
"Rasanya aku membayangkan sesuatu" Ujar Radehs.
"Aku juga membayangkan sesuatu" Ujar Hanzjoe.
Tubo mendarat ke bawah.
"Bagaimana bocah, kau bisa merasakan rasa sakitnya kan?" Tanya Tubo.
"Ah benar sakit sekali, rasanya aku sampai tidak tahu lagi mana masa dulu dan masa sekarang!" Ujar Radehs seketika sudah ada di depan Tubo.
"Cepat sekali, apa tadi itu teleport?" Guman Tubo dalam sekejap, dia mundur beberapa langkah, dari sampingnya Shingo datang.
"Jangan khawatir!" Ujar Shingo membuat Tubo lebih percaya diri.
"Brengsek" Radehs kesal dengan kepercayaan diri mereka.
Shingo mengeluarkan senjatanya, dia menembakkan sebuah pistol yang menyalurkan listrik dan membuat Radehs terkontak.
"Mereka menggunakan senjata jarak jauh" Guman Radehs.
"Kalau begitu aku juga!" Sambung nya.
Radehs mengadakan tangannya.
Wuusshh wushhhh wushhhh.
Puluhan magma menyerang Shingo.
"Tak peduli berapa banyak ataupun sampai tempat ini lulu lantah dengan kekuatanmu, yang jelas senjata seperti itu tidak akan bisa mengenai kelincahan kami" Ujar Shingo meledek jurus Radehs.
"Itu benar, kalian sangat lincah" Ujar Radehs.
Tangan magma yang melebur tadi pecah seperti pecahan kaca yang terjatuh dan sulit untuk di hindari.
"Aarrrrghhh" Teriak Shingo walau hanya terkena sebesar bola kecil.
"Brengsek akan ku hantam sampai tubuhmu remuk" Teriak Tubo marah.
Tubo menghempaskan palunya, namun Radehs melesat cepat dan dia meninju perut Tubo hingga tembus.
Melihat perutnya yang berlubang, Tubo melihat kembali ke arah Radehs, dan akhirnya dia terkapar.
"Sialan berani sekali kau!" Geram Shingo lalu dia segera berlari di balik magma yang menyebar seperti serbuk bunga tersebut, sembari menembaki Radehs hingga tak bisa berjalan.
Lalu dari belakang Radehs muncul sebuah api raksasa berbentuk sebuah naga, membuat langkah Shingo terhenti.
"Marilah" Ujar Radehs dan naga api itu melahap Shingo hingga hangus.
__ADS_1
"Tidak mungkin, Shingo dan Tubo, Japuo kita harus bagaimana?" Tanya Demale panik.
"Jangan kuatir, bagaimana pun kita harus menahan yang satunya, sedangkan yang satunya lagi itu adalah urusan raja" Ujar japuo berusaha tenang.
"Kau benar, kalian harus aku habisi sedangkan rekanku menghabisi raja kalian!" Ujar Hanzjoe.
"Bicara mu pandai juga, tapi asal kau tahu, hanya dewa yang pernah mengalahkan raja, Orang-orang seperti kalian masih jauh di bawahnya" Ujar Japuo.
"Sebaiknya aku buat kalian mati secara tersiksa agar kalian tidak terlalu bodoh mengagungkan tuan kalian, siapapun bisa di kalahkan dan tak mesti sosok yang kau sebut sebagai dewa" Ujar Hanzjoe kesal.
Disisi lain.
"Sepertinya aku harus membentuk kerajaan baru!" Ujar Balxan lalu berdiri dari singgasana nya, tubuhnya menyatu dengan angin, lalu pergi menuju Radehs.
"Bagaimana rasanya, apa kau bangga mengalahkan orang-orang terbaikku?" Tanya Balxan.
Radehs menggelengnya.
"Lalu apa, senang, bahagia?" Tanya Balxan lagi.
"Tidak ada perasaan apapun pada mereka, dan juga dirimu, jika mati ya mati tidak ada yang bisa di ungkit" Ujar Radesh.
Radehs merasakan tubuhnya di himpit seperti terhimpit dua batu yang terus menekan.
"Bagaimana rasanya, aku pernah mendengar, untuk membunuh orang-orang yang bisa beregenerasi adalah dengan membuatnya terus menerus terluka hingga habis sudah kekuatan untuk meregenerasinya, sedikit ribet yang sepeti itu tapi dengan ini sangatlah efektif" Ujar Balxan.
Radehs sedikit menunduk hingga dia berposisi berkuda-kuda menyerang.
"Kalau begitu" Ujar Radehs muncullah sebuah api dan bergerak mengelilingi Balxan.
Balxan menghindarinya, dia segera menjauh tetapi menyerang Radehs dengan angin tekanan tinggi.
Terciptalah beberapa lubang di tubuh Radehs tapi sekali lagi, api yang keluar dari Radehs terus mengelilingi Balxan sampai dirinya tak bisa menghindar.
"Apa kau tidak tahan dengan angin yang panas" Ujar Radehs seolah bertanya.
"Orang dengan kemampuan alam adalah yang paling mudah untuk di kalahkan!" Ujar Hanzjoe.
Balxan terus tersedot ke dalam pusaran angin api itu.
Dia meronta tapi tak bisa selamat dari kobaran api yang menyerapnya.
"Arrrrrrrrrrggghhhh" Teriak keputus asaan balxan.
"Kenapa raja di kalahkan seperti tidak ada apa-apanya?" Tanya Demale.
"Jika di lihat dari ukuran fisik maka kami hanyalah orang-orang yang tak berdaya di penuhi penyakit kulit yang menjijikan, tapi jika kau mengukur kekuatan kami, maka tidak ada satupun monster atau apapun yang bisa mengimbangi kami!" Jelas Hanzjoe dia mengeluarkan satu tenkatel lalu menusuk ke tanah dan muncul 3 tenkatel raksasa dari tanah membuat japuo dan Demale begitu terkejut.
__ADS_1
"Mustahil, aku belum pernah melihat kekuatan seperti ini?" Ujar Japuo tak menyangka.
Disisi lain volgekov bisa melihat tenkatel Hanzjoe yang begitu panjang nan besar, disertai mulut-mulut raksasa.
"Aku menamakan tenkatel ini Agurai, dalam bahasa Sanskerta di dunia ku dulu di sebut sebagai pemakan daratan, tapi ini jauh lebih besar yakni memakan sebuah planet seperti belatung yang menggerogoti bangkai!" Ujar Hanzjoe.
"Sungguh hebat, tenkatel ini sudah di gunakan oleh para dewa terdahulu sehingga banyak penerus para dewa yang menggunakan tenkatel dari seterusnya, pembaruan dari mereka tidak begitu signifikan karena mengandalkan para leluhur, tapi Hanzjoe mengubah segalanya, membuat tenkatel ini lebih mengerikan, bahkan dia menciptakan berbagai inovasi dalam pembentukan tentakel ini!" Jelas herlix kepada Retha.
Groookkk grooooookkk kraaakkk
Tanah-tanah pun hancur di lahap oleh tenkatel Hanzjoe.
"Sudah saatnya kau datang kan!" Ujar Hanzjoe dan volgekov pun sudah ada di depannya.
"Bagaimana kau bisa lepas dari kekuatanku, selama ini tidak ada yang bisa lepas dari kekuatanku?" Tanya volgekov tegas.
"Hal yang sangat mudah, seperti memecahkan gelas dengan air yang panas" Ujar Hanzjoe.
"Kalau begitu tunjukkan padaku kehebatanmu!" Ujar Volgekov.
Hanzjoe dan volgekov pun lansung bertarung, disisi lain volgekov tidak bisa mengandalkan kekuatan mengatur waktunya karena Hanzjoe bisa lepas dari segalanya.
Lalu tak hanya itu ada beberapa orang yang datang.
Kaki tangan volgekov lainnya, mereka semua berjumlah 8 orang.
Kilu, Polor, Asdun, Blilar, Zoskam, Lamena, Coko, Libuo.
"Apa kita harus membantu tuan?"
"Aku rasa tidak perlu, kita habisi saja yang satunya baru kita tunggu sampai tuan yang mengalahkan satunya"
"Delapan lawan satu, sungguh tidak masuk akal, mana anak kecil pula!"
"Jangan mengeluh, kedua bocah ini bukanlah mahluk biasa, mereka seolah menegaskan diri mereka setingkat dengan kita!"
"Ingat dalam pertarungan kita ini jangan mengeluarkan kemampuan setengah-setengah, setelah ol doggo, tuan volgekov tidak pernah melawan orang lain lagi, dan jika dia turun tangan, itu artinya orang itu juga sekuat dengan ol doggo"
"Aku bisa merasakan seperti apa kekuatannya, lihatlah mahluk liar yang menghancurkan daratan ini, itu pasti kekuatan mereka!"
Kedelapan orang ini akan menghadapi Radehs.
"Sepertinya kau butuh bantuan ku Radehs!" Ujar Retha.
"Jangan sekali-kali memanjakannya seperti anak kecil!" Ujar Herlix.
"Tidak apa Retha, aku harus semakin berkembang, aku harus semakin kuat, aku harus semakin berpengalaman" Ujar Radehs.
__ADS_1
Radehs menatap mereka semua.
Ddddduuuuuuubbbbbbaaaaarrrr