Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
IBA


__ADS_3

Timmy baru saja membuka pintu kamar perawatan, saat pria itu melihat Yvone yang sedang berusaha untuk bangun.


"Yv!" Timmy bergegas menghampiri dan membantu Yvone untuk bangun dan duduk.


"Aku lapar. Jadi aku mau makan," ujar Yvone sembari hendak meraih makanan yang berada di atas nakas. Timmy akhirnya turun tangan juga untuk membantu mengambilkan.


"Biar aku suapi," tukas Timmy sembari menarik kursi untuk ia duduk di samping bed perawatan.


"Aku bisa makan sendiri--"


"Sudah tidak apa!" Sergah Timmy cepat yang akhirnya hanya membuat Yvone terdiam. Yvone lalu mulai melahap makanan yang disuapkan oleh Timmy.


"Ngomong-ngomong, kau bisa pulang dan istirahat di rumah saja, Tim! Aku tak usah ditemani--"


"Kenapa memangnya?" Timmy menatap pada Yvone yang lebih banyak menunduk.


"Aku tak ingin merepotkanmu."


"Lagipula, pasti besok aku juga sudah bisa pulang," ucap Yvone dengan nada yakin. Timmy hanya mengangguk dan tak berucap apa-apa lagi. Pria itu lanjut menyuapi Yvone hingga makanan di piring hanya tersisa sedikit. Timmy lalu ganti menyodorkan segelas air putih ya g langsung diteguk oleh Yvone.


"Ada obat yang harus kau minum?" Tanya Timmy sembari mencari obat di atas nakas. Timmy lalu menemukan dua pil di dalam mangkuk kecil dan segera mengangsurkannya pada Yvone.


"Tadi perawat berpesan untuk mengompresku agar demamku segera turun." Yvone mengendikkan dagunya ke arah baskom serta kain lap yang ada di sdut ruangan.


"Tolong kau isikan air saja dan taruh di atas nakas. Nanti aku bisa melakukannya sendiri," ujar Yvone lagi sembari menatap pada Timmy yang lagi-lagi hanya mengangguk. Timmy lalu segera bangkit dari duduknya dan melakukan yang Yvone katakan tadi tanpa berucap apa-apa.


"Terima ka--" Yvone belum selesai berucap, saat Timmy tiba-tiba sudah meletakkan handuk basah di kening Yvone.


"Apa kau selalu melakukan semua hal sendiri dan tak pernah merepotkan orang lain?" Tanya Timmy penasaran yang langsung dijawab Yvone dengan anggukan samar.


"Bahkan saat kau sakit?" Tanya Timmy lagi.


"Aku sebenarnya jarang sakit."


"Terakhir kali aku sakit dan dirawat adalah saat aku kuliah semester pertama. Uncle dan Aunty sibuk dengan urusan mereka, dan hanya ada maid yang mereka kirim untuk menemaniku di rumah sakit." Yvone tersenyum kecut, sebelum kemudian wanita itu memalingkan wajahnya dan menyeka airmata yang mendadak menggenang di sudut matanya.

__ADS_1


"Aku akan pulang sebentar untuk mandi sekalian mengambil baju ganti untukmu. Nanti aku kesini lagi--"


"Tidak usah, Tim!" Tolak Yvone cepat dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Kau istirahat di rumah saja," lanjut Yvone dengan suara lirih.


"Tidak apa! Bukankah kita adalah teman?" Jawab Timmy sembari tersenyum, sebelum kemudian pria itu mengambil lagi handuk yang berada di kening Yvone, lalu mencelupkannya ke air, memeras, dan meletakkannya kembali di kening Yvone.


"Kau bisa tidur dulu selagi aku pergi. Paling lama satu jam aku akan kembali, oke!" Tukas Timmy sembari pria itu menatap Yvone beberapa saat. Timmy lalu berpamitan dan keluar dari kamar perawatan Yvone.


****


Timmy kembali ke rumah sakit, saat langit sudah berubah gelap. Pria itu baru saja akan menuju ke kamar perawatan Yvone, namu saat melalui ruang UGD, Timmy tak sengaja melihat Fairel yang keluar dari ruang UGD bersama seorang dokter. Wajah Fairel juga tampak cemas.


"Iel!" Panggil Timmy akhir pada sang adik ipar yang tampak kaget.


"Bang!" Fairel langsung berbalik dan menghampiri Timmy.


"Ada apa? Siapa yang sakit?" Cecar Timmy karena wajah Fairel yang benar-benar terlihat cemas dan khawatir.


"Beth terpeleset tadi dan jatuh--"


"Apa yang terjadi?" Timmy langsung menginterogasi Fairel yang kini sudah berdiri di sampingnya.


"Tadi setelah abang Timmy menelepon, Beth berlari dannmain kejar-kejaran bersama Iel. Lalu Beth tak sengaja terpeleset--"


"Main kejar-kejaran?" Timmy benar-benar ingin tertawa dan sedikit tak paham dengan kelakuan adik serta adik iparnya ini. Bisa-bisanya mereka berdua main kejar-kejaran di dalam toko seperti bocah.


"Dokter bilang apa?" Tanya Timmy kemudian pada Fairel.


"Beth akan di USG terlebih dahulu, karena tadi setelah dia jatuh, dia mengeluh sakit di perut bagian bawah. Ada sedikit bercak darah juga yang keluar dari pangkal pahanya," jelas Fairel yabg langsung mrmbuat Timmy membelalak.


"Beth hamil?"


"Iel juga tidak tahu, Bang! Makanya mau dilakukan USG dulu. Beth juga tak mengatakan apa-apa pada Iel sebelumnya," jelas Fairel yang langsung membuat Timmy berdecak.

__ADS_1


"Abang sendiri, kenapa ada disini? Kak Yvone dirawat disini juga?" Gantian Fairel yang mencecar pertanyaan pada Timmy.


"Ya! Ini aku baru dari rumah mengambil baju ganti," Timmy menunjukkan paperbag di tangannya.


"Abang urus Kak Yvone dulu kalau begitu! Iel yang akan menjaga Beth. Mom juga sudah perjalanaperjalanan kesini," tukas Fairel kemudian yang langsung membuat Timmy mengangguk.


"Langsung hubungi aku kalau Beth sudah bangun, ya!" Pesan Timmy yang langsung dijawab Fairel dengan anggukan kepala. Timmy lalu berpamitan dan segera naik ke lantai atas, dimana kamar perawatan Yvone berada.


****


Timmy membuka pintu kamar perawatan perlahan, dan suasana tamoam sepi. Yvone juga sepertinya sedang tidur karena kedua mata wanita itu tampak terpejam. Timmy akhirnya masuk tanpa suara dan kembali menutup pintu. Setelah meletakkan paperbag yang tadi ia bawa, Timmy lalu segera mengecek suhu badan Yvone yang rupanya masih demam.


Timmy akhirnya bergegas mengompres Yvone lagi agar suhu badannya sedikit turun.


"Aku sebenarnya jarang sakit. Terakhir kali aku dirawat di rumah sakit, hanya ada maid yang menemani."


Kalimat Yvone siang tadi kembali berkelebat di benak Timmy membuat pria itu menatap cukup lama pada wajah Yvone yang masih terlelap.


"Semoga ke depannya kau memiliki keluarga yang berlimpah kasih sayang dan tak pernah lagi mengabaikanmu, Yv!" Gumam Timmy yang mendadak merasa iba pada nasib Yvone yang begitu kelam. Benar-benar berbanding terbalik dengan penampilan serta karier wanita itu.


Timmy menghela nafas, lalu segera membuka lonselnya, karena barusan terasa bergetar sepertinya ada pesan masuk.


[Untuk terakhir kali aku peringatkan, berhentilah mengganggu Kath atau aku tak akan segan-segan mencelakai keluargamu]


Sebuah pesan singkat dari nomor asing yang langsung membuat Timmy berpikir keras. Timmy llau mencoba untuk menghubungi nomkr asing tadi, namun nomor malah tidak aktif.


Siapa yang mengirim pesan ancaman pada Timmy?


Apa itu adalah orang yang sama yang mencelakai Timmy di taman waktu itu?


Apa iti adalah Dad-nya Kath? Atau orang lain?


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2