Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
AKAN BERPISAH


__ADS_3

"Ini suami Mami, Yv!" Ucapan Mami Mary membuat Yvone mengulas senyum tipis di wajahnya. Pria paruh baya yang tadi membuka pintu itupun memperkenalkan dirinya sendiri pada Yvone dan Timmy. Namanya Watson dan usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua dari Mami Mary. Watson memiliki dua putri sebelum menikah dengan Mami Mary. Satu seusia dengan Yvone dan sudah menikah juga, lalu yang satu lagi usianya masih tujuh belas tahun.


Dan satu hal yang membuat Yvone lumayan terkejut adalah seorang anak laki-laki bernama Roger yang tadi dikenalkan oleh Mami Mary sebagai adik Yvone.


Mungkin lebih tepatnya adik satu ibu beda ayah.


Ya, Roger adalah putra dari Mamy Mary dan Watson yang usianya lima tahun.


"Jadi, Sahrul tak pernah memberitahumu mengenai surat-surat yang Mami kirim?" Tanya Mami Mary selanjutnya yang raut wajahnya tampak kecewa.


"Tidak pernah. Mi!"


"Mami juga kenapa tidak pulang untuk menemui Yvone--"


"Kami pernah kesana satu kali!" Bukan Mami Mary melainkan Watson yang menjawab pertanyaan Yvone.


"Kapan?" Tanya Yvone cepat.


"Saat Mami hamil Roger." Jawab Mami Mary.


"Kami datang kesana, tapi kau tak di rumah. Lalu Sahrul mengatakan kalau kau tak ingin menemui Mami lagi dan kau juga membakar semua surat yang mami kirimkan kepadamu," sambung Mami Mary bercerita panjang lebar yang tentu saja langsung membuat Yvone tercengang.


Ada apa sebenarnya dengan Uncle Sahrul?


Kenapa ia melarang Yvone bertemu dengan Mami Mary?


"Yvone tak pernah membenci Mami!" Cicit Yvone kemudian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mami tahu!" Mami Mary langsung merangkul sang putri.


"Mungkin Sahrul takut kehilangan hotel Papimu jika kau Mami ambil dan Mami rawat," ujar Mami Mary lagi yang langsung membuat Yvone mengernyit.


"Hotel?"


"Papimu belum memberitahumu? Hotel Ossa itu sebenarnya adalah milik Papi dan Sahrul tak memiliki hak apapun. Jadi setelah Papimu meninggal, secara otomatis hotel itu menjadi milikmu karena kau putri satu-satunya papimu," terang Mami Yvone panjang lebar.


"Itulah alasan Sahrul bersikeras merawatmu. Dia tak mau kehilangan hotel itu," ujar Mami Mary lagi yang benar-benar membuat Yvone tercengang tak percaya.

__ADS_1


"Sebenarnya masih ada beberapa hotel lagi milik Papimu yang memang pengelolaannya diserahkan pada Sahrul. Tapi Mami tak tahu sejarang bagaimana status kepemilikan hotel-hotel tersebut setelah papimu meninggal. Karena setelah berpisah, Mami juga sama sekali tak minta bagian atau ikut campur lagi. Mami pergi kesini tanpa membawa sepeserpun harta papimu," cerita Mami Mary lagi.


"Kenapa dulu Mami dan Papi berpisah?" Tanya Yvone kemudian yang langsung membuat raut wajah sang Mami berubah.


"Mami juga pergi begitu saja dan seolah tak peduli pada Yvone."


"Apa benar cerita Uncle soal Mami yang memiliki pria--"


"Mami tak seperti itu, Yv!"


"Papimu yang punya banyak wanita simpanan--" suara Mami Mary tercekat di tenggorokan.


"Mami sudah berusaha untuk bertahan selama belasan tahun demi kamu. Tapi papimu tak pernah mau berubah. Itulah makanya Mami pergi."


"Dan mami bukannya tak peduli padamu! Mami kesini untuk bekerja, agar mami bisa membawamu tinggal bersama Mami. Namun saat mami datang untuk menjemputmu, kau tidak mau menemui mami--"


"Itu hanya karangan Uncle Sahrul dan Mami percaya begitu saja?"


"Kami diusir dan dipaksa untuk segera pergi, karena kata Sahrul kau tak mau lagi bertemu dengan Mamimu," watson ikut angkat bicara.


"Mami bahkan tak punya akses untuk menemuimu. Mami tidak tahu kau saat itu berada dimana, kuliah dimana, tinggal dimana."


"Mami menyayangimu. Kau adalah putri Mami, Yv!" Ungkap Mami Mary lagi seraya meraup Yvone ke dalam pelukannya. Semua kesalahpahaman ini adalah ulah Uncle Sahrul yang selama ini Yvone anggap sebagai pahlawan. Yvone benar-benar tak habis pikir.


"Tinggallah disini mulai sekarang agar Mami busa menebus semua rasa bersalah Mami, Yv!" Pinta Mami Mary lagi yang langsung membuat Yvone menatap ke arah Timmy yang sejak tadi hanya diam.


Mungkinkah ini jawaban dari kegalauan Yvone kemarin, tentang dimana ia akan tinggal setelah berpisah dari Timmy.


"Mary, kita perlu bicara sebentar!" Watson memberikan kode pada Mary agar ikut dengannya ke dapur. Pasangan suami istri itu lalu tamoak bicara dengan nada rendah dan sepertinya ada sedikit perdebatan juga.


"Yvone bisa menempati kamar di loteng atas untuk sementara waktu."


Yvone yang tak sengaja mendengar perdebatan Maminya bersama Watson langsung bertukar pandang dengan Timmy.


"Aku akan mencari rumah sewa dekat sini," ujar Yvone kemudian seraya duduk di samping Timmy.


"Kau tidak akan ikut aku pulang?" Tanya Timmy dengan raut wajah serius.

__ADS_1


"Kau bisa mengatakan pada Mama Tere kalau aku berselingkuh dengan pria lain disini, lalu aku minta cerai dan kita sudah resmi berpisah," ujar Yvone yang langsung membuat Timmy terdiam dan menatap cukup lama ke arah Yvone.


Kelebat bayangan tentang keakraban Mama Tere dan Yvone selama hampir dua tahun ini, mendadak terbersit di benak Timmy. Entah bagaimana nanti reaksi Mama Tere jika Timmy mengatakan seperti yang Yvone katakan tadi.


"Aku nanti yang akan bicara pada Yvone!" Ucapan Mami Mary yang sudah kembali segera membuyarkan lamunan Timmy. Wanita paruh baya yang wajahnya sedikit mirip Yvone tersebut lalu menghampiri Yvone dan Timmy lagi.


"Kalian pasti lelah, kan? Ayo istirahat dulu di kamar sementara kalian," ujar Mamai Mary kemudian beesamaan dengan telepon rumah yang terdengar berdering. Watson sudah sigap mengangkat telepon, dan tak berselang lama, pria itu berseru pasa Mami Mary dan wajahnya tampak berbinar.


"Mary! Bayi Monica sudah lahir!"


"Benarkah! Ayo ke rumah sakit!" Jawab Mami Mary dengan wajah yang juga sudah ikut berbinar. Mami Mary kemudian mengajak Timmy dan Yvone untuk segera naik ke atas.


Ke atas lantai dua, tapi bukan ke lantai tiga ternyata. Karena rumah ini memang hanya dua lantai dan kini Timmy, Yvone serta Mami Mary berdiri di depan sebuah ruangan yang tepat berada di bawah atap rumah.


Sepertinya ini adalah kamar sementara yang tadi dimaksud Mami Mary.


"Kamar dibawah penuh dan hanya ini yang ada, Yv!" Ucap Mami Mary yang sepertinya tak enak hati.


Yvone pun langsung mengulas senyum seolah tak mau mempermasalahkan hal ini.


"Tidak apa-apa, Mi! Kami akan beristirahat disini," ujar Yvone yang tetap mengulas senyum.


"Baiklah kalau begitu! Buat diri kalian nyaman, dan Mami akan ke rumah sakit dulu untuk menjenguk bayinya Monica," tukas Mami Mary kemudian yang hanya membuat Yvone mengangguk. Monica adalah putri sulung Watson yang usianya sebaya dengan Yvone.


Mami Mary sudah turun ke bawah dan kini hanya tinggal Timmy dan Yvone yang masih belum masuk ke kamar sementara mereka.


"Nanti aku akan mencarikanmu hotel, Tim!" Ucap Yvone seraya membuka pintu di depannya.


"Kenapa memangnya? Kau tidak mau berbagi kamar denganku lagi di detik-detik kita akan berpisah?" Seloroh Timmy yang langsung mendahului Yvone untuk masuk ke dalam kamar. Namun sedetik kemudian terdengar dempbuman yabg lumayan keras, saat kepala Timmy beradu dengan langit-langit ruangan yang tingginya memang terbatas.


Bugh!


"Aaaauuuwww!!"


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2