Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
JAHAT!


__ADS_3

"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi--"


Kath langsung mendengus tak percaya, saat ia gagal menghubungi nomor Timmy. Kath sebenarnya sudah lama membuka blokirannya pada nomor Timmy, sejak ia masih hamil Orion. Tak bisa dipungkiri kalau waktu itu Kath berharap Timmy akan menghubunginya dan mencaritahu keberadaannya. Namun ternyata sampai Orion lahir dan kini berusia sepuluh bulan, Timmy tak pernah sekalipun menghubungi Kath.


Timmy tak pernah lagi mencari Kath!


"Abang Timmy sekarang sudah menikah dan sudah bahagia bersama istrinya. Jadi kau tak perlu lagi mengganggunya!


"Lagipula, bukankah dulu kau sendiri yang memilih pria lain dan menolak cinta Abang Timmy? Jadi tak perlu lagi mengganggu Abang Timmy!"


Kalimat Beth satu tahun lali, kembali bercokol di benak Kath. Sepertinya ucapan Beth waktu itu benar. Timmy mungkin memang sydah bahagia bersama istri dan keluarga barunya sekarang. Bukankah dulu Kath yang sudah menolak cinta Timmy dan berulang kali rminta agar pria itu mencari wanita lain untuk ia nikahi?


Dan sekarang Kath benar-benar menyesal karena sudah menolak cinta Timmy dan lebih memilih Marv yang ternyata begitu jahat.


Kenapa baru sekarang Kath menyadari kejahatan Marv yang rela melakukan segala hal demi menjauhkan Kath dari Timmy?


Ceklek!


Suara pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam, langsung membuyarkan lamunan Kath yang masih duduk seraya membalut tubuh nakednya dengan selimut di atas ranjang.


"Aku sudah selesai, Sayang!" Ucap Marv yang langsung menghampiri Kath yang bergegas menjaga jarak. Masih terngiang di benak Kath bagaimana kasarnya permainan Marv tadi. Marv seolah sedang melampiaskan amarahnya pada Kath melalui hubungan ranjang yang kasar dan tak seperti biasa.


"Apa masih sakit?" Tanya Marv yang kini sudah duduk di tepi ranjang, lalu tangannya meraba milik Kath yang hanya terbalut selimut. Kath serta merta langsung merapatkan selimutnya dan enggan menatap pada Marv.


"Masih sakit, ya? Perlu aku bantu ke kamar mandi--"


"Tidak usah!" Sergah Kath cepat yang langsung membuat marv mengulas senyum.


"Kenapa kau ketakutan begitu, Sayang! Aku tak mungkin menyakitimu." Marv semakin mendekat ke arah Kath, lalu tangan pria itu juga sudah terulur untuk mengusap wajah Kath yang berusaha menghindar.


"Aku ingin pulang!" Cicit Kath kemudian yang langsung membuat Marv mengernyit.


"Pulang kemana? Ini rumah kita, Kath--"

__ADS_1


"Aku ingin pulang ke rumah Mom!" Ucap Kath tegas yang langsung membuat Marv mengangguk.


"Ke rumah Mom? Kau rindu pada Mom? Aku akan meminta Mom kesini kalau begitu!"


"Mom pasti tak akan keberatan dan Mom juga pasti akan sangat senang jika kita ajak liburan kesini," ujar Marv yang langsung membuat Kath menggeleng, lalu terisak.


"Kenapa kau menangis, Kath? Aku mencintaimu--"


"Tidak!" Kath menyentak tangan Marv dengan cepat.


"Kau jahat, Marv! Kau jahat!" Ucap Kath berulang-ulang yang malah justru membuat Marv semakin mendekatinya.


"Aku mencintaimu, Kath! Aku juga menyayangi Orion--"


"Tapi kau jahat, Marv!" Sergah Kath lagi seraya menatap marah pada Marv.


"Jahat?" Marv tersenyum sinis.


"Jika maksudmu tentang aku yang memberikan pelajaran untuk Timmy agar berhenti mengganggumu, itu bukanlah sebuah kejahatan!"


"Aku mencintaimu dan aku tak akan membiarkan pria manapun merebut kau dari pelukanku!" Marv mulai hilang kendali dan berucap penuh emosi pada Kath yang terus menuduhnya jahat.


"Apa selama ini aku pernah menyakitimu secara fisik? Apa selama dua tahun kita menikah aku pernah mempersoalkan tentang masa lalumu?" Cecar Marv kemudian yang langsung membuat Kath terdiam.


"Sudah cukup kau memikirkan dan mengenang pria bernama Timmy itu, Kath! Kau sekarang adalah istriku, jadi--"


"Aku tak akan bisa berhenti memikirkan Timmy, Marv!" Sergah Kath memotong kalimat Marv.


"Orion adalah anak kandung Timmy! Jadi sampai kapanpun, aku akan terus memikirkan Timmy!" Ucap Kath lagi yang langsung membuat Marv bangkit dari duduknya, lalu mengepalkan tangannya seolah menahan amarah.


"Aku akan membawa Orion menemui Timmy, lalu mengatakan semuanya pada pria itu!"


"Kalau perlu aku akan melakukan tes--"

__ADS_1


"Orion tidak akan kemana-mana!" Marv tiba-tiba sudah meninju nakas di samping tempat tidur ddngan kerad, hingga membuat Kath terlonjak.


"Orion putraku dan dia tak akan pergi kemana-mana apalagi bertemu dengan Timmy!" Marv sudah ganti menuding ke arah Kath.


"Aku tak akan membiarkan kau membawa Orion pergi dari pelukanku, karena dia adalah putraku!" Tegas Marv sekali lagi sebelum kemudian pria itu keluar dari kamar dan meninggalkan Kath yang benar-benar tak habis pikir dengan sikap keras kepala Marv.


Kenapa pria itu seolah tak mau menerima kenyataan tentang ayah kandung Orion yang sebenarnya?


****


Yvone mencocokkan alamat yang ia temukan di surat sang mami dengan rumah di depannya. Nomor dan nama jalannya sudah sesuai dengan yang tertera di surat. Tapi ini sudah lima tahun berlalu. Apa mungkin Mami Mary masih tinggal disini dan belum pindah?


"Yv!" Teguran Timmy segera menyentak lamunan Yvone.


"Ada bel," ujar Timmy kemudian memberitahu, sekaligus menunjuk ke arah bel di dekat pintu depan. Yvone hanya mengangguk dan segera menekan bel yang tadi dimaksud oleh Timmy. Tak berselang lama, mpbaru intu akhirnya dibuka oleh seorang pria bule dewasa dan bukan Mami Mary.


Ternyata dugaan Yvone benar! Mami Mary pasti sudah pindah.


"Mencari siapa?" Tanya pria tadi sembari menatap bergantian pada Yvone dan Timmy.


"Maaf! Sepertinya kami salah alamat," jawab Yvone seraya hendak berbalik. Namun Timmy segera menahan dan meninta Yvone untuk menanyakan tentang Mami Mary pada pria bule tersebut. Barangkali ia tahu Mami Mary pindah kemana.


"Sayang! Siapa yang datang?" Terdengar suara dari seorang wanita paruh baya, saat Yvone baru saja akan bertanya. Suara itu bahkan masih Yvone ingat sekalipun ini sudah delapan tahun berlalu.


"Siapa yang--" Wanita paruh baya itu langsung tertegun saat melihat siapa yang kini berdiri di depan pintu rumahnya. Yvone dan wanita yang wajahnya juga sekilas mirip Yvone tersebut saling bertatapan untuk beberapa saat sebelum kemudian keduanya berpelukan serta menangis bersama.


"Yv...."


"Mami!"


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2