
Timmy masih melepas penat di teras depan, saat Mama Tere dan Yvone tampak turun dari taksi sembari tertawa berdua. Kedua tangan wanita tersebut juga menenteng beberapa kantong belanja. Sepertinya Mama Tere dan Yvone baru pulang belanja.
"Tim! Sudah pulang?" Sapa Mama Tere sembari menyodorkan kantung belanjaan di tangannya pada sang putra. Tentu saja Timmy langsung sigap berdiri dan mengambil semua kantong belanjaan yang dibawa Mama Tere dan Yvone.
"Habis memborong isi toko?" Seloroh Timmy yang langsung membuat Mama Tere dan Yvone tertawa bersama.
"Kami belanja kebutuhan bulanan tadi," cerita Tere yang segera mengekori Timmy ke dapur, dimana Timmy meletakkan semua kantung belanja tadi. Mama Tere sendiri langsung masuk dan menghilang ke dalam kamar.
Yvone lalu segera membongkar kantung-kantung belanja tadi dan mengeluarkan beberapa bahan makanan serta kebutuhan lain.
"Kau tadi pulang cepat?" Tanya Timmy yang kini duduk di kursi meja makan, sembari menggigit apel yang tadi ia ambil dari dalam kantung belanja.
"Iya," jawab Yvone singkat.
"Kau dan Mama terlihat semakin akrab belakangan ini," ujar Timmy lagi berpendapat, yang langsung membuat Yvone terdiam sejenak. Yvone paham pembicaraan Timmy ini mengarah kemana.
"Aku masih ingat dengan perjanjian kita, Tim! Dan kita tetap akan berpisah dua bulan lagi," ucap Yvone sedikit berbisik, setelah wanita itu juga mendekatkan posisinya pada Timmy.
Bulan ini, tepat satu tahun sepuluh bulan sejak pernikahan pura-pura Yvone dan Timmy. Dan sesuai perjanjian di awal, kalau mereka akan berpisah setelah dua tahun, meskipun sekarang Yvone sudah merasa berat hati.
Bukan karena Yvone yang mulai mencintai Timmy, namun karena Yvone yang terlanjur nyaman berada di dalam keluarga Timmy. Perlakuan Mama Tere dan Papa Will yang selalu menganggap Yvone sebagai putri mereka yang membuat Yvone semakin berat untuk meninggalkan keluarga ini.
"Aku hanya sedang memikirkan alasan apa yang nantinya akan aku katakan pada Mama, saat kita berpisah," lanjut Yvone lagi seraya menghela nafas.
"Kau sudah punya tempat tinggal?" Tanya Timmy seraya menatap serius pada Yvone yang langsung menggeleng samar.
"Tapi nanti aku akan mengontrak--"
"Kau yakin, setelah kau mengontrak, Uncle-mu tak akan merongrong hidupmu lagi? Bagaimana nanti kalau Uncle Sahrul memintamu pulang ke rumahnya lagi?" Cecar Timmy yang langsung membuat Yvone mengendikkan kefau bahunya.
"Aku tinggal pulang. Toh sudah tak ada James disana, dan kau dulu juga sudah membongkar semua kebusukan James," jawan Yvone seraya tertawa sumbang.
"Kau tampak tertekan tinggal di rumah Uncle-mu," pendapat Timmy kemudian yang langsung membuat Yvone terdiam.
"Tidak perlu kau pikirkan yang itu, karena itu--"
"Bagaimana dengan pria yang waktu itu kau katakan?" Tanya Timmy menyela yang langsung membuat Yvone mengernyit sekaligus bingung
"Pria yang mana?"
"Yang waktu itu kau bilang padaku, kalau kita akan berpisah setelah kau bertemu pria yang tepat. Yang kau cintai dan dia juga mencintaimu. Kau sudah menemukannya?" Ujar Timmy yang sekali lagi langsung membuat Yvone menggeleng.
__ADS_1
Yvone bahkan tak pernah berusaha untuk mencari pria yang dimaksud oleh Timmy tersebut selama hampir dua tahun ini. Yvone hanya sibuk bekerja, lalu menikmati kehangatan keluarga Timmy selama ini. Yvone benar-benar sudah terlena dengan kehangatan serta kenyamanan keluarga Atmadja, hingga ia lupa pada semua rencananya di awal.
"Jadi besar kemungkinan, kau hanya akan kembali ke rumah Uncle-mu setelah kita berpisah nanti?" Tebak Timmy yang langsung membuat Yvone terdiam.
"Aku akan mencari kontrakan nanti," gumam Yvone kemudian seolah menjawab tebakan Timmy tadi. Meskipun wajah wanita itu menunjukkan sebuah ketidakyakinan. Uang sewa rumah tentu bukan masalah bagi Yvone yang memiliki rekening yang selalu penuh dengan uang. Namun tekanan dari sang uncle yang pastilah akan membuat hidup Yvone tersiksa.
"Tidak masalah jika kau ingin memperpanjang perjanjian kita, Yv!" Ujar Timmy kemudian yang langsung membuat Yvone tercengang.
"Tapi bagaimana dengan Kath?" Yvone merendahkan suaranya hingga nyaris tak terdengar.
"Entahlah! Aku sudah lama kehilangan arah, karena aku juga tak tahu dia ada dimana sekarang. Aku rasa, harapanku untuk bisa memilikinya sudah lama hilang." Timmy mengendikkan bahunya dan tersenyum kecut.
"Pasti masih ada harapan untuk kau bertemu dengannya suatu hari nanti, Tim!" Hibur Yvone seraya mengusap punggung tangan Timmy. Namun pria di depan Yvone itu hanya menggeleng samar dan wajahnya tampak putus asa.
"Ehem!! Sedang pacaran disini ternyata!" Deheman serta sapaan dari Beth langsung membuat Yvone dan Timmy sama-sama tersentak. Beth datang seraya menggendong Sky yang kini usianya enam bulan.
"Sky!" Yvone langsung menghampiri Beth dan mengambil alih Sky dari gendongan adik iparnya tersebut.
"Gendong yang lama! Biar sepupu Sky juga cepat jadi, Kak!" Seloroh Beth seraya mengusap perut Yvone.
"Bukannya Sky sudah punya sepupu? Anaknya Angga dan adiknya Fairel," celetuk Timmy yang langsung membuat Beth berdecak.
"Sepupu dari Abang maksudnya!!" Ucap Beth kemudian dengn nada geram.
"Iel tidak ikut kesini?" Tanya Yvone kemudian karrna tak melihat suami dari Beth tersebut.
"Dia masih ada meeting katanya. Tapi nanti menyusul," jawab Beth seraya mengusap perutnya yang tampak sedikit buncit.
"Itu kamu hamil lagi, Beth? Sky sudah mau punya adik?" Tanya Timmy seraya mengendikkan dagunya ke arah perut Beth.
"Mana ada, Bang! Ini tadi Beth baru selesai makan! Makaya sedikit buncit," sanggah Beth seraya berdecak. Sementara Yvone langsung tergelak melihat perdebatan Timmy dan Beth.
"Oh, aku pikir mau kejar tayang," seloroh Timmy lagi sembari terkekeh.
"Ck! Nanti Iel langsung depresi kalau Beth hamil lagi. Dia saja masih trauma dengan plasenta Sky kemarin," dengkus Beth yang langsung membuat Timmy dan Yvone kompak tertawa. Ada-ada saja memang kelakuan suami Beth itu. Bisa-bisanya dia pingsan saat Beth melahirkan beberapa bulan lalu.
"Ngomong-ngomong, Mama dimana, Bang? Kok tidak terlihat?" Tanya Beth kemudian sedikit celingukan.
"Mungkin tidur. Tadi langsung masuk ke kamar setelah pergi bersama Yvone," jawab Timmy yang kini sudah mengambil alih Sky dari gendongan Yvone. Timmy lalu membawa keponakannya tersebut keluar ke teras.
"Waah, habis jalan-jalan, Kak? Semakin lengket saja sama Mama!" Seloroh Beth sedikit menggoda Yvone yang sudah lanjut menata barang-barang belanjaan tadi ke rak penyimpanan.
__ADS_1
"Iyalah! Kan aku juga putrinya Mama," jawab Yvone sedikit pamer.
"Iya, iya!"
"Tapi syukurlah kalau Mama tak kesepian lagi sekarang meskipun Beth tak lagi tinggal disini," tukas Beth kemudian seraya membantu Yvone.
"Kak Yvone juga sepertinya betah sekali disini, ya? Semoga seterusnya begitu!" Ujar Beth lagi yang langsung dengan cepat bangkit berdiri karena mendengar suara Fairel dari pintu depan.
"Semoga bisa seterusnya begitu." Yvone bergumam sendiri dan hatinya terasa mencelos.
Bagaimana bisa seterusnya, jika pernikahan Yvone dan Timmy hanya pura-pura semata?
****
Kath mengerjapkan matanya, saat wanita itu tak mendapati Marv di sampingnya. Kath segera bangun dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar untuk mencari Marv, namun suaminya itu tetap tak ada.
Kath akhirnya meraih jubah tidurnya, dan segera turun dari ranjang. Baru juga Kath menjejakkan kakinya keluar dari kamar, Kath sudah mendapati pemandangan dari jendela besar di depan kamar yang mengarah langsung ke halaman samping. Marv terlihat sedang bermain bersama Orion di halaman samping.
Orion Dennison adalah bayi laki-laki yang sepuluh bukan lalu Kath lahirkan. Mafv begitu menyayangi Orion, meskipun bayi laki-laki itu bukanlah putra kandungnya....
"Hasil tes DNA-nya negatif!" Kata-kata dojter beberapa bulan silam, saat Kath melaiukan tes DNA diam-diam pada Orion dan Marv, kembali berkelebat di benam Kath. Sebenarnya dari wajah Orion saja, sudah bisa ditebak dia putra siapa.
Ya, wajah Orion begitu mirip dengan Timmy, pria yang dulu menjadi teman ranjang Kath, lalu sepekan sebelum pernikahan Kath dan Marv, Timmy juga sudah menanamkan benihnya di rahim Kath.
Mungkin itu juga alasan kenapa hati dan pikiran Kath terus saja tertuju pada Timmy selama ia mengandung. Bahkan hingga detik ini Kath masih merindukan Timmy dan Kath ingin menemui pria itu sekali saja.
Mengatakan kalau dirinya sudah melahirkan darah daging Timmy, dan menyadari perasaannya yang ternyata juga mencintai Timmy...
Terima
Suara bola karet yang menabrak kaca di depan Kath, langsung membuyarkan lamunan wanita tersebut.
Marv dan Orion melambaikan tangan ke arah Kath yang langsung mengulas senyum. Kath kemudian segera menyusul keluar dan ikut bergabung bersama Marv dan Orion di halaman belakang.
Tidak tahu bagaimana sikap Marv saat pria itu tahu kalau Orion bukanlah anak kandungnya.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.