
"I love you, Yv!" Ucap Timmy seraya menatap ke dalam kedua netra milik Yvone. Pria itu juga bahkan sempat mendaratkan kecupannya di bibir Yvone yang tentu saja langsung membuat Yvone membeku seketika.
"I love you," ulang Timmy sekali lagi, kali ini sembari mencium kedua tangan Yvone yang sejak tadi ia genggam. Timmy lalu menangkup dan mengusap wajah Yvone, yang seolah langsung mengembalikan kesadaran wanita tersebut.
Yvone lalu balas menatap wajah Timmy, dan saat itulah Timmy kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Yvone. Lalu dalam hitungan detik.....
Yvone langsung memejamkan kedua matanya saat Timmy menyatukan kembali bibirnya dengan bibir Yvone. Tepuk tangan dari pengunjung resto yang lain terang saja langsung menggema dan membuat Yvone buru-buru melepaskan tautan bibirnya dan bibir Timmy. Yvone lalu segera menyusupkan wajahnya yang sudah semerah tomat ke dalam pelukan Timmy yang kini tersenyum bahagia.
****
"Hei!" Timmy langsung menarik tangan Yvone, setelah pria itu menutup dan mengunci pintu kamar dengan tergesa. Timmy kemudian langsung mengunci tubuh Yvone ke dinding dan lanjut mencecap bibir wanita tersebut dengan penuh gairah. Yvone pun tak lagi malu untuk membalas cecapan bibir Timmy, hingga akhirnya dua insan itu hanyut dalam pagutan panas dan saling bertukar saliva.
Yvone mulai menggeliat, saat kecupan dari bibir Timmy mulai menuruni dagu, leher, tengkuk, lalu terus turun ke bawah, hingga jengkal demi jengkal dada Yvone tak luput dari kecupan Timmy. Berulang kali Yvone melenguh, saat tangan Timmy yang sudah menyusup ke dalam bajunya, mulai memainkan gundukan kenyal yang berada di dalam sana.
"Tim--" Suara Yvone tercekat dan kedua tangan wanita itu sudah mengalung erat di leher Timmy. Yvone kemudian menatap pria di hadapannya tersebut, bersamaan dengan tangan Timmy yang mulai bergerak untuk menanggalkan kaus yang Yvone kenakan. Tak ada penolakan sama sekali dari Yvone. Wanita itu hanya memejamkan kedua matanya, saat Timmy ganti menggendongnya, lalu membaringkan tubuh Yvone dengan lembut ke atas ranjang.
Mereka berdua memang tidak pulang ke rumah Mami Mary, melainkan menyewa sebuah kamar hotel yang tak jauh dari resto tempat mereka makan malam tadi.
Timmy kembali mencium bibir Yvone, sembari menindih istrinya tersebut. Bibir dan lidah Timmy kemudian lanjut bergerilya ke bawah, menyusuri setiap lekuk tubuh Yvone. Di leher dan dada Yvone sudah tersemat tanda kepemilikan dari Timmy. Pria itu kemudian bermain-main sebentar dengan dada Yvone sebelum lanjut menyusuri perut Yvone yang sudah tak tertutup sehelai benangpun.
Tangan Timmy dengan lincah lanjut membuka kancing cdlana Yvone, sebelum akhirnya....
"Yv...." panggil Timmy lembut seolah meminta izin pada Yvone yang kini memejamkan kedua matanya.
"Ya!"
"Apa kau tidur?" Tanya Timmy kemudian yang malah membuat Yvone tertawa kecil.
"Bagaimana aku bisa tidur, kalau....."
"Hah!" Yvone langsung menggelinjang saat tangan Timmy rupanya sudah menyusup ke bawah underwearnya. Pria itu kemudian mengusap milik Yvone sebelum lanjut melepaskan celana beserta underwear yang Yvone kenakan. Kini Yvone sudah full naked tanpa ada sehelai benang lagi yang menutupi tubuhnya.
"I love you!" Ucap Timmy seraya mengecup bibir Yvone. Timmy lalu menanggalkan bajunya sendiri dan melemparkannya serampangan. Pria itu kemudian menyusuri tubuh naked Yvone sekali lagi, lalu berhenti di bagian paling intim milik Yvone. Timmy mengusapnya sebentar, sebelum lanjut memainkan bibir serta lidahnya di sana.
__ADS_1
"Tim!" Yvone langsung melengkungkan punggungnya manakala lidah Timmy mulai menyentuh miliknya di bawah sana.
"Emmppphhh!" Yvone mengerang seraya tangannya merem*s sprei karena lidaj Timmy yang semakin dalam menjelajah ke setiap bagian dari miliknya. Nafas Yvone juga mulai terengah saat gelenyar kenikmatan mulai menjalari setiap aliran darahnya.
"Timmy!" Yvone ganti menjambak rambut Timmy yang tampak bersemangat mengeksplor miliknya dan embuat Yvone semakin menggeliat tak karuan.
"Tim---" Suara Yvone kembali tercekat saat akhirnya untuk pertama kalinya Yvone mencapai pelepasan. Wanita itu langsung terengah-engah, bersamaan dengan Timmy yang akhirnya mengangkat wajahnya, kemudian mencium kening Yvone. Butir-butir keringat sudah memenuhi wajah Yvone sekarang, meskipun pendingin ruangan sudah menyala dengan suhu yang lumayan dingin.
"Jangan melakukannya lagi," cicit Yvone saat Timmy menyatukan keningnya dengan kening Yvone.
"Kenapa? Kau tidak menyukainya?" Timmy mengecup singkat bibjr Yvone yabg masih berusaha mengatur nafasnya.
"Aku seperti orang gila," tukas Yvone dengan wajah yang sudah memerah
"Tapi aku menyukainya." Timmy tersenyum genit ke arah Yvone sebelum kemudian pria itu melepaskan celananya yang sejak tadi masih menbalut bagian bawah tubuhnya.
Yvone langsung menelan saliva denga susah payah, saat ia melihat milik Timmy yang sudah tegak menantang di hadapannya.
"Kau siap, Yv?" Tanya Timmy yang sudah mengarahkan miliknya ke depan milik Yvone.
"Aku boleh...." Timmy meminta izin pada Yvone yang langsung mengangguk. Setelah mebdapat persetujuan dari Yvone, Timmy akhirnya segera melesakkan miliknya ke dalam milik Yvone yang terasa.....
Sempit!
Timmy mendorong dengan sedikit kuat sampai akhirnya pria itu bisa mearsakan kalau miliknya baru saja merobek sesuatu di dalam milik Yvone.
Ya ampun!
"Yv...." Timmy langsung menatap pada Yvone yang kini memejamkan kedua matanya. Wanita itu juga tampak menggigit bibir bawahnya, seolah sedang menahan rasa sakit.
"Yvone," panggil Timmy lagi dengan suara lembut, kali ini sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Yvone.
"Ya," jawab Yvone pelan.
__ADS_1
"Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau ini yang pertama?" Timmy langsung mencium kening Yvone begitu lama, sebelum kemudian ciuman tersebut turun ke kedua kelopak mata Yvone yang masih terpejam.
"Aku pikir kau sudah tahu," tukas Yvone yang akhirnya membuka mata. Tampak jelas butir bening yang menggenang di kedua sudut mata Yvone. Segera Timmy menyekanya dengan lembut.
"Maaf," ucap Timmy kemudian yang sudah ganti mengecup kening Yvone.
"Dan, terima kasih," ucap Timmy lagi yang langsung membuat Yvone mengernyit. Namun Timmy tak menjelaskan maksud ia mengucapkan terima kasih dan pria itu hanya tersenyum lalu mengusap wajah Yvone.
"Aku berjanji, kalau kau akan menjadi wanita terakhir dan satu-satunya yang aku cintai, Yv!" Timmy menggenggam kuat tangsn Yvone, lalu kembali menyatukan keningnya dengan kening wanita yang kini berada di dalam kungkungannya tersebut.
"Kita akan menghabiskan sisa usia bersama-sama," ungkap Timmy lagi sembari memberikan sentakan kecil pada milik Yvone. Namun hal tersebut sudah sukses membuat Yvone terkejut.
"I love you, Istriku," ucap Timmy lagi sembari tersenyum dan mengusap wajah Yvone.
"I love you too, Suamiku!" Balas Yvone yang juga ikut mengusap wajah Timmy. Dua sejoli itu kemudian larut dalam pergelutan panas di atas ranjang, tanpa ada lagi penghalang di antara mereka.
Hingga tiga puluh menit lamanya, mereka berdua akhirnya mencapai pelepasan bersama. Senyum bahagia langsung terukir di bibir Timmy dan Yvone, setrlah merrka berpagutan sekali lagi setelah mencapai pelepasan. Timmy kemudian langsung meraup tubuh Yvone ke dalam dekapannya, laku menarik selimut untuk membalut tubuh nakednya bersama Yvone.
"Bawa aku pulang," cicit Yvone yang kini menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Timmy.
"Bawa aku pulang bersamamu," ucap Yvone lagi.
"Ya!" Timmy mengangguk seraya mencium puncak kepala Yvone berulang kali.
"Besok kita akan pulang dan seterusnya kita akan bersama-sama," janji Timmy yang semakin mengeratkan dekapannya pada Yvone yang kini tak mampu lagi berkata-kata.
Kini Yvone telah menemukan keluarga sesungguhnya yang benar-benar menerima dan menyayangi dirinya.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.