Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
KENAPA TAK MEMBERITAHU?


__ADS_3

"Kenal dimana?" Tanya Timmy sedikit berbisik seraya pria itu sedikit me oleh ke belakang, tempat dimana Fairel duduk saat ini.


Ya, saat ini Timmy memang tengah mengemudikan mobil Iel atau lebih tepatnya Fairel, setelah tadi dirinya, Beth, serta Fairel terlibat perdebatan tentang siapa yang akan membeli es batu untuk mengompres lebam Fairel.


Timmy tak bisa pergi sendiri naik motor Beth karena kakinya pincang. Sedangkan jika Beth yang pergi sendiri, tentu saja Timmy tak mengizinkan karena ini hampir tengah malam. Dan jika Timmy dan Beth yang pergi, maka Fairel yang akan mencak-mencak dan menuduh kalau Beth serta Timmy ingin kabur dari tanggung jawab.


Hhhh!


Jadilah mereka bertiga pergi bersama naik mobil Fairel menuju ke alun-alun kota, dimana ada warung tenda kaki lima yang kerap menjadi langganan Timmy setiap pulang dari bekerja dan perutnya kelaparan. Warung angkringan itu memang buka dari sore hingga dinihari dan menunya lumayan lengkap.


"Di toko," jawab Beth sembari membuang pandangannya keluar jendela.


"Yang waktu itu menelepon dan memaksa Beth membuka toko tengah malam demi sebuah cake," ujar Beth lagi yang langsung membuat Timmy mengernyit.


"Jadi dia orangnya?" Timmy langsung tertawa kecil.


"Iya! Memang menyebalkan, kan?" Tukas Beth dengan raut wajah sinis. Adik Timmy itu lalu menoleh ke jok belakang.


"Tidur?" Tanya Timmy selanjutnya pada Beth yang langsung menggeleng.


Mereka bertiga akhirnya tiba di warung angkringan dekat alun-alun.


Timmy langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam tenda warung untuk meminta es batu.


"Terima kasih, Pak!" Ucap Timmy yang sudah mendapatkan satu plastik es batu di tangannya. Timmy lalu mencari keberadaan Beth yang ia pikir ikut turun juga tadi, namun rupanya tidak. Adik Timmy itu masih di mobil bersama Fairel.


"Ada, Bang?" Tanya Beth saat Timmy sudah kembali ke mobil.


"Ya!"


"Ini! Kau bantu pria itu mengompres lebamnya." Ujar Timmy seraya mengangsurkan es batu di tangannya tadi pada Beth.


"Namanya Iel, Bang!" Ucap Beth mengingatkan Timmy sekali lagi tentang nama Fairel. Padahal Timmy juga ingat, tapi hanya malas menyebut namanya saja.


"Iya!


"Kau lapar tidak?" Tanya Timmy selanjutnya pada sang adik.


"Sedikit," jawab Beth cepat.


"Baiklah, nanti aku belikan nasi--"


"Sekalian untuk Iel, Bang!" Pesan Beth menyela kalimat Timmy yang belum selesai.


Sepertinya Beth peduli sekali pada Fairel!


"Dia sepertinya juga lapar, Bang!" Imbuh Beth lagi.


"Iya!" Jawab Timmy akhirnya seraya kembali ke tenda warung, dan meninggalkan Beth bersama Fairel.


Timmy langsung membungkus empat bungkus nasi serta beberapa gorengan dan tak lupa Timmy juga memesan minuman juga untuk Fairel dan Beth.


"Ini nasi apa? Kenapa kecil begini?" Tanya Kath saat kali pertama Timmy mengajak gadis itu malan di warung angkringan.


"Biar kamu habis!" Jawab Timmy asal yang langsung membuat Kath tergelak.


"Tapi imut, ya!" Tukas Kath seraya memutar-mutar nasi bungkus di tangannya.


"Cepat dimakan! Tadi katanya lapar!" Timmy membukakan nasi bungkus Kath, lalu menyodorkan sendok untuk gadis itu.


"Ini kali pertama aku makan di warung kaki lima," ucap Kath sebelum gadis itu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Baguslah! Sekali-kali kau memang harus merasakan jadi rakyat jelata," seloroh Timmy yang begitu paham dengan kehidupan Kath yang memang bergelimang kemewahan. Serupa dengan Rossie dan Angga karena mereka memanglah sepupu.


Ya!


Timmy juga baru tahu beberapa waktu yang lalu kalau Kath ternyata adalah sepupu Angga dan Rossie!

__ADS_1


Om Robert mungkin akan langsung menghadiahi Timmy bogem mentah, jika ia tahu kalau Timmy sudah meniduri Kath berulang kali.


Ah, tapi bukan sepenuhnya salah Timmy karena ia dan Kath selalu melakukannya atas dasar mau sama mau. Tak pernah ada paksaan dan mereka berdua sama-sama menikmati, sama-sama mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Mas!"


"Mas! Haloo!" Tepukan dari pemilik angkringan seketika langsung membuyarkan lamunan Timmy.


"Iya, Pak!" Jawab Timmy tergagap.


"Ini minumannya, Mas!" Ujar pemilik angkringan sembari menyodorkan dua plastik jeruk hangat pada Timmy.


"Oh, iya! Terima kasih, Pak!" Ucap Timmy yang langsung keluar lagi dari tenda warung untuk mengantarkan makanan pada Beth dan Fairel yang masih berada di dalam mobil.


Beth terlihat sedang mengompres mata Fairel, saat Timmy tiba di mobil.


Ya, pukulan Timmy tadi memang mendarat tepat di mata kanan Fairel dan meninggalkan lebam kebiruan di sekitar mata pria itu. Semoga itu hanya lebam dan tak ada luka serius pada matanya. Timmy benar-benar tak sengaja memukul Fairel tadi.


"Beth!" Panggil Timmy seraya menunjukkan kantong plastik di tangannya.


"Itu apa?" Tanya Fairel menyela.


Beth sendiri sudah menerima kantong plastik tadi dari tangan Timmy.


"Itu nasi dan gorengan barangkali kau lapar," jawab Timmy menjelaskan pada Fairel yang langsung mengangguk.


"Terima kasih, Bang!" Ucap Beth kemudian.


"Sama-sama!"


"Abang makan di dalam tenda, ya!" Pamit Timmy kemudian seraya meninggalkan Beth dan Fairel. Timmy juga sudah lapar sekarang.


****


Timmy langsung kembali ke mobil Fairel, setelah ia selesai dengan urusan perutnya.


"Bagaimana? Sudah mendingan?" Tanya Timmy sembari memperhatikan lebam di mata Fairel.


Entahlah!


"Masih tetap sakit!" Jawab Faireldebgan nada yang menurut Timmy lebih mirip rengekan seorang bocah. .


"Masih belum bisa menyetir jadinya?" Gantian Bethany yang bertanya


"Tentu saja belum!" Jawab Fairel cepet dan galak. Beth terlihat langsung mencibir ke arah pria di sebelahnya tersebut.


"Baiklah. Kita antar dia pulang dulu kalau begitu, Beth!"


"Nanti baru kita pulang naik taksi," cetus Timmy seraya masuk ke dalam pintu pengemudi.


"Tengah malam ada taksi, Bang?" Tanya Beth yang terlihat ragu. Timmy juga ragu sebenarnya. Tapi yakin saja dulu!


Misalnya tak ada, mungkin Timmy dan Beth akan pulang jalan kaki.


"Bang!"


"Ada!" Jawab Timmy yakin.


"Ada, kok!" Timmy mengulangi jawabannya seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri, kalau nanti benar-benar ada taksi lewat, setelah mereka mengantar Fairel pulang.


"Pindah kesini, Beth!!" Titah Timmy yang langsung meminta Beth agar pindah ke jok depan dan duduk di sebelahnya saja.


Ada beberapa hal juga yang ingin Timmy tanyakan pada Beth.


"Kalian tahu alamat rumahku, memang?" Tanya Fairel dari jok belakang, saat Timmy mulai melajukan mobil.


"Tahu!" Jawab Beth cepat. Sedangkan Timmy memilih untuk fokus mengemudi saja.

__ADS_1


"Dapat darimana alamat rumahku? Kau menyadap ponselku?" Cecar Fairel kemudian, menuduh Beth yang sonyak membuay Timmy tak kuasa untuk menahan tawa.


Memangnya Fairel pikir Timmy dan Beth ini adalah intel yang menyamar?


Konyol!


"Aku dapat dari Rossie siang tadi, saat ia mengantar undangan pertunangan Abang Angga dan Reina," jelas Beth yang tentu saja langsung membuat Timmy terkejut.


"Angga bertunangan malam ini, Beth?"


"Iya, Bang! Abang tidak tahu, memang?" Beth balik bertanya pada Timmy.


"Kau tidak memberitahu. Bagaimana Abang--"


"Tadinya Beth memang mau memberitahu Abang Timmy! Tapi kecelakaan tadi membuat Beth lupa untuk menyampaikannya," tukas Beth menyela.


Timmy akhirnya hanya berdecak karena kalaupun ia datang ke acara pertunangan Angga sekarang, acaranya pasti juga sudah bubar dan Kath mungkin juga sudah pulang.


"Jadi, kau dapat undangan juga? Lalu kenapa tadi tak datang?" Cecar Fairel pada Beth, setelah obrolan Beth dan Timmy selesai.


"Aku harus merawat Abang Timmy yang habis kecelakaan!" Jawab Beth mengungkapkan alasannya.


"Tapi ini Abangmu sudah sehat dan sudah bisa memukulku sampai babak belur! Seharusnya kau tadi datang!" Fairel kembali menggerutu pada Beth.


"Ck! Suka-suka akulah mau datang atau tidak!" Gumam Beth yang kini sudah tampak bersedekap dan rait wajahnya terlihat kesal.


"Kau temannya Angga juga, Iel?" Tanya Timmy kemudian memecah kebisuan di dalam mobil.


"Teman? Aku calon abang iparnya Angga!" Jawab Fairel pamer sembari tertawa keras.


"Calon abang ipar? Jadi maksudnya--"


"Tunangannya Abang Angga itu adiknya Iel, Bang!" Tukas Beth membantu menjelaskan.


"Oh!" Timmy langsung membulatkan bibirnya. Tadinya Timmy pikir Fairel adalah sepupu Angga juga seperti halnya Kath.


Atau yang lebih konyol lagi yang ada di pikiran Timmy adalah Fairel itu abang atau adiknya Kath.


Hahahaha! Ternyata bukan!


"Kau sendiri, ada hubungan istimewa apa dengan Angga, hingga tadi terlihat sangat kecewa karena tidak tahu kalau Angga bertunangan malam ini?" Fairel balik bertanya pada Tim atau lebih tepatnya sedikit menghakimi.


"Kami dulu teman," jawab Timmy cepat.


"Dulu?"


"Lalu sekarang? Mantan teman?" Cecar Fairel lagi sok tahu.


"Masih teman tentu saja!" Sahut Timmy cepat.


"Hanya jarang bertemu saja sekarang karena kesibukan masing-masing," tukas Timmy lagi beralasan. Tapi memang begitu adanya.


Dulu saat Timmy dan Angga masih sama-sama kecil, mereka adalah teman sepermainan yang kerap bermain bola bersama. Terutama saat Angga dititipkan di rumah oleh Tante Sita yang waktu itu membantu Mama Tere menjadi kurir pengantar kue.


Lalu semuanya berubah saat Angga mendapatkan papa baru yaitu Om Robert yang waktu itu menikahi Tante Sita. Dan hubungan Angga dan Timmy juga semakin terasa jauh serelah kepindahan keluarga Angga ke luar kota. Meskipun beberapa tahun berikutnya Angga sekeluarga pindah lagi ke kota ini, namun nyatanya hubungan Angga dan Timmy tak lagi sedekat sebelumnya.


Dan perihal Timmy tadi yang kecewa karena tak datang ke acara pertunangan Angga adalah sebenarnya karena Timmy yang tak bisa bertemu Kath malam ini.


Ya, mungkin seharusnya Timmy juga bisa bertemu kedua orang tua Kath malam ini, namun semuanya gagal karena kecelakaan bodoh yang tadi Timmy alami.


"Dia tidur!" Gumam Beth kemudian yang langsung membuat Timmy melihat ke spion tengah. Benar saja, Fairel memang sudah tidur di jok belakang.


"Kau tidurlah juga kalau mengantuk, Beth!" Tukas Timmy pada sang adik yang hanya menggeleng. Timmy maupun Beth tak berbicara apa-apa lagi dan mereka melaju ke rumah Fairel dalam keheningan.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2