Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 77


__ADS_3

"Dulu aku paling benci dengan anak-anak, wanita, anak anak memandangku sebagai badut atau sesuatu yang pantas di jelekkan atau takut kepadaku karena kulitku, para wanita tidak suka jika aku berada di dekatnya terutama mereka yang seusiaku karena dengan keberadaanku bisa membuat mereka di pandang rendah oleh orang lain, memang masih banyak hal yang lebih kejam dari hal itu, tapi rasanya aku lebih memilih hidup di dunia yang brutal penuh perang dari pada hidup di dunia yang damai tapi di kucilkan seperti sampah dan di jauhi seperti binatang menjijikkan, tapi aku terus bertahan dari segalanya mengharapkan kebahagiaan dengan segala kerja keras tapi apa hasilnya, aku di manfaatkan aku di tipu berkali-kali dengan sebuah kata-kata manis dan belas kasih, memang aneh tapi aku tetap menerimanya hingga puncaknya adalah sosok yang di sebut berhati malaikat oleh orang lain tidak menganggapku sebagai persaudaraan, sedangkan aku menganggapnya sebagai saudara karena dia juga sudah termasuk dalam bagian keluarga ini, tapi itu memang benar, dia dan aku memang bukan siapa-siapa dan bahkan dia menyertku secara perlahan keluar dari keluargaku, sehingga aku berakhir dengan buruk, benar-benar buruk. Orang-orang menganggap hidupnya adalah yang paling menyedihkan karena dia berasal dari negara yang sedang berperang dan kalah, lalu di selamatkan dalam keadaan terluka, tapi sejatinya" Radehs memegang wajahnya sendiri dia *******-***** wajahnya dengan satu tangannya, matanya merah menyala.


"SEJATINYA!" air mata merah keluar dan menetes ke tanah.


"AKULAH YANG PALING MENYAKITKAN DARI MEREKA SEMUA, AKULAH YANG PALING MENDERITAAAA, AKKUUUUULAAHHH PALINGGGG MENDRRRRIIIIIITAAAAAAA" Teriak radehs dalam amarah besarnya.


Dia begitu marah sampai-sampai tak mengenal dirinya sendiri.


"RAAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH" Teriak Radehs.


"OOOOOOAAAAAAAAAARRRRRRRGGGGGG" Teriak mahluk raksasa sampai menggema ke seluruh penjuru dunia.


Lemane dan rekannya pun terkejut mendengar teriakan itu, dan lemane tau bahwa alur pertarungan sudah tidak sama lagi dengan yang tadi.


"Hei diriku yang sekarang apa kau akan kembali lagi menjadi seperti orang gila yang kekanak-kanakkan?" Tanya diri Radehs kecil.


Jleeebbbb


Tiba-tiba saja diri Radehs yang kecil tertusuk jantungnya oleh Radehs.


"Jangan menceramahiku, memangnya kau bisa apa, diriku yang dulu hanyalah seongok sampah, hanyalah SEONGOK SAMPAH, ingat hak itu, bagaimana tidak bergunanya dirimu, aku tidak terkait lagi denganmu, aku tidak terkait lagi dengan segalanya, aku adalah aku, aku adalah aku, aku adalah aku AKU ADALAH AKU, JANGAN BUAT AKU MENGULANGINYA BERKALI-KALI KARENA AKU ADALAH SEGALANYA!"


khu khu khu khu. Radehs kecil tertawa dengan mulut bersimbah darah.


"Kau telah bebas sekarang tapi kau juga sudah buta Radehs, selamat jalan diriku yang baru, berjalanlah di jalan yang gelap jika memang itu yang kau inginkan, balaskan segala dendam kita, tidak, balaskan segala dendam mahluk-mahluk di seluruh jagat raya, jadikan segala kemarahan mereka yang menyakitkan itu menjadi kekuatan untukmu, hanya satu yang pantas bertanggung jawab atas segalanya, yakni dia sangat puncak pencipta semesta alam!" Ujarnya lalu dirinya mati begitu saja.


"Kalau dia bertarung dalam emosi bisa-bisa dunia ini akan hancur, aku harus menahan segala serangannya dengan membuat wilayah!" Ujar Hanzjoe.


Dia mengeluarkan satu tenkatel dan menumbuhkan ribuan tenkatel lalu menyebarkan segalanya ke berbagai penjuru, begitu tebal dan begitu luas.


Membentuk sebuah bulatan yang melindungi sesuatu di luarnya.


"RASANYA SEPERTI SEBUAH ARENA PERTARUNGAN DI MANA KITA BEBAS MELAKUKAN APA SAJA" Ujar Hanzjoe serius.


Disisi lain mahluk yang di beri nama Ikosa oleh Radehs menerjang dan menyerang Lemane dan rekannya.


"Zoskam kita hanya punya satu kesempatan, setiap tempat di mahluk ini adalah celah bagi kita ikuti saranku dan kita serang dia dalam sekali serangan" Ujar Lemane.


"Siap!!" Ujar semuanya.


"Mereka meremehkanmu Radehs" Ujar Retha.


Dubaarrrr deeeeebummm.

__ADS_1


Setelah kedua tangannya menyerang giliran ikosa menyerang dengan mulutnya melayangkan berbagai serangan laser yang menghasilkan ledakan dan tentu saja apapun yang ada akan menghancurkan segalanya.


Lalu ikosa berlalu dari satu daratan ke lautan, dia mengangkat tangannya.


"HANCURRRRRRRLAAAAAAAHHHHHHHH" teriak Radehs dalam ketidak sadarannya dalam bayangan lama.


DDDUUUUUUUBAARRRRRRRRRR


Gelombang sunami tercipta dengan berbagai kabut yang menghiasi gelombang setinggi ribuan meter.


"Akan ku belah airnya!" Ujar zoskam.


Namun sebelum gelombang tsunami terbelah, muncul tangan ikosa yang begitu besar menerjang mereka.


Tidak sempat mengelak karena begitu cepatnya bahkan lebih cepat dari kesadaran Lemane.


"Selama ini aku hanyalah beban di antara kaki tangan vokgekov sebagai ahli sihir, benar-benar dunia yang kejam di mana di puisi puisi lama aku mendengar penyihir di elu-elukan tapi disisi lain aku yang merupakan ahli sihir malah di rendahkan, berjuanglah dengan sendirinya kalian, semoga beruntung" Guman zoskam dia menghempaskan semua rekannya ke satu arah dengan cepat, tentu saja seluruh tenaga dia kerahkan agar lontarannya semakin cepat tapi dia justru akan mati dalam sekali pukul Ikosa


"Zzzooosssskaaaaammmmm!!!!!" Teriak Lemane menangis keras.


"Tidak ada waktu ayo lemane!" Ujar coko untungnya zoskam melontarkan rekannya ke belakang gelombang tsunami.


Lemane pun menghapus air matanya, dia akan mengerahkan segalanya di sini dengan mengandalkan rekan-rekannya tak peduli jika dia mati sekalipun demi zoskam.


"Kau iri kan!"


"Kau marah bukan tidak bisa mendapatkan hal yang sama!"


"Sampah tetaplah sampah, pecundang tetaplah pecundang tidak berhak mendapatkan kebahagiaan"


"Bunuh saja semuanya!"


Suara itu begitu aneh dan bisa di dengar oleh Radehs.


"Siapa kalian?" Tanya Radehs.


"Sial kalian datangan di keadaan yang sangat tidak tepat dasar para babi ******!" Ujar Retha tidak suka.


"Jangan banyak bicara dasar cacat, kau cacat dari lahir juga tak pantas mendapatkan kebahgiaan!"


"Jangan hina Retha" Ujar Radehs sedikit kesal.


"Hei liat bukanya itu kakakmu"

__ADS_1


"Sangat mirip dengan kakakmu tapi tidak mirip dengan mu itu memang sudah takdirnya jika kau memang tak pantas terlahir di kehidupan!"


"Diam, siapa kalian!" Tanya radehs sekali lagi.


"Jiwa-jiwa yang marah, mereka mati dalam keadaan marah dan lalu kemarahan mereka akan menjadi sumber kekuatanmu, suara yang sangat menggangu padahal seharusnya mereka datang setelah Radehs dalam proses pembangkitan sebagai dewa iblis!" Jelas Retha.


"Kami tidak sabar retha, kami ingin dia menunjukkan kepada kami"


"Ayo tunjukkan kemarahan kami!"


Lemane dan yang lainnya mendarat di daratan yang dimana sudah tidak menjadi lautan lagi karena sudah kering akibat hempasan Ikosa.


Lemane memberi intruksi, satu persatu maju.


Sebuah pisau melayang pada Radehs dan menusuk dadanya


Polor berhasil melaksanakan apa yang di harus dia lakukan.


Lalu dengan sebuah benang yang mengkait, keempatnya lansung menuju Radehs dengan cepat.


Jleeeeeebbbb.


Sebuah pedang dengan 4 orang yang menggemgamnya menusuk jantung Radehs dan menembusnya.


Sekali lagi bukan hanya lemane, tapi Polor, libuo dan coko.


"Rasa marah bercampur sedih, rasa penyeselan karena tidak bisa membantu, rasa berusaha agar bisa selamat, dan rasa senang karena sebuah pertarungan" Ujar Radehs lirih, dia memejamkan matanya.


"Apa yang salah denganku?" Guman Radehs semakin tak terkendali.


"Kau terlalu bodoh"


"Dungu bodoh gila, segalanya ada di kau tolol!"


"Berisik sekali"


Radehs menyentuh tangan coko karena tangannya yang paling atas.


Tubuh coko musnah begitu saja laku libuo, lalu polor, dan selanjutnya Lemane.


Tiba tiba saja Radehs berada di tempat yang terang nanti sunyi.


Di depannya sudah ada Lemane.

__ADS_1


__ADS_2