Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 131


__ADS_3

Setelah semuanya Bulba mengingat kembali bagaimana kematian tragis dari Moruela.


Sesuatu yang sangat mustahil, menangis di mana dirinya dalam genggaman yang menghancurkan tubuhnya, lalu berbagai pukulan keras yang merobek hampir semua wajahnya, dalam hal tersebut, dia masih menyempatkan untuk tersenyum, seolah kematiannya bukanlah hal yang menyakitkan, dan tidak meninggalkan penyesalan apapun.


"Berkali-kali aku mendapatkan tekanan dari ribuan musuhku, berkali-kali pula diriku selamat dari kematian, jika memang ini adalah kematian ku, maka tidak ada yang pernah ku sesali, dan jika ada yaitu satu, yaitu tidak membawa kalian mati bersamaku!" Ujar Bulba.


Tubuhnya seolah meledak akan kekuatan, pemaksaan yang berat dan akan membawanya ke pada kematian, itu lebih baik mati dengan berusaha dari pada mati dalam ke siksaan yang di berikan empat pilar kejahatan itu sendiri.


"Keluarlah semua kekuatanku, kerahkan segalanya, lebih dari yang sebelumnya!" Gumamnya.


Sontak saja ke empat pilar menjadi kaget.


Di mana tadinya pergerakan dari Evangriel dan juga Javis yang tidak bisa di imbangi oleh Bulba.


Namun sekarang, Bulba malah melampuai kecepatan dari mereka, tidak hanya menangkis tetapi juga menyerang.


Dalam berbagai gerakannya dari Bulba dia berhasil mengecoh Evangriel dan Javis, lalu berlari kuat ke arah Loxxin.


"Yang membuatmu bertahan selama ini dari pasukan keadilan adalah caramu yang menyembunyikan bagian intimu pada anak yang ada di dalam tubuhmu tersebut, dengan sedikitnya sela di tubuhmu yang bisa di serang membuatmu sangat beruntung!" Ujar Bulba.


Bulba menyerang sosok anak tersebut, dan berhasil melukai bagian kepalanya.


"Ughhh" Bukan rasa sakit dari Loxxin, melainkan rasa sakit melihat sosok anak di dalam tubuhnya yang terluka.


"Dari kabar yang ku Terima kau berusaha untuk melindungi anak tersebut, tetapi, aku rasa itu adalah kebohonganmu dengan menggunakan anak tidak bersalah sebagai tameng!" Ujar Bulba, dia menorehkan berbagai serangan yang akhirnya hampir saja menghancurkan tubuh anak tersebut.


Namun dalam sekejap, Yuzao datang, dengan serangan dari greanternya yang berupa tangan raksasa, melakukan berbagai serangan yang di hindari Bulba, lalu mengubah greanter menjadi sebuah meriam yang tepat berada di depannya.


Duaammmm


Tembakan yang mengarah tepat tersebut, akhirnya memaksa Bulba menjauh dengan menciptakan tameng dari darahnya.


"Menggunakan anak ini sebagai tameng?" Tanya Loxxin, hembusan nafas keluar dari hidungnya.


Sosok Loxxin yang berupa gumpalan menyerupai wujud gorila yang gemuk itu akhirnya menjadi gemuk kekar dengan mengeluarkan dua buah kapak runcing.


"Apakah aku salah, jika kau menyayanginya kau pasti akan menguburkannya dan selalu mengingatnya dalam benakmu!" Ujar Bulba.

__ADS_1


"Itu adalah caramu, wahai RATU GUNUNG BERKAH, AKAN KUTAKAN PADAMU!" Teriak lantang dari Loxxin yang seketika sudah berada di depan Bulba, sekali putaran dari Loxxin melayangkan serangan dari kapak runcingnya.


Dan Bulba menahannya di lengan Loxxin, tetapi itu adalah sebuah kesalahan.


"Ugh, pukulannya bisa ku liat, tetapi menahannya adalah kesalahan, ini benar-benar sangat kuat!" Guman Bulba.


Seketika lengan Bulba yang menahan itu terdempet pada lengannya satu lagi dan mematahkan tulangnya.


Dan membuatnya terhempas begitu jauh, tetapi Loxxin benar-benar tidak membiarkan sela sedikitpun untuk Bulba.


Dia melayangkan ratusan serangan yang memaksa Bulba menahannya.


Dalam kondisi yang di paksakan, berbagai darah muncrat di berbagai tubuhnya bahkan dari hidung dan mulut Bulba.


"Hanya satu yang ku harapkan dari Geina yang ku letakkan di dalam tubuhku, YAITU MELIHAT BAGAIMANA AKU MENGHANCURKAN ORANG-ORANG YANG TELAH MEMBUATNYA MENDERITA!" Teriak Loxxin membuatnya semakin bersemangat menghancurkan Bulba.


"RRRRAAAAGHHHHHH" Teriak Bulba dia juga memaksakan dirinya yang hancur lebur, kini dia benar benar berada di titik terendah nya, tidak ada lagi tenaga untuk meregenerasikan tubuh yang rusak.


"Apa kau sadar, betapa menderitanya anak ini, melihat orang tuanya yang di ambil paksa oleh pihak keadilan yang menghasilkan tanda tanya, lalu kondisinya yang sakit-sakitan dan tidak ada yang memperdulikannya, dalam kondisinya yang sekarat, kau tahu apa yang dia pinta padaku?" Tanya Loxxin, dia menendang tubuh Bulba lalu mensaltokan dirinya melompat ke arah sebuah batu yang melayang di jagat raya, menambah tekanan dorongannya.


"Bagaimanapun caranya aku hanya ingin melihat orang tuaku, tidak masalah jika mereka bahagia dengan orang lain!" Ujar Loxxin dia mengarahkan kapak runcingnya dan merobek dada Bulba.


Dia tersungkur.


"Apa jawabanmu, berikan jawabanmu, apa yang harus kulakukan, sudah jutaan tahun, sudah tentunya kedua orang tuanya mati, dan aku tidak bisa membalas jasa mereka dan memenuhi permintaan Geina" Ujar Loxxin marah besar.


Bulba dengan kondisi pandangannya yang sudah mulai buram, dia melihat wajah Geina yang penuh darah, itu adalah luka yang di buatnya.


Nggggggiiiiiiiiiiiiiinnnnnngggggggg


Itulah isi suara yang ada di sekelilingnya sudah, dia tidak bisa memberikan jawabannya.


Jllleeebbb.


Rasa sakitnya terasa, tetapi Bulba sudah tidak bisa mengeluarkan suara rintihan kesatikan, dalam keburaman dia melihat sebuah tangan yang menembus ke dadanya. Sudah di pastikan jantungnya sudah hancur.


"Semua yang kau miliki akan menjadi milikku wahai salah satu dari ratu gunung berkah, era yang telah kau ciptakan di tempat mu tinggal sudah berakhir, hari ini salah satu pahlawan yang telah mengalahkan banyak villain, sudah gugur!" Ujar Yuzao.

__ADS_1


"Di masa prima mu, kau membawa era kedamaian ke jagat raya, di kematian mu maka gugur pula era kedamaian tersebut" Ujar Javis.


"Loxxin, masalah yang kau hadapi bukanlah masalahnya, melainkan masalahmu sendiri di mana dirimu enggan kehilangan sosok paling beharga, tetapi jika kau mempertahankan egomu, maka dia tidak akan pernah merasakan bahagia, tetapi jika kau melepaskan anak itu, aku yakin dia akan bahagia bersama orang tuanya, tak peduli seberapa jauh jurang yang memisahkan mereka, apa itu surga ataupun neraka" Ujar Bulba, semakin lama semakin tertutup pula matanya.


Tubuhnya pun jatuh dan seketika seolah ada yang menahan tubuhnya yang terjatuh, dengan pelukan hangat.


Suasana yang tadinya ada di jagat raya sekarang sudah berada di tempat lain.


Tempat penuh dengan cahaya terang, dan tadinya matanya yang sudah tertutup akhirnya bisa terbuka kembali, dan melihat sebuah pundak dengan gaun warna merah.


Sudah sangat lama dia tidak pernah melihat sosok yang mengenakan gaun tersebut.


"Kau sudah melakukan yang terbaik untuk semuanya, anakku!" Ujar suara itu dengan lembut.


Sontak mata Bulba lansung bergelimang air mata, dia lansung membalas pelukan hangat tersebut, isakan nangisnya tidak berhenti.


Rasa sedih bercampur haru dan bahagia karena rindu yang mendalam.


Moruela.


Mereka berbicara panjang, bulba mengeluarkan semua keluh kesahnya selama ini, lalu Moruela menenangkannya.


Tak lama setelah itu datang lagi orang lain, mereka berkerumun, tidak hanya sepuluh, tapi ratusan, bahkan lebih, mereka tersenyum kepada Bulba.


"Mereka..." Ujar Bulba


"Benar, para pendahulu kita, sebelum kita, mereka sudah ada lebih dulu, para pemimpin dari gunung berkah juga!"


Leluhur.


"Selamat"


"Kau tidak mengalami kemetian, melainkan pengorbanan yang tidak sia-sia, semua kematian kita adalah pengorbanan bagi semua orang"


.


"Selamat datang di tempat ini Bulba, kau sudah selayaknya beristirahat dengan segala penuh perjuanganmu untuk kedamaian jagat raya!"

__ADS_1


"Terima kasih, salam kenal!" Ujar Bulba tersenyum.


__ADS_2