Sang Dewa Kemarahan

Sang Dewa Kemarahan
part 70


__ADS_3

Radehs dan Pokando saling melangkah maju, hingga keduanya berjarak 3 meter mereka berhenti.


"Apa kau sudah siap?" Tanya Pokando.


"Aku sudah siap kapanpun!" Sahut Radehs.


"Baguslah kalau begitu, saatnya kita bertarung sebagai monster melawan manusia!" Ujar Pokando.


Tangan Pokando memanjang di penuhi dengan gerigi yang berasal dari tulangnya.


"Aku tidak akan main-main seperti orang bodoh itu(pokando)" Ujar Pokando.


Layangan serangan tangan Pokando seperti sebuah sabitan sabuk yang melayang dengan cepat.


Radehs melompat dan Pokando melayangkan sedikit ke atas sabitan tangannya dan mengenai bagian pipi Radehs.


Untung saja sabitan itu seperti menggoresnya karena Radehs memiringkan kepalanya.


"Aku punya dua tangan loh" Ujar Pokando.


Pokando melayangkan satu serangan lagi ketika Radehs mendarat di tanah, untuk serangan kali ini Radehs sudah tak bisa lagi melompat karena tubuhnya yang harus membutuhkan waktu untuk melompat lagi.


Alhasil Radehs menahan dengan tombaknya tapi Radehs terlambat dalam menaruh posisi tombak yang benar hingga sabitan tangan Pokando yang terhalang oleh tombak sempat menancap dan menggores dalam perut bagian kanan Radehs.


Lalu layaknya sebuah cambuk, tangan tersebut berbalut di tombak Radehs dan merebut tombak Radehs.


"Aku kira ini adalah cara yang tidak pantas tapi dengan cara inilah kau akan tau bepata kejamnya dunia pertarungan orang dewasa, tidak ada keadilan berarti dalam pertarungan atau peperangan, karena semuanya ingin menjaga nyawa mereka agar tetap aman!" Ujar Pokando.


Senjata Radehs sekarang berada di bawah kakinya Pokando.


Dengan segala keadaan Radehs maju dan menendang Radehs dengan kuat menuju dan membuat dia terhempas beberapa meter.


Tapi Pokando terkejut.


"Aku kira dia sangatlah bodoh membiarkan diriku menendang kepalanya yang sudah retak, tapi ternyata dia sosok yang nekat!" Guman Pokando.


Radehs kembali berdiri, kali ini dia berhasil mendapatkan kembali tombaknya.


"Dasar Radehs jika kau mau, aku bisa membuatnya seratus untukmu, kau benar-benar tipe yang sangat serius" Ujar Hanzjoe menendang salah satu kaki bandit hingga terjatuh, dan mematahkan tulang lehernya.

__ADS_1


Radehs kembali maju.


"Kejutan apa lagi yang akan kau buat nak!" Ujar Pokando melakukan posisi kuda-kuda menyerang.


"Lincah, semakin lincah, semakin lincah, semakin lincah terus lincah, tak terbandingkan, tak terkalahkan" Guman Radehs.


5 kali layangan cambuk di layangkan, Radehs lansung bisa menghindarnya dengan segala ke paksaan yang dia paksakan.


Dalam sekejap mulut Pokando menjadi gerigi yang penuh gigi tajam, dia berusaha mengigit Radehs yang sudah mendekat.


Radehs mendekat dan mencolok tombaknya ke dada Pokando.


Disisi lain Pokando berhasil mengigit habis pundak kiri Radehs hingga tak tersisa dan memeluk Radehs dengan tangannya, lalu gerigi yang tadinya tetap menjadi berjalan seperti mesin pemotong kayu, dan benar saja gerigi tajam tersebut menghujam punggung Radehs bertubi-tubi hingga muncrat darah.


"Ooooooooooooaaaaaaaaaarrrrrrrrrggggggghhhhhhhhhh" Teriak lantang Radehs dengan segala tenaganya.


Menggeser tombak dan merobek dada Pokando hingga posisi jantungnya.


Dengan segala keadaannya, Pokando lansung mundur dan mengiris dalam tangan Radehs dengan tangan cambuk nya.


Muntahan darah keluar dari mulut Radehs, berbagai tempat di tubuhnya mengucurkan darah, alhasil tubuhnya semakin lemah karena kekurangan darah. Tapi Radehs masih bisa berdiri, dia benar-benar memaksa tubuhnya hingga melampaui batasan masa dulunya. Rasa sakitnya pun luar biasa.


"Ah keadaannya selalu saja begini, aku selalu saja melakukan kesalahan, sehingga rentetan kegagalan pun sering terjadi dalam hidupku, aku sudah tak bisa apa-apa lagi, tubuhku semakin melemah" Guman Radehs.


"Tubuh itu bukanlah untuk bertarung, melainkan untuk memahat batu-batu atau kayu menjadi sebuah mahakarya" Sahut Radehs yang tentunya wujud yang masih belum menjadi penerus dewa iblis.


"Jangan mengajariku, aku sudah tahu dengan diriku, aku sudah tahu seperti apa segalanya dalam diriku, baik jasmani ku, dan juga batinku aku sudah tahu, SEMUANYA SUDAH HANCUR!" Ujar Radehs marah, dan mereka sekarang berada di ruang lain di hati Radehs.


Hanya ada Radehs dan dirinya yang dulu sebelum menjadi penerus dewa iblis.


"Walaupun begitu, satu hal yang ku pahami darimu sekarang ini adalah, kau lebih bodoh dari pada aku, percuma kau memaksa dirimu tanpa berpikir panjang!" Ujar dirinya yang lain dengan kesal.


"Apa maksudmu"


"Dulu ketika kita di hina ataupun di kucilkan, apa yang selalu kita lakukan?" Tanya dirinya yang lain.


Radehs mendongak ke atas, dia melihat wajah-wajah di masa lalu, walau hatinya panas tapi ada sebuah jawaban.


"Tenangkan dirimu dan berpikirlah secara dingin, itulah yang selalu di lakukan Lorn, aku sangat kecewa dengan diriku yang sekarang, begitu bodoh dan layaknya seorang idiot yang mengamuk, jika kau kalah sebagai dirimu yang lama, aku bangga, tapi jika kau kalah dalam keadaan sekarang aku kecewa, kembalilah ke sana dan lakukan yang terbaik, diriku yang sekarang, aku percaya kau yang terbaik dari segala yang terbaik yang mau mengubah nasibnya dari yang menyedihkan ke tempat yang penuh kesengsaraan dan penderitaan"

__ADS_1


Radehs mendongak ke atas di atas sana ada wajah Pokando,


Radehs melayang, dia merasakan sensasi yang aneh, sensasi dimana dirinya berusaha untuk tenang.


Tak berselang lama dia kembali ke kesadarannya.


Dia kembali merasakan rasa sakit di tubuhnya, lalu menghembuskan nafas tenang.


Radehs melakukan kuda-kuda bersiap, dia berjalan pelan karena jika dia berlari maka keseimbangannya akan hilang.


"Datanglah ke sini, menuju kematianmu!" Ujar Pokando.


Setelah tersisa beberapa meter akhirnya Radehs berlari dengan cepat, dia kehilangan keseimbangan.


"Bagaimana selanjutnya?" Tanya Pokando sembari melayangkan serangan demi serangan.


Sedangkan Radehs menghindari berbagai serangan dengan mendapatkan goresan demi goresan dengan tubuh yang tak seimbang.


Lalu dengan cepat Radehs melemparkan senjatanya ke arah Pokando.


"Aku lupa jika dulu aku pernah mencoba melempar sebuah batu yang berbelok" Guman Radehs.


Tangan gerigi Pokando mengenai lagi bagian pinggang Radehs tapi dengan sigap Radehs menariknya agar Pokando tertarik ke depan.


Semuanya pun selesai.


Jari jari radehs putus.


Begitupun dengan leher Pokando.


"Apa, lemparannya membelok, dia tidak melemparkan ke samping lalu membelok ke tengah. Melainkan melemparkan lurus lalu membelok ke samping, sangat halus sehingga aku tidak menyadarinya" Ujar Pokando yang dimana masih ada kesadaran dengan kepala yang masih melayang.


"Tadi itu benar-benar tidak pasti" Ujar Radehs. Dia rubuh begitu saja.


Lalu semuanya pulih kembali, baik luka dalam atau luka luar semuanya sudah seperti biasa.


"Kenapa kau melakukan hal itu Retha?" Tanya Radehs.


"Bukan aku, tapi dia" Ujar Retha dia mengisyaratkan Hanzjoe.

__ADS_1


Radehs bangun dia melihat Hanzjoe yang sedang bertarung melawan Raymond, Mardi, dan Salor.


__ADS_2