
Dunia mega galaksi itu pun hancur, dan sampai tembus ke dunia yang lainnya.
Lorn memaksa tubuhnya meronta dan melepaskan tubuhnya, bahkan lorn mengunakan sihir dimana sebuah balok besar menusuk dan menghancurkan tubuhnya berkeping-keping.
Mata Radehs bersinar, dia mengeluarkan kekuatan berskala besar.
"Gawat aku harus memindahkan dunia-dunia ini!"
Dubaarrr dubaaar dubbaaaaarrr.
Berbagai monster bangkit, dari berbagai dunia, ikuruan mereka membesar, membuat Lorn terkejut bukan kepalang.
Lalu Lorn menatap Radehs dan ia lansung mengerti.
Kekuatan berskala besar barusan di keluarkan bukanlah untuk menyerang ataupun memperkuat diri, melainkan merubah wujud mahluk hidup menjadi monster yang di inginkan Radehs.
"Kalian adalah bangsanya para Eduardt hancurkanlah semua yang menginginkan diriku hancur!" Ujar Radehs.
"RRRRRRRAAAAAAAAADDDDDEEEEEEEHHHHHHHHSSSSSSS" Teriak Lorn dia juga tak mau tinggal diam, ia mengeluarkan segenap kekuatan lalu ingin meredakan monster itu menjadi wujud semula.
Namun Radehs lebih dulu menyerang Lorn.
Malaikat terkuat yang lainnya mengikuti alur pertarungan antara Lorn dan Radehs.
Dan hanya tersisa satu malaikat terkuat yang ada di hadapan para Eduardt, dia adalah Janio sang suka cita.
Semua suka cita dan rasa menerima segalanya secara baik adalah sumber kekuatannya.
Wujudnya menggunakan sebuah mahkota dimana terdapat dua tanduk kerbau, bajunya terdapat sisik-sisik tringgiling, di pipi kanan ya terdapat sebuah simbol yang merupakan kepala kerbau yang menghadap kedepan.
Itu adalah simbol ketentraman.
Janio mengangkat tangannya namun, seseorang menghadangnya.
"Ini adalah tugas kami, segera bantu malaikat terkuat yang lainnya, setiap detik milik anda adalah amat sangatlah berguna!" Ujar sosok itu tubuhnya bewarna ungu gelap, terdapat corak-corak biru di tubuhnya dengan baju yang menutupi bahu saja.
"KAMI ADALAH PASUKAN DORRAX, KAMI AKAN BERTARUNG MELAWAN MEREKA DENGAN SEKUAT TENAGA KAMI!" Ujar seorang yang merupakan peminpin nya, dia lansung bersujud tanda hormat, lalu di iringi dengan ribuan barisan prajuritnya.
Janio menyaksikannya dengan kekaguman.
"Maafkan kami seenaknya memberikan mu sebuah titah yang merupakan tugas yang sangat berat!" Ujarnya sembari berkeringat.
"Tidak perlu risau, karena itu sudah tugasku dan Terima kasih telah bersedia membantuku, kalau begitu aku serahkan mereka pada kalian, berjuanglah sekuat tenaga dengan kekuatan serta strategi kalian, BERTARUNG BUKAN UNTUK MENGHABISI MUSUH TETAPI UNTUK MELINDUNGI YANG LEBIH LEMAH DARI KITA!!!" Teriak lantang Janio.
"SIAP TUAN" Gemuruh seluruh pasukan Dorrax.
__ADS_1
Janio lansung hilang dari tempat itu.
"MEREKA MENYERANG!" Ujar pasukan yang lainnya.
"SIAPKAN SENJATA-SENJATA JARAK JAUH"
Disisi lain Janio berada di tengah-tengah para Eduardt yang hendak menyerang pasukan DORRAX.
Berbagai hantaman dari rudal-rudal DORRAX menghantam monster Eduardt.
Gemercik ledakan terjadi di sekitaran Janio, bahkan berbagai monster melewatinya tetapi Janio tidak memperdulikan nya sama sekali. Dia terus kedepan dan terlihatlah sesosok dari ujung sana.
Dia duduk dengan terus memandang kepala seorang wanita yang telah putus di mana darah segarnya masih mengalir di tangan orang tersebut.
"Betapa indahnya wajah ini, kecantikannya membuat semua orang terfana, tingkah baiknya menambah kesan jika kecantikan dan kebaikannya adalah anugerah yang di berikan untuk orang-orang yang melihat dan merasakan kebaikannya, benar-benar membuatku muak saja"ujarnya lalu memandang Janio.
Disisi lain pasukan DORRAX tidak mampu mengimbangi pasukan Eduardt yang mengamuk.
"Oh tidak ratusan dari mereka sudah berhasil menembus pertahanan kita, kalau begini hanya tinggal beberapa detik sampai mereka masuk dalam medan pertempuran!"
"JANGAN SAMPAI MEREKA LOLOS, APAPUN YANG TERJADI HENTIKAN!"
"Arrrrrghhhh kami tidak sanggup lagi!"
Berbagai halangan pun menghalangi pasukan Eduardt kali ini adalah lagi pasukan lain yang membantu pasukan DORRAX.
"Ah mereka semua?"
"Jangan khawatir, kami juga akan melakukan hal yang sama dengan kalian, mari kita hentikan bersama-sama" Ujar pasukan berzirah yang melayang dengan sayap teknologi canggih mereka, jumlah mereka sangatlah banyak hingga jutaan, melayang-layang di angkasa.
Dengan sekuat tenaga mereka berusaha memotong dan membunuh pasukan Eduardt, sampai 16 Sekutu pasukan malaikat dengan berbagai wujud datang saling bahu membahu mengalahkan pasukan Eduardt.
Tak berselang lama.
gggggrrrrrrrrgggrrrrrr.
Wajah serigala dengan sorot mata merah menyala terpampang jelas di belakang monster-monster Eduardt.
"Jangan takut!"
"Jangan gentar!"
"Terus sera-" Tak sempat melanjutkan kata-katanya, tubuh mereka terpotong-potong menjadi bagian kecil.
Bukan hanya satu, tetapi 16 Sekutu yang sedari tadi ikut bertempur melawan pasukan Eduardt.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba wajah serigala itu hilang sebelah nya. Dan ikuti dengan sinar yang menghabisi para monster Eduardt.
Berbagai kilatan muncul di jagat raya.
"Apa-apa wujudmu itu, rasanya sangat lucu, seperti seorang anak kecil yang bermain dengan mainan topi-topian saja!" Ujarnya dengan santai berhadapan dengan Janio tadi.
"Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah, wujud yang tidak pernah bersyukur akan sebuah nikmat yang diberikan, musuh ku dari sang ketentraman, dari yang lainnya akulah yang paling merasakan akan dirimu, WAHAI PERWUJUDAN DARI SELURUH MAHLUK BUAS, MATHILDA SANG DEWA KEDENGKIAN!" Ujar Janio sedikit geram.
Namun.
Hal itu di balas dengan senyuman girang oleh Mathilda sang dewa kedengkian.
Apa yang terjadi tadi tentu saja memicu batin para dewa iblis lainnya.
"Tch menganggu saja!" Ujar Ikari.
"Jadi ada lagi yang lain, tidak sia-sia juga pertarungan ini ada!" Ujar Hanzhjoe.
"Tidak akan kubiarkan kalian bersatu!" Ujar martis.
"Aku sama sekali tidak peduli!" Ujar Radehs.
Disisi lain Mathilda berdiri dengan santai, wujudnya adalah seorang laki-laki berambut putih, dengan baju biru dengan sebuah pedang terikat di pinggangnya.
Dia mengadah tangannya ke samping dan kepala wanita tadi berada di telapak tangannya.
"Untuk apa kau bermain-main dengan kepala seseorang!" Ujar janio geram.
"Ayo hadapi aku dan berhentilah bermain-main, akan kucincang dirimu jika tidak melepaskan kepala itu!" Sambung Janio berkuda-kuda.
"Heh, apa kau marah, ya sepertinya kau juga terpikat pada wanita ini ya meskipun dia sudah mati, di duniaku dia sangat terkenal, semua orang jatuh cinta padanya termasuk para wanita, hidup dengan keseharian penuh pujian, Orang-orang terlalu peduli terhadap yang memiliki kelebihan, sedangkan mereka yang memiliki kekurangan penuh dengan keadaan di kucilkan dan tidak di perhatikan seolah-olah kehidupan ini memiliki sebuah kasta, dan kasta itulah yang ingin kuhancurkan dimana segalanya menuju satu kata, kesetaraan" Ujar mathilda meremukkan wajah wanita itu hingga hancur lebur, ubun-ubunnya menggeliat di tangan merah mathilda.
Janio maju dia menyerang mathilda membabi buta.
Disisi lain
Seseorang berdiri dengan pasukannya sendiri, salah satu tangan kanannya muncul.
"Tuan lazera, saya ingin bertanya, seharusnya ini adalah pertempuran yang memihak kita, walau jumlah mereka bertambah satu orang tetapi itu tidak ada apa-apa nya karena empat melawan sepuluh, tetapi kenapa pasukan sepuluh malaikat terkuat seolah mereka kesulitan?" Tanya prajuritnya.
"Jangan sampai orang lain mendengar kata-katamu itu, para dewa iblis dan malaikat terkuat adalah orang-orang yang berbeda dari selama ini yang kita bayangkan, dari semua sejarah yang aku ketahui tidak ada satupun dari mereka semua yang mati jika kekuatan mereka habis, tetapi hanya dengan segel kita mampu menghentikan mereka tapi sejauh ini yang mampu melakukannya hanyalah sangat malaikat terkuat, satu satunya cara hanyalah kita harus bertempur sampai mereka tidak bisa mengerahkan kekuatan mereka lagi dan mati!"
"Setidaknya berapa lama?"
"Ratusan tahun!" Ujar lazera dan semuanya terkejut.
__ADS_1