol kecantikan tidaklah mudah, dia harus benar benar sempurna dan telaten dalam berbagai hal apapun dan dia mampu mewujudkan segalanya" Ujar Mathilda.


"Kesempurnaan?" Tanya Radehs.


"Ya kesempurnaan, awal dari segala kedengkian yang ada" Ujar mathilda.


"Walau sempurna tapi tidak akan mengelakkanmu dari kesalahan dan kesulitan" Ujar serigala yang tadi ikut bersama Mathilda.


Serigala putih dengan ukuran lebih besar dari serigala rata rata, dengan bekas luka di bawah seperti sebuah sayatan pedang, dia adalah penjaga dari sang dewa kedengkian, bernama Cortez.


Wanita itu pergi keluar dari kamarnya, di depan kamarnya terdapat belasan pelayanan yang menundukkan kepala menunjukkan rasa hormat.


Wajah wanita itu tetap datar melihat hal lumrah yang di lakukan para pelayan.


"Dia adalah seorang putri kerajaan, anak satu-satunya dari sang raja" Ujar Mathilda.


Sang putri pergi menuju ruang raja, di hadapan sang ayah, dia menunjukkan rasa hormat.


Mereka bercakap basa basi, lalu akhirnya sang putri mengeluhkan kesahnya selama ini kepada sang raja.


"Pernikahan paksa" Ujar Mathilda.


Sang ayah tetap menyemangati putrinya untuk berhadapan dengan beberapa hari ke depan, walau putrinya sendiri enggan menikahi pria yang selama ini ingin di jodohkan padanya.


"Kenapa dia harus menuruti kemauan sang ayah?" Tanya Radehs kepada Mathilda.


"Kenapa, sudah jelas mereka adalah kerajaan yang kalah dalam berperang, sebagai pihak yang kalah, kerajaan yang menang menawarkan sebuah negosiasi, jika ingin kerajaan itu bertahan maka sang putri harus menikahi anak dari raja yang menang, tanpa kau sadari, ribuan nyawa bergantung pada putri itu, jika dia menolak mata ribuan nyawa akan di penggal" Ujar Mathilda.


"Seperti telur di ujung tanduk" Ujar Radehs.


Dan ternyata sang putri memiliki kekasihnya sendiri, yakni seorang komandan perang, tapi kisah cinta mereka hanya di ketahui oleh keduanya saja tanpa seorang pun yang tahu.


Di saja sang putri bersama prajurit itu saling berkomunikasi, membahas tentang peliknya percintaan mereka, dan tentunya ini bukan hal yang mudah bagi si prajurit memutuskannya, dia juga berat hati karena harus kehilangan cinta sejatinya.

__ADS_1


Dan keputusan yang mereka buat adalah suatu yang mengejutkan.


"Ya itulah dia, satu satunya pilihan hanyalah membuang rasa manusiawi tersebut!" Ujar Mathilda.


Selang beberapa waktu akhirnya pria yang di jodohkan kepada sang putri itu datang ke kerajaan tersebut bersama pengawal setianya.


Dia tidaklah setampang prajurit yang dicintai sang putri mau wajah dan juga sifatnya.


Bagaimana mungkin seorang wanita cantik mau menikahi pria gemuk yang lemah.


Tetapi ada yang di lewatkan sang putri itu sendiri, kebaikan hati dari pria gemuk bernama Lokar.


Lokar memberi rasa hormat kepada sang raja dan mereka berbasa basi, lokar hanya ingin di akui oleh sang raja dan juga sang putri bahwa dia siap menjadi jodoh dan akan menjadi kepala keluarga yang baik.


Dan akhirnya dia bertemu dengan sang putri untuk kesekian kalinya.


Setiap lokar mencoba menghibur sang putri, hanya senyuman palsu yang keluar dari wajah sang putri, lokar merasa senang karena sang putri tersenyum, walau nyatanya lokar juga mencintai sang putri tapi dia sadar diri betapa tidak layaknya dia menjadi suami dari seorang wanita yang di juluki sebagai simbol kecantikan sebuah kerajaan, hal itu membuat lokar bertanya kepada sang putri.


Sang putri membalas dengan pujian bahwa dia juga mencintai lokar.


Lokar yang menganggapnya jika itu benar maka senang luar biasa, seandainya sang putri menjawab kebalikannya maka lokar pasti akan membantu sang putri agar pernikahan mereka gagal, namun kedua insan manusia ini tidaklah saling mengerti.


Selang beberapa hari pernikahan nya di adakan secara besar besaran, lokar duduk di pelaminannya yang mewah, pesta besar besaran itu di adakan agar sang putri bisa bahagia menurut sang raja.


Lokar telah mempunyai kata kata yang bagus untuk di ucapkan kepada sang putri dan juga kata kata itu sanggup dalam tanggung jawabnya kedepan.


Di suatu tempat yang jauh, seorang anak kecil memilih rumput yang bersih untuk ternaknya, dia memotong semua rumput agar semua ternak bisa makan di kandangnya.


Tak berselang lama dia tak sengaja menabrak seorang wanita yang sepertinya tergesa-gesa.


Dan dia adalah sang putri bersama dengan prajurit kekasihnya.


Radehs, Retha, Mathilda, dan Cortez menyaksikan hal tersebut. Radehs terbelalak melihatnya.

__ADS_1


"Maafkan saya karena saya tidak melihat kalau anda sedang terburu-buru!" Ujar anak kecil tersebut, dan sang putri melihat bintik-bintik merah di kuduk anak kecil itu dan seketika saat anak kecil itu menampakkan wajahnya, sang putri dan prajurit seketika terkejut.


"Penyakit kulit" Ujar Radehs.


Anak tersebut mengenal sang putri dan prajurit karena mereka sama sama terkenal.


Tak berselang lama sang nenek yang bertubuh kurus keluar dari rumahnya melihat kondisi cucunya.


Tak berselang lama sang putri bersama prajurit melanjutkan pelarian mereka, sekilas sang putri menoleh kebelakang, melihat anak tersebut yang penasaran.


"Jika kita menolak apa yang di inginkan kerajaan Fuz, aku tidak masalah jika hanya kepalaku yang di penggal, tapi aku tidak bisa melihat diriku yang paling terakhir di penggal di kelilingi mayat rakyat-rakyatku!" Ujar sang raja seketika terlintas di kepala sang putri.


Tapi tidak ada lagi jalan untuk kembali.


Mereka pun terus melangkahkan kaki mereka hingga keluar dari wilayah kerajaan.


Tak berselang lama akhirnya beberapa prajurit datang, mereka membantai habis semua warga yang ada, tak hanya itu anak tersebut di tendang hingga dia terkapar, sang nenek hanya bisa histeris melihatnya, dan sebuah pedang menggorok leher anak itu hingga putus, lautan darah telah menggenangis seisi wilayah kerajaan.


"Sungguh miris kan, kau tidak tahu apa-apa dan kau tidak ada sangkut pautnya tetapi kau malah harus menjadi kambing hitam dari sebuah kesalahan satu orang!" Ujar Mathilda.


"Siapa yang salah, putri, raja dari musuh!" Ujar Radehs.


"Yang salah adalah koalisi keadilan dan pimpinan sejati mereka, hal seperti ini adalah peristiwa kecil bagi mereka padahal sudah ribuan kali terjadi jika kejahatan terlahir dari penindasan itu sendiri!" Ujar Mathilda.


"Tidak ada yang sempurna, tapi apa salahnya jika di sempurnakan!" Ujar Cortez.


Di tempat lain kedua insan itu akhirnya mendapatkan kehidupan yang bahagia walaupun mereka tinggal di sebuah antah berantah sebuah hutan.


Dan tragedi yang mereka tahu akan di simpan sampai mereka mati.


"Mereka tersenyum di balik banjiran darah orang-orang yang kesusahan" Ujar Mathilda.


Lalu mereka melihat lagi kehidupan yang lain, terus dan terus terjadi sebuah peristiwa yang membuat siapa saja menjadi emosi melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2