
"Kau akan menikah dengan abang Timmy kalau begitu!"
"Apa?" Timmy langsung berteriak kaget sekaligus tak oercaya, saat Beth dengan entengnya mengatakan kalimat barusan.
Timmy dan Yvone akan menikah?
Yang benar saja! Itu bahkan tak ada di dalam list hidup Timmy!
"Beth--"
"Kita harus membantu Yvone, Bang!" Sergah Beth menyela kalimat Timmy. Adik kesayangan Timmy itu lalu bangkit dari duduknya dan tiba-tiba sudah m enyeret Timmy ke arah dapur.
"Beth, dengarkan Abang dulu--"
"Tidak! Abang yang harus mendengarkan Beth dan menuruti kata-kata Beth sekarang!"
"Yvone butuh bantuan, Bang! Dia hampir saja diperkosa hari ini! Apa abang tak mau menolongnya sdkali ini saja?"
"Yvone juga sudah banyak menolong Abang sebelum-sebelumnya! Apa abang tak ingin balas budi--"
"Itu bukan hutang budi!" Sangkal Timmy cepat.
"Toh aku juga tak pernah minta diselamatkan oleh Yvone!" Sergah Timmy lagi beralasan.
"Memang! Tapi misalnya pagi itu Yvone tak menemukan Abang, apa Abang masih bisa berdiri disini saat ini?" Sergah Beth lagi tak mau kalah.
"Abang tolong Yvone satu kali ini, Bang!"
"James itu benar-benar baj*ngan!" Pinta Beth sekali lagi. Raut wajah adik Timmy itu juga sudah terlihat memohin sekarang.
"Kenapa Yvone tak mengatakannya saja pada Uncle-nya? Dia pasti bisa mencari solusi lain dan tak perlu solusinya harus menikah," sergah Timmy lagi yangbtetap keberatana dengan ide konyol Beth barusan.
"Yvone tak akan datang kesini dengan berurai airmata, kalau Uncle-nya percaya pada cerita Yvone."
"Tak ada yang percaya pada Yvone, Bang!"
"Kenapa abang--"
"Beth!" Panggilan dari Yvone mehyela perdebatan Beth dan Timmy. Gadis itu sudah melongokkan kepalanya dari pintu dapur.
"Ada pelanggan," lapor Yvone kemudian yang langsung membuat Beth menghrla nafas, lalu gadis itu segera keluar dari dapur untuk melayani pelanggan yang hendak membelu kue. Sementara Yvone yang masih berdiri di ambang pintu dapur, menatap sejenak pada Timmy yang juga sedang menatapnya. Namun hanya beberapa detik tatapan kefuanya bertemu, sebeluma akhirnya Yvone dan Timmy sama-sama mengalihkan tatapan ereka ke arah lain.
Yvone sysah kembali ke depan untuk menghampiri Beth yang masih sibuk melayani beberapa pelanggan yang datang. Sementara Timmy yang masih berdiri sendirian di dapur segera meninju meja di depannya demi meluapkan emosinya.
"Yvone juga sudah banyak menolong Abang sebelum-sebelumnya! Apa abang tak ingin balas budi?"
"Misalnya pagi itu Yvone tak menemukan Abang, apa Abang masih bisa berdiri disini saat ini?"
Kata-kata Beth kembali berputar-putar di benak Timmy dan membuat pria itu harus menyugar rambutnya berulang kali.
__ADS_1
"Brengsek" umpat Timmy yang kini dilanda kebimbangan.
****
"Terima kasih dan silahkan datang kembali!" Ucap Beth pada pelanggan yang sudah selesai ia layani.
Disaat bersamaan, ponsel Yvone yang sejak tadi masih berada di samping Beth tiba-tiba berdering.
"Siapa?" Tanya Beth penuh selidik.
"Uncle," jawab Yvone seraya menunjukkan layar ponselnya pada Beth. Yvone lalu segera mengangkat telepon dari Uncle Sahrul.
"Halo, Uncle!" Sambut Yvone.
"Kau tidak bekerja hari ini, Yv?"
Yvone tak langsung menjawab dan gadis itu meraih tisu terlebih dahulu untuk menyeka airmata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Tidak masalah jika kau mau cuti satu hari. Tapi nanti jangan lupa untuk pulang--"
"Yvone tidak bisa pulang ke rumah, Uncle!" Ucap Yvone dengan suara bergetar. Yvone masih merasa trauma dengan perlakuan Uncle James pagi tadi.
"Kenapa lagi, Yvone? Kenapa sekarang kau mulai membangkang--"
"Yvone tidak membangkang! Tapi Uncle James...."
"Uncle bisa melihat rekaman CCTV!" Sergah Yvone kemudian.
Jawaban Uncle Sahrul benar-benar membuat Yvone ingin mengumpat sekarang. Yvone lalu menatap pada Timmy yang sudah keluar lagi dari dapur setaya memakai topinya. Pria itu lalu menghampiri Beth yang sedang menyiapkan beberapa pesanan untuk diantar.
Yvone baru sadar kalau Timmy sekarang juga merangkap menjadi kurir di toko kue Beth. Benarkah?
"Ini saja yang harus diantar?" Tanya Timmy pada sang adik..
"Ya!"
"Dan sekalian abang usir itu pria hitam-hitam di luar," Pinta Beth pada sang abang.
"Malas! Aku tak ada urusan," jawab Timmy acuh, seraya menyambar plastik berisi kye dari atas meja. Timmy hanya melirik sekilas pada Yvone sebelum kemudian pria itu berlalu dan keluar dari toko Beth.
"Yvone! Kau masih disana?" Teguran Uncle Sahrul dari seberang telepon langsung menyentak lamunan Yvone.
"Iya, Uncle!" Jawab Yvone cepat.
"Kau akan pulang sore ini, kan?"
Yvone lagi-lagi harus menghela nafas dengan berat dan merasa malas menjawab pertanyaan memaksa dari Uncle Sahrul.
"Yvone boleh membawa teman ke rumah sore ini, Uncle?" Jawab Yvone akhirnya sekalian bertanya.
__ADS_1
Yvone mungkin akan bicara pada Timmy nanti dan sedikit minta bantuan dari pria itu. Yvone punya satu ide yang mungkin akan bisa membuatnya keluar dari rumah Uncle Sahrul.
"Teman? Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki," jawab Yvone seraya meringis.
"Pacar kamu?"
"Nanti saja Yvone kenalkan pada Uncle."
"Uncle di rumah jam berapa?" Tanya Yvone lagi. Yvone harus memastikan kalau saat ia pulang nanti, Uncle Sahrul sudah berada di rumah. James baj*ngan itu akan selalu cari kesempatan jika Yvone di rumah dan tak ada Uncle Sahrul maupun Aunty Jihan.
"Jam enam sore Uncle sudah di rumah."
"Yvone akan pulang jam enam kalau begitu," tukas Yvone cepat.
"Dan Yvone izin tidak masuk kerja dulu hari ini, Uncle!" Imbuh Yvone lagi.
"Baiklah!!"
Telepon kemudian terputus dan Yvone segera menyimpan kembali ponselnya.
"Kau akan pulang sekarang?" Tanya Beth dengan raut wajah yang sudah kembali khawatir.
"Nanti sore." Jawab Yvone seraya duduk di bangku di dalam toko, lalu melihat keluar toko dari pintu kaca. Dua orang berpakaian serba hitam yang tadi mengawasi Yvone masih berada di sekitar toko.
Sial!
Beth sudah ikut duduk di depan Yvone dan adik Timmy itu mengangsurkan sebotol air mineral pada Yvone.
"Kau yakin malam ini akan aman berada di rumah Uncle-mu, Yv?" Tanya Beth lagi yang masih tamoak khawatir.
"Aku akan mengunci pintu kamar nanti," ujar Yvone seraya tertawa kecil.
"Aku benar-benar khawatir, Yv! Tapi aku juga tak bisa banyak membantu."
"Tapi aku tetap akan membujuk abang Timmy agar ia mau sedikit membantu dan membawamu keluar dari rumah neraka itu," janji Beth kemudian pada Yvone.
"Nanti aku saja yang bicara pada Timmy, Beth," pinta Yvone akhirnya sedikit bergumam.
"Ide bagus!" Tukas Beth penuh semangat.
"Kita tunggu sampai abang Timmy datang," imbuh Beth lagi sembaru menatap ke luar toko melalui jendela. Namun hingga hari beranjak sore, Abang Timmy belum juga kembali ke toko.
Kemana perginya pria itu?
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.