
Radehs dan hanzjoe berjalan pelan, mereka melihat berbagai sisi tempat yang di tunjukkan di peta, tidak ada penduduk, sepi dan kosong, tidak ada mahluk apapun yang ada di depan mereka.
Tapi tiba-tiba saja seseorang muncul di depan. Dia menyatu dengan angin.
"Jadi kalian yang sudah mengalahkan Pokando" Ujarnya.
"Salah satu anak buahnya volgekov?" Tanya Radehs.
"Dasar bodoh, kau seharusnya tidak perlu lagi bertanya seperti itu, karena sudah jelas jika aku tahu yang telah kalian lakukan maka itu sudah benar jika aku adalah kaki tangannya, sebenarnya aku tak suka pertarungan, karena bertarung hanyalah membuang waktu, lebih baik melihat sembari menikmatinya, aku suguhkan pada kalian pasukan besar yang siap untuk mati demiku!" Ujarnya.
"Beri tahu aku siapa namamu!" Tanya Radehs.
"Balxan, itulah namaku tapi aku lebih sering di sebut sebagai dewa angin!" Ujarnya, dan berbagai hempasan angin menyerak kesana kemari.
Ratusan orang datang menyerbu, tak hanya itu ratusan lagi adalah monster.
"Jumlah mereka sekitar tiga ribu, aku rasa akan membuang banyak waktu bertarung sebagai manusia biasa" Ujar hanzjoe.
"Gunakan kekuatan?" Tanya Radehs.
"Iya tapi tidak perlu berlebihan!" Saran Hanzjoe segera pergi menuju pasukan Balxan.
"Ada apa ini, kenapa jumlah mereka ada dua, bukanya seharusnya yang satu telah tertahan oleh kekuatan waktu milik volgekov, apa mungkin dia bisa membatalkan kekuatan waktu yang mustahil bisa di hentikan, benar-benar tidak masuk akal, logikanya adalah dia memiliki rekan yang lain dan jumlah mereka sebenarnya ada tiga" Guman balxan terus melayang ke atas.
Tiga serangan menghampiri Hanzjoe, dia berputar menghindarinya, lalu menggunakan kedua lengannya meninju ke samping.
Buukkk wussshh
Hanzjoe memukul dua orang dan mereka terhempas dan mengenai orang-orang di belakangnya.
Balxan sampai di suatu tempat yang tidak jauh dari pertarungan Radehs dan Hanzjoe, di samping Balxan sendiri terdapat beberapa orang yang merupakan orang-orang terpecayanya, jumlahnya ada 4 orang.
"Shingo, Japuo, Tubo, Demale, jika mereka tidak mampu, maka tugas kalian yang memberhentikannya" Ujar Balxan, dia duduk di singgasana khususnya.
"Baik raja, seperti biasa, kami akan menyelesaikan dengan cepat dan tidak akan membosankan anda" Ujar Demale.
Disisi lain, Radehs berjalan, berbagai tusukan mengenai tubuhnya, tapi semua senjata itu hanya melepuh, dan juga suhu tubuhnya begitu panas. Membuat banyak pasukan tidak berani mendekatinya.
Hal itu membuat Radehs terus maju.
"Apa gunanya kesetiaan kalian jika tidak berani mati, halangi dia dasar pasukan manusia tak berguna!" Ujar sesosok monster dari pasukan monster Balxan.
"Raaaagghhhhh" Teriak pasukan manusia, dimana pasukan penyerbu jarak dekat lansung mendekati Radehs dan menyerangnya secara sia-sia karena tubuh mereka juga akan ikut melebur bersama suhu yang sangat panas.
Lalu tangan-tangan raksasa muncul dari tubuh Radehs, tangan magma yang menyapu bersih semua pasukan yang di sekitarnya.
__ADS_1
"Brengsek sebenarnya musuh apa yang sedang kita lawan" Ujar para monster, mereka pun mulai maju.
"Senjata kami adalah senjata khusus yang di buat anti panas karena sangatlah padat, panas yang ada di tubuhmu tidak akan bisa meleburkan senjata kami para monster, dan juga mereka yang biasanya mampu beregenerasi hanya cukup di bunuh dengan menusuk jantung atau di potong kepalanya!" Ujar salah satu dari pasukan monster dan menyerang Radehs.
Kepala Radehs terpotong dan tiba-tiba saja kepala Radegs menyatu kembali membuat Para monster terkejut, lalu senjata mereka juga terlebur karena tidak tahan dengan panasnya tubuh Radehs.
"Jika kau berbicara maka buktikan dulu omonganmu pada dirimu sendiri!" Ujar Radehs dan mereka semua tersapu oleh tangan Magma yang besar.
"Kalau soal fisik, dia lemah tapi jika soal kekuatan dia sangat lah kuat" Guman Hanzjoe melihat Radehs.
"Apa-apaan itu, tubuhnya menyala terlihat menyala di sela-sela uratnya, mereka dari ras monster kah?" Tanya Tubo kepada Shingo.
"Sepertinya begitu mereka dari ras monster karena aku pernah melihat monster yang suhu tubuhnya begitu panas dan tahan di tempat yang panas seperti di dalam gunung" Jawab Shingo.
"Dasar ras para monster, sesama monster seharusnya saling berbaikan bukan saling membunuh" Ujar Tubo mengetuk kepalanya dan menggaruk-garuknya.
"Tapi kenapa wujud mereka seperti manusia?" Tanya Demale.
"Mereka hasil dari uji coba manusia, hanya itu yang bisa kita simpulkan, tak peduli siapapun mereka, harus kita kalahkan!" Tegas Japuo.
"Radehs, singkat saja, kita akhiri saja pertarungan ini dengan cepat!" Ujar Hanzjoe, dia bergerak dengan sangat cepat melebarkan tenkatelnya, memutar segalanya seperti dua Baling-baling yang saling berputar berlawanan.
Hasilnya adalah, HUJAN DARAH DARI CINCANGAN DAGING-DAGING.
Balxan terkejut melihat apa yang di lakukan Hanzjoe, begitu pula dengan keempat orang kepercayaannya.
"Aku rasa orang yang kita cari tidak ada disini!" Ujar Hanzjoe.
"Jadi karena itu kau terburu-buru!" Ujar Radehs memastikan.
"Kalian semua bergeraklah!" Ujar Balxan.
Shingo, Tubo, Japuo, dan Demale, mereka semua bergerak melintasi genangan darah pasukan Balxan.
Langkah Radehs dan Hanzjoe terhenti sampai beberapa meter tempat berpijaknya ke empat kepercayaan Balxan.
"Ingat apapun yang terjadi, tetaplah jangan remehkan mereka walau mereka terlihat berukuran bocah" Ujar Shingo.
"Tak perlu beri tahu, apa yang telah terjadi sungguh bodoh rasanya melihat kemampuan mereka di bawah kita" Ujar Japuo.
"Waspada boleh-boleh saja asalkan jangan sampai pesimis tidak bisa mengalahkan mereka!" Ujar Demale.
"Kalau begitu ayo kita maju, tunjukkan siapa yang sebenarnya mereka lawan" Ujar Tubo berkuda-kuda menyerang.
Radehs melakukan kuda-kuda menyerang, dia menerjang Tubo dan Shingo menciptakan kobaran kebakaran di mana-mana.
__ADS_1
Lalu Radehs mengepal tangannya ke arah Tubo yang jauh darinya, tinjuan magma keluar, lalu melebur ke mana-mana.
Tubo berlari ke arah Shingo, di tengah tinjuan magma raksasa itu, Shingo mengalahkan tangannya ke depan, lalu berbalik dan Tubo melompat ke tangannya Shingo dan membuatnya melayang ke atas.
"Rasakan ini!" Ujar Tubo.
Dubuuuuukkkk
Radehs terhempas ke bebatuan yang ada di sampingnya.
"Jika senjata biasa tidak bisa maka senjata supranatural seperti ini mampu menghajarmu kan" Ujar Tubo dengan rasa bangga.
Sebuah palu terlihat seperti bayang-bayang putih dan berukuran raksasa.
Herlix dan Retha yang melihatnya dari dalam tubuh penerusnya pun terkejut, mereka lansung terbayang akan sesuatu.
Dan tiba-tiba saja mereka berada di suatu ruang yang gelap nan sunyi, di depan mereka tedapat sebuah palu raksasa dengan cahaya biru di lantai-lantainya.
"Sialan, aku lupa akan hal ini!" Ujar Retha.
"Ohhh siapa yang aku dapatkan?" Ujar jiwa di dalam palu yang bisa bicara tersebut"
Retha dan Herlix lansung menepuk kedua tangannya.
Brrrbb brrbbb brrrbb.
Mereka melakukan agar palu itu tidak tahu dimana keberadaan Hanzjoe dan Radehs sekarang.
"Tidak perlu khawatir begitu, sampai sampai kau mengaburkan keberadaan awalmu, apa kalian berdua melihat sesuatu yang membuat kalian terbayang kepadaku?" Tanyanya dengan nada gembira.
"Ahhh iya, sekilas kalian sangat mirip, tapi untuk ukurannya, dia jauh di bawah dirimu, apa kabar sang keadilan sejati, apa kau belum menemukan penerusmu?" Tanya Retha.
"Jangan kejam sekali dengan menyindir ku seperti itu, apa kau tahu, penerus sang ke adilan tidak pernah memakai palu kehakiman untuk melawan siapapun selama ini, hanya lawan yang pantas saja diriku di gunakannya" Ujar palu penghakiman.
"Siapa namanya?" Tanya Herlix.
"Salah satu dari sepuluh malaikat terkuat, Doctus sang keadilan si pengguna palu penghakiman!"
"Frobarg, bukanya rasa bangga berlebihan di larang pada pasukan malaikat" Ujar Retha.
"Kenapa memangnya, aku akan sangat bangga karena waktu perang puncak itu terjadi dia bisa saja membunuh Hanzjoe dan Radehs" Ujar Frobarg.
"Retha sudah delapan ratus triliun tahun lebih, jangan sampai lupa jika dia adalah salah satu yang paling besar dengan omong kosongnya, sebagai sang keadilan tentu saja kebanggaanya begitu besar" Ujar Herlix.
"Hmmm, sangat di sayangkan ya, ingatlah masa lalumu di generasi ke 199, bagaimana penerusmu mati duluan, sampai jumpa di perang puncak nanti!" Ujar Retha.
__ADS_1
Retha dan Herlix menghilang dari ruang dimensi milik frosbarg.