
"Mau Beth suapi, Bang?" Tawar Beth, setelah adik Timmy itu meletakkan makanan di depan Timmy.
"Tidak usah! Kau makan juga sana!" Titah Timmy bersamaan dengan ponselnya yang terasa bergetar, menandakan ada pesan masuk.
Pesan dari Kath!
Beth sudah kembali duduk bersama Yvone, dan dua hadus itu tampak malan sambil sesekali mengobrol entah membahas apa. Sementara Timmy langsung membuka pesan dari Kath.
[Tim, apa benar kau menjadi korban penganiayaan? Kau dimana sekarang?] -Kath-
Timmy menatap sejenak pada Yvone dan Beth, sebelum pria itu mengetikkan pesan balasan untuk Yvone.
Darimana Kath tahu kalau Timmy menjadi korban penganiayaan? Apa Beth yang memberitahunya?
Atau Yvone?
Setelah sedikit berpikir, Timmy akhirnya mengetikkan pesan balasan untuk Kath.
[Dapat informasi darimana] -Timmy-
Balasan pesan dari Kath langsung masuk tak berselang lama.
[Dari seseorang. Cepat jawab pertanyaanku!] -Kath-
[Ya! Aku rasa Daddy-mu yang sudah melakukannya. Tapi aku tak akan menyerah dan aku akan membuktikan padamu kalau aku lebih layak untukmu ketimbang Marv!] -Timmy-
Tak ada pesan lagi dari Kath setelah pesan Timmy yang terakhir. Timmy lalu berusaha menghubungi nomor Kath, namun nomor mendadak tak bisa dihubungi.
Apa Kath memblokir nomor Timmy sekarang?
"Tim, kenapa kau tidak makan?" Teguran Yvone langsung membuyarkan lamunan Timmy.
Timmy lalu menatap pada makanannya yang masih utuh.
"Abang tidak makan?" Beth ikut-ikutan bertanya seraya menghampiri bed perawatan Timmy.
"Aku mendadak kenyang," ujar Timmy yang tangannya sudah bergerak untuk menutup box makanan di hadapannya tersebut. Selera makan Timmy mendadak menguap pergi.
"Kau tidak suka makanannya, Tim?" Tanya Yvone yang raut wajahnya tampak khawatir.
"Aku hanya kenyang, Yv! Nanti aku pasti makan kalau aku lapar!" Ucap Timmy seraya melempar tatapan tegas pada Yvone yang langsung mengangguk.
"Iya, aku paham!" Ujar Yvone kemudian.
"Beth akan menyimpan makanan Abang kalau begitu! Mungkin nanti Abang bisa memakannya di ruang tunggu," tukas Beth yang sudah merapikan bekas makan Timmy tadi.
Semua barang Timmy juga sudah dikemasi oleh Beth, dan kini mereka siap pergi ke airport.
****
[Ya! Aku rasa Daddy-mu yang sudah melakukannya. Tapi aku tak akan menyerah dan aku akan membuktikan padamu kalau aku lebih layak untukmu ketimbang Marv!] -Timmy-
Jari Kath langsung bergerak cepat untuk menghapus pesan Timmy yang terakhir, sekaligus memblokir nomor pria tersebut. Kenapa Timmy masih saja keras kepala?
"Ada apa?" Tanya Marv seraya mengusap pundak Kath yang sedikit membuat Kath terlonjak. Tadi Marv memang sedang menelepon salah satu klien-nya, saat Kath sibuk berbalas pesan dengan Timmy.
"Tidak ada apa-apa!" Jawab Kath sembari menggenggam tangan Marv.
"Kau sudah selesai menelepon?" Tanya Kath lagi pada sang tunangan.
"Sudah," ujar Marv yang tiba-tiba sudah mel*mat bibir Kath.
__ADS_1
Kath yang tadinya sempat terkejut, akhirnya membalas pagutan Marv, sembari mengusap wajah pria di hadapannya tersebut.
"Ayo ke apartemen!" Ajak Marv kemudian setelah pria itu menggigiti telinga Kath.
"Pekerjaanmu sudah selesai?"
"Sudah!" Marv kembali ******* bibir Kath, hingga cukup lama dua sejoli tersebut berpagutan di dalam ruang kerja Marv.
Barulah saat matahari sudah bergulir ke ufuk barat, Kath dan Marv meninggalkan kantor, lalu mereka langsung menuju ke apartemen.
****
"Ish!"
Yvone langsung menoleh saat mendengar decakan dari Beth yang duduk di sebelahnya. Dua gadis itu masih berada di ruang tunggu bandara.
"Ada apa, Beth?" Tanya Yvone menyelidik.
"Entahlah! Ponselku rusak sepertinya." Beth sedikit menggeser duduknya ke arah Yvone.
"Kau lihat ini! Semua kontak mendadak tak ada namanya," ujar Beth lagi seraya menunjukkan riwayat chat di ponselnya yang satupun tak ada namanya. Semuanya hanya berupa nomor saja.
"Ini nomorku," tukas Yvone cepat, seraya menunjuk ke chat nomor tiga dari atas.
"Iya! Akan aku beri nama dulu!" Ujar Beth yang langsung memberikan nama pada kontak Yvone.
"Tapi yang lain bagaimana, ya? Aku benar-benar tak hafal nomor-nomor customerku."
"Kalau harus memeriksa satu persatu riwayat chat, pasti akan memakan waktu!" Beth kembali berdecak saat ponsel gadis itu mendadak berdering.
Ada deretan nomor asing di layar.
"Itu ada telepon!" Ucap Yvone cepat.
"Angkat dulu dan tanya itu nomor siapa. Mungkin saja pelanggan toko kuemu," saran Yvone yang langsung membuat Beth mengangguk. Beth lalu mengangkat telepon dari nomor asing tadi.
"Halo! Maaf, ini siapa, ya?" Sapa Beth pada entah siapa di ujung telepon. Yvone selanjutnya tak terlalu memperhatikan obrolan Beth dengan seseorang di telepon tadi, karena ia baru ingat kalau ia belum membeli oleh-oleh untuk kedua orang tua Beth.
Bukankah kemarin Beth pamitnya berlibur di kota D bersama Yvone? Jadi seharusnya mereka membawa oleh-oleh saat pulang.
"Aku akan ke toko oleh-oleh sebentar," pamit Yvone pada Beth seraya bangkit berdiri.
"Hah?" Beth yang masoh fokus menelepon menatap bingung pada Yvone.
"Ke toko oleh-oleh sebentar!" Ulang Yvone sebelum kemudian gadis itu berlalu dan meninggalkan Beth serta Timmy yang sejak tadi hanya diam menunggu panggilan untuk masuk ke dalam pesawat.
Dan benar saja, beberapa menit setelah Yvone pergi, panggilan untuk para penumpang sudah terdengar.
"Beth! Ayo!" Ajak Timmy kemudian seraya menepuk pundak sang adik yang masih sibuk menelepon.
"Yvone belum kembali, Bang!" Tukas Beth seraya celingukan mencari Yvone.
"Nanti juga menyusul. Ayo duluan!" Ajak Timmy sekali lagi seraya memakai ranselnya ke punggung. Beth akhirnya ikut berdiri dan segera mengekori sang abang dengab ponsel yang masih menempel di telinga.
Sepertinya orang yang menelepon Beth begitu penting. Atah jangan-jangan Mama yang menelepon?
"Bang!" Panggil Beth lagi saat kakak beradik itu masih menyusuri garbarata.
"Ada apa?"
"Bisa bukakan akses ke CCTV toko lewat ponsel Abang?" Tanya Beth kemudian seraua menunjuk ke ponsel Timmy yang sejak tadi Timmy genggam.
__ADS_1
"Untuk apa?" Tanya Timmy seraya membuka akses CCTV toko kue Beth. Timmy lalu memberikan ponselnya pada Beth untuk memasukkan password.
"Hanya memantau saja," ujar Beth yang menghentikan sejenak langkahnya dibtengah garbarata, lalu mengamati dengan seksama CCTV toko dari ponsel Timmy.
"Sudah, Bang!' Ujar Beth kemudian seraya mengembalikan ponsel Timmy. Gadis itu lalu kembali bicara di telepon entah dengan siapa.
"Terserah saja!" Pungkas Beth kemudian sebelum gadis itu terlihat mematikan ponsel.
"Mama menelepon?" Tanya Timmy yang sejak tadi merasa penasaran.
"Bukan!" Jawab Beth seraya menyimpan ponselnya yang sudah mati tadi ke dalam tas.
"Hanya customer gila yang menyuruh Beth membuka toko. Padahal Beth kan masih disini," lanjut Beth lagi yang akhirnya hanya membuat Timmy mengangguk.
Timmy dan Beth sudah sampai di dalam pesawat sekarang dan mereka segera mencari seat mereka sesuai yang tertera di tiket.
"Ngomong-ngomong, Yvone kok belum datang, Bang!" Tanya Beth seraya celingukan mencari Yvone.
"Tadi dia kemana memangnya?" Timmy balik bertanya pada Beth.
"Pamit beli oleh-oleh."
"Pinjam ponsel Abang!" Ujar Beth kemudian seraya menengadahkan tangannya ke arah Timmy. Kakak beradik itu sudah sampai di dalam pesawat dan sudah duduk di seat mereka yang kebetulan bersebelahan. Masih ada satu seat kosong di sampingnya Timmy yang sepertinya itu adalah tempat duduk Yvone.
"Bang!" Rengek Beth kemudian pada Timmy yang langsung berdecak. Padahal Beth juga punya ponsel sendiri. Kenapa harus meminjam ponsel Timmy?
"Hafal nomornya memang?" Tanya Timmy seraya memberikan ponselnya pada sang adik. Beth langsung mengetikkan nomor Yvone dannternyata adik Timmy itu hafal dengan nomor Yvone.
Beth kemudian sudah meletakkan ponsel Timmy di telinganya.
"Tersambung?" Bisik Timmy kemudian pada sang adik karena Timmy yang sudah melihat Yvone yang kini berjalan ke arah mereka berdua.
"Masih menunggu, Bang!" Jawab Beth.
"Itu!" Timmy mengendikkan dagu ke arah Yvone yang baru datang. Beth langsung cepat-cepat mematikan teleponnya pada Yvone dan mengembalikan ponsel Timmy.
"Aku tidak terlambat, kan?" Tanya Yvone seraya menyimpan oleh-oleh yang tadi ia bawa ke bagasi atas pesawat.
"Tidak!" Jawab Beth cepat.
Sementara Timmy yang duduk di sebelah Beth, langsung berbisik-bisik pada sang adik.
"Bisa tukar kursi, Beth?" Pinta Timmy memohon.
Beth tak langsung menjawab dan gadis itu melihat sejenak posisi duduk mereka bertiga, dimana Beth duduk dibseat paling pinggir dekat jendela, lalu Timmy di tengah dan Yvone di kursi paling pinggir dekat lorong.
"Tidak mau, Bang! Beth mau di dekat jendela, Bang!" Tolak Beth kemudian yang langsung membuat Timmy berdecak.
Siapa juga yang tadi memesan tempat duduk berjejer begini? Menyebalkan!
Yvone yang akhirnya selesai menyimpan oleh-olehnya di bagasi atas, langsung duduk di kursinya yang tepat berada di sebelah Timmy.
"Tidur saja kalau mengantuk, nanti aku bangunkan," bisik Yvone pada Timmy, setelah gadis itu duduk dan memakai sabuk pengaman. Timmy hanya mengangguk samar dan tak ada obrolan apalun setelahnya, karena Timmy memang lanjut memejamkan mata saat pesawat mulai lepas landas.
.
.
.
Sambungan "Beth Ter-Sweet" bab 72
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.