
Timmy mengetuk pintu kamar peraeatan Beth, sebelum lanjut membukanya dan masuk ke dalam. Baru beberapa saat yang lalu Beth menelepon Timmy dan mengatakan kalau ia sudah bangun. Jadi Timmy bergegas pergi ke kamar perawatan Beth untuk menjenguk adik kesayangannya tersebut.
"Masuk, Bang!" Fairel segera mempersilahkan Timmy untuk masuk, dan duduk di kursi yang ada di samping bed perawatan.
"Makan apa?" Timmy sedikit berbasa-basi pada Beth yang sedang melahap potongan mangga dari piring di depannya.
"Mangga. Abang mau?" Tawar Beth seraya menyodorkan piring tadi pada Timmy yang langsung menggeleng.
"Untuk ibu hamil saja yang sedang ngidam," seloroh Timmy kemudian seraya memeluk Beth, lalu mencium kening adiknya tersebut.
"Bang--" Teguran Fairel langsung membuat Timmy menoleh, namun suami Beth itu malah mendadak kabur ke arah toilet dan sepertinya sedang muntah-muntah.
Apa yang terjadi? Fairel keracunan?
"Suamimu kenapa?" Tanya Timmy pada Beth yang malah terkikik.
"Ngidam, Bang! Dia sedang menggantikan mual muntah yang seharusnya Beth alami," ujar Beth yang tentu saja langsung membuat Timmy mengernyit.
"Bisa begitu, ya?"
"Bisa! Itu Fairel mengalaminya! Abang mau juga mengalami jika nanti Kak Yvone hamil?" Seloroh Beth yang langsung mdmbuat Timmy menggeleng. Namun kemudian ingatan Timmy malah tertuju pada dirinya yang juga kerap mual dan muntah tanpa sebab belakangan ini. Timmy sudah ke dokter untuk periksa karena barangkali ia menderita penyakit serius, namun kata dojter pencenaan Timmy baik-baik saja dan tak ada oenyakit serius yang Timmy alami.
Lalu apakah Timmy mengalami seperti yang dialami Fairel. Tapi kan Yvone tidak hamil dan Timmy bahkan belum sskalioun menyentuh wanita itu. Satu-satunya wanita yang pernah Timmy sentuh hanyalah.....
"Kau memakai pengaman, kan?"
"Bukankah biasanya kau yang memakainya?"
Lagi-lagi percakapan itu terngiang di benak Timmy. Percakapan terakhir setelah Timmy memaksa untuk melakukannya pada Kath di rumah Uncle Robert. Wajah Kath saat itu memang tampak cemas saat ia menanyakan tentang pengaman. Apa mungkin Kath sekarang sedang hamil anak Timmy, makanya Timmy juga kadang mual dan muntah tak jelas seperti Fairel?
"Bang! Kok melamun?" Tegura Beth langsung menyentak lamunan Timmy.
"Iya, bagaimana?" Tanya Timmy tergagap.
"Kondisi Kak Yvone bagaimana? Abang tadi meninggalkan Kak Yvone sendirian di kamar?" Cecar Beth kemudian.
"Yvone sedang tidur tadi, makanya aku tinggal ke sini sebentar," jawab Timmy menjelaskan.
"Lalu kondisinya?" Tanya Beth lagi.
__ADS_1
"Demamnya masih naik turun, tapi kata dokter memang begitu karena leukosit Yvone masih tinggi," terang Timmy lagi.
"Abang harus selalu mendampingi Kak Yvone selama ia dirawat, ya! Jangan ditinggal-tinggal!" Pesan Beth yang langsung membuat Timmy mengangguk.
"Iya, iya! Tapi kan Abang harus bekerja--"
"Toko Beth mungkin libur dulu beberapa hari ke depan. Abang punya pekerjaan lain memang?" Tanya Beth penuh selidik.
"Jadi bapak kost," jawab Timmy yang langsung membuat Beth tergelak. Sementara Fairel yang wajahnya sedikit berantakan sudah keluar dari toilet.
"Rasanya menyiksa sekali!" Keluh Fairel yang hanya membuat Beth terkikik.
"Anggap saja pengorbanan sebagai calon ayah, Iel!" Seloroh Timmy yang langsung membuat Fairel merengut. Benar-benar mirip dengan Beth saat adik Timmy itu merajuk. Mungkin itu juga alasan Beth dan Fairel bisa berjodoh. Mereka memiliki karakter yang nyaris serupa.
"Abang ke kamar Kak Yvone lagi sana! Nanti Kak Yvone bangun dan butuh sesuatu, abang tak ada kan kasihan!" Titah Beth kemudian memecah kebisuan.
"Iya! Mama dan Papa pulang besok, kan?" Tanya Timmy seraya bangkit dari duduknya.
"Beth tidak tahu! Yang tinggal di rumah Mama kan Abang!" Jawab Beth yang langsung membuat Timmy garuk-garuk kepala. Timmy juga lupa bertanya kemarin, mama Tere dan Papa Will pergi berapa lama.
"Yasudah, abang ke kamar Yvone dulu. Nanti telepon saja kalau--"
"Baiklah! Minta saja pada Iel kalau kau ngidam sesuatu. Syukur-syukur ngidam rujak tengah malam agar Iel kelimpungan," seloroh Timmy yang langsung membuat Fairel menghentakkan satu kakinya dengan kesal.
"Kenapa doanya begitu, Bang!"
"Semoga nanti kalau Kak Yvone hamil dan ngidam, Abang Timmy juga kelimpungan menghadapi ngidamnya!" Balas Fairel seraya mengejar Timmy yang sudah dengan cepat keluar dari kamar perawatan Beth.
Timmy kemudian terkekeh sendiri mengingat tingkah polah Fairel yang selalu lucu, absurd, dan kadang tak jelas.
****
Timmy baru saja masuk ke kamar Yvone, saat pria itu mendapati Yvone yang sudah bangun, duduk, dan makan kue yang tadi memang Timmy bawa dari rumah.
"Kau sudah bangun, Yv?"
"Iya, dan aku lapar. " Yvone meraih tisu untuk menyeka sisa kue di bibirnya.
"Jadi aku tadi makan kue yang ada di atas nakas. Apa itu milikmu?" Tanya Yvone khawatir.
__ADS_1
"Aku memang membawakannya untukmu," jawab Timmy seraya mengendikkan bahu. Timmy lalu mengambil gelas Yvone yang sudah kosong, dan mengisinya lagi dengan air putih.
"Demamku sudah turun," lapor Yvone kemudian yang langsung membuat Timmy mengecek suhu badan Yvone melalui kening wanita itu.
"Masih hangat," tukas Timmy yang langsung membuat Yvone menghela nafas.
"Aku tidak bisa pulang besok jadinya?" Tanya Yvone kemudian.
"Sepertinya belum bisa." Timmy malah tertawa kecil dan Yvone hanya mendengus.
"Ngomong-ngomong, kau tadi habis darimana? Cari angin di luar?" Tanya Yvone lagi sedikit berbasa-basi dan mencari bahan obrolan.
Tiga bulan hidup bersama Timmy, membuat Yvone sedikit paham kalau Timmy memang tak suka memulai pembicaraan terlebih dahulu. Namun jika Yvone sedikit mrmancing, Timmy akan mau berbicara atau sekedar mengobrol ringan bersama Yvone.
"Dari kamar perawatan Beth," jaeab Timmy yang langsung membuat Yvone terkejut.
"Beth dirawat? Beth kenapa, Tim?" Cecar Yvone yang raut wajahnya sudah berubah khawatir.
"Terpeleset dan jatuh kata Fairel. Dan sedikit mengalami pendarahan. Tapi kondisi kandungannya baik-baik saja, dan Beth juga sudah baikan tadi. Hanya perlu bedrest saja," terang Timmy panjang lebar yang langsung membuat Yvone tiba-tiba menyodorkan tangannya ke arah Timmy.
"Kau akan jadi Uncle berarti," tukas Yvone kemudian yang langsung mejbuat Timmy tertawa kecil.
"Ya!" Timmy mengangguk-angguk dan segera menyambut tangan Yvone. Timmy dan Yvone lalu saling berjabat tangan cukup lama. Sebelum kemudian Timmy tampak menguap.
"Kau sebaiknya istirahat, Tim!" Ujar Yvone kemudian.
"Iya! Kau juga istirahat--"
"Aku sudah tidur tadi," sergah Yvone seraya tertawa kecil.
"Aku akan mengompresmu lagi kalau begitu, sebelum aku istirahat,"putus Timmy seraya bangkit dari duduknya, lalu pria itu sedikit meregangkan otot-otot tubuhnya. Timmy kemudian mengambil baskom dan segera mengganti airnya sebelum lanjut mengompres Yvone.
"Nanti kalau kau butuh sesuatu, bangunkan saja aku," pesan Timmy yang hanya membuat Yvone mengangguk. Timmy kemudian pergi ke sofa kecil yang ada di sudut ruangan, dan mulai merebahkan tubuhnya disana, meskipun Timmy harus sedikit melengkungkan punggungnya karena ukuran sofa yang kecil. Tak bersslang lama, kedua mata Timmy sudah terpejam dan sepertinya pria itu sudah terlelap ke alam mimpi. Mungkin Timmy memang kelelahan, makanya dia cepat sekali tertidur.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.