Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
TERIMA KASIH


__ADS_3

"Kenapa gelap?" Tanya Yvone setelah wanita itu turun dari taksi.


Timmy yang tadi membukakan pintu tamsi untuk Yvone hanya mengendikkan kedua bahunya, lalu pria itu segera menurunkan koper serta beberapa barang bawaan mereka berdua dari bagasi. Timmy kemudian segera membayar ongkoe taksi sebelum lanjut menyalakan ponselnya.


"Apa mama dan papa pergi?" Tanya Yvone lagi seraya membuka pintu pagar depan.


"Sepertinya," jawab Timmy yang juga sama-sama tidak tahu. Timmy lalu segera membawa koper ke teras, sebelum kemudian pria itu membuka ponselnya untuk mencari info dimana mama dan papa berada. Timmy baru saja akan menghubungi mama Tere, namun story mama Tere di aplikasi chat, langsung membuat Timmy mengurungkan niatnya. Timmy hanya tersenyum simpul, lalu kembali menyimpan ponselnya.


"Mama dan Papa sedang berlibur bersama Beth dan Iel," ucap Timmy kemudian seraya merangkul pundak Yvone.


"Lalu bagaimana kita akan masuk? Kau membawa kunci cadangan?" Tanya Yvone yang wajahnya terlihat bingung. Namun bukannya menjawab, Timmy malah mencerukkan wajahnya di tengkuk Yvone, hingga membuat wanita itu menggeliat.


"Tim...."


"Aku suka aromamu," bisik Timmy dengan nada nakal dan menggoda.


"Ck! Dasar genit!" Cibir Yvone yang wajahnya langsung bersemu merah. Namun sepertinya Timmy juga tak menyadarinya karrna teras rumah yang saat ini hanya remang-remang dan minim cahaya.


"Pikirkan cara agar kita bisa masuk, Tim! Kau punya kunci cadangan, kan?" Ujar Yvone kemudian seraya menjauhkan wajah Timmy dari lehernya.


"Aku tidak bawa. Tapi biasanya ada kunci di bawah pot," tukas Timmy kemudian yang langsung menbuat Yvone bergerak cepat untuk menghampiri deretan pot bunga milik Mama Tere.


"Pot yang mana?" Tanya Yvone seeaya mejkndai satu persatu pot yang tersusun rapi tersebut.


"Paling ujung, deretan atas," jawab Timmy yang rupanya sudah melingkarkan lengannya di pinggang Yvone. Sementara Yvone langsung mencari kunci rumah di pot deretan atas.


"Ada?" Tanya Timmy yang semakin mengeratkan dekapannya pada Yvone.


"Entahlah. Tanganmu membuat aku tak konsen," jawab Yvone seraya terkekeh dan Timmy kemudian juga ikut terkekeh.


"Ini." Timmy tiba-tiba sudah menangkup tangan Yvone.


"Ck! Itu tanganku!" Decak Yvone seraya geleng-geleng kepala.


"Kuncinya disini berarti!" Timmy kemudian membimbing tangan Yvone menuju ke pot bagian tengah, dan benar saja. Kunci rumah ada di sana.


"Ck! Tadi bilangnya paling ujunh!" Yvone berdecak seraya memukul dada Timmy yang malah tergelak.


Sementara Yvone yang sudah lolos dari dekapan Timmy langsung bergegas membuka pintu rumah. Wanita itu juga segera menyalakan lampu teras dan lampu depan.


Rumah benar-benar sepi sekarang.


Ceklek!


Suara kunci pintu langsung membuyarkan lamunan Yvone. Wanita itu lalu menoleh ke arah Timmy yang rupanya sudah membawa masuk koper mereka berdua. Tatapan suami Yvone itu sekarang terlihat mencurigakan.


"Kenapa pintunya dikunci? Kita tidak keluar untuk mencari makan--" Kalimat Yvone langsung dibungkam oleh ciuman tiba-tiba dari Timmy. Wanita itu sontak membelalakkan kedua matanya.


"Jangan disini!" Protes Yvone kemudian seraya mendorong Timmy agar menjauh.


"Kenapa? Tidak ada orang di rumah," tukas Timmy yang kembali menghampiri Yvone, lalu mengunci istrinya tersebut ke dinding. Timmy kemudian menatap lekat wajah Yvone dan tersenyum.

__ADS_1


"Kau cantik," puji Timmy kemudian seraya menangkup dagu Yvone. Timmy lalh kembali mencecap bibir Yvone, dan kali ini tak ada lagi kata protes dari wanita tersebut. Yvone bahkan langsung membalas kecupan Timmy dan kini pasangan suami istri itu sudah larut dalam pagutan panas, masih di ruang tamu rumah orang tua Timmy.


"Pelan-pelan, Sayang!" Timmy menahan tangan Yvone yang tampak tergesa melepaskan jaket yang tadi dikenakan oleh Timmy. Yvone tak berucap sepatah katapun dan hanya menatap Timmy dengan tatapan menggoda, sebelum kemudian wanita itu bersimpuh lalu membuka celana yang Timmy kenakan.


"Yv--" Suara Timmy seketika tercekat, saat Yvone tiba-tiba sudah melahap miliknya dengan begitu bersemangat.


"Aaarrggghhh!" Timmy langsung mengerang karena kehangatan dari dalam mulut Yvone, serta rasa nikmat yang kini merasuki setiap aliran darah di dalam tubuhnya.


Yvone terlihat begitu ahli mengul*m milik Timmy sambil sesekali memainkannya di dalam mulut, lalu di waktu lain Yvone juga akan menjilatinya seolah ia begitu menyukai milik suaminya tersebut. Timmy tak berhenti meracau dan mendes*h menikmati permainan Yvone yang membuatnya seolah terbang ke awang-awang.


"Aaarrgghhh! Yv!" Timmy kembali meracau sembari memejamkan mata, manakala Yvone semakin bersemangat meng*lum miliknya. Pria itu kemudian menahan kepala Yvone agar berhenti sejenak.


"Stop!" Nafas Timmy sudah terengah-engah, saat Yvone menatapnya dengan penuh tanya dan berhenti melakukan pergerakan.


Timmy segera nenangkup wajah Yvone, kemudian membimbing istrinya tersebut untuk kembali berdiri.


"Kenapa?" Tanya Yvone yang masih bingung.


"Aku ingin lebih lama," jawab Timmy seraya tersenyum, lalu secepat kilat mel*mat bibir Yvone yang merekah. Pasangan itu kembali larut dalam pagutan panas, sembari keduanya saling melucuti baju masing-masing.


"Jangan menelanj*ngiku disini!" Protes Yvone yang langsung mendorong Timmy kemudian berlari ke kamar. Tentu saja Timmy tak tinggal diam dan pria itu segera mengejar Yvone ke kamar, karena Timmy masih harus mengejar ketertinggalannya selama dua tahun ini.


Ya, Timmy dan Yvone akan berbulan madu di rumah beberapa hari ke depan, sampai mama dan papa pulang.


****


Satu tahun kemudian....


"Selamat, ya! Langsung dapat sepasang," ujar dokter lagi yang kali inu langsung membuat Timmy dan Yvone saling bertukar pandang, kemudian keduanya sama-sama tersenyum bahagia.


Saat ini, kandungan Yvone memang sudah masuk usia enam bulan. Dan baru di USG kali ini, jenis kelamin kedua calom bayi Yvone dan Timmy terlihat.


Setelah selesai melakukan USG, Timmy dan Yvone lanjut berkonsultasi bersama dokter kandungan untuk menanyakan beberapa hal mengenai kondisi kehamilan Yvone. Selesai berkonsultasi, barulah pasangan itu meninggalkan poli obgyn dan lanjut pergi ke apotik untuk mengambil vitamin untuk Yvone.


Namun baru saja Timmy dan Yvone akan duduk di deretan kursi untuk menunggu antrean, mendadak mereka bertemu dengan Kath, Marv, serta Orion yang sedang digendong oleh Marv. Kath langsung menatap ke arah perut Yvone yang sudah membulat sempurna. Namun hal tersebut tak berlangsung lama karena Kath langsung dengan cepat mengalihkan pandangannya dan bergegas menyusul Marv.


Marv sendiri tak berucap sepatah katapun dan pria itu langsung membawa Orion menjauh dari Timmy serta Yvone.


Timmy sendiri hanya diam dan tampak menatap ke arah Orion yang sepertinya sengaja disembunyikan oleh Marv.


"Tim...." Yvone mengusap lengan Timmy yang kini menghela nafas dengan berat. Tentu saja Yvone paham bagaimana perasaan Timmy saat ini.


"Sepertinya Orion seang sakit." Timmy bergumam masih sambil menatap ke arah Orion yang masih terus digendong oleh Marv.


"Tapi aku yakin kalau Orion pasti juga sudah mendapatkan penanganan yang terbaik," ujar Timmy lagi yang kini sudah ganti menatap Yvone. Tatapan pria itu terlihat sedih.


"Ayo bicara pada mereka--"


"Tidak!" Sergah Timmy cepat.


"Mereka sudah bahagia dan aku tak perlu membuat Orion menjadi bingung," ujar Timmy lagi yang sekarang wajahnya sudah tampak lebih tegar.

__ADS_1


"Toh sebentar lagi aku juga akan menggendong jagoan serta princess kita," ucap Timmy lagi yang kini sudah ganti mengusap perut Yvone.


Yvone hanya tersenyum seraya mengangguk, lalu wanita itu mengusap-usap lengan Timmy seolah sedang menyalurkan kekuatan.


"Terima kasih untuk semuanya, Yv!" Ucap Timmy kemudian seraya menatap ke dalam wajah Yvone.


"Terima kasih untuk semuanya," ulang Timmy lagi, kali ini sembari mengecup kening Yvone. Timmy kemudian mengusap perut Yvone sekali lagi, saat tiba-tiba tangannya merasakan sebuah pergerakan.


"Kau merasakannya?" Kedua mata Timmy sudah berbinar sekarang dn Yvone langsung mengangguk seraya tersenyum.


"Mereka menyukai usapanmu," ungkap Yvone yang membuat kedua mata Timmy semakin berbinar.


"Aku benar-benar sudah tak sabar untuk segera menggendong mereka, Yv!" Ucap Timmy lagi yang langsung membuat Yvone tertawa kecil. Disaat bersamaan nama Yvone sudah dipanggil dan Timmy segera bangkit berdiri untuk mengambil obat di loket apotek.


"Ayo pulang!" Ajak Timmy kemudian yang sudah kembali menghampiri Yvone. Pria itu juga seger membantu Yvone untuk berdiri dengn hati-hati.


"Aku mau es krim di kedai baru itu," pinta Yvone yang langsung menbuat Timmy mengangguk.


"Nanti aku belikan dobel untuk kalian bertiga--"


"Satu saja! Aku tak akan habis kalau dobel!" Sergah Yvone yang langsung membuat Timmy terkekeh.


"Nanti aku yang akan menghabiskan!" Tukas Timmy yang langsung membuat Yvone mengangguk setuju. Pasangan suami istri itu lalu berjalan ke pintu utama rumah sakit, untuk selanjutnya keluar dan meninggalkan fasilitas umum tersebut.


****


Kath sedikit terlonjak, saat Marv masuk dan menutup pintu mobil. Pria itu rupanya sudah selesai mendudukkan Orian di carseat di jok belakang.


"Orion sudah tidur dan demamnya sudah berkurang," lapor Marv yang langsung membuat Kath mengangguk. Disaat bersamaan, Timmy dan Yvone tampak keluar dari gedung rumah sakit sembari bergandengan tangan dengan mesra. Kath hanya menatap sejenak pada pasangan tersebut, sebelum lanjut menoleh ke arah Marv dan mengulas senyum.


"Kita jadi pergi malam ini, kan?" Tanya Kath kemudian sembari menggenggam tangan Marv.


"Ya, kalau kondisi Orion semakin membaik nanti," jawab Marv yang langsung membuat senyuman Kath semakin lebar.


"Happy anniversary," ucap Kath kemudian dan senyuman tipis langsung tersungging di bibir Marv.


"Happy anniversary," balas Marv seraya mengusap wajah Kath. Pasangan tersebut kemudian berpagutan sejenak sebelum lanjut meninggalkan rumah sakit.


*******************TAMAT*********************


Huh, akhirnya 😄😄


Terima kasih yang sudah membaca cerita ini sampai tamat.


Mohon maaf sebesar-besarnya, jika othor lambat sekali menyelesaikannya karena ada satu hal serta hal lain yang disebut CTS (Carpal Tunnel Syndrome) yang membuat othor harus istirahat dari mengetik beberapa pekan kemarin 😢😢


Terima kasih juga untuk reader yang masih setia mengikuti karya receh othor. Terima kasih untuk like, koment, vote, serta semua dukungannya. Mohon maaf sekali lagi jika masih banyak typo disana-sini. Secepatnya akan othor revisi.


Cerita Timmy dan Yvone, othor akhiri sampai disini. Mohon doanya agar CTS othor dapat segera pulih.


Sampai jumpa di karya selanjutnya. Bye 💜💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2