Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 50


__ADS_3

***********


Di masa lampau di langit 1000 di sebuah titik kordinat yang terlupakan.


Terdapat sebuah mega galaksi yang besar.


Terdapat berbagai kehidupan dan bentangan luas daratan yang menghampar.


Di sebuah pula bernama devinte terdapat sebuah kota metropolitan yang di huni oleh manusia.


Kota itu disebut malavalia.


Suasananya begitu ramai, berbagai mesin kendaraan, hewan kendaraan. Dari mulai jasa transportasi hingga pengantar barang.


Teknologi mumpuni serta berbagai pengetahuan. Hal tersebut di kembangkan oleh para manusia untuk perlindungan dari berbagai ancaman luar.


Bukan hanya manusia saja yang hidup tapi berbagai ribuan mahluk hidup yang hidup di sana baik berakal maupun tidak, masalahnya adalah mahluk-mahluk yang berakal ini, mereka mempunyai segudang teknologi dan kemampuan dari lahir, hal ini menyebabkan kesombongan dan keangkuhan pun lahir seolah sahabat hidup sejati bagi mereka hingga timbullah rasa memandang rendah yang lain untuk tidak berhak hidup selain mereka.


Dan hal ini lah yang menyebabkan kota malavia berkembang pesat.


Di sisi lain kota malavia terdapat sebuah tempat terpencil, untuk mereka yang tidak bisa bersaing di kota Metropolitan.


Tempat itu di sebut Agurta.


Agurta dan malavia terpisah oleh sebuah danau besar yang merupakan sumber pendapatan 80 persen dari orang-orang di desa Agurta, dan hasil dari danau tersebut seperti tanah, ikan, hewan, batu dan sebagainya di jual ke malavia. Dan 20 persen dari penduduk desa Agurta hanyalah buruh kasar.


Di tempat itu pula terdapat seorang anak perempuan berusia 8 tahun, yang termenung di balik kegelapan, dia tidak bisa melihat matahari bukan karena dia vampire atau sejenis mahluk yang memang tidak bisa melihat matahari. Melainkan dia manusia bernasib sial yang terlahir dengan kulit yang lemah dan akan mengelupas jika terkena sinar matahari. Baju yang di pakaiannya juga harus lembut dan tidak kasar, karena jika hal itu terjadi maka rasa gatal akan terasa di tubuhnya dan jika luka maka akan menimbulkan infeksi.

__ADS_1


Walau dalam usia yang masih kecil tapi Retha mengerti akan situasi tubuhnya sendiri. Dia pun tidak bermain dengan anak-anak lain dan dia juga tidak banyak merengek meminta ini itu kepada orang tuanya karena tau akan kondisi ekonominya.


Sang ayah yang bekerja sebagai butuh keras dan sang ibu yang bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah mewah di malavia.


Selama 8 tahun Retha terus mendapatkan kasih sayang yang sangat dalam dari kedua orang tuanya, hingga akhirnya satu kejadian pun terjadi.


Secara tiba-tiba retha dan ayahnya mendapatkan kabar jika Sang ibu telah menikah lagi dengan seorang pria yang merupakan majikannya di kota malavia sana.


Sontak Retha dan ayahnya begitu terkejut mendengar kabar ini, bahkan Sang ibu tidak memberi tahu apapun mengenai hal ini hingga berbagai rumor pun menyebar jika Sang ibu yang bernama Rita sudah tidak sanggup lagi mendengar cemooh-han warga sekitar yang selalu menjelek-jelekkannya dengan menyangkut pautkan Retha.


Di kabar lain juga Rita sudah tidak sanggup lagi mengurus Retha dengan segala nasib ekonomi mereka hingga akhirnya dia menerima tawaran Sang majikannya di kota malavia sana.


Tak berselang lama ayah Retha yang bernama rajha pun pergi ke kota malavia untuk menemui Rita, dan hasilnya setelah 3 hari kemudian Rajha pulang dengan sendirinya, dia membuka pintu dan membuat Retha lansung melihat kesana kemari mencari Rita tapi tidak kunjung tampak juga di matanya.


"Ibu, ibu di mana ayah?" Tanya Retha dengan berharap dia akan menemukan jawaban yang menyenangkan.


Rajha mengumpat-umpat memukul Retha seperti binatang buas yang lapar, walau dalam keadaan terpukul Retha mendengar semua umpatan rajha yang mengarah ke dirinya.


"Karena kau dia pergi meninggalkanku, karena kau kita di hina oleh semua orang karena kau hidupku jadi begini kenapa dirimu harus hidup bersama kami mati-matilah!!" Bentak Rajha sekuat-kuatnya.


Retha tidak merintih dia menahan semua rasa sakit dari pukulan bertubi-tubi hingga Sang ayah puas, lalu meninggalkannya begitu saja. Retha benar-benar tidak percaya jika yang barusan terjadi adalah perlakuan ayahnya.


Hal itu terus berlanjut, benar benar berlanjut, Retha sudah tak di perdulikan lagi, tubuhnya memar sana sini karena pukulan dan tamparan, belum lagi bercak bercak darah di wajahnya yang berasal dari tendangan seorang pria dewasa.


Retha hanya memakan sebuah bubur tawar sebanyak satu sendok besar yang hanya tersedia 3 hari sekali, lebihnya Retha hanya meminum air sumur yang tidak di masak.


Bagi Sang ayah itu adalah hukuman setimpal untuk Retha karena sudah mempersulit hidupnya terutama sudah memisahkan dirinya dari Sang istri yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Tapi bagi Retha dia tetap menyanyangi Sang ayah karena jika orang lain mungkin Retha sudah di bunuh atau di buang saat dia masih bayi dulu.


Kekerasan itu berjalan dua tahun lanya hingga usia Retha menginjak 10 tahun.


Kondisi tubuhnya benar-benar memprihatinkan, kurus kering, luka di sana sini karena kulit yang terkelupas.


Tidak ada warga yang mengetahui hal ini jika ada yang datang maka Retha menyembunyikan dirinya di balik pintu, tidak ada kabar apapun dari ibunya selama dua tahun ini. Sang ayah bahkan tidak membiarkan Retha beristirahat, Retha harus mengurus rumah sendirian dan saat pulang dia harus menjadi samsak Sang ayah atas kekesalan selama satu hari penuh.


Hingga akhirnya puncaknya pun tiba, entah kabar apa yang menimpa Sang ayah, kali ini Retha di ikat di sebuah kayu lalu di rendam dalam sebuah tungku berisi air.


Rajha menyalakan obor, lalu menaruh obor tersebut di bawah tungku yang sudah tersusun kayu.


"A ayah a apa yang ayah lakukan?" Tanya Retha ketakutan. Rasa panas mulai meraba ke kakinya.


"Plakk" Sebuah tamparan keras dari Sang ayah membuat Retha diam membisu walau rasa panas sudah merambat ke seluruh tubuhnya.


Sang ayah tertawa puas, benar benar puas. Dia sangat senang melihat anak semata wayangnya di panggang hidup hidup dalam tungku berisi air panas.


Hingga 1 jam lamanya seorang warga menyadarinya dan memberi tahu warga lainnya.


Hal itu di hentikan, warga setempat berusaha mati matian memadamkan api dan menyelamatkan Retha.


Berbagai usaha di lakukan tapi naas seolah tubuh Retha tak terselamatkan.


Dalam bayang bayangan kematiannya.


Retha bangkit, dia berlari dengan sangat kencang, benar benar kencang hingga tak ada satupun yang bisa mengejarnya. Sembari berlari dia mengingat semua kenangan manis sambil menangis tersedu sedu

__ADS_1


Walau nafasnya tersenggal-senggal retha tetap terus berlari. Hingga akhirnya Retha mencapai batasnya, walau tekadnya masih kuat untuk berlari tapi tubuhnya sudah tumbang, dia sudah tak sanggup lagi berdiri.


__ADS_2