
"Apa yang kau tahu tentang kami, apa yang bisa kau petik dari kematian prajurit kami, kalian semua tidak tahu apa-apa tapi bertindak seolah yang paling tahu dengan mempertontonkan kehebatan seperti ini dihadapan yang lainnya" Ujar Carolina terus melangkah.
"Apakah isi otakmu benar-benar begitu?" Tanya pontakkan tenang dan sedikit menyeringai.
"Benar itulah yang aku pikirkan, contoh sederhananya saja adalah wanita itu, bagaimana mungkin kau masih menghakiminya dengan masa lalu yang pernah dia lalui, sebuah pohon berasal dari sebuah benih, dan saat pohon itu besar dan berbuah barulah dia bisa di petik, itulah yang sekarang terjadi pada jessy" Ujar Carolina, dan tiba-tiba jessy sudah berada di sampingnya dengan tubuh yang kembali pulih dengan sendirinya.
"Pengambilan nya melampauiku?" Guman huzio bertanya pada dirinya sendiri.
"Jika pengambilanmu adalah dengan mengadah tongkatmu maka aku hanya cukup dengan melirik dan sudah mendapatkan apa yang ingin di rebut!" Ujar carolina sekarang dia sudah berada di samping kluna.
Kluna lansung memegang wajah jessy dia melihat agar jessy tidak kenapa-kenapa.
"Kata-katamu benar-benar tidak bisa ku mengerti, hal yang wajar karena jauhnya jalur pemikiran kita!" Ujar pontakkan.
"Berdirilah saudaraku, menjauhlah dari sini!" Ujar Carolina dengan wajah datar dan kluna serta jessy berterima kasih kepadanya.
"Aku rasa itu bukanlah sebuah kewajaran karena melihat dirimu, jika kau ingin memamerkan kekuatanmu, maka pamerkan kepadaku di depan mereka semua agar kau tahu apa artinya malunya dalam sebuah kegagalan!" Ujar Carolina.
Pontakkan berkuda-kuda dan siap untuk menyerang, sedangkan disisi lain mahluk seperti ulat mengelilingi Carolina.
Seketika tubuh ulat itu tampak seperti terkena serangan. Tapi tidak berdampak apa-apa baginya dan juga Carolina.
"Oh jadi begitu, kau sudah tahu juga ya tentang diriku" Ujar pontakkan sedikit tersenyum.
"Karena aku juga berasal dari era yang sama denganmu dulu, walau kita tidak pernah bersama di medan perang tapi kau terkenal bahkan aku sampai mendengar namamu di mana-mana" Ujar Carolina tenang.
"Apa kau melupakan sesuatu?" Tanya Carolina kepada pontakkan, jelas saja pontakkan lansung tidak mengerti apa yang di maksud Carolina.
Tapi sesaat kemudian dia lansung menyadarinya.
"Kemana burung tadi, apa dia menarik kembali burung besar yang muncul itu?" Guman pontakkan.
Tiba-tiba pontakkan terlontar ke atas, tubuhnya di buat melayang dan sesuatu seperti menabraknya secara bertubi-tubi dari berbagai arah.
__ADS_1
"Serangannya acak dan tidak berpola, mahluk ini pengalaman juga dalam bertarung, tapi" Guman pontakkan.
"Dubaammm" Sekali tendangan dari pontakkan membuat sesuatu yang menabraknya berhenti begitu saja dan tercipta sebuah gerakan seperti terjatuh di daratan dan berhenti tepat di samping Carolina.
Sosok mata dengan sorot mata tajam muncul dari belakang Carolina. Tampak lagi tubuh burung besar tersebut.
Pontakkan mendarat di daratan, dia melihat Carolina yang tenang-tenang saja.
"Rasanya aku muak melihat dirimu terus seperti itu!" Ujar pontakkan berlari menuju ke depan.
Carolina lansung memiringkan kepalanya dan tercipta sebuah cipratan darah dari pipinya, pipi Carolina tergores sedikit sekitar tiga centi meter, dan akhirnya ulat tadi pun semakin membesar.
"Aku merasakannya, semakin aku pukul maka semakin menumpuk pula energi yang di jadikan pelindung oleh mahluk ulat ini, tapi semakin dia melindunginya maka aku hanya perlu semakin kuat memukulinya" Ujar pontakkan memukul 80 ribu kali dalam waktu 12 detik.
"Floe, menghindar" Ujar Carolina.
Floe yang merupakan ulat itu lansung pergi menuruti kemauan Carolina.
Saat floe menghindar, pontakkan tidak membiarkannya begitu saja, dan akhirnya Carolina bertindak lagi.
"Klavelo!" Sebut Carolina dan seketika saja burung besar di belakangnya lansung membuka paruhnya lebar-lebar ke arah pontakkan.
"Menggangu!" Ujar pontakkan hendak menghajar burung tersebut.
Namun dari tenggorakan keluar sesosok mahluk lainnya.
"Arbuja!" Ujar Carolina.
Dengan gagahnya dia menggunakan dua pedang dengan sabuk di tengahnya dan mengarahkan kepada pontakkan.
Gerakannya begitu lincah seperti pontakkan.
Pontakkan melakukan sebuah gerakan menyerang dan dia juga melakukan hal yang sama, dan akhirnya pontakkan menyadarinya, saat klavelo membuka mulutnya, pontakkan melihat sebuah cermin dan dia melihat dirinya sendiri di cermin itu dan lalu sekilas berubah menjadi arbuja, pontakkan menyadari jika arbuja telah menyalin kekuatannya.
__ADS_1
Tapi tak lama kemudian akhirnya arbuja lansung roboh dan membuat Carolina terkejut.
Sepintas Carolina menyadari akan hal itu.
"Kau mempelajarinya?" Ujar Carolina memastikannya.
"Khukhu khu khu, jika kau ingin menang dari musuhmu maka kau harus mengetahui apa yang di gunakan oleh musuhmu, dan lalu mengalahkan dia dengan cara yang sama, misalnya bela diri di balas dengan bela diri, ilmu persenjataan di balas dengan persenjataan, lalu sihir di balas dengan sihir!" Ujar pontakkan.
Carolina menatap lazera dan lazera hanya memalingkan wajahnya dari Carolina.
"Tch dasar sampai segitunya kalian ingin mengalahkan mereka!" Decak Carolina dia terus melanjutkan pertarungan.
Berbagai mahluk baru terus bermunculan dan menyulitkan setiap langkah dari pontakkan.
Tapi tak berselang lama, mahluk ini seolah merasakan kesatikan karena terkena sebuah serangan secara misterius.
"Semakin seiringnya waktu, kemampuan bertarung terus saja di kombinasikan secara pesat seperti sihir dengan ilmu senjata, bela diri dengan tehnik" Ujar pontakkan.
Dia sudah berada di atas Carolina, dengan cepat pontakkan tidak menyia-nyiakannya, dia lansung menerjang Carolina, menghajarnya di berbagai sudut tubuhnya dan di pentalkan ke daratan sehingga bunyinya seperti sebuah gemuruh petir.
Semua orang dari gunung berkah meneriakkan namanya, kecuali bulba dan beberapa orang yang sudah mengetahui tentang Carolina bahkan kluna sendiri hanya menatap saja. Dia sudah tahu jawabannya jauh sebelum itu terjadi.
"Kau kuat tapi kau tidak pernah memegang sebuah gelar sebagai yang terkuat, TAPI AKU TELAH MEMEGANG SEBUAH GELAR SEBAGAI YANG PALING DI TAKUTI DI JAGAT RAYA!" Ujar Carolina.
Sebuah mahluk muncul, wujudnya berkepala naga berkaki seribu dengan tajamnya bagaikan sebuah pedang.
Satu persatu kakinya terlepas dengan sendirinya lalu membentuk sebuah formasi dan tepat di belakang Carolina yang tadinya jatuh tapi tidak terdapat bercak apapun di tubuhnya.
"Wuuuusssshhh" Kaki tersebut maju dengan cepat mengejar pontakkan.
Namun pontakkan tidak menghindar melainkan menangkis dengan tehnik nya.
Pontakkan mengambil salah satu kaki dari naga itu dan menangkis kaki runcing lainnya, disisi lain naga itu terus menerus menerjang pontakkan dengan nafasnya yang mengeluarkan api biru.
__ADS_1