Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
PACAR ABANG?


__ADS_3

Timmy yang sudah selesai memakai baju dan bersiap pergi, membuka pintu kamar dan kembali terkejut karena Beth yang rupanya masih berdiri di depan kamarnya.


"Apa tidak bisa libur dulu satu hari, Bang?" Tanya Beth yang kini sudah ganti bersedekap.


"Abang sudah libur tiga kali bulan ini, Beth! Tidak bisa libur lagi," jawab Timmy beralasan.


Bukan beralasan, tapi memang benar adanya. Lagipula, ponsel Timmy juga hilang dan dia tidak bisa menghubungi rekannya. Jadi mau tak mau Timmy harus datang dulu ke tempat kerja agar bulan ini gajinya tak banyak dipotong.


"Ck!" Terdengar decakan dari Beth yang lebih mirip Mama Tere .


"Kau disini saja dan Abang akan membawa motormu--"


"Dengan kaki Abang yang pincang itu?" Sergah Beth memotong kalimat Timmy dengan nada suara yang meninggi.


"Abang bisa, kok!" Tukas Timmy tetap keras kepala.


"Beth antar!"


"Tapi--"


"Pokoknya Beth antar atau Abang tidak usah bekerja!" Tegas Beth yang langsung membuat Timmy berdecak.


Benar-benar Beth yang keras kepala.


"Lagipula ini belum terlalu malam dan jaraknya juga dekat," sambung Beth lagi sembari menu jukkan arloji di tangannya pada Timmy. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


Tidak tahu kenapa, waktu seolah cepat sekali berlalu. Perasaan tadi saat Timmy mengalami kecelakaan, hari masih sore.


"Tapi nanti langsung pulang dan jangan kelayapan!" Pesan Timmy akhirnya yang tak kuasa menolak kemauan Beth keras kepala.


"Iya, Bang!"


"Mama pasti marah jika tahu kau keluar malam-malam begini," tukas Timmy lagi sedikit bergumam.


"Dan mama akan lebih marah saat tahu abang mengalami kecelakaan tapi tak memberitahu mama dan papa," timpal Beth yang langsung membuat Timmy kembali berdecak. Selalu ada saja jawaban serta sanggahan Beth pada semua kalimat Timmy.


"Pakai jaket kalau mau mengantar!" Ujar Timmy akhirnya seraya kembali masuk ke dalam kamar. Timmy mengambil satu hoodie miliknya dari dalam almari, lalu melemparkannya pada Beth.


Adik Timmy itu terlihat mengendus aroma hoodie yang baru saja Timmy lemparkan.


"Sudah dicuci!" Decak Timmy yang mengira kalau Beth mengendusnya karena mungkin Timmy belum mencucinya. Padahal kan sudah!


"Tapi kok aromanya lain, Bang?" Beth mengendus sekali pagi hoodie berwarna putih tersebut.


"Baunya seperti parfum cewek. Ini hoodie siapa, Bang?" Tanya Beth penuh selidik yang langsung membuat Timmy terdiam sebentar.


Timmy baru ingat kalau hoodie itu....


"Aku lapar!" Ucap Kath yang sudah selesai mandi. Wanita itu bahkan hanya mengenakan handuk untuk membalut tubuhnya, saat keluar dari kamar mandi. Padahal Timmy masih duduk di atas ranjang dan kedua mata Timmy tentu saja tak lepas menatap pada tubuh molek Kath.


"Tim!" Panggil Kath pada Timmy yang malah melamun.


"Ya! Kau mau makan apa? Aku tak punya apa-apa di kulkas," jawab Timmy berkata jujur sembari mengusap wajahnya berulang kali.


"Kita makan di luar berarti," usul Kath yang langsung membuat Timmy menggeleng.


"Aku belikan saja. Kau mau apa?" Tolak Timmy yang langsung membuat Kath merengut. Wanita itu juga sudah menghampiri Timmy, lalu duduk di tepi ranjang, dan tetap memakai handuk yang membalut tubuhnya.

__ADS_1


"Aku maunya makan diluar!" Ucap Kath memaksa.


Timmy akhirnya hanya menghela nafas dan mengangguk setuju.


"Pakai bajumu atau aku akan menerjangmu lagi nanti!" Seloroh Timmy kemudian yang langsung membuat Kath tergelak.


Kath lalu bangkit berdiri dan membuka almari baju Timmy.


"Aku bilang pakai bajumu, Kath! Kenapa malah--"


"Aku pinjam kausmu dulu!" Ucap Kath cepat seraya mengambil satu kaus Timmy, lalu langsung memakainya tanpa dalaman.


Kath gila!


"Kau akan keluar seperti itu?" Tanya Timmy seraya menatap tak percaya pada Kath.


"Aku akan memakai celana!" Tukas Kath yang sudah ganti mengambil underwear serta celananya sendiri yang panjangnya bahkan tak sampai lutut.


Benar-benar!


"Maksudku, bagian atas!"


"Kau harus memakai dalaman!" Ucap Timmy yang mulai geram.


"Oh!"


"Aku pakai hoodie saja!" Jawab Kath santai seraya kembali membuka almari Timmy, lalu mengambil hoodie berwarna putih milik Timmy.


"Lihat! Tak terlihat, kan!" Ujar Kath kemudian seraya berputar di depan Timmy.


"Terserah saja," gumam Timmy akhirnya seraya bangkit dari atas ranjang, lalu masuk ke kamar mandi. Timmy butuh mengguyur kepalanya dengan air dingin.


"Hoodie aku!" Jawab Timmy cepat, seraya mengambil lagi hoodie yang hampir dipakai Beth tersebut dan menggantinya dengan hoodie warna lain.


"Tapi sepertinya pernah dipakai seseorang," terka Beth seraya menaik turunkan alisnya. Adik Timmy itu juga sudah dengan cepat memakai hoodie baru yang diberikan oleh Timmy.


"Sok tahu!" Kelit Timmy yang langsung mengacak rambut Beth.


"Apa cewek yang di kost-an Abang waktu itu?" Tanya Beth lagi kepo yang langsung membuat Timmy berpikir sejenak.


Timmy baru ingat kalau ia pernah video call bersama Beth saat Kath berada di kost-annya. Waktu itu Kath juga sempat tertawa meskipun gadis itu sama sekali tak menunjukkan wajahnya pada Beth.


"Itu pacarnya Abang, ya? Kenalin, dong!" Cerocos Beth lagi yang langsung membuat raut wajah Timmy menjadi lesu.


"Aku sudah punya kekasih baru sekarang!"


"Kami resmi berpacaran dua minggu yang lalu."


"Kita hanya teman, oke!"


"Teman ranjang!"


"Bang!" Teguran Beth lagi-lagi membuyarkan lamunan Timmy.


Tadi sore saat Timmy mengalami kecelakaan, semuanya juga karena Timmy terus saja memikirkan tentang Kath dan pacar barunya. Entahlah! Sepertinya Timmy tengah patah hati sekarang!


"Abang! Kok bengong, sih?" Tegur Beth sekali lagi yang kali ini disertai dengan guncangan di tangan Timmy.

__ADS_1


"Auuw!" Timmy sedikit meringis karena luka di tangannya yang kembali terasa nyeri.


Atau jangan-jangan hati Timmy yang nyeri?


"Kau tadi tanya apa?" Tanya Timmy akhirnya yang sedikit lupa pada pertanyaan Beth tadi. Semua gara-gara pikiran Timmy yang terus saja memikirkan Kath!


"Cewek yang kemarin di kost-an Abang!"


"Itu pacar Abang?" Beth mengulangi pertanyaannya.


"Bukan pacar!" Sanggah Timmy cepat dengan raut wajah yang kembali lesu.


Tapi memang Timmy bukan pacarnya Kath!


Kath saja tak pernah mau mengakuinya dan wanita itu selalu menganggap Timmy hanya sebatas teman ranjangnya.


"Ayo berangkat dan berhenti bawel!" Ajak Timmy akhirnya seraya merangkul pundak Beth.


Kakak beradik itu lalu keluar dari kost sembari bersenda gurau.


"Yakin yang kemarin itu bukan pacarnya Abang?" Tanya Beth sekali lagi yang sepertinya masih kepo.


"Bukan!" Jawab Timmy cepat sembari mencubit pipi Beth.


"Auuuwww! Sakit, Bang!" Protes Beth seraya merengut. Timmy dan Beth sudah sampai di tempat parkir sekarang.


"Oh, ya! Motor Abang jadinya bagaimana?" Tanya Beth kemudian seraya memakai helm.


"Tidak tahu! Mungkin di kantor polisi." Timmy mengendikkan kedua bahunya.


"Kata Yvone rusak parah, Bang! Padahal itu kan motor kesayangan Abang!" Ujar Beth lagi seraya mendorong Timmy yang hendak naik di depan. Beth dengan cepat naik di depan dan meminta Timmy membonceng saja di belakang.


"Nanti dibenerin. Atau dibuang saja!" Jawab Timmy acuh.


Sebenarnya ada alasan lain yang membuat Timmy menjadikan itu sebagai motir kesayangan. Dan alasan itu sepertinya tak akan berlaku lagi.


"Dibuang?" Beth langsung tergelak.


"Trus nanti beli lagi yang baru, ya, Bang? Sudah seperti anak orang tajir saja, Bang!" Seloroh Beth kemudian yang hanya membuat Timmy memutar bola matanya.


Timmy mungkin memang tak memiliki orang tua yang kaya. Dan darivsegi penampilan juga cenderung sederhana. Tapi tentu saja Timmy tetap punya tabungan untuk masa depannya bersama wanita yang ia cintai.


Meskipun wanita itu pada akhir hanya membuat Timmy patah hati karena lebih memilih menjadi kekasih orang lain, alih-alih menjadi kekasih Timmy yang bahkan sudah berulang kali menyentuhnya.


Kenyataan macam apa ini sebenarnya?


Brrrrmmmm!


Timmy sedikit tersentak saat Beth menarik gas dan mulai melajukan motor maticnya. Suara motor Beth lumayan nyaring dan jalannya sedikit kasar.


"Sebaiknya besok kau bawa motor ini ke bengkel, Beth!"


"Olinya perlu diganti dan perlu diservis juga!" Pesan Timmy yang entah didengar oleh Beth entah tidak. Adik Timmy itu sama sekali tak menanggapi.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2