
Bulan berganti....
Kath keluar dari toilet dengan wajah pucat. Sudah sejak pagi wanita itu tak berhenti muntah serta mual-mual, efek dari kehamilannya yang kini masuk usia tiga bulan.
"Kath, aku pulang!" Terdengar suara Marv dari pintu depan. Tadi suami Kath itu memang pamit ke kantor karena ada meeting penting. Biasanya Marv akan bekerja dari rumah demi bisa menemani Kath yang memang sedang mabuk berat. Namun jika ada meeting penting seperti hari ini, mau tak mau Marv harus pergi keluar dan meninggalkan Kath.
Namun bagi Kath, semua perhatian Marv tersebut tak berarti apa-apa karena yang selalu Kath inginkan hanyalah bertemu Timmy dan mendapat pethatian dari pria yang pernah menjai teman ranjangnya tersebut. Kath begitu merindukan Timmy dari sejak awal kehamilan hingga detik ini. Kath ingin dipeluk lalu tidur dalam dekapan Timmy...
"Kau muntah-muntah lagi, Kath?" Tanya Marv yang raut wajahnya tampak khawatir.
"Aku tak bisa makan apapun sejak pagi, Marv!" Keluh Kath seraya duduk di tepi ranjang. Marv segera mengambilkan air hangat untuk istrinya tersebut dan membantu minum.
"Kehamilan ini benar-benar menyiksa--"
"Ssstttt! Tidak boleh bilang begitu!" Sergah Marv yang langsung mengatupkan telunjuknya di bibir Kath.
"Kita seharusnya bahagia, Kath!" Ujar Marv lagi yang kini sudah ganti menangkup wajah Kath. Marv lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kath serta memangkas jarak di antara mereka. Marv hampir mencecap bibir Kath, saat tiba-tiba kelebat bayangan dimana Kath sedang bercinta dengan panas bersama Timmy, melintas di benak Kath, dan langsung membuat wanita itu memalingkan wajahnya serta menghindar dari pagutan Marv.
Kath lalu pura-pura mual, agar Marv tak curiga.
"Maaf, Marv!" Ucap Kath lirih yang hanya membuat Marv mengulas senyum tipis.
"Tidak apa-apa, Sayang! Kau mau minum lagi?" Maetv kembali menyodorkan air hangat pada Kath, lalu membantu istrinya tersebut untuk minum.
"Ngomong-ngomong, aku punya satu kabar bagus," ungkap Marv kemudian yang langsung membuat Kath menoleh da nya menatap penasaran pada sang suami.
"Kabar bagus apa?"
"Aku dipindahtugaskan, dan mulai bulan depan kita akan menempati rumah baru, di negara yang baru, di kota yang baru."
Kath langsung terdiam saat Marv dengan sangat antusias memaparkan rencana kepindahan mereka. Pikiran Kath seakan langsung melayang tak tahu arah membayangkan dirinya yang akan semakin jauh dari Timmy.
Hanya tinggal beda kota saja, Kath sudah sangat tersiksa sekarang. Lalu ini beda negara.....
Bagaimana Kath akan menemui Timmy ke depannya?
Dan kenapa Timmy sekarang seolah tak lagi peduli pada Kath?
Pria itu bahkan tak menghubungi Kath lagi atau berusaha menemui Kath. Kenapa sekarang Timmy berubah?
"Sayang, kau melamun?" Teguran Marv langsung menyentak lamunan Kath.
"K--kapan kita akan pindah, Marv?" Tanya Kath sedikit tergagap.
__ADS_1
"Masih sekitar dua minggu lagi. Kau mau berkunjung dulu ke satu tempat sebelum kita pindah?" Tawar Marv yang langsung membuat pikiran Kath tertuju pada Timmy.
Berkunjung ke satu tempat....
"Aku ingin ke rumah Uncle Robert dulu," jawab Kath kemudian yang langsung membuat air wajah Marv berubah. Namun hanya sesaat karena pria itu sudah langsung tersenyum lagi.
"Lusa kita ke rumah Uncle-mu, " ujar Marv kemudian yang langsung menbuat Kath menghambur ke pelukan suaminya tersebut.
Kath sudah tak sabar untuk bertemu Timmy.
***
"Ini saja yang diantar, Beth?" Tanya Timmy seraya mengambil kantong berisi kotak kue yang sudah disiapkan oleh Beth.
"Ya!" Jawab Beth seraya melempar tatapan aneh pada Timmy. Tentu saja Timmy langsung paham maksud dari tatapan sang adik tersebut.
"Abang sedang berusaha, Beth!" Sergah Timmy akhirnya mencari pembelaan.
"Lalu kenapa menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Iel kemarin?" Tanya Beth yang kini sudah ganti bersedekap.
"Aku tak ada pengalaman menjadi security," ujar Timmy beralasan.
"Kan bisa ikut pelatihan dulu, Bang! Iel juga suda memaparkannya pada Abang. Tapi abang saja yang menolak."
"Pekerjaan yang ditawarkan Yvone tak sesuai dengan passion-ku! Lagipula sejak dulu aku itu bartender dan bukan barista," sergah Timmy lagi menyrla kalimat Beth.
"Ck! Kan bisa belajar! Semuanya bisa dipelajari asal abang punya kemauan! Abang jangan berpangku tangab saja pada Kak Yvone, mentang-mentang istri Abang itu wanita karier!" Ceramah Beth panjang lebar.
"Siapa yang berpanglpku tangan?" Sanggah Timmy cepat.
"Abang tak pernah minta uang pada Yvone sepanjang kami menikah!" Ujar Timmy lagi.
"Tapi Abang tak pernah memberikan kak Yvone uang belanja pasti!" Sergah Beth lagi menuduh.
"Tahu darimana? Yvone yang cerita?" Cecar Timmy yabg langsung membuat Beth mengerucutkan bibir
"Tidak, sih! Hanya menebak! Tapi benar, kan?" Beth sudah menatap serius pada Timmy yang langsung terkekeh.
"Malah tertawa!" Decak Beth kemudian.
"Abang juga punya penghasilan meskipun saat ini kelihatan tak bekerja, Beth!" Tukas Timmy akhirnya sedikit pamer pada sang adik.
"Pendapatan dari kost-kost-an saja, kan?" Tebak Beth sok tahu.
__ADS_1
"Yang penting ada pendapatan dan abang rutin memberikan uang bulanan pada Yvone, kan?" Sergah Timmy lagi mencari pembenaran.
"Kau bisa bertanya sendiri pada Yvone kalau masih tak percaya!" Tukas Timmy lagi bersamaan dengan pintu toko yang dibuka dari luar. Rupanya Yvone yang datang dan masuk ke toko Beth.
Panjang umur sekali!
"Tim, aku lupa membawa kunci rumah," ucap Yvone dengan wajah yang tampak pucat. Wanita itu juga langsung meletakkan tasnya serampangan dan duduk di bangku drpan pintu.
"Kak Yvone sakit? Kok pucat?" Tanya Beth yabg sudah langsung menghampiri Yvone.
"Hanya sedikit pusing. Makanya aku pulang cepat. Tadi baru saja bertemu klien," jelas Yvone sembari memegangi kepalanya.
"Demam, Bang!" Lapor Beth kemudian pada Timmy yang hendak pergi.
"Aku kan harus mengantar pesanan," ujar Timmy beralasan.
"Antarkan Kak Yvone pulang dulu, Bang!" Sergah Beth memaksa.
"Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri--" Yvone kembali memegangi kepalanya saat pintu toko kembali dibuka dari luar oleh seseorang..
Oh, kali ini yang datang adalah Fairel yang baru dua bulan ini sah menjadi suami Beth sekaligus adik ipar Timmy. Fairel langsung menarik Beth ke sudut toko dan entah mengajaknya melakukan apa, Timmy juga tak mau tahu. Biarkan saja!
"Kau bisa pulang sendiri, Yv?" Tanya Timmy lagi memastikan larena wajah Yvone semakin pucat saja..
"Ya! Berikan saja kunci rumah." Yvone menengadahkan tangannya ke arah Timmy. Biasanya memang ada Mama Tere di rumah saat Yvone pulang. Namun sejak kemarin Mama Tere dan Papa Will pergi ke luar kota karena satu urusan. Jadilah di rumah kosong saat siang dan Yvone yabg tak pernah membawa kunci cadangan akan langsung mencari Timmy, saat pulang mendadak.
"Ini kuncinya. Kau tadi naik apa?" Tanya Timmy seraya mengangsurkan kunci rumah oada Yvone.
"Taksi--" Yvone sudah bangkit berdiri lalu wanita itu sedikit terhuyung.
"Yv!" Timmy refleks meraih lengan Yvone karena khawatir kalau istrinya itu aka jatuh.
"Aku pulang--" Kalimat Yvone belum selesai saat tiba-tiba wanjta itu malah sudah ambruk dan jatuh pingsan. Beruntung Timmy sigap meraih tubuh Yvone dan mencegahnya jatuh ks lantai.
"Kak Yvone kenapa, Bang?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1