
"Maaf, stok kopi sedang kosong. Nanti siang baru ada lagi." Jawaban dari pegawai kantin rumah sakit langsung membuat Beth mendesah kecewa.
Yvone yang merasa tak tega,akhirnya membuka ponsel untuk mencari kedai kopi terdekat.
"Bagaimana kalau kita beli di kedai kopi dekat sini, Beth?" Usul Yvone kemudian seraya menunjukkan lokasi kedai kopi terdekat tang berhasil ia temukan melalui ponsel.
"Tapi bukankah kau mau ada meeting--"
"Masih dua jam lagi!" Sergah Yvone menenangkan.
"Aku juga mau sekalian beli kopi," imbuh Yvone lagi agar Beth tak ragu ataupun menolak.
"Baiklah kalau menurutmu begitu. Tapi nanti kalau antri, tidak usah beli, ya! Aku tak mau kau terlambat meeting, Yv!" Ujar Beth yang sepertinya merasa tak enak hati.
"Kita kesana dulu saja, Beth! Kalau antri juga paling saru dua orang saja," tukas Yvone yang sudah ganti merangkul Beth, lalu kedua gadis itu berjalan ke arah gerbang utama rumah sakit.
"Kita naik taksi saja agar lebih cepat, ya!" Usul Yvone lagi.
"Setuju! Agar kau tak terlambat meeting juga!" Tukas Beth yang langsung membuat Yvone terkekeh. Dua gadis itupun segera menghampiri salah satu taksi yang nge-tem di depan rumah sakit.
****
"Ini kedai kopinya, Kai?" Tanya Kath sembari menoleh ke jok belakang, dimana tadi sang adik duduk.
Namun rupanya, adik Kath itu malah sudah terlelap di jok belakang.
Ya ampun!
"Dia tidur," celetuk Rossie seraya terkekeh.
Kath hanya berdecak dan wanita itu lanjut membuka sabuk pengamannya.
"Ayo turun dan tak usah membangunkannya," ajak Kath yang langsung diiyakan oleh Rossie.
Rossie turut membuka sabuk pengamannya, lalu gadis itu turun bersama Kath dan keduanya masuk ke dalam kedai kopi yang tadi mereka sambangi.
****
"Bagaimana nanti kalau kedai kopinya tutup?" Ujar Beth tiba-tiba saat taksi sudah melaju meninggalkan rumah sakit.
"Pasti sudah buka," jaeab Yvone optimis.
"Kalau belum?" Beth masih tak yakin.
"Nanti aku pesankan di kedai kopi lain dan kau bisa kembali ke rumah sakit!" Tukas Yvone memberikan solusi.
"Tapi aku sangat yakin kalau kedai kopinya sudah buka," sambung Yvone lagi bersamaan dengan taksi yang akhirnya tiba di depan sebuah kedai kopi.
"Yang ini kedai kopinya, Nona?" Tanya sopir taksi memastikan.
Beth dan Yvone lalu kompak menoleh ke arah kedai kopi yang rupanya memang sudah buka.
"Kan! Sudah buka dan tidak antri!" Ujar Yvone sebelum kemudian gadis itu dan Beth turun dari taksi.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau tak antri?" Tanya Beth penasaran
"Hanya ada satu mobil. Berarti hanya ada satu pelanggan di dalam!" Yvone menunjuk ke satu mobil yang terparkir di depan kedai kopi.
"Kenapa masih bertanya padahal kau juga pemilik toko kue!" Ujar Yvone lagi seraya terkekeh yang justru malahb membuat Beth terkekeh.
Dua gadis itu lalu masuk ke dalam kedai kopi masih sambik mengobrol.
"Hanya beli kopi, lalu aku akan langsung kembali ke rumah sakit dan kau bisa langsung--"
"Beth!" Panggil seorang gadis yang sudah berada di dalam kedai kopi.
Beth dan Yvone langsung kompak menoleh ke arah gadis tersebut, namun Yvone tidak tahu itu siapa.
Mungkin temannya Beth!
"Hai! Kau disini juga? Sedang apa dan bersama siapa?" Tanya gadis yang menyapa Beth tadi seraya menghampiri Beth dan Yvone.
"Bersama temanku," jawab Beth sembari tangannya menunjuk ke arah Yvone.
"Teman?"
__ADS_1
"Atau pacarnya Abang Timmy jangan-jangan!" Seloroh teman Beth itu lagi yang sepertinya sok tahu sekali.
"Bukan!" Jawab Beth dan Yvone berbarengan. Dua gadis itu lalu saling bertukar pandang dan Yvone malah sedikit salah tingkah.
Disaat itulah, tiba-tiba datang wanita lain yang sudah menghampiri mereka bertiga.
"Ayo langsung pulang, Rossie!"
Yvone yang hafal dengan suara sapaan barusan, sontak menoleh dan gadis itu langsungterkejut.
Apa?
Kenapa ada Kath disini?
"Sebentar, Kath! Aku bertemu temanku ini. Yang kemarin membuat wedding cake-nya Abang Angga!"
"Namanya Beth."
"Oh, jadi dia? Wedding cake-nya cantik!"
Yvone sudah tak lagi menyimak obrolan diantara tiga wanita di depannya tersebut, karena sekarang fokus Yvone hanya tertuju ke arah Kath.
Apa yang sebenarnya menarik dari Kath, hingga Timmy begitu tergila-gila kepadanya.
"Jadi kau disini ada pekerjaan atau liburan, Beth?"
"Aku.... liburan!"
"Iya, kan, Yv!" Senggolan dari Beth langsung membuyarkan lamuna Yvone. Gadis itu langsung terlihat salah tingkah saat Rossie dan Kath sudah menatap ke arahnya secara bersamaan.
"Eh,"
"Iya!" Jawab Yvone singkat dan sedikit tergagap. Yvone juga buru-buru memalingkan wajahnya dan mengarahkan tatapannya ke arah lain.
Semoga Kath tidak mengenali Yvone!
Semoga wanita itu sudah lupa pada Yvone....
"Itu temanmu, Beth?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kath langsung membuat Yvone refleks memejamkan mata.
Oh, tidak!
"Iya! Dia yang mengajakku liburan ke sini," ujar Beth menjelaskan pada Kath.
"Namanya Yvone," imbuh Beth lagi.
"Wajahmu terlihat tak asing! Apa kita pernah bertemu?" Kath ganti melontarkan pertanyaan pada Yvone yang langsung salah tingkah.
"Hah? Entahlah, aku tak ingat!" Jawab Yvone tergagap.
Tapi sepertinya Kath masih pantang menyerah untuk mengingat-ingat wajah Kath.
Sialan! Bagaimana ini?
"Ah, iya!"
"Kau yang malam itu tak sengaja aku tabrak, kan? Di acara perusahaan!" Tukas Kath kemudian yang refleks membuat Yvone mengumpat dalam hati. Namun sesegera mungkin Yvone menutupinya dengan tawa sumbang.
"Benarkah? Aku sedikit lupa," ujar Yvone beralasan, seraya menggaruk tengkuknya yang tertutup syal.
"Acara dimana, Kath?" Gantian Rossie yang bertanya pada Kath.
"Saat aku menemani Uncle Rob! Di malam saat Marv melamarku," cerita Kath dengan mata berbinar seraya memamerkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Yvone yang tadinya salah tingkah, setelah mendengar pernyataan Kath barusan, langsung fokus memperhatikan cincin yang melingkar di jari manis Kath.
"Jadi, kau sudah dilamar?" Tanya Yvone kemudian antara memastikan dan benar-benar penasaran.
Kalau benar Kath sudah dilamar oleh seorang pria bernama....
Marv?
Marv....
Namanya tak asing!
__ADS_1
Yang melamar Kath bukan Marvellio Dennison yang kemarin membahas bisnis bersama Yvone, kan?
Sepertinya mustahil! Dunia tak sesempit itu!
Tapi kalau benar Kath sudah dilamar oleh Marv, itu artinya alasan Timmy berada di kota ini lalu babak belur adalah....
Yvone kembali menatap ke arah Kath dan Rossie yang kini tampak tergelak bersama. Entah dua gadis itu sedang membahas apa, Yvone juga tak terlalu memperhatikan tadi.
"Aunty menelepon!" Ucapan Rossie akhirnya menghentikan tawa dua gadis tersebut.
"Ayo pulang kalau begitu!" Ajak Kath kemudian yang hendak keluar dari kedai kopi. Namun baru beberapa langkah, Kath kembali menghentikan langkahnya dan wanita itu menghampiri Yvone lagi.
"Oh, ya, Yv! Perihal gaunmu yang waktu itu--"
"Sudah aku laundry dan tak ada masalah apa-apa!" Jawab Yvone cepat sembari memaksa untuk tersenyum pada Kath.
Ya, Yvone tentu saja tak akan tersenyum tulus pada wanita yang sudah membuat Timmy menjadi seperti sekarang. Entah apa yang dilakukan Kath atau tunangan Kath hingga Timmy babak belur dan terkapar tak berdaya di taman pagi itu. Kath juga sepertinya tidak tahu menahu atau mungkin wanita itu malah tak peduli?
"Syukurlah kalau begitu! Aku minta maaf sekali lagi," ucap Kath lagi membuyarkan lamunan Yvone.
"No problem!" Jawab Yvone cepat sebelum kemudian Kath dan Rossie berlalu meninggalkan gerai kopi.
Yvone lalu menoleh ke arah Beth yang sejak tadi hanya diam dan tak buka suara. Adik Timmy itu kenapa?
"Beth, kau tadi tadi jadi pesan kopi atau tidak?" Tanya Yvone yang langsung membuat Beth tampak tersentak.
Apa Beth melamun?
"Iya!" Jawab Beth yang akhirnya berjalan ke meja pemesanan.
Setelah memesan kopi, Beth lalu kembali menghampiri Yvone
"Yv!"
"Ya!" Jawab Yvone yang langsung menatap ke arah Beth.
"Kau kan pernah melihat wajah Kath, pacarnya Abang Timmy. Apa itu adalah Kath yang tadi?" Tanya Beth yang langsung membuat Yvone terdiam. Sepertinya Beth benar-benar peka.
Haruskah Yvone menjawab jujur?
"Sepertinya bukan," jawab Yvone akhirnya dengan suara lirih.
"Yakin?" Tanya Beth lagi dengan tatapan penuh selidik mirip detektif.
Apa raut wajah Yvone sangat jelas menunjukkan kalau dirinya berbohong?
"Yv!" Desak Beth lagi yang langsung membuay Yvone menelan ludah dengan susah payah.
"A--aku--"
"A--ku tidak ta--" Dering ponsel Yvone dari dalam tas langsung menjeda jawaban gadis tersebut.
"Aku angkat telepon dulu," pamit Yvone cepat seraya menjauh dari Beth, lalu mengangkat telepon yang rupanya dari klien yang ada janji dengannya hari ini.
Oh, ya ampun!
Apa Yvone terlambat?
"Halo, selamat pagi!" Sambut Yvone cepat sembari menatap ke raah Beth yang tampak termenung lagi.
"Ita, saya akan segera kesana. Selamay pagi!" Pungkas Yvone sebelum gadis itu kembali menghampiri Beth.
"Aku harus pergi sekarang, Beth!" Ujar Yvone seraya mengangsurkan beberapa lembar uang pada Beth.
"Tidak usah! Aku bawa uang sendiri," tolak Beth cepat.
"Bawa saja!" Paksa Yvone tergesa.
"Aku juga mungkin kembali agak sore nanti. Bye!" Pamit Yvone sekali lagi seraya berlalu dan keluar dari kedai kopi, meninggalkan Beth yang mungkin nanti akan menuntut penjelasan dari Yvone lagi.
Nanti saja Yvone memikirkannya!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.